RENATHAN

RENATHAN
Prolog


__ADS_3

Malam itu sepasang insan yang sedang berjalan jalan di tengah keramaian sebuah taman. Hari ini malam minggu jadi banyak pasangan-pasangan yang yang ada di taman itu.


"Kita duduk di sana aja yuk," Ucap Renata yang diangguki oleh Nathan.


Kedua remaja tersebut duduk di bangku kosong yang memang sengaja disediakan di taman itu untuk tempat duduk.


Mata Renata memandangi sekitar, "Rame ya malam ini," Ia memandangi sekitar yang memang suasananya sangat ramai.


"Lo lupa kalau hari ini malam minggu," Jawab Nathan


"Oh iya hehe," Renata menyengir, ia kembali memandangi sekitar sampai indranya berhenti kala melihat pedagang gula kapas yang menarik perhatiannya.


"Nathan, Nathan mau itu," tunjuknya sambil menggoyang-goyangkan paha Nathan yang ada di sampingnya.


"Hah, yang mana,"


"Itu Nathan ada penjual gula kapas, ayo beli," Rengeknya seperti anak kecil, Nathan yang melihat itu pun merasa gemas dan mencubit pipi chubby Renata.


"Iya iya, lo tunggu sini dulu gue  beliin," Lalu Nathan pun berdiri dan beranjak ke arah penjual gula kapas yang ditunjukkan oleh Renata.


Renata tersenyum senang. Ia kembali melihat lihat sekitar, cuaca malam ini bisa dibilang cukup bagus. Banyak bintang yang menemani bulan di malam ini.


Renatha memandangi langit malam yang sangat indah hari ini.Setelah beberapa lama Nathan kembali membawa dua gula kapas, yang satu untuknya dan yang satu untuk Renata.


"Makasih Nathan," Ucapnya dengan senyumannya yang sangat manis.


Nathan yang melihat itu sedikit salting lalu menjawab "Hmm, gausah pakek senyum bikin salting orang aja," ucapnya dengan memelankan kalimat terakhirnya.


"Hah, lo bilang apa, Nath?" Tanya Renata karena tidak mendengar jelas gumaman terakhir Nathan.


"Iya sama sama,"


Renata mengangguk sambil memakan gula kapasnya. Renata memang sangat suka dengan gula kapas yang menurut sebagian orang rasanya hanya manis saja, tapi tidak dengan Renata. Menurutnya rasa gula kapas itu sangat enak dan unik.


Dengan sekejap gula kapas itu telah habis, milik Nathan pun begitu.


"Gue ke toilet sebentar, lo tunggu sini" Renata mengangguk sebagai jawaban, setelah itu Nathan pun pergi ke toilet yang ada di taman itu.


Renata mengeluarkan ponselnya untuk dimainkan sebagai penghilang rasa gabut saat menungu Nathan yang sedang di toilet.


Lama ia bermain ponsel akhirnya ia bosan, Nathan pun juga belum kembali entah kemana anak itu.


"Nathan kemana sih lama benget ke toiletnya," Kesalnya

__ADS_1


"Apa gue susulin aja ya," Lanjutnya. Ia pun pergi menyusul Nathan yang tak kunjung kembali dari toilet.


Ia berjalan dengan santai hingga dari kejauhan Ia melihat pemandangan yang sangat menyakitkan. Nathan berpelukan dengan seseorang.


Tak terasa air mata sudah menggenang di pelupuk mata. Ia berusaha menahan mati matian untuk tidak menangis. Akhirnya pertahanannya pun runtuh air matanya tak bisa dibendung.


Nathan melihat ke arahnya, Renata pun langsung berlari menjauh dari sana. Ia berlari tak tentu arah.


...****...


Nathan sedang berjalan menuju toilet untuk buang air kecil. Sesampainya di toilet Ia segera menuntaskan urusannya. Setelah itu ia pergi ke wastafel untuk mencuci tangan dan keluar dari toilet.


Saat ia sudah keluar dan mau menghampiri Renata tiba-tiba ia bertemu dengan Zeline.


"Nathan kamu disini juga," Ucap Nafiza, saat Nafiza akan menyentuh tangan Nathan ia segera menjauhkannya dari jangkauan Nafiza.


"Jangan macem-macem," Tukasnya dengan nada tajam.


"Kenapa sih beb, aku kangen banget loh sama kamu, emangnya kamu nggak kangen sama aku, kita udah lama nggak jumpa loh," ucapnya dengan nada manja.


Nafiza tetap berusaha menggapai tangan Nathan tapi Nathan terus menyingkirkan tangannya.


"Inget ya kita udah nggak ada hubungan lagi jadi jangan deket-deket gue,"


"Tapi kan kamu masih pacar aku, kita belum putus kan,"


Nathan ingin pergi dari sana tetapi malah dihalang oleh Nafiza.


"Lo minggir," ucapnya dengan nada tajam. Tapi Nafiza tidak menghiraukan itu. Tiba-tiba ia malah memeluk Nathan dengan erat.


"Lepasin," Nathan berusaha melepas dekapan Nafiza tapi tidak bisa karena dekapan cewek itu sungguh kuat.


"Lepasin njing," Ia mulai murka.


Nathan melihat depan disana ada Renta sedang melihat ke arahnya. Nathan melihat Renata yang lari dengan mengusap air matanya. Nathan kalut dan langsung mendorong Nafiza sampai terjatuh.


"Gue peringatin sekali lagi jangan pernah lo muncul lagi di hadapan gue," Setelah mengucapkan itu Nathan langsung berlari mengejar Renata yang sudah menjauh.


Nafiza melihat punggung Nathan semakin menjauh ia tak menghiraukan perkataan Nathan tadi. Ia tersenyum miring I am back babe lihat saja kamu akan kembali ke pelukan ku


...****...


"Ren..." panggil Nathan yang tak digubris oleh Renata. Renata terus mempercepat langkahnya sambil mengusap air matanya yang terus berlinang.

__ADS_1


"Ren, tunggu Ren aku bisa jelasin semuanya," ucap Nathan yang sedikit berteriak dan mengubah panggilannya dari gue lo jadi aku kamu.


"Renata tunggu Ren,"


Renata terus berjalan cepat ia ingin pulang sekarang. Renata melihat halte di seberang jalan, ia dengan segera pergi ke halte tersebut untuk menunggu taxi.


Dengan tergesa gesa ia menyebrang dan tidak memperhatikan kanan kiri. Sampai di tengah jalan ia tak sadar kalau dari arah kirinya ada sebuah truk yang melaju dengan kecepatan tinggi.


Nathan yang melihat itu pun panik, "RENATA AWASS," teriaknya.


Renata mendengar itu pun berhenti, ia melihat arah kiri lampu menyilaukan menerpa matanya, ia membelalak dan


BRAKK


Ia ter tabrak dan terlempar beberapa meter sampai kepalanya membentur pembatas trotoar. Nathan yang ada di pinggir jalan ingin menyelamatkan gadis itu tapi terlambat.


"RENATA," teriaknya.


Ia langsung berlari  ke arah dimana Renata berada. Ia langsung mendudukkan dirinya di samping gadis itu, ia lemas melihat ini.


Ia membalikkan badan Renata, darah dengan deras mengucur di kening Renta. Nathan yang melihat itu pun tak kuasa menahan tangisnya.


"Ren tahan Ren hikss... jangan tinggalin aku,"


"PANGGIL AMBULANS CEPAT," teriak Nathan pada orang-orang yang sudah mengerubunginya.


"Sayang bertahan," Ucapnya sambil terus menepuk pipi Renata.


Renata membuka matanya ia melihat wajah Nathan yang panik bercampur khawatir. Ia menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya.


Tangannya bergerak mengusap rahang tegas Nathan. "Nathan," ucapnya lirih.


"Sayang bertahan ya, bertahan sebentar lagi ambulans datang," Nathan berbicara dengan mulut bergetar.


"Jangan nangis aku nggak papa," Renata berucap lirih sambil sesekali ia mengerutkan alisnya karena menahan sakit.


"Nggak kamu harus bertahan," Nathan yang melihat gadisnya seperti itu hatinya terasa sakit.


Renata mengusap airmata yang mengalir di pipi Nathan "jangan nangis aku nggak suka lihat kamu nangis,"


"K-kalau a-a-ku pergi k-a-mu t-t-tetap h-harus k-kuat ya," Ucap Renata dengan terbata bata.


"Nggak kamu nggak boleh pergi Ren, jangan tinggalin aku,"

__ADS_1


Renata tersenyum "A-aku s-say-ang b-ang-et s-s-ama k-kamu unt-uk s-e-la-manya,"


Dan gelap


__ADS_2