
"Renata,"
Ale langsung berlari keluar dari supermarket tanpa memperdulikan pegawai kasir yang meneriakkan kembaliannya.
"Kak kembaliannya,"
Ale berlari dengan tergesa-gesa menuju tempat kejadian untuk memastikan apakah itu benar sang adik atau bukan.
Ia langsung menerobos kerumunan orang, disana ia melihat seorang gadis terduduk dengan seorang pria yang motornya bagian depan sedikit hancur.
"Kakak nggak papa?" Tanya Renata menghampiri gadis yang duduk sembari memegangi sikunya yang terluka.
Ale yang melihat itu sangat lega. Setidaknya bukan Renata yang mengalami kecelakaan.
"Aduh kak mending kita ke rumah sakit yuk, tangan sama kaki kakak berdarah semua itu," Renata sangat khawatir melihat kondisi gadis yang ada di depannya itu.
"Tidak usah kak saya baik-baik aja kok, nanti biar saya obatin sendiri," Tolak gadis itu secara halus.
"Nggak, nggak bisa kamu harus ke rumah sakit untuk penanganan lebih lanjut, takutnya nanti kenapa-napa,"
Renata melihat sekitar dan menemukan sang kakak sedang berdiri di antara kerumunan dengan menenteng dua kresek belanjaannya.
"Kak, tolong anterin kakak ini ke rumah sakit terdekat ya, please, takutnya nanti dia kenapa-napa,"
"Yaudah ayo buruan," Ale membantu gadis tersebut berdiri dan memapahnya untuk berjalan.
"Masnya juga nggak papa kan?" Kini Renata menghampiri laki-laki yang tadi pelaku penabrakan.
"Nggak papa kok, cuman motornya yang sedikit rusak," Jawab laki-laki tersebut.
"Yaudah, lain kali hati-hati ya mas. Saya tinggal dulu ya?"
Setelah mendapat anggukan dari laki-laki tadi Renata berjalan menyusul kakaknya, dan kerumunan pun mulai membubarkan diri.
Sesampainya di mobil Renata langsung membuka pintu dan memilih duduk di belakang untuk menemani gadis tadi.
"Ayo kak, agak cepet ya, kakaknya kasihan," Ucap Renata kepada Ale.
Renata menoleh pada gadis di sampingnya yang meniupi sikunya. Ia melihat semua badannya bergetar. Mungkin saja karena shock sekaligus menahan rasa sakit pada tangan dan kaiinya.
Renata sedikit mencondongkan tubuhnya ke belakang untuk menggapai air yang ada di jok belakang mobil.
"Nih kak diminum dulu," Renata memberikan air yang dia ambil dari jok belakang tadi dan gadis tersebut menerimanya dan segera meminumnya.
"Makasih ya kak udah mau bantuin aku, aku nggak tau gimana cara ngebalas kebaikan kakak," Ucap gadis tersebut sembari menutup botol airnya.
"Ah kamu ini nggak usah merasa keberatan gitu aku ikhlas kok nolonginnya,"
"Oh iya tadi kita belum kenalan nama aku Renata, kalau kamu?"
"Aku Gina kak,"
"Wah salam kenal ya,"
Ale mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang sembari melihat sekitar untuk mencari rumah sakit terdekat. Dalam mobil hanya terdengar suara obrolan dari Renata dan perempuan tadi yang diketahui namanya adalah Gina. Sesekali Ale juga ikut nimbrung dalam percakapan mereka berdua.
Tak lama kemudian mereka telah sampai di rumah sakit. Ale segera menuju lobi utama agar memudahkan Renata untuk menuntun Gina ke dalam.
Ale turun dan memutari mobil untuk membukakan pintu untuk mereka berdua. "Hati-hati ya dek," Ucap Ale dengan tangannya yang di taruh atas sandaran pintu untuk menjaga agar kepala Renata tidak terbentur.
...•וווו...
Brumm...
Brumm...
Brumm...
Suara deruman motor terdengar memenuhi area sekolah. Tak lama kemudian terlihat beberapa pengendara motor memasuk melalui gerbang depan sekolah. Melihat itu langsung banyak sekali yang berteriak histeris terutama siswi yang lewat di koridor sekolah.
"Kyaaa Nathan,"
"Lihat suami gue dateng,"
"Wafa ganteng banget gak ada obat,"
"Gila hari ini Nathan kelihatan cool banget,"
"Tiap hari dia juga cool kali,"
"Liam mau nggak jadi pacar gue,"
"Heh Liam mana mau sama cewek modelan kek lo,"
"Yeee sirik aja lo,"
"Lucas I love you,"
"Wuidih siapa tadi yang bilang," Lucas sangat terkejut ketika ada yang meneriakinya I love you. Dengan pedenya ia menyugar rambutnya ke belakang membuat para siswi di sana semakin histeris.
Plak
"Pede bener lo, ganteng juga gue," Ethan menggeplak kepala belakang Lucas setelah itu ia juga ikut bergaya menyugar rambutnya ke belakang.
"Iri bilang bos, sebenarnya lo iri kan karena hari ini nggak ada yang nyapa lo," Lucas tersenyum mengejek, membuat Ethan yang melihat wajahnya ingin muntah seketika.
"Iri sama lo? Najiss banget," Jawab Ethan tersungut-sungut
"Berantem mulu perasaan lo berdua heran gue, jodoh baru tau lo,"
Ucapan Wafa membuat adu mulut antara Ethan dengan Lucas berhenti. Mereka saling pandang satu sama lain. Apa Wafa bilang? Jodoh?
Huekkk
Mereka berdua langsung bergaya ingin muntah. Dari pada berjodoh sama Ethan lebih baik ia berjodoh dengan kucing garong tetangga. Pikir Lucas.
Setelah selesai merapihkan rambutnya Nathan bangkit dari motornya, memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jangan lupakan tasnya yang hanya di sampirkan di bahu kanannya.
Melihat Nathan bangkit Ethan, Lucas, Liam, dan Wafa mengikutinya. Setelah itu mereka berjalan beriringan. Di koridor terlihat masih banyak siswa siswi yang bersliweran. Karena bel masuk juga masih lumayan lama.
Tak jarang juga banyak yang menyapa mereka. Hingga membuat Ethan dan Lucas tebar pesona sepanjang jalan koridor.
"Pagi Renata cantik," Sapa Ethan saat berpapasan dengan Renata.
__ADS_1
"Pagi Renata," Lucas juga tak mau kalah ikut menyapa.
Renata yang mendengar namanya di panggil menoleh lalu tersenyum.
"Pagi juga kalian," Sapanya balik.
"Masyaallah, Cas gak bisa gue diginiin hati gue meleleh, manis banget," Ucap Ethan mendramatis kala melihat senyum Renata.
"Alah gombalan lo basi," Sahut Lucas.
"Yeee syirik aje lo,"
"Hehehe, kalian ini ada-ada aja," Renata terkekeh melihat tingkah mereka.
Apakah ini, anggota inti Phoenik Zervagos yang terkenal menyeramkan. Yang sering digosipkan oleh siswa siswi SMA Galaksi. Ternyata tidak buruk juga.
"Lo sendirian aja Ren, yang lain mana?" Tanya Wafa yang sedari tadi hanya menyimak mereka.
"Emmm nggak tau, kalau Esha mungkin belum berangkat, kalau Hana mungkin dia sudah di kelas," Jawab Renata sekenanya.
"Kita anterin aja gimana, daripada sendiri," Tawar Lucas.
"Eh nggak usah, lagian kan kelas kita nggak searah," Tolak Renata secara halus. Memang Renata ini tipe orang yang tidak enakan.
"Nggak papa kok, demi ayang Renata yang cantik ini, abang rela mengantar dedek kemanapun,"
"Anjir jijik tau Than," Lucas menanggapai omongan Ethan yang menurutnya sangat menjijikkan.
"Biarin ngapa sih, dari tasi sewot mulu perasaan," Balas Ethan tak terima.
"Biar gue yang anter," Ucap Nathan tiba-tiba menyela pedebatan di antara Ethan dan Lucas.
"Eh, nggak usah Nath beneran. Nanti lo malah jadi balik lagi karena nganterin gue,"
"Nggak ada penolakan!"
Mereka ber-empat sedikit cengo. Pasalnya Nathan yang tidak pernah perhatian sampai mengantarkan cewek lain selain bundanya seperti ini. Kali ini mengantarkan Renata.
"Guys, kayaknya dunia sedang tidak baik-baik saja," Ucap Ethan yang telah sadar dari kebekuannya.
"Udah lah kita ke kelas duluan aja," Setelah mengatakan itu Liam berjala mendahului mereka menuju ke kelas.
...•וווו...
Nathan dan Renata berjalan beriringan untuk menuju kelas Renata. Hanya ada kecanggungan diantara mereka berdua. Nathan berjalan dengan santai di samping Renata jangan lupakan wajah datarnya yang senantiasa menghiasi wajah tampannya.
Renata berjalan sedikit tidak tenang, selain tidak ada percakapan di antara mereka di sepanjang koridor mereka diperhatikan oleh siswa siswi SMA Galksi.
Tak jarang juga banyak yang bergosip mengenai mereka baik secara bisik-bisik maupun terang-terangan. Sungguh pemandangan langka bagi mereka ketika melihat Nathan yang tidak pernah jalan dengan perempuan kini di sampingnya ada sesosok perempuan yang menemaninya. Dan itu membuat Renata risih karena menjadi perbincangan banyak orang.
"Ih lihat, sok kecentilan banget sih tu cewek,"
"Pasti pakek apa-apa itu,"
"Aaaa iri banget,"
"Kenapa nggak gue aja sih yang disamping Nathan,"
"OMG mereka cocok deh,"
"Nggak banget tuh cewek, cantikan juga gue,"
"Nathan kenapa sama dia sih, sama aku aja,"
Itulah cibiran dari orang-orang yang ada di sepanjang koridor sekolah. Tak terasa mereka berdua telah sampai di kelas Renata. Hal itu membuat Renata bernafas lega.
"Masuk gih," Nathan berdiri di depan Renata menyuruhnya untuk segera masuk.
"Emm, Nathan makasih,"
"Hmm,"
"Oh iya, terima kasih juga udah nolongin gue kemarin, kalau nggak ada lo udah nggak tau lagi gue jadi apa," Mengingat hal itu membuat Renata takut. Tapi saat itu untung saja Nathan datang tepat waktu.
"Makanya lain kali belajar bela diri, biar nggak nyusahin orang," Setelah mengucapkan itu Nathan berbalik melangkah untuk kembali ke kelasnya.
Renata mendengar itu seketika cengo. Apa dia bilang, belajar bela diri. Jika saat itu dia sedang tidak terdesak tidak mungkin ia merepotkan Nathan. Awas saja kalau ada apa-apa nanti ogah ditolongin sama Nathan. Batin Renata.
"Nyebelin banget sih, udah bilang makasih baik-baik malah jawabnya gitu. Awas aja nanti,"
Renata berjalan menuju bangkunya sambil menggerutu. Ia sungguh kesal dengan ucapan Nathan. Pagi-pagi sudah dibuat badmood oleh mulut Nathan. Sungguh menyebalkan.
Renata meletakkan tasnya dengan kasar lalu duduk dengan tidak santainya hingga membuat Hana yang ada di sampingnya keheranan.
"Lo kenapa dah, pagi-pagi udah kesel aja," Tanyanya.
"Tau sebel banget gue," Jawabnya
"Aaarrrgggg," Renata mengacak-acak rambutnya lalu menelengkupkan wajahnya pada lipatan tangan.
"Kenapa dia," Esha yang baru datang dibuat bingung dengan sikap Renata pagi ini.
"Tau, tadi dateng-dateng udah ngegerutu aja," Jawab Hana sambil menggidikkan bahunya.
"Udah biarin aja ntar juga cerita sendiri,"
"GAIS, KITA HARI INI KITA KOSONG, KATANYA PARA GURU ADA RAPAT BUAT PERSIAPAN UAS,"
Adit, sang ketua kelas yang baru saja menghadiri panggilan ketua kelas berteriak di depan pintu menyampaikan apa yang ia terima tadi.
Suasana kelas seketika ricuh mendengar pengumuman yang disampaikan oleh Adit.
"Asikkk, jarang-jarang nih dapet jamkos,"
"Mari kita lanjut nobar,"
"Yes bisa cus kantin nih,"
"Untung aja hari ini kosong, kalau nggak udah kena hukum gue karna nggak ngerjain tugas,"
"Ayo ke kantin, mau ikut nggak lo,"
"GAIS, TUNGGU BENTAR. GUE BELUM SELESAI NGOMONG,"
__ADS_1
"KITA DISURUH BERSIH-BERSIH KELAS DULU, NANTI BAKAL ADA PENGECEKAN. DAN KABAR BAIKNYA-"
Adit menjeda ucapannya. Membuat yang lain semakin penasaran akan kelanjutan pengumuman dari sang ketua kelas.
Adit terdiam cukup lama, membuat suasana kelas juga ikut hening. Ia tersenyum misterius.
"NUNGGUIN YA, HAHAHAHAHHA," Adit tertawa melihat wajah teman-temannya yang menunggu kelanjutan dari pengumumannya. Sungguh lucu menurutnya melihat wajah mereka yang cengo terlihat bertanya-tanya.
"Yeeee si anjir,"
"Jangan bikin gue penasaran anjing,"
"Minta di tabok ye lo, dit,"
"Golok mana golok,"
"Lo minta diapain sih dit, gedek gue,"
"Hahahah, oke oke santai-santai," Adit berucap dengan sisa tawanya.
"Jadi kabar baiknya apa nih?" Tanya Dave-salah satu anak bandel yang ada dikelas-dengan tak sabaran.
"Jadi kabar baiknya, kita nanti bisa pulang saat istirahat pertama,"
Adit melanjutkan ucapannya yang tadi dan langsung membuat seluruh kelas bersorak ria. Sungguh sangat jarang SMA Galaksi memberi jam kosong kepada muridnya, apalagi dipulangkan lebih awal seperti ini.
"Woahh tumpengan nih kita, SMANEGAL pulang awal cuy,"
"Iya tumben banget,"
"Selametan seblak boleh nih,"
"Yeu lo seblak aja yang ada di pikiran lo,"
"Biarin daripada cowok mulu yang ada di pikiran lo,"
"Guys tenang ayo kita bersihkan dulu kelasnya biar bisa langsung di cek terus pulang,"
"Jangan lupa jendela sama taman depan di bersihkan juga, oh ya sampahnya nanti juga di buang," Jelas Adit panjang lebar.
Langsung saja semua siswa-siswi kelas X-3 bergegas mengambil peralatan yang digunakan untuk membersihkan kelas dan sekitarnya.
...•וווו...
Seluruh siswa siswi SMA Galaksi tengah sibuk membersihkan kelas dan halaman sekitarnya. Ada juga yang tidak bertanggung jawab dan malah pergi ke kantin untuk jajan.
Seperti Nathan dan kawan-kawan, sekarang mereka malah nongkrong di kantin pojok yang biasa mereka tempati untuk bolos.
JREEENGGG
Suara petikan gitar terdengar. Kemudian bergabung menjadi melodi yang indah untuk didengar. Disusul suara Ethan yang siap untuk bernyanyi.
"Ku pergi hanya sebentar saja... " Suara Ethan mulai mengalun menyanyikan lagu berjudul Masih Disini Masih Denganmu oleh Goliath.
"Bukannya untuk menjauhimu... " Ethan melanjutkan bait berikutnya.
"Mencoba tuk cari bagaimana..."
"Baiknya untuk berdua..."
"Setelah kuputuskan kembali-"
"Tuk pulang mencarimu kekasih-"
"Tetapi kau bukan dirimu lagi..."
"Kau telah jauh berubah..."
"Apakah kau sudah temukan yang baru..."Ethan sangat menghayati lagu yang ia nyanyikan.
"Galau mulu lo perasaan," Lucas datang membawa sepiring gorengan yang ia pesan dari ibu kantin lalu duduk di sebelah Wafa.
"Biarin ngapa sih dia tuh baru ditinggal gebetannya," Ujar Wafa.
"Gebetan? Siapa? Si kelas sebelah yang kalo pake baju gini-" Lucas menggoyangkan tangannya menirukan lekuk tubuh perempuan yang mereka bicarakan.
"Enak aja lo, ogah gue sama dia," Ethan langsung ngegas karena dibilang lagi pdkt sama Rara-cewek yang dibilang mereka barusan-.
"Alah ngaku aja kali, gue cepuin mau nggak?" Liam yang sedari tadi diam mulai ikut mengejek Ethan.
"Ogah, lo lebih baik diem ya,Li sekali ngomong nggak ngenakin banget," Protesnya karena Liam yang biasanya diam kini ikut meledeknya.
"Emang gue salah ngomong?" Tanya Liam dengan heran.
"Nath, bantuin gue dong masa dari tadi dinistain mulu sama mereka," Ethan mulai meminta pertolongan kepada Nathan yang ada disampingnya, yang tengah fokus dengan ponsel di tangannya.
"Napa? Mau gue cepuin ke dia juga?"
****
Ethan benci situasi ini, tidak ada yang mau menolongnya ketika ia ternistakan.
"Dahlah gue pulang aja," Ethan menaruh gitarnya lalu beranjak berdiri untuk bersiap pergi.
Ia terdiam mengamati teman-temannya yang malah asyik menikmati gorengan yang Lucas pesan tadi. Sangat tidak memperdulikan ia marah.
"Nggak ada yang nahan gue nih?" Tanyanya mencari pembelaan.
"Lah kalo pulang yang pulang aja ngapain gue tahan," Lucas mendongak lalu menanggapi dengan mulut yang penuh dengan tempe mendoan.
"Gak asik lo semua," Ethan kembali menjatuhkan bokongnya dengan sedikit kasar, lalu dengan tidak elitnya langsung mencomot gorengan yang ada di piring dan langsung memakannya.
"Heh balikin itu mendoan bagian gue, anjir main comot aje lo," Lucas berusaha meraih mendoan yang dimakan Ethan sebenarnya adalah baiannya yang terakhir.
"Udwah abwis nwih kwalwo mwau awmbwil dwalwem mwulut gwue,"
Lucas menatap nyalang Ethan yang langsung memasukkan mendoan kedalam mulutnya sekali hap. Alhasil dia bicara dengan tidak jelas.
Lucas menatap sendok yang ada di depannya lalu menatap Ethan. Tiba-tiba otak cemerlangnya memikirkan ide yang sangat-sangat bagus menurutnya. Ia tersenyum licik, mengambil sendok tersebut lalu memukulkanna ke kepala Ethan.
"Anjir, sakit goblok mau lo apa sih," Ethan mengusap kepalanya yang digetok sendok oleh Lucas. Sedangkan Lucas pelakunya menampilkan wajah tanpa dosanya sambil memakan kembali gorengan yang tersisa.
Di tengah perdebatan mereka, tiba-tiba ada seseorang yang menghampiri meja mereka ber lima.
__ADS_1
"Kak Nathan,"