
"Nath, Lo di tantangin balapan lagi tuh sama Saga, lo trima gak?" Tanya Lucas sambil menyendokkan bakso ke dalam mulutnya.
Nathan dan keempat temannya memang sedang berada di kantin saat ini. Karena sudah jam istirahat mereka tadi langsung memutuskan untuk pergi ke kantin.
Dan Saga adalah musuh bebuyutan dari Nathan dan kawan-kawan, sebenarnya Nathan gak pernah sih menganggap Saga musuh tapi mememang Saga lah yang sering mencari masalah.
"Emang gak ada capeknya ya tuh anak nyari masalah mulu," Sahut Ethan
"Emang kalau menang hadiahnya apa?" Tanya Wafa.
"Katanya sih ya dia bakal ngasih motor kesayangannya dan surat-surat motornya," Jawab Lucas
"Itu doang?" Ethan menanggapi
"Bentaran lah dodol gue belum selesai ngomong,"
"Terus lo tau kan mobil si Saga yang warna item, Nah itu juga bakal di kasih," Jelas Lucas.
Ethan menyemburkan jus jeruk yang sempat ia minum karena saking terkejutnya dan tanpa sadar mengenai wajah Liam yang ada di depannya.
"Anjing jorok lu than," Umpat Liam lalu mejitak dengan keras kepala Ethan.
"Adhaw, sakit goblok, ya maap kagak sengaja lagian gue kaget gila aja tuh si Saga mobilnya yang warna item itu kan mahal banget mau dibuat taruhan," Jelas Ethan sambil mengisap kepalanya yang terkena jitakan.
Liam yang sedang membersihkan wajahnya dengan tisue lalu menyahut. "Iya juga tuh mobil kan harganya triliunan gak sayang apa ya,"
"Biasa orang kaya mah bebas," Jawab Lucas dengan menaik turunkan alisnya.
Memang mobil berwarna hitam milik Saga adalah mobil import yang sangat mahal dan itu katanya hadiah dari sang papa pada hari ulang tahunnya.
"Jadi gimana Nath lo terima nggak kan lumayan dapat motor sama mobil baru ye gak," Ujar Ethan dengan antusias.
"Hooh terima aja sekalian kasih paham tuh Saga biar kebuka otaknya," Wafa memang sudah gedeng dengannya karena setiap bulannya dia akan menantang Nathan untuk balapan dengannya walaupun sudah tahu tentu pemenangnya siapa.
"Hmm," Nathan hanya berdehem singkat yang membuat temannya ingin segera menceburkan Nathan ke laut merah karena saking singkatnya kalau jawab.
"Aih lu minta gue tabok ye Nath, ngomong agak panjangan dikit napa gak ada kata lain apa selain 'hmm',"Kesal Ethan
"Bacot," Balas Nathan singkat
__ADS_1
"Udah stop lagian lu kayak gak tau Nathan aja sih, biarin napa," Cegah Wafa saat Ethan sudah siap melayangkan sendok garpu yang dipegangnya ke arah Nathan.
"Yaudah nanti malem di tempat biasa," Ucap Lucas.
Bel tanda masuk sudah berbunyi Lucas langsung bertanya kepada keempat sahabatnya.
"Masuk gak nih?" ia memandang satu persatu temannya yang masih sibuk menghabiskan makanannya.
"Cabut," Ucap Nathan singkat
Nathan berdiri dari duduknya dan melangkah meninggalkan temannya yang masih membereskan barangnya.
"Woy Nath kemana," Teriak Ethan
"Rooftop," Ucapnya sedikit berteriak.
Setelah itu ketiganya langsung ikut berdiri dan menyusul Nathan setelah menghabiskan minuman mereka.
"Woy tungguin elah," Teriak Ethan lalu langsung melahap pentolnya yang masih tersisa satu dan langsung mengejar para sahabatnya.
•ווו
Saat ini Renata tengah mengemasi buku dan alat tulisnya. Pelajaran terakhir kelas Renata hari ini adalah Matematika Wajib yang membuat warga kelas sebelas MIPA 3 yang sudah mengantuk ditambah pusingnya pelajaran sudah menyampur jadi satu, dan saat bel pulang mereka semua langsung mendesah lega karena terbebas dari mata pelajaran itu.
"Uwahhh gila pusing banget gue," Esha merenggangkan tubuhnya yang kaku akibat tidak bergerak selama jam pelajaran.
"Eh mau ke kafe dulu nggak buat refresing sebelum ujian minggu depan," Usul Hana
"Boleh deh tapi gue bilang ortu dulu soalnya tadi gak bawa mobil," Renata berucap sambil menutup resleting tasnya lalu menyampirkannya di bahu.
"Oke, yuk sambil jalan,"
Akhirnya mereka bertiga pun keluar dari kelas menyusuri lorong yang akan membawa mereka sampai di parkira.
Tak jarang juga mereka sambil berbincang dan juga bercanda tawa di sepanjang koridor. Hingga tak terasa ketiganya sudah sampai di parkiran khusu mobil di SMA Galaksi.
"Pakai mobil gue aja ya, lagian si Hana juga tadi gak bawa mobil kan," Ucap Esha lalu diangguki keduanya.
Setelah bicara Esha, Renata, dan Hana segera berjalan menuju mobil Esha yang tak jauh dari tempat mereka berdiri tadi.
__ADS_1
Sesampainya di mobil Esha mereka langsung saja masuk, dan Esha segera menjalankan mobilnya menuju Kafe yang sudah ditentukan oleh mereka.
"Oh iya kalian udah denger belum katanya setelah ujian minggu depan bakal ada perkemahan dulu sebelum libur,"
"Dan katanya kelas duabelas juga ikut tapi perwakilan aja," Lanjut Renata.
"Kok lo selalu tau dulu sih Ren,oh gue tau pasti dari si ketos itu kan," Ujar Esha dengan tatapan menyelidik ke arah Renata.
Renata mengangguk, memang benar ia diberi tahu oleh Denta--Ketua Osis SMA Galaksi sekaligus sahabat Renata juga.
"Udah tatapan lo jangan gitu kek fokus nyetir aja sana," Renata menolehkan kepala Esha ke depan agar ia kembali fokus dengan jalan.
"Jangan-jangan si ketos suka sama lu ren," Hana menyahuti.
"Enggak kok kita cuman sahabatan," Jawab Renata.
"Gini ya ren, pada dasarnya persahabatan antara dua lawan jenis tidak lain antara laki-laki dan perempuan itu tidak ada yang murni, dan semua akan berakhir sama, meskipun yang satunya nggak ada rasa dan satunya lagi pasti ada rasa, tapi dia akan diam dan milih nggak ngungkapin perasaannya ity, karena dia takut jika tahu perasaannya persahabatan mereka akan rusak,"Jelas Esha panjang lebar.
"Iya bener tuh kata si Esha," Sahut Hana
"Apaan sih emang bener kita berdua itu cuman sahabatan doang," Elak Renata.
"Aih terserah lo deh ren, kadang polos lo itu kelewatan sampai-sampai polos sama bego gak beda jauh," Esha juga terkadang bingung dengan sahabatnya yang satu ini. Mungkin dulu saat pembagian kepolosan ia kebanyakan dan overdosis hingga jadinya seperti ini.
"Tapi kenapa sih kalian kayaknya kalau gue sama Denta nggak suka gitu?"Tanya Renata.
"Ya secara kan Denta ganteng tuh, tinggi berwibawa, ramah harusnya ceweknya juga sama dong yang cantik, tinggi juga. Masa iya Denta sama cewek modelan kek lo yang cebol gini," Ucap Esha sambil tertawa.
"Tai lu, kaya lo nggak cebol aja," Sarkas Renata.
"Enggak ya tinggi gue kan seratus enam dua," Elak Esha.
"Halah cuman beda dua senti juga,"
Takterasa mereka sudah sampai di kafe tujuan mereka. Esha segera menepikan mobilnya dan memarkirkannya di tempat yang masih kosong.
"Yok turun," Ucap Esha.
Dirasa sudah parkir dengan benar mereka bertiga keluar dari mobil dan langsung saja berjalan masuk ke dalam kafe.
__ADS_1