Redamancy: Love Is War

Redamancy: Love Is War
Truth or Dare


__ADS_3


Habis menguras dompet Arlan hingga kering kemarin. Sekarang giliran Perona yang Arlan jebak untuk traktir satu kelas. Lah kok bisa? Saat jamkos tadi Arlan bergelayutan manja di tangan Perona, dia sengaja membuat gadis itu ringam.


"Ayok lah main truth or dare!" Arlan dengan jahil menjebak Perona untuk ikut main truth or dare. Perona cuman menggelengkan kepalanya tak Sudi bermain game jahanam tersebut. Gara-gara game itu Perona di bikin malu satu angkatan karena lewat kantor guru sambil kayang.


"Gue ga mau Arlan," Seru Perona sambil mencoba lepaskan tangan Arlan yang bergelayutan padanya. Game jahanam itu selalu sama, truth selalu tentang orang yang Perona suka. Kalau dare mah jangan ditanya lagi, selalu aneh dan ga bisa diterima moral.


"Pliss, nanti seharian ga gue panggil ayang lagi kok kalau lu ikut."


Perona mendesah malas, akhirnya gadis itu duduk di sebelah Arlan bergabung dengan yang lain, membuat lingkaran seperti bersiap melakukan sekte. Botol air mineral kosong berada di tengah-tengah mereka.


"Gue putar ya!" Seru Arlan kemudian memutar botol tersebut. Botol itu berputar, Perona berdoa dalam hati semoga botol itu tak berhenti di depannya.


"Lah di gue anj!" Botol itu berhenti tepat di ketua kelas, si mantan Arlan yang berubah jadi toxic.


"Nah lu pilih apaan? Truth or dare?" Sahut Perona. Dia jadi semangat sendiri saat botol itu tak berhenti di depannya. Dengan bibir monyong si ketua kelas memilih truth, takut kalau Perona akan menyuruhnya kayang seperti yang dia suruh pada Perona kala itu.


"Truth deh, gue ga mau disuruh kayang kek Lo waktu itu, masih jaga image gue!"


"Yeuuu ga seru lu mah." Perona diam sejenak memikirkan apa yang akan dia tanyakan pada perempuan itu. Teman kelasnya bahkan tak berani menginterupsi di kala si kasta tertinggi sudah berkehendak dalam game tersebut.


"Ini aja deh, ga bakal gue tanya siapa yang lu suka pasti jawabannya nih manusia satu." Perona menunjuk Arlan dengan telunjuknya, pria itu hanya tersenyum bangga dengan itu. "Gue tanya aja nih pokoknya lu harus jujur!"


"Iya pertanyaannya apaan!" Si ketua kelas lama-lama jengkel dengan basa-basi si Perona.


Perona tersenyum miring lalu berkata. "Lu dapet kunci jawaban kan buat semesteran nanti?" Pertanyaan Perona barusan membuat si ketua kelas berkeringat dingin. Dia tersenyum kikuk merasa kalah telak dengan tuduhan Perona tersebut.


"Lu serius dapet kunci jawaban?"


"Lu ga bagi-bagi yeuuu anj! Pantes nilai semesteran lu kemarin bagus."


"Apa sih, Perona ngeyel doang!" Si ketua kelas menjitak kepala Perona dengan senyuman mematikan. Bagaimana bisa perempuan itu tahu kalau dia punya kunci jawaban.

__ADS_1


"Ga usah bohong gue tahu dari kak Zidan, mau gue laporin lu hah? Kalau ga mau ya bagi-bagi sekelas!"


"Lu OSIS woy kok malah minta, ga bener nih orang."


Dengan paksaan sekelas, akhirnya si ketua kelas pun mengaku. Dengan tuntutan akhirnya dia setuju untuk membagi kunci jawaban tersebut. Hahaha tentu saja Perona ikut serta, dia maju paling depan kalau soal kunci jawaban mah.


"Gue putar lagi ya!" Si ketua kelas memutar botol air tersebut. Perona melirik ke arah Arlan, pria itu tersenyum miring menatapnya lapar, seolah-olah sedang berkata kalau dia selanjutnya. Dengan sambaran petir di siang bolong, botol tersebut berhenti tepat di depan Perona.


"Giliran gue ya!!" Arlan merangkul tubuh kecil Perona hingga dia meringis. "Jujur lu suka gue kan?"


"Gue belum milih truth atau dare Lan!"


"Udah lah truth aja okey?"


"Hell no! Gue mau dare!" Seperti biasa Perona selalu memilih dare ketimbang truth. Hahaha walau begitu Perona lebih suka hal yang menantang, truth keknya udah ga guna lagi dah.


Arlan mengangkat sudut bibirnya, di dekatinya wajah perempuan itu bersama seringaian yang menggoda. Sontak Perona menutup matanya. "Kalau gitu cium gue!" Bisik Arlan di telinga Perona, tak membiarkan satu kelas mendengar godaan yang hanya dia berikan untuk Perona.


"Ogah jauh-jauh dari gue sana! Dasar syaiton!!"


"Ya udah kalau gitu traktir kami sekelas!"


"Okeh!"


Jadi disinilah mereka sekarang, seluruh siswa kelas IPA 1 mendominasi kantin. Perona menatap nanar dompet pink miliknya yang otw kering seperti Arlan kemarin. Bisa-bisanya dia langsung jawab okeh tadi tanpa pikir panjang. Ya gak apa lah kali ya? Asalkan Perona terselamatkan dari tantangan Arlan yang pertama. Ogahh dia mencium pria itu.


"Tumben ga bawa bekal?" Arlan duduk di sebelah Perona sambil membawa satu mangkok siomay.


Perona menoleh. Hoo kali ini si Arlan kebagian siomay mang Jaja.


"Bunda lagi males beli roti kukus."


"Lu ga mau makan gitu?"

__ADS_1


"Mau sih tapi males, mau antri mie ayam rame banget."


"Mau siomay ga?" Perona mendelik, tumben bocah ini berbagi siomay dengannya.


"Hmmm boleh deh lagi laper gue!"


Satu suap siomay dimasukkan ke mulut Perona, Arlan menyuapi perempuan itu. Tidak ada yang menyaksikan suasana- ehem yang romantis itu tatkala makanan mengalihkan pandangan.


"Lu ga pake cabe gitu Lan? Manis banget tahu!" Komen Perona. Dia lumayan tak suka kalau siomay tanpa cabe.


"Etdah Ron, lu sendiri kan tahu gue ga bisa makan pedes, makan dikit aja udah diare."


"Oh iya yah, kek waktu itu." Perempuan itu tertawa geli mengingat Arlan yang pernah dia kasih bencabe level 5, padahal kalau kata Perona mah level 5 belum pedas sama sekali. Tapi bagi Arlan, pria itu sudah kepedasan wajahnya memerah dan matanya berair. Langsung diare bocah itu.


"Btw Lan, lu tahu ga di SMA ini ada yang bisa main gitar sama drum? Gue lagi nyari gitaris sama drummer buat band gue."


"Masih bareng Netta sama Annisa ya?"


Perona mengangguk-angguk mengiyakan. Sudah dua hari lebih dia tak bersama dua teman kecilnya itu, sekarang duo personel band Perona itu sedang berhadapan dengan Bu Selvia, si guru killer fisika. Mereka berdua terjebak dalam remedi fisika.


"Lagi remed fisika mereka ya?"


"Kok lu tahu?"


"Pas lewat lab Fisika gue ga sengaja liat tuh dua jadi ya aku tahu deh."


Kalau dibanding Perona dan Arlan, kepintaran Arlan berada paling tinggi dari Perona. Cuman sayang, kewarasan Arlan yang minus. Pria itu kadang sengklek ga jelas, kadang juga menjelma menjadi comedian. Pokoknya ga jelas, amit-amit deh ga cocok masuk di daftar list pacar Perona.


"Oh iya lu tadi nanya kan siapa yang bisa main gitar di SMA kita?" Perona mengangguk tak bersuara, dia sibuk mencuri siomay milik Arlan. Yang dicuri pun hanya ternganga lebar, pengen di jitak tapi calon bini, tapi kalau ga dijitak malah jadi dendam kesumat.


"Jadi siapa yang lu saranin buat join band gue? Lagi butuh gitaris sama drummer nih."


Menunggu Arlan menelan makanannya, Perona menatap pria itu dengan berbinar. Dia baru tahu kalau si Arlan bisa berekspresi datar seperti itu. "Alvaro Natanael."

__ADS_1


Si pangeran baru sekolah.



__ADS_2