Redamancy: Love Is War

Redamancy: Love Is War
Suki Dakara


__ADS_3


Teng!! Bel istirahat berbunyi.


Anak-anak kelas berhamburan keluar pergi ke kantin meninggalkan Perona bersama roti kukusnya. Perona mengambil satu gigitan di roti kukus berwarna pink sembari melihat seisi kelas. Tumben Arlan tak mengganggunya, biasanya bocah itu selalu penasaran bekal apa yang Perona bawa.


Tak lama, setelah menghabiskan dua roti kukus Arlan masuk ke dalam kelas dengan wajah ditekuk. Perona mengangkat sebelah alisnya menatap pria itu yang sedih?


"Kenapa lu?" Tanya Perona pada Arlan yang memang duduk di belakangnya.


"Tadi gue pergi ke kantin pas tempat mang Jaja mau beli siomay, ternyata habis, gue ga kebagian njir!"


"Lah tumben abis, biasanya lu yang paling gercep kalau soal siomay."


"Ya gara-gara barisan para mantan gue ngehalangi sih, kalau mereka ga ada di sana ya pasti gue bakal kebagian siomay mang Jaja!"


Perona mengangguk-angguk, dia tahu kenapa. Semenjak kedatangan si Alvaro Natanael itu, ketenaran sang anak kepsek pun tertandingi. Biasanya setiap jam istirahat mulai, depan kelas Perona sudah terdengar suara teriakan renyah memanggil nama Arlan, tapi sekarang teriakan itu malah terdengar di kelas IPS 1. Waw, visual Arlan yang memang tergolong ganteng pun tersaingi.


"Lu punya saingan tuh keknya." Perona berbicara ke Arlan yang tertunduk sedih karena tak dapat siomay.


"Siapa yang mau saingan sama gue kalau beli siomay? Nanti malah gue yang bikin laris mang Jaja."


"Bukan, bukan itu yang gue maksud Arlan Abimana!"


"Ya terus apa Perona Adhitama?"


Perona menunjuk ke arah Alvaro yang tengah berjalan sambil diekori siswi perempuan. Waw Perona takjub melihat barisan yang bagai kereta itu, bahkan sampai-sampai ada kakak kelas yang ikut di barisan itu.


"Kenapa lu takut gue sedih ya karena ga tenar lagi?" Arlan tersenyum miring sambil melihat Perona dengan tatapan khasnya yang lapar seperti serigala.


"Hell no! Lu pikir gue peduli? Kagak Lan!"


Arlan tertawa kecil kemudian menyandarkan tubuhnya ke kursi. "Gue ga peduli mau dia atau gue yang tenar. Kalau dia yang tenar ya Alhamdulillah, lu seneng kan kelas kita ga ada suara cewek lagi yang manggil nama gue? Gue tahu kok Ron, lu cemburu buta kalau liat gue sama yang lain." Arlan tersenyum lebar hingga lesung pipinya terlihat. Tangannya dengan nakal menoel dagu Perona.


Kalau Perona tak kuat iman, dia pasti sudah klepek-klepek dengan senyuman Arlan barusan. Namun Perona malah memberikan pria itu tatapan jijik tak suka dengan godaan syaiton di depannya. "Apa sih jijik banget!" Celetuknya tak suka menapik tangan Arlan.

__ADS_1


"Hahaha lu lucu banget njirr, nanti gue nikahin baru tahu rasa."


"Apa sih gaje banget sumpah."


Arlan lagi-lagi tertawa, tapi kali ini dia membenamkan wajahnya di antara lipatan tangan. Kenapa? Apa Arlan masih sedih karena tak berhasil makan siomay mang Jaja? Hahaha prihatin sekali Perona.


"Nih, gue tinggalin satu buat lu." Perona menyodorkan Arlan wadah bekalnya yang tersisa satu buah roti kukus. Arlan menatap Perona, tumben sekali perempuan ini mau berbagi makanan dengannya.


"Lu serius? Ini ga lu kasih racun kan? Nanti gue mati Lo ngejanda."


"Apanya yang ngejanda begok! Makan sana, muka kusut banget kayak kain pel di kos gue."


Arlan tersenyum tipis melihat Perona yang terlihat tsundere menghadapinya. Dia pun menyantap roti kukus berwarna pink tersebut. "Lu selalu bawa yang warna pink dah, kenapa ga yang warna coklat atau ungu sesekali? Padahal rasanya tetep sama cuman beda warna doang." Komentar Arlan dia ucapkan selagi mengunyah.


"Kenapa emangnya? Gue suka warna pink soalnya."


Arlan menatap Perona tak percaya, "What? Gue ga salah denger Ron? Lu suka warna pink? Cewek tomboy kaya lu? Wkwkwk ngakak." Arlan memegangi perutnya lalu tersedak.


"Makanya kalau makan jangan sambil ketawa! Syukurin sering banget maling roti kukus gue sih!" Walau kesal Perona tetap memberi pria itu botol minumnya. "Nih minum, lu mati gue jadi tersangka nanti. Gue gada duit buat sewa pengacara."


Dengan terbatuk-batuk Arlan meminum air minum Perona dan menghabiskannya. Emang ga tahu diuntung kalau kata Perona mah, udah baik dikasih minum malah dihabisin, emang kurang ajar banget nih anak.


"Iya sayang," Godanya.


Sumpah, ada ga sih air yang udah dijampi-jampi? Rasanya Perona ingin sekali mengeluarkan syaiton di tubuh temannya itu-- ups temen pas lagi butuh nemenin nonton anime di bioskop biar dibayarin.


"Eh btw Ron, gue baru nemu lagu jepang yang bagus banget, mau denger ga lu?" Arlan bertanya sembari memperlihatkan ponselnya yang sudah terpasang earphone.


"Mau dong!" Seru Perona antusias.


Arlan memasangkan sebelah earphone miliknya ke telinga Perona dan sebelahnya lagi di telinganya. Lagu berjudul 'suki dakara' itu mengoar di telinga Perona dan Arlan. Dengan cepat Arlan dan Perona langsung terlarut dengan suara wanita itu yang indah.


"Gimana bagus kan?" Tanya Arlan. "Gue suka banget tahu ga suara ceweknya, lembut langsung di terima di telinga gue, ga kaya suara Bu Ulpah yang cempreng makanya gue ga pernah ngerti pelajaran kimia."


Perona terkikik, "Gue cepuin ke Bu Ulpah baru tahu rasa Lo ntar!"

__ADS_1


"Jangan dong yang," Rengek Arlan minta di tampol pakai panci.


Selagi terlarut dari alunan nada lagu tersebut, mata Perona melihat ke depan pintu kelas. Di sana teman-teman kelasnya tengah memperhatikan mereka berdua sambil cengengesan, nyengir yang minta dijitak.


"Apa liat-liat?" Seru Perona membuat Arlan yang tadinya meletakkan kepala ke meja lantaran menoleh.


"Hehehe lama-lama kalian cocok juga, gue doain semoga sampai ke pelaminan ya Lan!" Sahut si ketua kelas yang juga pernah jadi korban cinta Arlan.


"Pasti bro, nanti gue undang lu pada kalau masih inget sih!" Ucapan Arlan barusan mengundang tawa sekelas, anak-anak di sana tertawa lepas dan keras sampai-sampai mengundang perhatian orang-orang di luar kelas.


Perona hanya memutar bola matanya menghadapi teman sekelasnya itu. Tiba-tiba sosok Alvaro tertangkap di matanya, pria itu diikuti oleh mantan Arlan sembari memegang buku, sepertinya Alvaro baru saja dari perpus.


"Lan!" Panggil Perona setengah berbisik.


"Kenapa?" Tanya Arlan ikut-ikutan berbisik juga.


"Coba deh lu liat ke depan kelas kita, ada rombongan mantan lu sama Alvaro. Dia ngeliatin ke arah lu." Padahal Perona baru saja ingin senang kalau pria itu memperhatikannya, tapi ternyata Alvaro sedang melihat lurus ke arah Arlan.


"Ga mungkin deh, mungkin ngeliatin lu kali Ron."


"Engga sumpah, coba lu liat."


Dengan berdecak geram, Arlan pun menoleh ke arah depan pintu kelas. Di sana rombongan mantannya bersama Alvaro yang memegang buku pun berdiri di situ. Arlan mengangkat sebelas alisnya ketika sadar kalau Alvaro itu memang melihat ke arahnya. Mau apa orang itu? Pikirnya.


Arlan pun memalingkan pandangan matanya lalu mengajak Perona berbicara mengenai lagu yang mereka dengarkan barusan. Begitu lah mereka berdua itu, setiap di antara mereka menemukan satu lagu atau anime yang bagus, mereka akan menonton dan mendengarkannya bersama, kemudian di analisis. Hahaha seperti review anggap saja.


"Oy Lan, tuh Alvaro masih ngeliatin elu anj."


"Ga usah diliatin, nanti juga pergi sendiri, mungkin dia kagum sama ketampanan gue."


Bletakk! Perona menjitak kepala pria itu tanpa belas kasihan. Suara nyess yang renyah setelah dijitak pun mendatangkan suara tawa lagi.


"Jitak aja terus dia Ron, biar si Arlan sadar!"


"Siap!" Ucap Perona menimpali, memberi mereka semua acungan jempol.

__ADS_1


Alvaro yang berada di luar pun hanya menatap lurus ke arah Perona dan Arlan yang sedang dikelilingi teman kelasnya itu. Berisik sekali kelas ini, pikirnya. Alvaro pun langsung pergi dari kelas tersebut sambil bergumam sesuatu yang hanya bisa dia dengar.



__ADS_2