RETALIATION

RETALIATION
Kita membutuhkan sniper handal


__ADS_3

💌 RETALIATION 💌


 


🍂


🍂


🍀 HAPPY READING 🍀


.


.


Belum lagi Axel menghubungi anak buah yang ada di markas kartel eagle. Tiba-tiba seorang lelaki keluar dari pagar besi kokoh itu. Axel begitu panik hingga menjatuhkan handphonenya ke dalam selokan.


"Shiiittt!" Axel mengumpat geram tanpa mengeluarkan suara. Ia meringkuk di balik mobilnya. Bersembunyi adalah pilihan yang tepat saat ini dari pada memikirkan handphonenya yang terjatuh. Ia masih bisa membeli yang baru. Saat ini yang dia pikirkan hanyalah bagaimana bisa menyelamatkan Loyisa. Itu saja! Axel begitu mengkhawatirkan Loyisa. Apa motif mereka sampai berani menculik Loyisa? Jika penculik itu menginginkan uang tebusan. Axel dapat memenuhi semua permintaan mereka.


Axel mengembuskan napas panjang. Setelah dirasa semua aman, Ia mulai bergerak untuk mengintai pergerakan si penculik itu. Berharap semoga pria itu tidak mengetahui jejaknya. Axel bisa gagal menyelamatkan Loyisa.


Axel menoleh ke kiri ke kanan. Pria yang dilihatnya tadi sudah tidak ada. Kedua alisnya mengerut. Ia masih bingung, dalam hitungan detik pria itu sudah hilang? kemana dia? Wajah Axel masih bingung. "Astaga... apa dia hantu? Ahhh.. terserahlah..." Axel dengan cepat menggeleng kepalanya. Ia tidak perduli kemana hilangnya pria itu. Ini adalah kesempatan besar untuknya.


Matanya memicing melihat ke arah pagar yang mulai bergeser tertutup. Axel terbelalak panik. Saat itu juga Axel bangkit. Ia melangkah cepat dan masuk ke dalam sebelum pagar kokoh itu tertutup. Seperti gerakan slow motion, Axel memiringkan badannya, tinggal hitungan detik Axel akan terjepit di pagar itu.


"Yess... berhasil." Axel tersenyum saat dirinya berhasil masuk ke dalam. Dan saat itu juga pintu pagar sudah tertutup sempurna.


Axel melangkah pelan untuk melihat keadaan bangunan itu. Saat ini ia seperti seorang pencuri yang mengendap-endap mencari barang curian. Kakinya melangkah cepat sedikit membungkuk. Saat ini dia memikirkan bagaimana caranya ia masuk ke dalam gudang itu. Walau sekalipun ia harus mengorbankan dirinya. Tidak ada jendela atau apapun di sana. Hanya ada pintu. Bagaimana ia bisa masuk? Axel berlari ke arah belakang. Berbahaya jika ia terlalu lama berdiri di sana. Ia harus mencari amannya dulu. Sebelum penculik itu mencurigainya.


Axel menyenderkan punggungnya ke dinding bangunan yang jelas terlihat seperti gudang itu. Sekilas bayangan hitam tanpa sengaja melintas dengan cepat di depan matanya saat Axel mengintai ke dalam ventilasi yang ukurannya sangat kecil. Axel sempat panik dan kembali menundukkan kepalanya.


"Huffft...."Axel mengembuskan napas panjang. Jari-jari tangannya terasa dingin. "Kenapa aku serasa nonton film horor ya." ucapnya mengatur napasnya yang keluar dari mulutnya. Seumur hidup baru ini dia melakukan hal seperti ini.


Axel kembali melihat ke kiri dan ke kanan, namun tak ada yang nampak mencurigakan kecuali tempat itu hanyalah dipenuhi rumput tinggi di sekelilingnya. Suasana yang mencekam dan sunyi.


"Bagaimana mungkin mereka bisa menculik Loyisa dan menaruhnya di sini."


Rumah ini tampak seperti tak berpenghuni. Lebih tepatnya seperti rumah setan. Jejak rembesan air yang tercetak di dinding belakang rumah terlihat jelas. Cat dindingnya saja sudah mengelupas, dan banyak sarang laba laba menggantung di dinding belakang.


⭐⭐⭐⭐⭐


SEMENTARA DI BAGIAN DALAM RUMAH.


Loyisa duduk di hadapan Kendrick. Suasana tegang menyelimuti tempat itu, wajah Kendrick terlihat sangat dingin dan datar menambah kegelisahan anak buahnya yang ikut duduk di depan Kendrick.


"Bagaimana bisa anak buah Carlos bisa mencium pergerakan kalian?" Kendrick menggebrak meja.


"Maafkan saya tuan, mereka menyadap pembicaraan saat saya menghubungi Elmon. Saat itu, mereka tahu kita menghubungi polisi untuk menghentikan pengiriman narkoba ke negara xx."


Kendrick mengusap wajahnya dengan kasar. "Dasar ceroboh!" Kendrick sudah nampak marah. Rahangnya bahkan mengencang.

__ADS_1


"Maafkan saya tuan."


"Apa kau menyebut namaku?"


"Tidak tuan, tapi saya rasa mereka mengejar Elmon. Karena sebagian anak buah Carlos berhasil di tangkap polisi. Marvel sepertinya tidak terima."


"Dimana Elmon?"


"Dia bersembunyi di tempat yang aman tuan."


"Bagus, untuk saat ini Elmon jangan keluar dulu. Tunggu hingga keadaan stabil kembali."


"Baik tuan, saya akan sampaikan kepada Elmon."


Kendrick tersenyum sinis. "Anak buah Carlos tertangkap, itu bukan berarti kita aman. Carlos bahkan tidak akan tenang. Dia akan mencari siapa pelaku yang membocorkan rahasia ini. Polisi juga percuma mengintrogasi mereka. Itu akan sia-sia, mereka akan tetap tutup mulut. Anak buah Carlos sudah bersumpah untuk melindungi bosnya itu."


"Kami suah tahu itu tuan. Carlos sangat licik."


Kendrick menyenderkan punggungnya kesandaran kursi. Wajahnya datar dengan senyuman palsu. "Semenjak kecil Carlos sudah bergelut dalam dunia hitam penuh sandiwara mematikan, brutal dan memilukan. Sorot matanya yang tajam bagai mata elang sedang menukik menangkap ular, menerbangkan ke udara lalu membawa dalam semak belukar. Begitulah cara ia melewati segala pergulatan hidup. Dia seorang pembunuh berdarah dingin. Sebelum kita memutuskan untuk bergerak cepat, aku harap Carlos jangan sampai tahu pergerakan kita. Kau mengerti?"


"Baik tuan," ucap mereka serentak.


Tanpa ada yang tahu, Kendrick mampu mengungkap semua tabir hidup Carlos. Kendrick yang sosoknya yang sangat misterius, sampai sekarang Carlos tak bisa mencium pergerakannya. Di saat Carlos menghancurkan keluarganya dengan mudah. Saat itu juga Kendrick bangkit untuk menghancurkan kehidupan Carlos. Kecerdasan dan kepicikannya ia gunakan untuk membalas dendam. Terutama untuk menyelamatkan dirinya sendiri dari Carlos yang berdarah dingin itu.


"Oke sekarang kita kembali ke topik awal, bagaimana misi kita selanjutnya."


Loyisa mencondongkan tubuhnya, "Aku dengar kediaman Davis anti peluru kak."


"Tapi tuan, apakah hanya bermodalkan bakat menembak jitu sudah cukup untuk melakukan itu saja? Saya rasa seorang sniper butuh keahlian juga." tanya seorang pria berkumis.


"Tentu saja tidak, diperlukan pelatihan khusus secara konsisten dan bertahap untuk mendapatkan pengakuan sebagai seorang sniper. Aku sedang mencari siapa yang bisa membantu kita."


"Aku bisa melakukannya."


Semua menatap ke arah Loyisa. "Kamu serius Loyisa?" tanya Kendrick.


"Hmm, aku serius kak."


Seorang pria tertawa. Wajah Loyisa yang lembut, bagaimana bisa ia seorang sniper. "Apa kau pernah berlatih?"


Loyisa mengangguk cepat. "Tentu saja."


"Jika kamu faham soal itu. Lantas bagaimana cara beroperasi sniper jika sedang melaksanakan misinya di lapangan?" Tanya seorang pria masih tak percaya dengan pengakuan Loyisa.


"Apa kau meragukanku?" tanya Loyisa tersenyum sambil bersedekap.


"Tentu saja kami meragukan anda. Bagaimana seorang wanita seperti anda ahli menembak." ucap pria bertubuh gempal itu.


"Itu berbahaya Loyisa?"

__ADS_1


Loyisa memindah tatapannya. "Aku tahu itu berbahaya kak. Tapi aku sudah belajar dengan baik sejauh ini. Jadi jangan pernah meragukan keahlianku."


"Aku masih tak percaya."


Loyisa melipat tangannya di atas meja. "Seorang sniper harus siap bertempur tanpa meragukan apapun itu. Semua harus tersamar. Disini dibutuhkan kesabaran. Bayangkan, seorang sniper harus berdiam diri menunggu sembari mengamati dengan teleskopnya sasaran yang akan ia tembak dalam keadaan panas maupun hujan."


"Hmm, Kami tahu itu."


"Kau tahu Sniper Wanita Berdarah Dingin dari Rusia? Dia adalah salah satu wanita penembak jitu. Jadi jangan ragukan keahlian wanita."


Mereka terdiam saat Loyisa mengatakan itu. "Jadi mari kita jalankan misi ini secepatnya kak. Targetku adalah Carlos. Kakak hanya bisa mengatakan dimana titik Carlos terakhir."


"Itu tidak mudah Loyisa."


"Aku sudah katakan bisa melakukannya kak. Aku siap makan ala kadarnya jika sedang melaksanakan misi. Jangankan hanya sekedar makan. Untuk makan kepingan biskuit yang makan sekali saja aku siap."


"Minum pun juga dibatasi. Kau juga dilarang beranjak dari tempat persembunyianmu." timpal Kendrick. "Jadi kita cari seseorang saja. Aku tidak mau mengorbankan adikku sendiri."


"Aku sudah bilang Carlos adalah bagianku kak. Aku yang akan menghabisinya."


Kendrick hanya bisa menarik napasnya dalam-dalam. "Baiklah, nanti aku akan kirimkan dimana titik lokasi dia terakhir."


"Baiklah."


"Tugas kalian masih tetap sama. Mengintai kediaman Davis. Jangan sampai Marvel tahu akan hal ini. Bisa berantakan semua. Kamu mengerti!"


"Baik tuan!"


"Dimana Edward, kenapa belum kembali?"


"Ada masalah yang harus diselesaikannya tuan."


"Oke, baiklah tugas kalian hari ini selesai. Sekarang kalian bisa kembali."


"Baik tuan!" Jawab mereka serentak. Empat anak buah Kendrick segera bangun dari duduknya. "Kalau begitu kami permisi tuan!"


"Baiklah." Kendrick mengeluarkan amplop berisi uang makan untuk anak buahnya. "Sekarang simpan ini. Pergunakan sebaik mungkin."


"Terima kasih tuan." Wajah mereka tampak bahagia. Amplop itu adalah bonus mereka berkerja.


BERSAMBUNG


❣️Salam sehat dari author cantik untuk my readers yang paling cantik.


❣️Jangan lupa tetap kasih komentar agar aku tahu kehadiran kalian di sini ya 😍😘 🤗


💌BERIKAN LIKE DAN KOMENTARMU💌


💌 BERIKAN VOTEMU 💌

__ADS_1


💌 BERIKAN BINTANGMU💌


__ADS_2