Redamancy: Love Is War

Redamancy: Love Is War
Arlan Abimana


__ADS_3


Usai perjamuan keluarga selesai, Arlan menatap nanar drum set dirumahnya. Stik drumnya dia pegangi sambil sesekali diputar. Suara alunan musik piano Beethoven beserta suara bising yang mengedar di ruang perjamuan sebelah, membuat hari Arlan semakin merana.


"Arlan?" Sang Ayah, Arwan Abimana, duduk di sebelah putra semata wayangnya. Arwan menatap putranya murung, sudah lima tahun sejak Arlan berhenti bermain drum. Lalu hari ini Arlan mendatanginya sambil merengek, mengadu tentang Perona si ketua humas yang memintanya bergabung band sebagai drummer.


"Tadi ayah liat pintunya kebuka jadi ayah samperin, ternyata kamu tumben duduk di sini sendirian nak?" Arwan menekan saklar lampu agar menyala, cukup terkejut ketika melihat Arlan yang sendirian di tengah kegelapan tadi.


"Cuman mau sendiri saja. Matiin lampunya dong yah?" Pintanya. "Mau galau dulu ini." Arwan tak menggubris permintaan anaknya itu. Tanpa menoleh ke ayah tercinta Arlan meletakkan kembali stik drumnya dan berjalan mematikan lampu lagi.


Dia duduk diam di sana sembari menatap mata ayahnya. "Mereka sudah pulang yah?" Arlan tersenyum tipis lalu melihat lurus ke arah drum. Tatapan matanya sendu bagai habis menangis.


Arwan menghela nafas memberi putranya itu sunggingan senyum. "Gih ikut bandnya Perona dan yang lain."


Arlan melotot merasa terkejut ketika sang ayah menyuruhnya untuk bergabung band. Pria itu mendengus kesal tak mau menuruti ayahnya. Dengan hentakan kaki Arlan pergi menuju keluar


tak peduli dengan saran ayahnya.


"Mau kemana kamu?" Arwan bertanya suaranya terdengar tegas dan mengintimidasi.


Arlan berhenti lalu menoleh ke Arwan. Matanya intens bagai tatapan sosok pembunuh. "Mau keluar bentar, cari angin."


Arwan menghela nafas dia tahu putranya itu berbohong. Arlan paling payah kalau soal bohong, mengapa? Telinga pria itu selalu merah setiap kali dia berbohong. "Ayah tahu, kejadian waktu itu pasti membuat mu trauma tapi nak sudah saatnya kamu move on. Kamu tidak boleh terus terpaku sama masa lalu."


"Tapi ayah, wanita itu--"


"Wanita itu ibu mu Arlan! Panggil dia ibu, jangan kurang ajar Ayah tak pernah mengajari mu seperti itu!" Suara amarah Arwan langsung membuat atensi seluruh keluarganya menoleh ke arah ruangan tersebut.


"Terserah! Bagi ku dia bukan ibu ku, kalau dia ibu ku dia tidak akan meninggalkan aku. Ayah tahu kan, aku masih umur satu bulan saat dia pergi, masih butuh asi!"


Arlan menggeleng, dia tak sudi memaafkan ibunya yang pernah meninggalkannya sendirian bersama Arwan. Satu bulan setelah Arlan lahir, sang ibu meninggalkan rumah dan kembali delapan tahun kemudian. Hahaha, enak saja Arwan memintanya memaafkan wanita itu.


"ayah tahu, tapi nak dia tetap ibu mu. Maafkan lah dia nak."


"Tidak mau. Aku sudah terlanjur benci dengan wanita itu termasuk anaknya."


Emosi Arwan kian mendidih, dia tetiba emosi ketika anaknya menyalahkan sosok anak polos yang menjadi korban perselingkuhan istrinya dan pria itu. "Arlan, saat dua manusia berselingkuh dan punya anak, itu bukan salah anaknya. Anak mereka tak tahu apa-apa Lan, berikan lah anak itu kesempatan baru."


"Bagaimana caranya?" Dengan bulir air mata yang entah bagaimana turun Arlan terisak. Setiap kali Arwan membahas tentang istrinya dia selalu merasa sesak. Kejadian lima tahun lalu membuatnya sulit memaafkan sosok wanita yang harusnya dia panggil ibu.

__ADS_1


Arlan mungkin terlihat konyol dan selalu ceria, namun pria itu rapuh setiap kali dia sadar kalau sosok ibu sangat jauh dari dekapannya. Dia menginginkan kasih sayang yang sama seperti orang itu dapatkan, tapi apalah daya dia hanyalah anak hasil perjodohan tanpa cinta. Hahaha mungkin itu lah yang membuat sang ibu selingkuh.


"Arlan?" Panggil Arwan. "Berikan anak itu kesempatan ya, maaf kan juga ibu mu tidak baik marah berlama-lama."


"Aku tahu kalau marah sama orang gak boleh lama-lama, tapi ayah aku bingung bagaimana harus memaafkan orang itu dengan anaknya?"


"Lima tahun lalu itu berat untuk ku ayah! Bagi ayah juga beratkan? Aku hampir mati!"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Arlan?"


Perona menoel pipi Arlan yang termenung dari tadi. Pria itu terlihat lesu dari jam pertama mulai hingga jam istirahat. "Lu kenapa Lan?" Perona sengaja tak nimbrung bersama Annisa dan Netta di ruang senmus, dia berencana memanggil pria itu sayang agar dia mau join band-nya.


"Lu sendiri ngapain di sini? Sana pergi ke temen-temen lu!" Arlan mengalihkan wajahnya tak mau menatap Perona. Dia lagi malas berurusan dengan manusia mana pun, termasuk Perona.


Perona mendesah halus, "Lu kan temen gue juga Lan." Dengan sok perhatian Perona menyodorkan kotak bekalnya yang kali ini berisi dumpling ayam. Mencoba menyogoknya dengan makanan kali ini.


"Bi Ann bikin dumpling ya? Tumben ngasih ke elu kenapa nggak ke gue aja?"


Arlan yang pada dasarnya memang mengenal sosok wanita pemilik kos yang Perona tinggali, lantas mencomot satu buah dumpling, dengan wajah yang masih ditekuk, pria itu mengunyah dalam diam. "Walaupun lu sogok gue pakek dumpling, gue tetep ga mau join band lu!"


"Gue ga mu pokoknya titik no debat!"


"Arlan sayang plis Yaa join band gue?" Suara Perona terdengar manja, Arlan sedikit terkejut mempelototi gadis itu dengan mata besarnya.


"Mau lu sogok pakek sayang juga gue ga mau yeuu anj! Jangan coba-coba mainin perasaan gue ke elu ya Ron!"


"Gue ga mainin elu kok Lan, lu emangnya suka gue beneran hah?"


"Ya kagak sih."


Arlan melenggang keluar meninggalkan Perona seorang diri. Dengan keras kepala Perona mengekori pria itu, dari dia pergi ke kantin, lalu ke perpustakaan, hingga ke kamar mandi, Perona setia mengikutinya.


"Lu ngapain anjir ngikutin gue sampe ke kamar mandi? Mesum banget lu Bu humas? Gue laporin kak Zidan nanti biar humas digantiin!"


"Jangan gitu dong, lagian kan gue nunggu elu di luar bukan ikut masuk ke dalem."


"Yaa walaupun lu nunggu di luar ga wajar banget anjir nungguin gue di sini! Ngapain juga coba!"

__ADS_1


Tanpa sadar, Arlan tak sengaja mendorong Perona hingga gadis itu terjatuh. Dengan rintihan karena kakinya tertekuk, Perona mulai merengek pada Arlan.


"Jangan nangis ahh kayak bocah banget! Sini berdiri!" Arlan menopang tubuh Perona hingga mereka berdekatan. Pinggang rampingnya dilingkari oleh tangan Arlan. "Jatoh gini doang nangis, Cemen lu Ron."


"Bodoh ahh, gendong gue!"


"Kita lagi di sekolah, nanti bokap gue liat auto kena ikat pinggang."


Semua siswa yang melewati dua pasangan tersebut menatap heran, tumben Perona yang manja dengan Arlan biasanya pria itu yang selalu menempel ke Perona.


"Pliss ya Lan join, pliss?"


"Ga mau ah!"


Arlan melenggang pergi meninggalkan Perona seorang diri. Gadis itu menatapnya merengut. "Ya sudah lah terserah!" Dengan perasaan kesal Perona berbalik sampai tak sadar sosok besar ada di belakangnya.


Brukk!!


Perona lagi-lagi jatuh ke lantai, dia mendongak melihat ke atas dengan rintihan. "Lahh pak Arwan?" Suaranya menggelegar di koridor, gadis itu langsung menyalami tangan kepala sekolah dengan sopan.


"Tadi ada Arlan ya?" Arwan celingak-celinguk melihat ke sekeliling rasanya dia mendengar suara cempreng putranya.


"Tadinya ada tapi ya sekarang udah ga ada. Tuh anaknya," Kata Perona sembari menunjuk ke arah Arlan yang tengah berlari ke kelas. Pria itu berlari bak Titan di aot sambil berteriak tak jelas. Pokoknya malu-maluin.


"Perona masih pengen Arlan gabung band ya?"


Perona mengangguk, "maunya sih gitu pak tapi Arlannya ga mau. Jadinya susah mau bujuk dia."


"Jangan nyerah ya ajak anak itu, bapak masih pengen liat dia main drum kayak dulu."


Perona mendongak menatap pria baya tersebut yang lebih tinggi darinya. "Arlan udah maen drum sejak kecil pak?" Perona penasaran menilik wajah Arwan yang sudah mulai keriputan.


"Iyah, bocah itu udah dari kecil maen drum, mau lihat videonya?"


Arwan merogoh kantong bajunya dan memberikan Perona satu buah smartphone. "Hp ini khusus buat kenangan Arlan, jadi kalau mau lihat bawa aja. Bapak permisi ya."


Smartphone violet tersebut diperhatikan Perona, gadis itu menatap lama layar hitam tersebut. Menimang-nimang bagaimana wajah Arlan waktu kecil.


"Kalau dia imut sumpah aku ku jitak dia besok!"

__ADS_1



__ADS_2