RENATHAN

RENATHAN
Part 8


__ADS_3

Semua makanan telah tertata rapi di meja makan, yang melihat itu pun merasa tergiur dan aromanya pun sungguh menggugah selera.


Ethan yang melihat itu melongo sambil menjilat bibirnya. Tiara segera memposisikan duduknya di sebelah kanan Nathan.


"Ayo di makan," Deva mempersilahkan semuanya untuk segera makan dan tidak perlu merasa sungkan.


Ethan dan Lucas segera mengambil makanan yang mereka mau dengan antusias. Sedangkan Wafa dan Liam yang sedari tadi hanya diam sedikit malu dengan kelakuan dua temannya itu.


"Wafa, Liam, ayo di makan jangan diem aja," Tiara yang sadar dengan keterdiaman keduanya akhirnya menegurnya.


"Iya tante," Akhirnya Wafa dan Liam ikut mengambil makanan secukupnya. Mereka masih menerapkan adap tatakrama saat makan berbeda dengan Ethan dan Lucas yang seakan kesetanan yang tidak makan selama satu bulan.


"Heh temen lo gak pernah makan ya bisa sampek kek gitu," Liam berbisik pada Wafa yang ada di sebelahnya sambil  melihat cara makan Ethan dan Lucas menjadi sedikit mgeri.


"Bukan temen gue,"


Bukan. Bukan Wafa yang menyahut tetapi Nathan, ia sedari tadi juga memperhatikan keduanya sangat gedek dan ingin membuangnya ke sungai amazon biar dimakan piranha sekalian.


"Masakan tante bener-bener enak banget deh beruntung banget om Deva dapet istri kayak tante, udah cantik pinter masak lagi ya gak Than," Lucas memuji Tiara karena memang masakan Tiara menurutnya sangat enak seperti masakan chef restoran bintang lima.


"Iya tante ini makanan terenak yang pernah Ethan makan," Ethan menanggapi sembari menyendokkan nasi dan lauk ke dalam mulut.


"Jelas lah enak masakan siapa dulu dong, istri om gituloh," Deva menyahuti menaik turunkan alisnya bermaksud menggoda istrinya.


"Ah kalian bisa aja mujinya, beneran enak atau nggak nih,"


"Beneran enak kok ya nggak om,"


Deva hanya mengangguk dan tersenyum sebagai jawaban. Karena memang benar kalau masakan Tiara itu tiada duanya.


"Kalau enak habisin gih, tate bersyukur karena nggak buang-buang makanan lagi," Tiara dengan seanang hati mempersilahkan mereka untuk menghabiskan masakannya.


"Oh tentu siap tante," Dengan semangat empat limanya Ethan menambahkan lagi makanan kedalam piringnya.


"Cih nggak tau malu," Nathan berdecih pelan.


"Eh nggak papa Nathan, lagian kalau buang-buang makanan kan mubazir mending di habisin, " Ternyata perkataannya masih terdengar oleh sang mama.


"Nah betul tuh mubazir, dosa tau," Sahut Lucas.


Setelah itu mereka bertujuh melanjutkan acara makan dengan khidmat diselingi oleh obrolan kecil yang membuat suasana menjadi cair.


•ווו


Tok tok tok


"Dek kakak boleh masuk?" Ale sudah siap dengan setelan rapi mengetuk pintu kamar Renata yang tertutup.


Tidak ada sahutan dari dalam, atau mungkin adiknya sedang tidur atau apa. Karena penasaran tak ada sahutan dari dalam akhirnya Ale memutuskan untuk masuk saja.


Terdengar suara gemercik air dari kamar mandi berarti Renata sedang mandi. Ale mengamati kamar Renata yang sangat rapi seperti biasa. Ia mendudukkan diri di atas ranjang dan mengeluarkan handphone sembari menunggu Renata selesai mandi.


Hampir dua puluh menit telah berlalu, tapi tidak ada tanda-tanda Renata selesai dengan acara mandinya hingga membuat Ale merasa bosan sekaligus jengah.


"Tu anak mandi apa mati sih," Gerutunya sudah mulai kesal.


"Dek lo mandi apa ngapain sih lama bener, lumutan nih dari tadi nunggu," Ale berteriak berharap mendapat sahutan dari adiknya.


"Anjir lah," Ale merebahkan tubuhnya di kasur milik Renata, bosan dengan posisi terlentangnya ia berganti miring kanan, miring kiri, tengkurap hingga seperti sekarang ini ia sedang menungging seperti ayam terjungkal.


"Astaghfirullah kak ngapain," Melihat posisi Ale Renata sungguh terkejut. Bagaimana tidak posisisnya saja sangat tidak etis untuk dilihat.


Ale yang mendengar suara Renata melongokkan kepalanya ke belakang melihat adiknya yang tengah menggosok rambut basahnya dengan handuk.


Ia merubah posisinya menjadi duduk dan menatap Renata sengit hingga membuat Renata bingung. Ada apa memangnya dengan sang kakak ini.


"Kenapa natapnya gitu?" Tanyanya.


"Lo tuh ya mandi hampir satu jam air tuh mahal asal lo tau," Ale menjitak pelan kepala adiknya dengan gemas. Renata mengaduh kesakitan sambil mengusap jidat estetiknya yang terkena jitak oleh Ale.


"Sakit tau kak, lagian kan di rumah ini airnya nggak beli," Elaknya.


"Iya nggak beli tapi biaya listriknya aduh lo tuh ya emang bener-bener," Ale makin geram dengan tingkah adiknya yang satu ini.


"Ya terus kenapa, eh tapi tunggu kakak ngapain ada di kamar Renata?" Akhirnya Renata menanyakan kehadiran sang kakak yang berada di dalam kamarnya.


"Kan gue sampe lupa, lo mau ikut nggak gue mau ke supermarket buat beli sesuatu," Jelas Ale mengutarakan tujuan awalnya tadi memasuki kamar Renata.


"Mau mau, aku ikut," Jawab Renata dengan antusias.


"Yaudah buruan sono ganti baju masa lo mau pakek baju itu,"


"Lah emangnya baju Renata kenapa rapi juga udah wangi juga udah kurang apa lagi," Renata meneliti penampilannya.

__ADS_1


"Ish lo ya masa ke supermarket mau pake daster hah mau dibilang mirip ibu-ibu?"


"Ya apa masalahnya kan emang bener calon ibu-ibu,"


"Ah terserah lo deh suka suka," Ale akhirnya mengalah jika tidak adiknya itu akan terus menjawabnya.


"Iya iya yaudah Renata ganti baju dulu,"


"Jangan lama-lama gue tunggu di bawah,"


•וווו


Sebuah pesawat yang mengangkut beberapa orang telah lepas landas. Ditengah perjalanan pesawat tersebut menurunkan beberapa pasukan yang dibawanya.


Beberapa pasukan tersebut turun dengan menggunakan parasut dan mendarat di sebuah gedung bekas pabrik kosong.


Satu orang yang diyakini adalah pemimpinnya mengarahkan semua pasukannya untuk menyebar ke seluruh penjuru pabrik.


Pasukan pun menyebar, komandan mengambil senjata dan bersembunyi dibalik tumpukan tangki yang berisi minyak tanah.


Melihat beberapa musuh keluar ia segera menembaknya dan musuh pun tewas seketika. Dirasa aman komandan masuk area pabrik dengan perlahan.


Di dalam sangat sepi dan dingin. Banyak kilatan listrik dan percikan-percikan api kecil akibat dari korsleting listrik yang terkena air.


Komandan mendengar suara mobil yang mendekat. Ia segera berlari menaiki tangga dan bersembunyi dibalik tangki dan ban bekas yang ditumpuk.


Mobil yang mengangkut beberapa manusia robot memasuki kawasan pabrik. Komandan mengintai dari celah di balik tumpukan ban dan tangki. Ia mereload senjatanya dan menembak tepat dibagian lubang yang digunakan untuk mengisi bahan bakar.


Bommm


Semua manusia robot yang berada dimobil tadi seketika meledak bersama dengan mobilnya.


Terlihat banyak manusia robot yang mondar mandir menjaga dan mengawasi kawasan luar dan dalam pabrik. Dengan santai komandan terus berjalan menaiki tangga menuju lantai atas. Ia melirik musuh dan menembaki musuh yang ada di sekitarnya.


Para manusia robot yang mendengar suara tembakan segera lari menuju arah sumber suara. Disaat banyak musuh mulai berdatangan tiba-tiba saja peluru yang ada di senjata komandan habis.


Ia kemudian membuang senjatanya dan berlari mencari tempat aman. Ia membuka seluruh ruangan tetapi banyak musuh. Tak ambil pusing komandan terus berlari dan menghajar manusia robot yang menghalanginya.


Terdapat celah untuk menuju lantai bawah dan segera ia melompat. Sampai di lantai dasar komandan berlari di antara tumpukan tangki dan kotak-kotak yang entah berisi apa. Sesekali ia menggulingkan tangki dan menendangnya untuk menghalau para manusia robot yang mengejarnya.


Melihat ada mobil yang tak terpkai komandan segera berlari kesana dan bersembunyi. Ia mengawasi sekitar dan mencari ide. Manusia robot semakin banyak berdatangan. Ia harus sesegera mungkin memutar otak agar tidak mati dengan konyol.


Akhirnya ia menemukan ide. Komandan menendang tangki berisi minyak tanah hingga tumpah untuk mengecoh para manusia robot, ia segera berlari menjauh dan ketika para manusia robot mulai berkumpul ia meraih pistol di sakunya dan membak tangki tadi dan...


Semuanya seketia meledak mengeluarkan api yang sangat besar.


Tak lama api padam, ternyata komandan masih selamat hanya terkena dampaknya sedikit dan mengalami luka ringan.


Komandan membuka matanya perlahan. Tiba-tiba salah satu rekannya datang mengagetkannya membuat ia bersiaga menodongkan pistol ke arahnya.


"Hey hey ini aku," Ucapnya.


"Ternyata kau," Komandan menghela nafas lega.


"Kau ini kenapa seceroboh tadi mengagetkanku tagu nggak. ," Cerocosnya.


"Tadi sudah ku perhitungkan jarak tembaknya dan sebenarnya cukup untuk lari," Jelas komandan.


"Sekarang tinggal kita saja yang hidup, apa ada rencana?" Tanyanya tapi tidak dihiraukan oleh komandan.


Setelah dirasa tidak apa-apa mereka berdua berjalan keluar untuk menghabisi musuh yang tersisa. Keduanya mulai menyusun strategi.


"Kau nanti pancing dari sana dan aku akan menmbaknya dari sebelah sana, mengerti," Jelas komandan kepada pasukannya yang hanya tinggal satu itu.


Ia mengangguk dan segera berlari menuju tempat yang telah diperintahkan untuk memancing musuh. Ia segera menembakkan bebrapa peluru ke udara sebagai pancingan dan bersembunyi.


Beberapa musuh pun datang, segera komandan menembakinya hingga tak tersisa satu pun musuh. Prajurit tadi keluar lagi dari persembunyiannya berniat untuk membantu komandan, tetapi dia terbengong manusia robot tadi semuanya telah berubah menjadi kotak. Dan komandan berjalan dengan santai dengan menembakkan beberapa peluru ke udara pertanda kemenangan.


Dan game pun berakhir dimenangkan oleh Nathan dan team. "Woahh bos lu menang lagi," Dengan heboh Lucas menatap layar komputer yang tadi digunakan oleh Nathan dkk untuk bermain game.


"Dewa mah emang beda ye gak," Lanjutnya.


"Bos kok dilawan," Ethan ikut menanggapi karena kagum dengan kehebatan Nathan dalam bermain game.


"Tadi lo record nggak Nath buat konten youtube?" Tanya Liam setelah me-log out gamenya.


"Udah tinggal ngedit," Jawab Nathan singkat.


"Tugas lo Waf udah menanti tuh,"Lucas menyenggol Wafa yang masih sibuk dengan laptopnya.


" Tugas lo juga kali nggak gue aja,"Sewot Wafa.


"Main satu match lagi mau nggak," Ucap Ethan sambil mengklaim hadiah yang diperolehnya tadi.

__ADS_1


"Gak," Nathan bangkit dari duduknya dan merebahkan tubuhnya di kasur kesayangannya.


"Ogah lo cupu sih mainnya," Lucas tersenyum mengejek saat menatap Ethan.


"Ngaca lu, kaya lo udah pro aja mainnya," Ethan tak terima dikatain cupu oleh Lucas.


"Ya seenggaknya gue masih ada di atas lo lah nggak terlalu cupu kek lo,"


"Lo kok mojokin gue sih, gelut sini sama gue maju lo,"


Ethan dan Lucas mulai baku hantam hingga membuat beberapa barang yang ada di kamar Nathan berantakan.


"Woy berhenti kalian," Wafa mencoba melerai mereka berdua malah terkena tonjok dari Ethan dan Lucas. Wafa langsung ikut tersulut emosi dan ikut saling pukul.


Liam yang melihat itu dengan geram ingin memisahkan mereka bertiga malah dia yang dikeroyok.


"Woy, woy kok malah gue sih yang dibogem anjir,"


"Argh sakit woy berhenti,"


"Berhenti," Suara dingin Nathan menginterupsi mereka. Membuat mereka bertiga berhenti memukuli Liam.


Ethan, Lucas, Wafa, dan Liam menoleh melihat Nathan yang sudah duduk dengan tatapan tajamnya namun tak membuat mereka takut.


Ethan dan Wafa saling pandang memberi isyarat juga kepada Liam dan Lucas. Mereka ber empat tersenyum misterius menatap Nathan.


Nathan bingung mengapa mereka berempat tiba-tiba tersenyum sungguh mengerikan. Apa mereka kerasukan setan penunggu kamar ini ya, Nathan menjadi berpikir negatif.


Ethan, Wafa, Liam, Lucas berdiri menghampiri Nathan dengan senyum misterius yang masih tercetak di wajah mereka.


Tiba-tiba Wafa dan Liam langsung mencekal kedua tangan Nathan. "Heh mau ngapain lo," Nathan mencoba bersikap tenang sedangkan Ethan dan Lucas mulai menggelitik pinggang maupun telapak kaki Nathan.


"Anjing woy, ahahaha jangan gini lepas," Nathan mulai gelejotan. Ia berusaha melepaskan diri tetapi ia telah dicekal oleh Wafa dan Liam.


"Woy lepas argghh,"


"Rasain nih gelitikan maut gue," Ethan menggelitik pinggang Nathan dengan bruntal hingga Nathan menggeliat tak karuan.


•ווו


"Kakak mau beli apa sih sebenernya, kita udah hampir satu jam loh ini cuman muter-muter aja," Renata sudah mulai kesal dengan Ale yang dari tadi hanya muter-muter tidak jelas di supermarket itu. Sudah bagaikan emak-emak rempong yang sedang berbelanja hanya ditawar saja.


"Bentar dulu siapa tau nyelip di sela-sela barang kan," Jawab Ale sambil memperhatikan rak dengan teliti.


"Iya tapi apa kak, hadeh udah kaya emak-emak rempong aja," Renata menggerutu lalu menunggalkan Ale yang masih saja meneliti rak yang dipenuhi barang.


Renata mengambil keranjang belanja sendiri dan menuju ke arah rak cemilian. Ia mengambil jajan kesukaannya hingga tak lama kemudian keranjang di tangannya telah penuh terisi oleh makanan ringan. Mulai dari yang manis, asam, pedas, asin dan lain-lain semua ia ambil.


Renata memang pecinta makanan ringan, makanya jika ia belanja makanan ringan tak tanggung tanggung akan memakai dua keranjang.


Dan sekarang mumpung bersama Ale ia akan membeli apa yang dia mau. Dirasa cukup ia kembali menghampiri tempat dimana Ale berada.


"Kak ayo pulang," Renata melihat kakaknya yang masih melihat-lihat isi rak.


Ale menoleh dan alangkah terkejutnya ia melihat Renata telah membawa dua keranjang penuh makanan ringan.


"Astaghfirullah dek lo mau mukbang?" Ale menatap tak percaya kepada adiknya itu.


"Nggak juga, tapi lumayan mumpung ada kakak yaudah Renata sekalian beli,"


"Huft... Yaudah ayok pulang sebelum lo ngabisin seluruh isi dompet gue," Ale berjalan mendahului Renata.


"Tapi emang kakak udah ketemu apa yang mau dibeli?"


"Udah, nih," Ale menunjukkan isi keranjangnya yang terisi beberapa barang.


"Yaudah ayo,"


Renata dan Ale berjalan menuju kasir untuk membayar barang yang mereka ambil. Sesampainya di kasir Ale meletakkan dua keranjang berisi makanan ringan milik Renata dan satu keranjang miliknya.


Ale juga tak urung membantu mengeluarkan barang yang akan dihitung agar memudahkan pegawai untuk men-scanenya.


Renata yang berada di sebelah Ale mulai bosan hanya diam menunggu selesai. "Kak bosen, Renata tunggu di mobil aja ya,"Setelah mendapat anggukan dari Ale, Renata keluar menuju mobil untuk menunggu kakaknya.


"Totalnya duaratus empat puluh tiga kak," Ucap mbak kasirnya yang telah selesai menghitung dan memasukkan barang dalam kantung kresek.


Ale mengeluarkan tiga lembar uang berwarna merah dan menyerahkan kepada kasir. Ia mengabil kantung kresek yang sudah berisi barang yang tadi ia beli beserta jajan Renata sembari menunggu uang kembalian.


BRAKK...


Dari luar terdengar dua benda yang saling bertabrakan hingga menimbulkan suara benturan yang sangat keras hingga terdengar sampai dalam supermarket yang posisinya memang dekat dengan jalan raya.


Ale langsung menoleh keluar terlihat orang-orang mulai berkumpul di tempat kejadian. Pikirannya langsung tertuju kepada Renata, yang belum lama tadi pamit untuk menunggunya di mobil.

__ADS_1


"Renata,"


__ADS_2