
Jreng... Jreng... Jreng... (prik banget pembukaannya pliss)
Pulang sekolah, Alvaro berada di ruang musik sendirian. Pria itu datang lebih awal ketimbang empat personelnya yang lain.
Perona, aka gadis yang memintanya untuk menjadi gitaris band terjebak dalam ruang OSIS, dicegat oleh kak Zidan karena ketahuan dapat kunci jawaban. Sedangkan Annisa, gadis berhijab yang menjadi keyboardist band Amour itu tengah sibuk mengurusi anak rohis. Lalu bagaimana dengan Netta dan juga Arlan? Wallahualam mereka berdua menghilang bagai ditelan bumi.
Alvaro menduduk kan diri di sebelah set drum Arlan yang pria itu bawa dari rumah ke sekolah, hahaha anak kepsek mah bebas. Alvaro menyentuh lembut snare drum tersebut lalu beralih ke cymbal. Ada apa? Kenapa laki-laki itu malah memejamkan mata seolah tengah mengingat sesuatu.
"Hahaha, ini drum bikin nostalgia banget," Ungkapnya sambil tersenyum tipis. "Dia selalu ngerawat drum ini walau sudah lima tahun lebih ga dimainin."
Laki-laki itu sesekali memetik gitar yang masih mengalung di lehernya, sengaja mengecek nada suara yang keluar dari senar gitar tersebut hingga pintu ruang ekskul terbuka. Alvaro melotot melihat Arlan yang tengah menguap memasuki ruangan. Kedua pria itu sama-sama terdiam.
"Oh baru lu yang dateng? Netta mana katanya udah otw?" Arlan menutup pintu ruang ekskul dan ngepor dilantai. Pria itu mengambil ponselnya melihat grup chat mereka berlima.
Netta
Gue otw ngab!
Pesan itu terakhir dia kirimkan lima menit yang lalu, terus kemana bocah itu? Arghh Arlan kesini itu dikira udah ada Netta makanya dia kesini. ****, Arlan jadi malas berada di satu ruangan cuman ada Alvaro seorang. Melihat wajahnya yang mirip dengan orang 'itu' membuat Arlan geram untuk tidak memukulnya.
"Lan?" Alvaro memanggil.
Laki-laki itu menoleh. "Kenapa?" Jawabnya.
Arlan menjawab dengan datar, pria itu langsung bermain game mobel lagend menjadikannya perantara untuk mengabaikan eksistensi dari Alvaro yang duduk di sebelah drumnya. Dia cukup kesal melihat laki-laki itu menyentuh cymbal kesayangannya.
"Masih kamu simpan ya drumnya?" Tanya Alvaro. Tatapannya datar namun sangat menyiratkan adanya keinginan mengobrol dengan pria di depannya.
"Kemarin kau panggil aku Kakak, sekarang kenapa cuman nama?"
__ADS_1
Namun sayang, Arlan sedang enggan meladeninya. Jelas dari suara datar nan culasnya sudah pasti ketahuan kalau dia malas melayani Alvaro.
Arlan melirik dari ujung mata, heh ternyata tak ada respon dari seberang sana.
"Ermm- Perona bilang ga perlu panggil pakai kakak, soalnya cuman beda beberapa bulan bukan tahun, jadi ya gitu-"
"Yeee dah mulai deket dengannya ya? Gimana humble ga orangnya?"
Sepertinya pria itu berhasil menemukan topik menarik untuk dijadikan bahan obrolan bersama Arlan. Iyaps Arlan itu selain anime dan game, Perona adalah topik yang paling pas dan paling terbaik untuk dibicarakan. Why? We don't know too hahaha.
Alvaro mengangguk antusias. "Iyah, baik and humble banget orangnya. You know, dia juga banyak bicarain kamu ke aku."
Arlan menoleh, mulai tertarik dengan arah pembicaraan ini. "Ngomong apa anak itu emangnya ke elu? Awas aja kalau tuh anak cuman ghibahin gue ga bener?" Tukas Arlan, berusaha untuk tetap stay cool namun hati ketar-ketir sendiri. Penasaran dengan apa yang Perona bicarakan tentangnya.
"Yah dia cuman pernah ngomongin kamu kalau punya hobi yang sama, suka nonton anime sama lagu jepang, terus katanya kamu itu ATM berjalan pas lagi ada anime di bioskop."
ATM berjalan? Lah jadi selama ini Perona nganggep Arlan itu ATM berjalan? Bukan pacar? Ya Allah nangis! Arlan merasa tertohok ketika Alvaro memberi tahunya kalau dia itu dianggap oleh Perona sebagai ATM berjalan.
Awas saja perempuan itu, tidak akan ku bayari lagi dia nonton, batin anak bujang menjerit.
Alvaro dan Arlan menoleh ke sumber suara, pintu ruang ekskul terbuka menampakkan Netta dengan jas sekolah masih terpasang. Perempuan itu meletakkan tas dan bass-nya disamping tubuh Arlan.
Arlan langsung sinis melihat kedatangan Netta. "Lu kemana hah? Katanya otw kok baru nyampe sekarang?" Tanya Arlan sambilan menggerutu. Laki-laki itu dahinya mengernyit menatap netra Netta dengan cemberut.
"Maaf yak, gue ke kantin dulu soalnya," jelasnya, menunjukkan ke Arlan sekantong es teh yang baru dia beli di kantin.
"Terus lu pikir gue percaya hah? Masa beli es doang lima menit? Pasti lu keluyuran kan?" Dia mengamati Netta dengan seksama.
Selagi Netta melepaskan jas sekolahnya, perempuan itu menyodorkan dua buah permen ke Arlan, mencoba menyogok pria itu dengan permen. Berisik soalnya, dia ga tahu aja betapa ramenya kantin padahal sudah jam pulang sekolah.
"Annisa sama Perona belom Dateng ya?" Netta bertanya, dia celingak-celinguk mencari keberadaan dua temannya itu.
__ADS_1
Arlan menggeleng. "Belom, si Perona masih kejebak di ruang OSIS sama kak Zidan, salah sendiri minta kunci jawaban, kegep sama kak Zidan kan. Kalau si Annisa masih sibuk sama anak rohis, maklum dia kan ketua rohis."
"Iya juga." Dia menoleh ke belakang baru sadar kalau ada Alvaro disana. "Kalian berdua dah Dateng dari tadi yak?" Tanyanya.
Mereka berdua mengangguk bersama. "Iyah."
Sembari menunggu dua anggota lainnya, Alvaro masih sibuk mengecek nada senar gitarnya, sedangkan Netta dan Arlan sibuk bikin desain logo. Usai menentukan nama, mereka semua sepakat untuk membuat desain logo khas untuk band Amour mereka. Bukan untuk sekolah namun untuk band sendiri.
Perona inginnya sih logo itu membawa harapan untuk mereka. Gadis itu ingin band yang mereka jalani di sekolah ini berlanjut hingga mereka dewasa atau sampai keriput melanda. Jujur saja, Perona suka musik, dia tak mau melepas band yang sudah dia bangun dengan susah payah berhenti setelah kelulusan. Dia ingin tetap bermain musik.
Di kertas yang sudah penuh coretan, Netta yang dasarnya paling pintar gambar di antara mereka berlima sudah membuat gambar burung dan juga semacam ilustrasi sayap putih. Dipinggiran burung tersebut Netta berikan garis tipis yang membentuk hati atau yang menggambarkan cinta seperti nama band mereka, Amour.
"Kalau gini lu suka ga?" Perempuan itu menyerahkan carik kertas yang dia pakai menggambar tadi ke Arlan.
Mata besar Arlan membulat dia cukup minus melihat kejauhan seperti itu. "Yeaaa kalau gue sih suka, tapi kan harus tunggu jawaban dari Bu ketu dulu baru bisa di acc."
"Cia elahh acc berasa anak kuliah gue."
Ucapan terakhir Netta barusan lantas mengundang tawa Arlan. Netta yang disana melongo, kayaknya humor nih cowok receh banget dah, anjlok. Apa-apa diketawain perasaan ga ada yang lucu sama sekali deh.
Tiba-tiba pria itu bergidik, dia menyilangkan kaki dan tangannya berayun-ayun. Sekarang apa? Ini bocah kenapa dah prikk banget?
"Aduh!" Suaranya merintih gue ke toilet dulu yak ngosongin kandung kemih bentar! Mau pipis gue cok!"
"Eh gue iku-"
Brakk!!
Belum selesai Netta bicara, pria itu langsung lari keluar dan menggebrak pintu. Sekarang hanya Netta dan Alvaro yang berada di sana. Suasa tiba-tiba hening tak berisik ketika masih ada Arlan di sana.
Jujur saja, Netta masih sedikit canggung dengan Alvaro. Tidak seperti Arlan yang memang dominannya ramah dan humble seperti Perona, makanya dia cepat akrab dengannya. Lalu bagaimana dengan Alvaro? Bak kulkas dingin berjalan, pria itu seolah-olah mengeluarkan aura 'jangan dekati aku' setiap kali Netta menoleh.
__ADS_1
Ya sudahlah, toh dia juga tak mau akrab dengan pria itu, kalau bukan karena permintaan keluarganya dia tidak akan menganggap Alvaro ada dalam hidupnya.