
Brumm... Brumm... Brumm
Malam ini suasana di arena balap yang sering digunakan balap liar oleh anak-anak geng motor sangat ramai.
Banyak dari kalangan remaja baik laki-laki maupun perempuan semua terlihat memenuhi pinggiran arena.
Seperti yang sudah disetujui tadi siang malam ini seorang Nathan yang menjabat sebagai ketua dari geng motor Phoenix Zervagos akan melawan Saga.
Semua orang terlihat antusias karena mereka sudah memastikan bahwa malam ini yang menang adalah Nathan lagi.
Ya memang seorang Nathan tidak pernah kalah saat ditantang untuk balapan motor oleh siapapun.
Tetapi sebagian orang juga ada yang membuat taruhan untuk memastikan siap nanti yang akan menang.
"Mana nih bos kalian? Jangan-jangan dia takut," Ucap Saga meremehkan dengan disusul tawanya dan semua teman-temannya.
"Songong banget lu ye tunggu aja ntar," Sahut Ethan sedikit emosi.
"Eits santai bro sensian amat sih," Sahut salah satu dari teman Saga.
"Gimana gak emosian kalo lawannya lo," Kini Lucas yang merasa emosi. Bagaimana tidak saat mereka bertemu seperti ini selalu saja membuat orang emosi.
"Heh pasti ketua kalian takut kalah kan makanya gak dateng,"
"Udah lah ngaku kalah aja iye gak,"
Tak lama dari itu suara deru motor lain datang. Motor ninja hitam yang dikendarai oleh seseorang dengan helm fullface yang bertengger di kepalanya tiba-tiba berhenti di hadapan mereka.
Orang tersebut segera menstandarkan motornya dan melepas helm fullface yang ia kenakan tadi.
"Gue gak akan kalah dari lo," Ucapnya dengan nada dingin.
"Berani dateng juga lo ternyata," Saga kembali meremehkan ketika melihat Nathan datang dengan motor ninja hitamnya.
"Gue emang bukan pengecut kek lo yang beraninya cuman nantangin doang," Ujar Nathan dengan kata-kata pedasnya.
Saga terlihat sangat emosi karena omongan yang Nathan lontarkan dan berhasil menyentil hati mungilnya.
Mereka berdua segera bersiap di belakang garis start untuk bersiap meluncur dengan motor masing-masing.
Di sana terlihat seorang gadis dengan pakaian minim sedang berdiri memasang bendera pertanda pertandingan di mulai.
Saat bendera itu di kibaskan mereka berdua langsung melaju dengan kecepatan penuh hingga meninggalkan debu dan daun kering yang beterbangan akibat sapuan angin yang mereka ciptakan.
•ווו
Di dalam kamar bernuansa putih yang dipadukan dengan warna lavender terlihat sangat menenangkan.
Disana terdapat gadis yang tengah asik tengkurap di atas kasur dengan laptop dihadapannya.
Renata tengah fokus mencari film yang bagus untuk ia tonton hari ini. Malam ini ia akan begadang mengingat besok adalah hari sabtu jadi sekolah libur ia akan puas-puaskan untuk menonton film.
Setelah dapat ia berdiri untuk mengambil camilan di dapur tetapi ia baru ingat kalau stok camilannya sudah habis dan belum membeli lagi untuk stok.
Renata mengambil cardigan miliknya tak lupa dompet juga ia bawa, ia akan belanja dulu ke supermarket karena menurutnya tidak seru kalau menonton film tidak ditemani camilan.
Dirasa siap Renata membuka pintu kamar dan berjalan menuju lantai bawah untuk meminta izin dulu. Renata menuruni satu persatu anak tangga dengan perlahan.
Renata melihat ternyata di ruang tengah terdapat ayah serta bundanya yang tengah bermesraan sambil menonton televisi.
Renata menghampiri kedua insan tersebut. Mereka menoleh karena mendengar langkah kaki yang mendekat ke arah mereka.
"Yah, bun, Renata mau keluar sebentar ya mau ke supermarket soalnya stok cemilan Renata udah abis," Izin Renata kepada kedua orangtuanya.
"Mau ayah anter?" Tawar Henry kepada anaknya. Ia selalu khawatir jika anaknya ini akan keluar malam.
"Nggak usah ayah aku sama mang Luis aja, ayah dirumah temenin bunda," Tolak Renata.
"Yaudah kamu hati-hati ya kalau ada apa-apa langsung telpon ayah," Ucap bunda Widia.
"Iya bunda tenang aja, yaudah aku berangkat dulu keburu malem, assalamu'alaikum,"
"Waalaikumsalam hati-hati,"
Setelah mengucap salam Renata segera berjalan keluar menemui mang Luis untuk mengantarnya ke supermarket.
"Mang Luis, anterin Renata yok ke supermarket," Sapa Renata saat netranya menangkap keberadaan mang Luis yang tengah mengelap mobil.
"Non Renata mau ke supermarket, ayo non mamang anterin," Ujar mang Luis.
Lalu segera beliau masuk kedalam mobil diikuti Renata yang duduk manis di kursi bagian belakang.
Mang Luis segera menyalakan mesin mobil dan segera meninggalkan pekarangan kediaman Yuva.
Saat tiba di pertengahan jalan mang Luis tiba-tiba menurunkan laju mobilnya ketika melihat di depan sana banyak orang berkerumun.
"Kenapa mang?" Tanya Renata memastikan.
"Itu non di depan ada apa ya, coba mamang cek dulu," Mang Luis keluar mobil untuk mengecek keadaan di depan sana.
Renata diam didalam mobil sambil menatap orang-orang yang berkerumun di depan sana. Sebenarnya ia juga penasaran ada apa tapi ia memilih tidak ikut turun.
Tak lama mang Luis kembali memasuki mobil. "Gimana mang ada apa?" Tanya Renata.
"Anu non ada balap liar di depan sana, kita mau terobos atau puter balik aja?"
"Kita Put-"
Brak... Brak... Brak...
Belum sampai Renata selesai bicara tiba-tiba kaca mobil diketuk dengan keras, di luar tampak orang-orang yang berpakaian seperti preman tengah berusaha membuka pintu mobil.
Brak... Brak... Brak...
"WOY BUKA!!!"
__ADS_1
"BUKA NGGAK ATAU KITA PECAHIN NI MOBIL,"
"Aduh mang ini gimana?" Renata panik ia terlihat sangat ketakutan.
"Nggak tau non ini gimana,"
"KELUAR LO, BUKA,"
"Mang,mamang di dalam aja jangan keluar," Cegah Renata.
"Tapi non-"
"Udah mamang di sini aja jangan keluar nanti kalau terjadi sesuatu sama mamang gimana,"
Preman itu masih saja menggebrak-gebrak kaca mobil. Renata panik hingga tak tau harus berbuat apa.
"KELUAR LO GUE PECAHIN BENERAN NIH,"
"Non mamang keluar aja ya,"
"Jangan mang,"
Sudah terlambat mang Luis keluar menghadapi preman-preman tersebut. Renata semakin panik ia tak tau harus berbuat apa.
Ia melihat disana mang Luis dikeroyok dan digebukin oleh preman itu. Tiba-tiba pintu sampingnya terbuka. Renata terkejut, preman itu menyeringai. Preman tersebut mencekal tangan Renata.
"Lepasin," Renata meronta-ronta, ia berusaha melepaskan cekalan tangannya dari preman itu. Namun nihil tenaganya tak sebanding dengan preman itu.
Preman dengan tubuh gempal itu menyeret Renata hingga di bawah pohon besar pinggir jalan.
"Lepasin, tolong," Teriak Renata.
"Tolong lepasin,"
"Diam gak," Preman itu menghempaskan tubuh Renata ke tanah. Ia meringis karena pantatnya menghantam keras di tanah.
"Pergi jangan mendekat," Renata merangkak mundur saat preman itu melangkah maju.
"Cantik banget ternyata," Ucap preman itu menyeringai.
"Pergi gak lo, tolong..."
"Tolong...."
Renata terus merangkak mundur hingga tubuhnya sudah membentur batang pohon. Ia sangat ketakutan. Di sana terlihat mang Luis sudah tepar tak sadarkan diri karena dihajar oleh teman-teman preman itu.
Pria tersebut mensejajarkan tingginya dengan Renata. Ia mendekatkan tangannya ke wajah Renata. Tapi sebelum terkena pipinya tangannya sudah di tepis.
"Jangan berani-berani sentuh saya,"
Pria itu menatap Renata tajam. "Woah berani juga lo,"
"Berani kenapa, gue gak takut sama manusia modelan lo,"
Renata meludah hingga terkena wajah preman itu. Pria itu mengusap wajahnya, amarah tiba-tiba menguasainya. Beraninya wanita ini meludahinya belum tahu saja dia siapa.
Pria tersebut langsung mencengkeram rahang Renata dengan emosi. "Berani lo hah, belum tau lo siapa gue,"
Plak
Satu tamparan berhasil lolos mengenai pipi kiri Renata. Renata meringis merasakan panas yang menjalar di pipinya.
"Jangan main-main sama gue,"
Preman itu mendekatkan wajahnya ingin menciun bibir Renata. Renata yang paham pun menampar pria di depannya itu dan mendorongnya kuat hingga pria itu terjatuh.
Renata segera berdiri hendak melarikan diri tetapi tangannya sudah di cekal oleh preman tadi.
"Tolong..."
"Tolong..."
"Lepasin gak!! Tolong..."
"Mau kemana lo hah," Preman itu mencengkeram pergelangan tangan Renata hingga ia meringis kesakitan.
•ווו
Dua sepeda motor melaju dengan cepatnya, saling beradu untuk berebut menuju garis finish.
Nathan tertinggal jauh. Saga yang menyadari tersenyum miring.
"Malam ini lo bakal kalah, Nathan" Gumam Saga.
Garis finish sudah di depan mata. Nathan langsung menambah kecepatan motornya hingga melaju dengan cepat. Saga yang melihat itu kaget ia juga segera menambah kecepatan motornya.
Nathan tadi memang sengaja memperlambat kecepatan motornya agar bisa mengelabuhi lawannya. Hingga garis finish di depan mata ia menambah kecepatan motornya.
Nathan mengendarai motornya dengan cepat hingga menyalip Saga dan sampai di garis finish terlebih dahulu. Malam ini dia menang lagi.
Memang tidak ada yang bisa mengalahkan seorang Nathan Haidar Zaujan.
"Arggghhh,sial" Saga menggeram marah lagi-lagi ia kalah dari Nathan.
Nathan menstandarkan motornya dan menuju teman-temannya. Langsung disambut ucapan selamat oleh mereka.
"Wooo pak bos selamat ya," Ethan langsung menyalami Nathan dan memeluknya ala anak laki-laki.
"Selamat bos besok jangan lupa traktirannya," Lucas juga mengalami Nathan.
"Selamat Nath lo menang lagi, emang the best deh lo," Ucap Wafa dengan bangga.
"Selamat bos wuih makan-makan habis ini," Liam menepuk pundak Nathan memberikan ucapan selamat.
Saga terlihat marah dan tak terima, ia pastikan lain kali akan memenangkan pertandingan ini.
__ADS_1
Saga sedikit menyesal telah menjadikan mobil kesayangannya sebagai taruhan. Tadinya ia sudah yakin akan menang hingga menarunkan mobil kesayangannya. Tapi nyatanya salah besar ia tetap kalah melawan Nathan.
Ethan menoleh ke arah Saga dan kawan-kawan. Ia mendekat diikuti Lucas, Wafa, Liam juga Nathan.
"Ekhm gimana?" Tanya Ethan dengan senyuman yang menurut Saga sangat menyebalkan.
"Mana-mana kunci dan surat-suratnya," Tagih Lucas.
"Heh awas aja lain kali gue gak bakal kalah dari lo," Saga menatap Nathan dengan tatapan kebencian.
"Hmm tapi nyatanya lo tetap kalah dari gue," Nathan tersenyum miring.
"Ayo cepat mana," Ethan menagih dengan tak sabaran.
Saga menyerahkan kunci mobil kesayangannya beserta surat-suratnya. Setelah menyerahkan itu Saga segera memakai helmnya kembali bersiap untuk pergi.
"Eh-eh kunci motornya mana katanya kalau menang dapet motor sama mobil," Ethan mencekal kerah belakang jaket Saga.
Hampir saja ia lupa jika motornya juga lepas. Saga menepis kasar tangan Ethan ia segera merogoh saku jaketnya dan memberikan kunci motor beserta suratnya juga.
Saga melenggang pergi dengan amarah yang menguasai dirinya. Orang-orang juga sudah membubarkan dirinya masing-masing karena hari juga sudah larut.
Sayup-sayup Nathan mendengar suara orang minta tolong. Ia melihat-lihat sekitar tidak menemukan siapapun. Ia berjalan mencari asal suara tadi.
"Bos mau kemana?ini mobil sama motornya gimana?" Teriak Ethan ketika melihat Nathan berjalan menjauh.
"Amanin seperti biasa," Jawab Nathan.
"Argh lepasin tangan gue," Teriak Renata kesakitan karena cengkraman preman itu terlalu kuat.
"Diem bisa gak sih lo," Preman itu semakin mencengkeram tangan Renata.
"Udah lah cantik malam ini kita seneng-seneng bareng," Ucap salah satu teman dari preman itu.
"Bawa ke markas aja bos," Ucap preman yang satu lagi.
"Iya bos lumayan buat seneng-seneng malam ini, "
Renata semakin ketakutan mendengar ia akan dibawa ke markas mereka.
"Lepasin! Tolong..."
Plak
Lagi-Lagi satu tamparan lolos mengenai pipinya. Air matanya luruh, pipinya terasa nyeri sekarang akibat dua kali mendapat tamparan.
Preman tersebut mengusap pipi Renata. Renata memejamkan matanya dan tetap berusaha menjauhkan diri dari preman itu.
"Kalau lo diem gue gak bakal kasar sama lo," Ucapannya dibuat selembut mungkin agar tidak menakuti perempuan di depannya itu.
Renata menangis, ia pasrah akan keadaan, ia hanya berharap ada yang menolongnya.
"Ayah, bunda Renata takut tolong" Batin Renata. Preman itu mendekatkan wajahnya ke wajah Renata.
"Ya Allah tolongin Renata, Renata takut" Renata menangis dalam diam air matanya terus keluar dari pelupuk matanya.
Hingga tiba-tiba ia merasakan cengraman tangannya terlepas dan-
Bugh
Satu pukulan mendarat di rahang preman itu hingga membuatnya tersungkur di tanah. Renata terkejut hingga ia mundur satu langkah.
Para teman-teman preman itu kaget saat bosnya di pukul hingga tersungkur. Mereka segera maju untuk menyerang Nathan.
Bugh
Bugh
Bugh
Bugh
Suara pukulan terdengar bertubi-tubi hingga tak lama dari itu semua preman tadi tepar dengan wajah babak belur.
Nathan mendekat ke arah gadis yang tengah melihatnya dengan perasaan takut.
"Lo gak papa?" Tanya Nathan
Renata menggeleng, "Terima kasih sudah nolongin gue, gue hutang budi sama lo,"
"Gak usah di pikirin sekarang gue anter lo pulang," Ucap Nathan.
"Tapi gimana dengan mang Luis dia pingsan," Renata khawatir dengan keadaan mang Luis yang tidak terlihat baik-baik saja.
Nathan melihat kearah yang ditunjuk Renata dan mengangguk mengerti.
"Tenang temen-temen gue yang ururs,"
"Tapi-"
"Udah gak papa yang penting sekarang lo selamat, udah malam juga gak baik cewek diluar sendirian malam-malam gini,"
"Heh," Teriak Nathan memanggil teman-temannya yang tak jauh dari tempatnya berdiri.
"Urus supirnya dia gue anter pulang dia dulu,"
"Siap bos beres," Ucap Lucas.
Nathan menghampiri motornya dan memakai helmnya. Nathan mengulurkan tangannya untuk memudahkan Renata naik ke atas motor.
Nathan segera melajukan motornya dengan kecepatan sedang. Sebelum itu ia pamit terlebih dahulu dengan teman-temannya.
"Gue duluan," Ucapnya.
"Hati-hati bos," Teriak Ethan.
__ADS_1