Redamancy: Love Is War

Redamancy: Love Is War
Kartu SD 64 GB


__ADS_3


"Gila ini anak imut juga waktu kecil."


Perona menatap kagum Arlan kecil dari layar smartphone violet yang kepala sekolahnya berikan tadi. Usai mengerjakan pr, Perona langsung menonton video tersebut. Dengan earphone dan lampu mati hanya diterangi dengan penerangan lampu kecil, gadis itu tanpa sadar terlarut bersama dentuman drum yang Arlan kecil mainkan.


Sesekali dia bersenandung mengikuti irama lagu jadul yang Arlan mainkan. Iya, Perona sebelum menyelam ke dunia anime, gadis itu sempat merasakan lagu-lagu jadul. Bagaimana tidak, keluarganya selalu menyetel lagu jadul seperti lagu Peterpan, Iwan fals, Ebiet G Ade, Chrisye, dan lain-lain ketika dia masih kecil.


Contohnya saja kedua orang tuanya yang berada jauh darinya sekarang. Sang ibu yang bernama Adiva, wanita paru baya itu sangat menyukai Peterpan dan Chrisye, banyak sekali kaset jadul yang ibunya simpan. Sedangkan sang ayah, Faiz, sangat menyukai Iwan fals dan Ebiet G Ade. Ohh tentu saja, dua pasutri itu meneruskan hobi lagu jadul tersebut kepada dua anaknya.


Contohnya saja sekarang, sang Kakak yang bernama Kenzo itu mengoleksi banyak sekali poster, kaset lagu jadul, dan juga album-album lagu jadul tersebut. Pria itu tergila-gila dengan suara Iwan fals yang berat, bagai baritone rendah yang mempesona.


Usai melihat tiga video yang berdurasi lima menit, Perona tak sengaja menggeser ke slide berikutnya. Gadis itu kini melihat video lain selain Arlan bersama drumnya. Dengan penasaran Perona mengetuk tanda play dan merasa hangat ketika video tersebut dimainkan.


Arlan kecil dengan gigi depan yang tanggal tersenyum, bocah itu mulutnya belepotan dengan krim kue, topi ulang tahun pun terpasang di kepalanya. Sesekali Perona mendengar suara ledakan kembang api diselingi dengan nyanyian lagu selamat ulang tahun. Oh iya ya, pria itu kan lahir tanggal 1 Januari, anggap saja seluruh manusia di muka bumi ini merayakan ulang tahunnya.


"Ini pak kepsek ikutan nyanyi ya? Dia yang pegang kamera deh kayaknya, soalnya suara pak kepsek lebih gede dari suara yang lain."


Selanjutnya sudah bukan lagi video, namun foto Arlan yang tengah di gendong Arwan sambil menunjukkan dua buah kado dengan bangga. Bocah itu terlihat menggemaskan dan konyol bersamaan. Bagaimana tidak? Bisa-bisanya dia dengan pede menunjukkan gigi depannya yang ompong. Kalau Perona mah, behh jangan ditanya dia pasti enggan tersenyum lebar seperti itu.


Setelah menjelajahi folder khusus video dan ulang tahun Arlan tersebut, Perona beralih ke folder berikutnya yang berisi foto-foto Arlan ketika memasuki sekolah dasar. Perona terkikik ketika melihat Arlan kecil mengenakan seragam sekolah dasar, dengan senyum lebar yang sama dan cahaya matahari yang langsung mengenai wajah bocah itu.


"Kalau aku jadi Arlan, aku bakal ngomel ke ayah bisa-bisanya Poto pas lagi terik matahari."


Folder kedua, Perona merasa perutnya sakit. Dia tak bisa menahan tawa ketika melihat Arlan yang sekarang menggunakan seragam SMP berfoto dengan cemberut. Perawakannya enam tahun lalu sudah mulai berubah di foto itu, jakunnya sudah mulai terlihat, tinggi badannya juga sudah berbeda jauh. Ini kah yang disebut pertumbuhan anak laki-laki itu seram? Kenapa? Tinggi mereka sangatlah cepat menanjak Perona jadi iri sekarang.

__ADS_1


Folder ketiga, Perona malah menyunggingkan senyum miring. Dia melihat wajah Arlan yang lagi-lagi enggan berfoto sambil memakai seragam SMA yang sam dengan Perona. Pria itu terlihat sedang menahan malu, bisa dilihat dari lekuk tubuhnya dan tangannya yang berada di tengkuk leher.


"Bisa kali ya tak jadiin blackmail buat ancam Arlan biar gabung ke band? Wahahaha nice plan my friend!" Dengan tawa jahat otak gadis itu memikirkan rencana jahat untuk mengancam Arlan dengan foto tersebut. Bagaimana caranya? Mudah tinggal ancam dia kalau foto itu akan disebarkan kalau dia tak mau bergabung.


Namun sedetik kemudian tawa Perona memudar. Hahaha kok bisa dia punya pikiran sejahat itu dengan temannya sendiri. Gadis itu langsung kembali menyentuh akal sehatnya ketika memikirkan dampak yang buruk bisa-bisa Arlan akan membencinya ketimbang gabung bersama bandnya.


"Ga boleh gitu, walau gue benci banget sama anak itu ga boleh gitu sama dia. Kan bisa jadi temen nonton gue nanti biar di traktir."


Semua galeri dan video yang terdapat di berbagai folder kartu SD yang berukuran 64 GB tersebut sudah Perona jelajahi. Jujur saja, dia agak kaget ketika pak kepsek, Arwan, memberinya izin untuk mengcopy paste semua folder tersebut. Mangsudnya apa ya pak ngasih dia izin begituan. Tentu saja Perona dengan senang hati mengcopy paste semua folder tersebut ke flashdisk khusus anime miliknya.


Bukan untuk blackmailing pria itu, namun untuk kenang-kenangan sehingga bisa menjadi ejekan bagi Arlan ketika dia sudah menikah dan punya anak nanti. Perona tak pernah menyangka, kalau cowok nyebelin dan play boy seperti Arlan bisa seimut itu waktu kecil. Hampir saja Perona jatuh cinta dengan sosoknya yang kecil. Tapi tak banyak berubah dari Arlan, contohnya saja mata besarnya dan senyuman lebarnya. Masih tetap sama, tak ada yang berubah.


Perona mengambil kabel USB yang berada di sebelah laptopnya, jari kukunya dia hentakkan di meja selagi menunggu proses transfer seluruh folder tersebut. Perona menatap langit-langit kamar kosnya dan kemudian merasa aneh sendiri.


Ahh sudahlah, itu urusan keluarga orang. Kenapa pula dia capek-capek memikirkannya? Itu bukan urusannya. Tinggal tunggu Arlan keceplosan tentang ibunya maka langsung dia tanyakan. Setidaknya lebih baik ketimbang bertanya to the point padanya.


Bisa jadi sang ibu sudah meninggal dunia ketika melahirkannya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Usai mengisi waktu istirahat di ruang OSIS, Perona sempat berjalan melewati taman belakang sekolah. Gadis itu hari ini lupa membawa bekal roti kukus jadi dia pergi ke kantin membeli bakso goreng kesukaannya. Karena tak mau berbagi dengan Arlan, Perona makan sembunyi-sembunyi di taman belakang.


Namun dia tak mengira kalau akan menangkap basah sosok laki-laki yang akan menjadi calon gitarisnya tengah bermain gitar sambil bernyanyi. Alvaro duduk di bawah pohon besar sembari sesekali bersenandung. Perona mencuri pandang dan dengar seluruh senandung pria itu sebelum ketahuan oleh Alvaro sendiri.


"Apa yang kau lakukan di sini?" Suara rendah pria itu menakutinya hingga ke ubun-ubun. Dengan senyum tipis nan hampa Perona keluar dari persembunyiannya.

__ADS_1


"Apa aku menganggu mu?" Perona berjalan mendekat ke arah pria itu dan duduk disebelahnya.


"Tidak." Jawabannya membuat Perona merasa lega. Gadis itu takut kalau Alvaro malu dan merasa tak enak hati ketika Perona mencuri dengar nyanyiannya.


"Btw nyanyian lu bagus banget, merdu! Lu latihan ya?" Tanya Perona.


"Gak juga sih, tapi ada seseorang yang meminta ku untuk terus bernyanyi jadi terus ku latih. Yeahh walaupun nggak ikut latihan atau les khusus semacamnya sih."


"Heee tapi serius suara lu bagus banget tahu ga. Pas banget masuk band gue!"


Alvaro menatap mata Perona seksama. Dia mengendikkan bahu lalu kembali memainkan gitarnya. "Aku mau saja sih ikut band mu, tapi kalau kak Arlan ikut, aku juga ikut."


Perona mengangkat sebelah alisnya, "Kau panggil dia kakak yah?" Dia bertanya dengan nada bingung.


"Dia lebih tua dari ku sembilan bulan, jadi kenapa tidak?"


"Ohhh kalau aku sih tidak akan pernah memanggilnya begitu. Bocah itu pasti langsung mekar hidungnya kalau ku panggil begitu."


"Sepertinya hubungan kalian berdua sangat dekat ya?"


Perona menundukkan kepalanya melihat tanah yang dia duduki bersama Alvaro. Kalau dipikir-pikir hubungan mereka memang cukup dekat sejak MPLS sekolah. Tapi, "Ga juga sih. Aku dan dia cuman temen yang kebetulan punya hobi sama."


"Tidak lebih."


__ADS_1


__ADS_2