
*Fyuuhhh
Seorang lelaki muda berbadan tegap menyeka keringat di wajahnya dengan handuk pendek yang menggantung di lehernya.
"Hari ini begitu panas, apakah aku mungkin bisa bertahan? Tuhaaan... Kuatkan aku satu jam saja," lelaki itu berharap dengan wajah yang membuat iblis pun akan merasa kasihan.
Satu jam waktu yang di minta lelaki itu adalah waktu istirahat siang. Dia berharap bisa mendinginkan tubuhnya yang kepanasan dengan sekaleng *Doc P*. Minuman yang mungkin bisa mendinginkan kepalanya.
Akhirnya, meskipun sedikit sempoyongan, dia berhasil melewati setengah harinya dengan sukses. Dia baru saja memulai debutnya sebagai pekerja konstruksi, jadi dia tidak boleh begitu memalukan di hadapan pekerja yang lain. Istilahnya dia harus lebih menonjol sebagai pekerja baru dibandingkan dengan pekerja lama dan mungkin gajinya akan naik atau mungkin yang paling beruntung dia bisa mengukir sejarah konstruksi sebagai orang baru yang memulai debut dengan menjadi mandor.
"Hehehe," lelaki itu tersenyum senang dengan jalan sempoyongan.
Namun, tersenyum dengan gaya berjalan yang sempoyongan membuatnya seperti orang gila dihadapan para pekerja lainnya.
Jika dia mengetahui bahwa dia disangka gila oleh pekerja yang lain, dia pasti sudah berlari untuk menangis di pangkuan ibunya.
Apalagi jika dia juga tahu kebenaran bahwa kinerjanya adalah yang terburuk di antara para pekerja, dia mungkin sudah mati karena menangis darah.
Hidupnya sungguh sial untuk menjadi kehidupan seorang siswa genius. Genius harusnya menghadiri sekolah, bukan menjadi pekerja konstruksi seperti ini. Namun dia miskin, dan tidak ada yang mau berinvestasi membesarkan jenius kampung sepertinya.
Di luar sana masih banyak anak yang di beri predikat jenius, jadi dia adalah salah satu dari mereka, tetapi tidak seberuntung mereka yang lahir dalam keluarga bangsawan kaya.
Dia adalah seburuk-buruknya manusia yang memiliki predikat sebagai jenius. Bahkan lebih buruk dari sampah masyarakat.
Itulah yang dipikirkan oleh lelaki muda itu. Dia berpikir bahwa dia sangat sial dalam hidupnya, bahkan untuk makan keluarganya, hutangnya menjadi menggunung mencapai 100 juta yen. Jika bukan karena ayahnya yang tiba-tiba mengalami kecelakaan dan mati di tempat kejadian, mungkin dia masih di sekolah hari ini dan menikmati bangku SMA nya. Keindahan masa SMA,
*Haah...
Lelaki muda itu menghela nafas panjang, mengasihani dirinya sendiri karena hidup penuh dengan kesialan. Dan akhirnya dia tertidur pulas karena tubuhnya yang belum terbiasa dengan pekerja konstruksi hingga senja mendekat dan dia masih tertidur pulas di lokasi konstruksi. Tidak ada yang membangunkannya. Para pekerja yang lain berpikir bahwa semakin sedikit jumlah orang yang menyelesaikannya, semakin banyak pula uang yang di dapatkan.
Jika lelaki muda itu tahu ini, dia pasti akan menangis di pangkuan neneknya, di kuburan.
Saat dia terbangun karena kepalanya diinjak seekor kucing, dia benar-benar kelabakan karena bersamaan saat itu dia juga mengalami mimpi buruk bahwa uangnya tiba-tiba saja hilang dari sakunya.
Lantas saja dia mengusap kepalanya sambil matanya sedikit mengedip gatal. Sedangkan tangannya? Itu pasti kearah saku celananya, mencari tahu apakah uangnya benar-benar hilang.
Dia masih linglung antara menatap kucing orange yang menggoyangkan pantatnya seolah mengejeknya dan merogoh sakunya.
Alisnya berkedut-kedut !
Hiiro merasa sangat terhina, martabatnya sebagai manusia genius di lecehkan oleh kucing orange !
'Sial!'
__ADS_1
Namun, saat tidak menemukan apapun di sana, dia menyadari bahwa ada sesuatu yang salah. Tempat ini terlalu gelap dan,
"****, what the hell i see..."
Lelaki itu mengutuk sejadi-jadinya saat dia menyadari itu sudah menjelang malam dan para pekerja sedang mengantri mengambil upah kerja dan saat ini adalah antrian terakhir. Kalau dia tidak segera ikut mengantri maka uangnya akan benar-benar hilang seperti dalam mimpi. Saat ini dia benar-benar ingin menangis di pangkuan ibunya dan meratapi nasibnya.
Lelaki itu segera berlari mengikuti antrian terakhir, saat antrian terakhir selesai dan namanya disebut, dia akhirnya bisa bernafas lega dan bergegas ke mandor konstruksi untuk menerima upahnya.
"Niimoto Hiro!" Teriak mandor konstruksi itu.
Saat melihat seorang lelaki muda yang bergegas maju ke depan, mandor itu hanya bisa mendesah. Dia mengasihani anak muda ini. Masih remaja harus secara tiba-tiba menjadi tulang punggung keluarga menggantikan ayahnya yang mati. Inilah sebabnya dia membiarkan Hiro tertidur pulas sampai menjelang malam. Dia tidak ingin anaknya kelak mengalami nasib seperti lelaki ini. Jika itu orang lain yang tidur dan bukan anak-anak, dia pasti sudah menendangnya ke laut.
Adapun Hiro, dia tidak tahu pandangan dari mandor adalah pandangan rasa kasihan kepadanya, jika bukan karena itu, dia mungkin akan di tendang kelaut dan di terjang ombak samudra kemudian dia akan kembali meratapi nasibnya yang malang. Namun jika dia menyadari pandangan rasa kasihan itu, dia pasti sudah berjungkir balik karena rasa syukur dan sesaat melupakan nasib sialnya.
"A...a...apakah saya masih diberi upah Pak?" Tanya Hiro dengan nadanya yang gugup.
"Tentu saja masih, bukankah kamu masih harus menghidupi keluargamu? Namun, akan saya potong setengahnya karena kamu tertidur setengah hari, lalu ini bagianmu," mandor itu berkata sambil mengulurkan tangannya yang berisi uang upah kerja lelaki itu.
Hiro menerimanya dengan senang hati dan dengan bangga mengatakan,
"Siap Pak, lain kali hal memalukan seperti itu tidak akan terjadi lagi."
" Kalau itu terjadi lagi, maka kamu akan kubuang ke laut," jawab sang mandor dengan nada serius lalu menghilang dari lokasi konstruksi.
"Apakah selera humornya buruk, ataukah..."
Hiro benar-benar tidak berani memikirkan kelanjutan kata-katanya, dia bisa merindukan surga jika hal itu terjadi.
Tak lama kemudian sebuah motor matic menghampirinya.
"Aku akan mencari makan di kedai sekitar, apakah kau mau ikut?"
Identitas pemilik motor itu adalah mandornya sendiri. Untuk sesaat Hiro hanya bisa membeku, mencoba memproses apa yang baru saja terjadi di hadapannya.
"Maaf Pak, aku harus menghemat uang untuk biaya sekolah dan makan keluargaku," ucapnya dengan perasaan bersalah.
"Apa kau pikir aku akan sejahat itu untuk menggunakan uangmu untuk mentraktirku? Ayolah jangan bercanda, kali ini aku yang akan mentraktirmu makan."
Mata Hiro langsung menyala kedalam api kebahagiaan, seperti mengatakan bahwa apapun yang gratis harus diterima dengan bahagia. Baru saat inilah dia merasakan perasaan hidupnya benar-benar beruntung memiliki mandor yang baik hati, yang mau memberinya makanan gratis.
Jika mandor itu tau apa yang dipikirkan oleh Hiro, dia pasti sudah tersedak membuatnya muntah darah. Dan mengatakan nak, apakah kau tidak terlalu kikir dengan uangmu? Aku hanya mengajakmu agar kau besok datang lagi dan membuatku bisa menyelesaikan kurangnya sumber daya pekerja ini, oke. Aku tidak akan melewatkan kesempatan memelihara pekerja muda dengan harga murah sepertimu.
Jika mereka mengetahui apa yang mereka pikirkan masing-masing, mereka bisa dipastikan akan saling mengutuk penuh kebencian. Namun biarkan itu menjadi rahasia mereka sendiri.
__ADS_1
"Tapi Pak..."
"Hanya sekali, lain kali kalau kau ada uang lebih, kau bisa ganti mentraktirku makan makanan yang lebih enak."
Hiro tidak bisa benar-benar untuk tidak mengutuk dalam hati. Dia benar-benar ingin menolaknya kali ini, karena tidak ingin ganti mentraktir si mandor bangsat ini. Tetapi dia baru saja Bekerja hari ini dan melakukan kesalahan juga di hari pertama masuk kerja. Kalau dia di keluarkan dari pekerjaan konstruksi ini, dia tidak tahu harus mencari kemana lagi pekerjaan dengan gaji lumayan untuk mencukupi keluarganya. Mencari pekerjaan yang mudah dengan gaji lumayan sangatlah sulit, dan dia tahu itu.
Jika sebuah keluarga lengkap dengan 1 anak membutuhkan uang 20.000 ¢ ( duapuluh ribu chip ) untuk makan sehari-hari. Dan pekerjaan konstruksi ini menggajinya sekitar 50.000¢ bagi pekerja muda dan 75.000¢ untuk orang dewasa dengan jam kerja 07.00 - 18.00 sekitar 11 jam kerja dan parahnya hari ini dia hanya mendapatkan 25.000¢ cukup untuk makan sehari besok dan dapat menabung sedikit uang untuk keperluan mendadak adiknya yang masih SMP. Dia hanya memiliki tabungan orang tuanya sekitar 1.000.000¢ dan itu tidak akan cukup untuk biaya sekolah adiknya dan biaya makan sehari-hari dan hanya masalah waktu sampai sebelum mereka terlilit hutang kepada rentenir berkedok malaikat.
Dia sangat ingin menangis menghadapi sialnya hidupnya. Tetapi dia butuh uang yang setidaknya cukup untuk biaya makan sehari-hari. Dia harus bertahan dalam mengahadapi ketidakadilan ini. Keep strong Hiiro!
Kemudian dia dengan senyum yang dipaksakan menyetujui ajakan mandornya dan menaiki motor itu menuju kedai terdekat.
Akhirnya mandor itu berhenti di sebuah kedai yang kelihatan normal dan sederhana. Memasuki kedai itu dan mulai memesan makanan.
Sekilas Hiro melihat papan nama yang tergantung di luar kedai tersebut itu bertuliskan *Kedai makanan khas Indonesia*
Dia hanya bisa berfikir makanan jenis apa yang akan disajikan disini dan apa itu Indonesia? Apakah itu sebuah daerah? Ataukah negara kecil yang tidak terkenal? Dia hanya bisa mendesah memikirkan hal ini dan berharap menerima kejutan yang seserhana.
"Satu nasi gorengnya Pak, kamu mau pesan apa anak muda?"
Hiro tersadar dari lamunannya dan dengan cepat menjawab pertanyaan mandor tersebut.
"Sama seperti anda Pak."
"Oke, nasi gorengnya tambah satu lagi Pak."
"Oke, pelanggan setia, silahkan menunggu."
"Ngomong-ngomong, kenapa kau terus memanggilku dengan sebutan Pak?" Sang mandor menatap wajah anak muda disampingnya tersebut.
"..."
Namun yang ditanya hanya diam saja, membuat dia mulai menebak.
"Jangan bilang bahwa kau tidak tahu nama mandormu bukan?"
"..."
Alis sang mandor mengernyit tak percaya, kemudian dia menghela nafas panjang dan mengenalkan dirinya.
"Namaku adalah Hiroto Samsudin dan aku menjadi mandor disini untuk mewakili ayahku Hiroto Sozho sebagai pengawas proyek. Ngomong-ngomong jika kau bertanya padaku kenapa aku membawamu ke kedai sederhana ini aku mempunyai alasan khusus. Karena aku mempunyai status dua kewarganegaraan dan salah satunya adalah Indonesia, kampung halaman ibuku."
"Kalau begitu, apakah kau tertarik untuk menceritakan tentang kisah hidupmu padaku?" Lanjutnya.
__ADS_1