RENATHAN

RENATHAN
Part 7


__ADS_3

Minggu pagi di awali dengan membabu. Ya tau lah gimana rasanya jadi anak perempuan satu-satunya dan apa yang harus di lakukan.


Hari ini Renata bangun lebih awal, ia akan memncuci baju, mengepel rumah, dan melakukan aktivitas lainnya yang ada di rumah.


Sepertinya hari ini ia akan sibuk karena memang setiap minggu ART di rumah Renata selalu di liburkan. Dan hari ini bundanya akan ada urusan jadi ia akan mengerjakan tugas rumah sendiri.


Renata mulai mengambil baju-baju yang ada di keranjang baju kotor untuk di cuci hari ini. Dirasa tidak ada lagi baju kotor yang tersisa ia segera menuju ruang untuk loundry.


Renata memasukkan baju-baju kotornya ke dalam mesin cuci tak lupa memasukkan deterjen secukupnya juga air.


Setelah menutupnya Renata pergi mengambil sapu untuk menyapu lantai rumah. Saat sedang asyik menyapu dan mengelap perabotan rumah tiba-tiba bel rumah berbunyi.


Tingnong... Tingnong...


"Siapa pagi-pagi gini udah bertamu, masa iya bunda sama ayah balik lagi," Monolognya.


Lama-lama bel ditekan dengan bruntal membuat Renata gelagapan langsung menaruh sapu dan segera berlari untuk membuka pintu melihat siapa yang datang.


"Iya bentar gak sabaran amat sih," Gerutunya, kesal karena bel terus saja ditekan dengan bruntal.


Renata membuka pintu rumahnya tanpa melihat siap yang bertamu dan langsung angkat bicara, ia mengira itu ayah dan bundanya kembali lagi karena ada sesuatu yang tertinggal.


"Ayah sama bunda kenapa balik lagi apa ada yang keting-" Renata terpaku ketika melihat siapa yang ada di depan pintu.


Ia menutup mulut saking terkejutnya. Apa ini mimpi jika iya maka jangan bangunkan Renata sekarang.


"Hey kenapa mukanya kaget gitu, sini emangnya nggak kangen sama kakak?"


"Huaaaa kak Ale,"


ALENDRA YUVINNO REVAIYAN. Alendra atau biasa disebut Ale merupakan anak sulung dari pasangan HENRYKO REVAIYAN dan WIDIA REVAANI. Mahasiswa semester akhir jurursan IT di Universitas yang berada di negeri tirai bambu.


Ale berencana akan melanjutkan S2nya di sana dengan mengambil jurursan bisnis. Ia sangat ahli dalam mengoperasikan komputer, tak hanya itu ia juga menguasai coding dengan sangat baik, hingga ia beberapa kali memenangkan kontes perlombaan pemrograman dan juga robotik internasional.


Ale memiliki tubuh tinggi, dan tegap, berkulit putih hingga membuat banyak perempuan yang melihatnya langsung terpesona dibuatnya. Tetapi Ale bukan sejenis buaya darat seperti ayahnya--Henry--tapi bisa dipastikan bahwa seluruh ketampanan Henry diwariskan kepadanya.


Renata langsung menubrukkan tubuhnya didada bidang kakaknya. Ia memeluknya erat, seolah tidak mengijinkan kakaknya untuk pergi kemanapun.


Hampir empat tahun keduanya tak saling bertemu, jadi wajar saja jika mereka merindukan satu sama lain.


"Kok kak Ale pulang nggak ngomong dulu sih," Renata merenggangkan pelukannya dan menatap wajah tampan Ale sambil menggerutu.


"Ya kalau kakak ngomong namanya bukan kejutan dong," Jawab Ale mencubit gemas hidung adiknya.

__ADS_1


"Heh kalian ini bukannya masuk malah peluk pelukan di sini nggak sopan tau ngalangin pintu masuk," Tiba-tiba Henry datang dari belakang Ale langsung berbicara.


"Kakaknya diajak masuk dong masa suruh berdiri terus di depan pintu sini," Bunda Widia yang baru saja turun pun ikut menegur anaknya.


"Loh katanya ayah sama bunda ada urusan kok sudah ada di sini?" Ucap Renata bingung.


"Kan memang ada urusan," Jawab Henry.


"Tapi kok pulang lagi?" Renata masih tidak mengerti urusan yang dimaksud oleh kedua orangtuanya.


"Haduh kamu ini, jemput kakak mu ini memangnya bukan urusan?" Henry sungguh gemas dengan anak perempuannya yang super lemot ini.


"Kamu ini masih tetep aja lemotnya nggak hilang," Ale terkekeh melihat adiknya.


"Aduh-aduh ayo masuk dulu masa ngobrol di depan pintu sih nggak etis banget," Widia sedikit geram karena dari tadi tidak ada yang berniat masuk ke dalam rumah.


Akhirnya mereka ber-empat pun masuk kedalam rumah, tak lupa menutup pintu lagi supaya lebih aman.


Mereka ber-empat pun duduk di sofa ruang tamu untuk sedikit melepas penat akibat perjalanan jauh, tapi tidak dengan Renata karena ia dari tadi di rumah cuman bersih-bersih.


"Jadi ayah sama bunda udah tau kalau kak Ale mau pulang?" Tanya Renata lagi dengan tatapan tak percaya.


"Nggak adil banget sih kan Renata juga mau ikut jemput kak Ale, tapi malah di tinggal gini," Renata cemberut karena merasa di tinggal (eh ya emang di tinggal sih) .


"Kak Ale juga kenapa telfon sama chat Renata nggak pernah di respon nyebelin banget sih,"


"Hehe maaf ya, kakak lagi sibuk nyiapin barang-barang untuk pulang kesini sekalian mau kasih surprise buat kamu," Ale menjelaskan dengan hati-hati kepada adiknya supaya tidak marah lagi.


"Dimaafin nggak nih?"


"Iya di maafin tapi jangan diulang lagi, aku khawatir tau,"


"Iya iya nggak lagi deh,"


"Nah gitu dong baikan yaudah, Ale kamu bersih-bersih dulu gih bunda mau masak dulu kalian pasti laper kan," Bunda Widia menengahi perbincangan antara adik kakak itu. Ale mengangguk lalu berpamitan untuk kekamar membersihkan diri dan istirahat sejenak sembari menunggu makanan siap.


•ווו


"ASSALAMU'ALAIKUM, NATHAN MAIN YOK" Ethan berteriak ketika telah memasuki pintu utama kediaman Jauzan.


"Anjir malu-maluin banget sih lo," Lucas menggeplak belakang kepala Ethan karena merasa malu.


"ASSALAMU'ALAIKUM LUCAS YANG TAMPAN SEJAGAT RAYA DATENG NIH,"

__ADS_1


Plak


Plak


Wafa dan Ethan serempak menggeplak kepala Lucas dengan keras,padahal ia tadi menegur Ethan malah dia ikut-ikutan berteriak. "Lo mah sama aja njir bikin malu ae rumah orang ini bukan hutan,"


"Tau tuh tadi aja negur gue situ sendiri malah malu-maluin," Dumel Ethan tak terima.


"Wahhh mau kemana nih udah pada rapi," Tiara datang dari dapur dengan menggunakan apronnya juga spatula di tangannya karena mendengar kebisingan dari arah ruang tengah, ia mendapati ternyata teman-teman Natha yang bertamu.


"Eh tante assalamu'alaikum," Lucas menghampiri Tiara mengamit tangannya untuk salim di susul yang lainnya.


"Pagi tante," Sapa Ethan


"Waalaikumsalam, pagi juga, mau keluar ya sama Nathan?" Tanya Tiara


"Eh enggak kok tante kita mau main di sini aja di luar lagi panas banget," Jawab Wafa dengan sopan.


"Oh yaudah kita sarapan dulu aja kebetulan tente masak banyak, bentar tante panggilin Nathan sama om Deva dulu," Tiara pamit lalu naik ke lantai atas untuk memanggil anak beserta suaminya. Sedangkan Ethan, Lucas, Liam, dan Wafa langsung menuju ruang makan.


"Gak salah nih kita dateng ke sini pagi-pagi ye gak," Sampai dimeja makan mereka duduk berderet dengan rapi sembari menunggu sang tuan rumah datang.


"Ngapain?" Suara dingin tiba-tiba menginterupsi mereka berempat.


"Mau makan lah masa mau ngebabu," Jawab Lucas sekenanya.


"Siapa tau mama gue mau rekrut lo jadi babu di dini," Nathan duduk di depan Lucas yang sedang memainkan sendok yang telah ditata di atas meja.


"Ogah gue jadi babu tapi kalau jadi kakak tiri lo sabi sih," Lucas menaik turunkan alisnya dan tersenyum lebar, yang menurut Nathan sangat menyebalkan.


"Idin mana mau dia punya kakak kek lo," Ethan menyahut tak terima.


"Wahh udah rame aja nih, pasti udah pada laper kan," Deva--papa Nathan-- datang dan di susul oleh Tiara yang ada di belakangnya.


"Iya nih om laper banget, kebetulan tadi belum sempet sarapan," Dengan tak tahu malunya Lucas menanggapi.


Duk


Ethan yang ada di sampingnya menendang dengan kencang kaki Lucas sampai ia merintih karena sakit.


"Malu-maluin banget sih lo," Ethan mengomel dan memelototkan matanya bermaksud mengingatkan.


"Sakit tau, kan jujur lebih bagus walaupun kadang menyakitkan," Lucas berucap sambil mengelus kakinya yang sakit akibat tendangan dari Ethan.

__ADS_1


Deva mengambil duduk di kursi paling ujung. Tersenyum dengan lebar karena senang pagi ini suasana di meja makan terasa ramai.


"Bentar ya mama siapin dulu," Tiara segera menuju dapur untuk mengambil masakannya yang telah jadi.


__ADS_2