
Sudah lima hari berlalu, semua hasil jerih payah Perona membujuk Arlan untuk bergabung bersamanya kini berbuah hasil. Perona membelalak kaget ketika Arlan menyodorkannya sepasang stik drum. Baru masuk kelas saja dia sudah disuguhi dengan wajah Arlan yang tertekan seperti enggan menatapnya.
"Gue ikut!"
Gadis di depannya yang masih cengo pun celingak-celinguk, seakan memastikan tak ada kamera yang merekam mereka, siapa tahu cuman prank ya kan?
"Serius?" Tanya Perona sweatdrop. Gadis itu malah ketar-ketir sendiri dengan omongan Arlan. Merasa tak percaya kalau Arlan akan bergabung bersamanya.
Arlan mengangguk, dia menyuruh Perona memegang stik tersebut lalu dia melenggang keluar. "Nanti ada kegiatan klub kan, Bu ketu?" Pria itu lantas tersenyum lebar, menatap Perona dengan eye smile miliknya.
Pria jangkung tersebut berlari sambil melambai memunggungi Perona yang masih terdiam menatapnya menjauh. Getaran emosi senang dan terharu yang bercampur menjadi satu, genangan air mata tak dapat dia tahan. Bendungan air mata Perona kian meluncur deras.
"Hueee," Dia merengek hingga semua atensi anak sekelas menoleh padanya. Dika yang pernah muncul di beberapa episode lalu yang sedang menari-nari bersama anak laki-laki lain lantaran menoleh ke arah Perona. Dengan secepat flash pria itu berlari ke arah Perona.
"Ngapa lu Ron? Kok nangis? Arlan ngapain elu?" Dika dengan wajah panik bertanya, tumben sekali gadis itu menangis tiba-tiba kalau bukan ulangan fisika yang mendadak.
"Huee Dika..." Gadis itu merengek sembari mengayun tangan Dika bak anak kecil yang membujuk orang tuanya untuk beli mainan.
"Kenapa bini Arlan?" Ucapnya bercanda.
Perona mendengus tak suka, tadinya yang merengek dia malah kesal sendiri. "Apaan sih Ka, males gue sama lu!" Timpalnya, menghempas tangan Dika dengan kesal.
"Heheheh becanda Ron, gitu aja kesel." Dika tertawa geli memegangi perutnya. "Jadi kenapa kok lu nangis sih?" Tanyanya, lagi.
"Hehehe." Gadis itu terkekeh sebelum melanjutkan. "Akhirnya band gue lengkap! Gitaris sama drummer juga udah ada!!" Dia berteriak keras, kalau bisa teriakkannya terdengar hingga ke seluruh muka bumi agar semua orang tahu kalau band-nya sudah lengkap.
"Alhamdulillah kalau gitu, terus lu kenapa nangis?" Tanyanya heran. Apa itu air mata terharu? Batin Dika mengoar.
Perona yang tengah bersujud syukur itu lantas mendongak, duduk di lantai. "Hehehe gue ga tahu kenapa dan bagaimana bocah itu berubah pikiran, dia gabung ke band gue!" Sudah lima hari dia membujuk Arlan, sekarang tidak ada angin atau hujan Arlan mu bergabung.
"Siapa emangnya? Arlan?" Dika bertanya.
Perona mengangguk sebagai jawaban. "Dia jadi drummer di band gue!"
Dika yang baru saja ingin menyeruput minuman temannya terbatuk-batuk, tersedak lalu memandangi gadis di bawahnya itu. "A-Arlan? Nge-drum lagi? Di-dia maen drum lagi lu serius Ron?" Pria itu bertanya dengan terbata-bata. Matanya menatap horror Perona.
Perona mengangguk lalu berdiri, membersihkan roknya dari debu. "Iyaps, Arlan bakal gabung band gue, so jadi drummer!"
Sesaat, Perona merasa aneh dengan reaksi Dika yang erm-- terlihat sangat berlebihan untuknya. Memangnya kenapa kalau Arlan gabung dengan bandnya sebagai drum? Memangnya itu berita yang mengejutkan? Apa lebih mengejutkan dari tujuh keajaiban dunia?
"Kenapa memangnya, Ka?" Tanya Perona, dia penasaran dengan reaksi berlebihan Dika tersebut.
__ADS_1
"Dia main drum lagi emangnya? Sejak kapan?"
Lah kok balik nanya, batin Perona menjerit.
Dia membeku mendengar Dika yang malah balik bertanya dengannya. "Kok lu balik nanya sih Ka? Kan gue nanya elu barusan, jawab dulu dong."
"Kok lu emosi sih Anj? Kan gue juga nanya serius ke elu!"
"Tapi jawab pertanyaan gue dulu ahh!"
"Iye iye! Gue cuman bingung aja, setahu gue tuh anak udah lima tahun lebih vakum maen drum, so aku nanya ke elu dia main drum lagi emangnya?"
Perona bertanya-tanya kenapa Arlan sempat vakum lima tahun. "Emang kenapa dia vakum? Mana lima tahun lagi vakumnya."
Dika mengendikkan bahu. Kalau Perona tak tahu alasan Arlan vakum selama lima tahun, maka Arlan sendirilah yang harus beri tahu gadis itu alasannya, bukan dia. "Tanya sama Arlan sana, kalau tentang itu lu harus tahu sendiri dari mulut tuh bocah bukan dari gue.
"Kalau gitaris siapa?" Dika belum menyelesaikan kata-katanya.
"Alvaro, anak IPS yang baru masuk waktu itu loh."
Draggg!
Perona terkejut ketika suara benturan beserta rintihan kesakitan terdengar, Perona menunduk ke bawah melihat Dika yang tersungkur di lantai.
"Sorry Ka! Ga sengaja!" Pria yang menjadi tersangka utama menabrak Dika tersebut menyelonong lari keluar kelas.
"Kau ga papa Ka?" Tanya Perona, si empunya mendesis kesakitan. "Ayo berdiri--"
Tanpa aba-aba, Dika meremat kedua pundak gadis itu dan menatapnya horror. Seketika semua rasa sakit di tubuhnya menghilang. Si empu yang dicengkeram pundaknya pun merasa ngeri, langsung tak berani menatap death glare pria itu.
"Aduh sakit Ka, kenapa sih tiba-tiba jadi gini?" Tanya Perona panik. Takut pria itu tiba-tiba kerasukan.
"Lu udah nanya pendapat Arlan soal si Alvaro itu gabung? Yeahhh maksud ku bagaimana perasaannya?"
Perona bengong. Kenapa dia harus tanya Arlan soal Alvaro? Well, jujur saja ketua senmus satu ini merasa itu bukan lah masalah besar. Memangnya ada apa sih di antara Arlan dan Alvaro?
"Belum sih, tapi--"
"Kalau lu belum nanya itu ke Arlan, lu jahat banget Ron karena nyatuin mereka berdua. Tapi kalau dia sendiri yang bilang gak apa, ya sudah artinya dia sudah siap menghadapi resikonya sendiri."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Jeng.... Jeng...."
__ADS_1
Perona menggebrak pintu ekskul membuat Annisa dan Netta yang tengah membetulkan senar pun terkejut. Dua bocah itu lantaran langsung bermuka masam.
"Hehehe ayo sambut anggota baru kita!"
Plakkk! Dua pria jangkung itu berteriak kesakitan. Lah kok iso? Perona yang berdiri di tengah-tengah dua pria itu memukul punggung mereka dengan keras. Arlan dan Alvaro pun membelalak, sungguh tak percaya dengan geplakan Perona barusan.
"Sakit Anj*ng!" Umpat Arlan. Pria itu melayangkan jitakan cinta tepat ke kepala sang empu yang memukulnya tadi. Namun Perona berhasil menghindar lalu balas menjitak Arlan dengan stik drum yang dia pegangi dari tadi.
"Ya Allah, benjol pala gua Ron!" Serunya kesakitan.
Netta yang tadinya sibuk membetulkan senar bass miliknya lalu berjalan ke dekat Arlan, menyodorkan pria itu dua buah permen coklat. Dengan iseng gadis itu menoel benjolan Arlan membuat sng empu kembali mendesis.
"Sakit yeuu Anj! Nyesel gua masuk sini iseng banget orangnya!" Ucapnya kesal. "Bye semuanya, balik kanan, bubar barisan, jalan!"
"Lu mau kemana, ga bisa kabur lagi!" Perona menarik kerah baju Arlan dan menyeret pria itu bak mayat mati, tak peduli dengan Arlan yang tercekik dan bisa mati betulan.
"Nahh sebelum itu, kenalin ini keyboardis band kita namanya Annisa, yang itu bassist namanya Netta. Terus, gue Perona Adhitama jadi vokal utama!"
"Emang lu bisa nyanyi Ron? Kemarin nyanyi lagu Iwan fals waktu seni budaya aja ga ketarik, malah kek kambing kejepit."
"Berisik ga usah di inget! Itu aib IPA 1 doang!"
"Aib lu aja kali!"
Annisa dengan cepat melerai dua insan tersebut dari perkelahian, bisa gawat nanti tetiba ada gempa dadakan.
"Well karena kita udah lengkap jadi mau langsung lati--"
"Sebentar!" Alvaro menyela. Dua insan yang tadinya sibuk mengeluarkan seluruh isi kebun binatang dari mulutnya lantaran menoleh diam.
"Aku sama dia ga di tes dulu kemampuannya? Langsung latihan aja gitu?" Tanyanya sembari menunjuk Arlan.
"Ohh jadi lu pengennya kite di tes gitu? Ya udah ayok! Kite liat siape yang bakal lebih bagus!"
Shrukk!
Netta menarik rambut Arlan lembut namun berhasil membuat pria itu meringis. "Stop!" Ucapnya. "Kalian berdua kan beda bidang, kok jadi gini!"
"Ga usah di tes, gue udah liat kemampuan kalian berdua. Terutama elu." Perona menimpali lalu menunjuk Arlan dengan sedikit sunggingan miring.
Alis Arlan mengerut, sejak kapan gadis itu tahu permainan drumnya? Kan bisa jadi dia cuman iseng mempermainkan Perona kalau dia bisa main drum.
"Hah? Emang sejak kapan lu liat gue main drum?"
__ADS_1
Perona tersenyum miring. "Ada deh, rahasia!"