Redamancy: Love Is War

Redamancy: Love Is War
Amour (Cinta)


__ADS_3


"wegalaseh ternyata makanan disini enak banget ya Net! Kapan-kapan ajak bokap gue kesini deh."


Arlan dan Netta langsung menghabiskan dua piring pancake sekaligus. Mereka berdua itu bagaikan paus biru yang selalu kelaparan.


Usai berbincang sedikit di ruang ekskul, Annisa dengan friendly mengajak mereka semua untuk ke cafe orang tuanya. Anggap saja sebagai perayaan kecil-kecilan untuk menyambut kedua personel band mereka yang baru. Arlan dan Alvaro saling pandang awalnya seperti enggan ikut, namun Arlan tergoda saat mendengar es kacang merah. Lantas pria itu setuju untuk ikut bersama tiga gadis tersebut, di ikuti Arlan dibelakangnya.


"Ya kan, lu harus coba roti kacang merahnya, ini Annisa sendiri yang bikin!" Sahut Netta. Gadis itu memberi satu buah roti ke piring Arlan yang sudah kosong.


"Udah stop! Gue kenyang Net! Nanti gue gemuk Perona ga suka lagi sama gue." Ucapannya mengundang tawa Netta dan diberi tatapan sinis oleh Perona.


Gadis itu mendecih mengangkat bibirnya tak suka. "Dih siapa juga yang suka sama elu yeuu Anj?! Pede banget jadi orang."


Arlan terkekeh, laki-laki itu berucap dia sudah kenyang namun dengan senang hati memakan roti kacang merah yang Netta berikan. Sesekali Netta melirik melihat Arlan mengunyah roti kacang merah hingga pipinya menggembung gembul seperti balon. Dengan jahil Netta mencubit pipi tembem Arlan hingga sang empu meringis.


"Apa sih dari tadi banget lu! Suka ya sama gue?" Ucapnya pede. Pria itu malah merangkul Netta seperti dia merangkul Perona biasanya, lalu mengedipkan sebelah matanya menggoda Netta.


Netta memutar matanya malas. Mana ada dia suka sama cowok playboy kek Arlan ini, hell no dia masih suka sama cowok baik-baik. "Ga lah, males gue sama play boy kek elu."


"Play boy gini gue cakep tahu!"


"Dihh jijik banget," Serunya sinis.


Dari kejauhan satu meter, Alvaro memandang ke arah Netta lalu ke Arlan. Laki-laki itu sadar kalau Alvaro di depannya tengah memandangnya. Kenapa sih nih anak, batinnya menjerit ngeri.


"Alvaro." Suara Annisa mengalihkan perhatian Alvaro kepadanya, pria itu menoleh lalu tersenyum tipis.


"Iyah?" Jawabnya. "Varo saja biar lebih akrab."


Ucapannya diangguki Annisa, gadis berhijab tersebut lantas menyodorkan Alvaro sepiring French toast untuk dia makan. Dengan senyuman manis merekah Annisa berkata, "Monggo di cicipi, enak eta euyy," Katanya menggunakan bahasa jawa.

__ADS_1


Iyah, Annisa gadis blasteran, iya blasteran antara Jawa dan Palembang bukan luar negeri wkwkwk. Ayahnya orang Jawa Tengah dan sang bunda orang Palembang. Terkadang logat bicaranya menjadi Jawa dan kadang juga Palembang. Yeahh walaupun biasanya gadis itu menggunakan bahasa Palembang ketika sedang marah saja.


"Terima kasih," Jawab Alvaro dan mengambil satu gigitan French toast tersebut.


Usai mengisi perut dengan makan di cafe orang tua Annisa, Perona mengambil selebaran kertas lomba dari dalam tasnya. Gadis itu menyodorkan kertas tersebut ke tengah-tengah meja sambil semringah.


"Jadi kita ikut?" Tanya Alvaro, tumben sekali pria itu memulai pembicaraan duluan.


"Iyah! Ada yang keberatan dengan ini?" Perona menimpali. Dia mengeluarkan secarik kertas putih yang berisi formulir pendaftaran. "So? Kita isi langsung?" Perona memandangi satu-persatu temannya sambil tersenyum.


Begitu pula dengan mereka berempat. Mereka menyanggupi ucapan ketua band mereka itu dengan semangat dan senang hati. Tentu saja mereka bersedia mengikuti lomba tersebut, sudah susah payah Perona mencari gitaris dan drummer masa gak ikut? Hahaha gadis itu pasti akan mengamuk kalau mereka menolak.


Kali ini Perona mengeluarkan pena dari tasnya, gadis itu menuliskan namanya beserta nama anggotanya yang lain. Sesekali bersenandung lagu Chrisye dengan lirih.


"Ahh ngomong-ngomong apa nama band kita?"


Satu masalah kelar, maka masalah lain muncul. Perona dan kawan-kawan saling pandang, benar juga mau ikut lomba ga ada nama band, masa iya cuman bawa nama sekolah doang, ga keren ahh.


"Aku ada usul," Sela Arlan.


"Apa Lan?" Tanya Perona penasaran, tumben sekali pria itu memberi usul, biasanya selalu Daddy jokes yang ga jelas.


Lebih dari lima menit mereka berempat menatap ke arah Arlan yang masih berpikir. Sekejap dia membuka mulutnya lalu menutupnya kembali, sepertinya masih kurang yakin dengan usulannya.


"Apa Lan?" Tanya Perona, hampir habis kesabarannya menunggu Arlan berpikir. Dia ketuk-ketuk kuku tangannya ke meja dan sesekali memutar penanya.


"Gue ga tahu kalian bakal suka apa enggak, tapi gue cuman kepikiran ini doang."


"Iya apa Arlan!!" Annisa yang dikenal orang yang paling sabar pun akhirnya menggertak, bahkan Alvaro juga ikut-ikutan meninggikan suaranya.


"Amour." Satu kata yang Arlan ucapkan kian membuat empat orang itu diam, memikirkan apa arti Amour yang Arlan maksud.

__ADS_1


"Amour? Apa itu?" Tanya Netta mewakili ketiga temannya sekaligus pembaca.


Tentu saja dia tidak tahu apa itu amour. Arlan sengaja mengambil kata amour yang berasal dari bahasa Prancis yang berarti cinta. "Amour itu artinya Cinta kalau dalam bahasa Indonesia."


"Bahasa apa itu emangnya?"


"Prancis deh kalo ga salah, ya kan Lan?" Tanya Perona memastikan. Dia cukup tahu kalau kosakata bahasa Prancis, Yeahh walaupun cuman beberapa sih.


Arlan mengangguk membenarkan.


"Lu bisa bahasa Prancis Lan?" Tanya Netta shock.


"Dikit sih."


Cukup lama mereka berempat menimang-nimang usul salah satu anggotanya. Kalau kata Netta sih bagus namanya itu, tapi masa band bucin sih. Sedangkan menurut Annisa dan Perona sih terlalu bucin gimana gitu. Lalu bagaimana tanggapan Alvaro tentang calon nama band mereka itu? Amour? Hmm..., Mungkin cukup indah dan menawan. Kalau dia sih fine fine saja dengan nama itu.


"Kalau Lo, mau ga nama band kita itu Amour?" Perona bertanya dengan Alvaro terlebih dahulu. Pria itu mengangguk dalam diam, toh dia juga suka nama itu.


Amour, bahasa paling romantis dalam sejarah bahasa manusia.


Perona balik menatap Netta dan Annisa. Dua orang itu ikut mengangguk, walau tak terlalu suka nama itu yang terdengar sangat bucin, namun sepertinya Perona juga sudah terlanjur suka nama itu, jadi apalah daya mereka walau pun mau menolak tapi kalau ketua sudah berkehendak maka harus dituruti.


"Kita sih fine fine aja, namanya juga gue suka kok Ron," imbuh Netta diberi anggukan oleh Annisa agar lebih menguat.


"Ya sudah kalau gitu, kita tetapkan nama band kita itu amo-"


"Tunggu sebentar!!" Si pemberi usulan pun menyela sembari Arlan menggebrak meja. Pria itu menatap keempat temannya dengan seksama. "Kalian berdua ga mau kasih usul nama gitu? Masa nama yang gue kasih langsung di acc?" Pekik Arlan. Lahh kok malah dia yang ga setuju?


Seluruh atensi pelanggan menoleh ke meja mereka berlima. Bletakk! Perona langsung menjitak pria itu karena bikin malu. "Apa sih emang lu ga seneng apa kami milih usul lu? Jarang-jarang tahu gue sama yang lain baik begini!"


"Bukan gitu, gue cuman bingung aje, masa langsung di acc padahal cuman satu usul. Kalian ga mau nambahin gitu?"

__ADS_1


Mereka berempat menggeleng. Toh mereka sudah malas memikirkan nama band itu, jadi selagi sudah dapat satu dan artinya bagus ya kenapa tidak di acc?



__ADS_2