
💌 RETALIATION 💌
🍂
🍂
🍀 HAPPY READING 🍀
.
.
Anak buah Carlos membawa tubuh Loyisa yang terkulai lemas ke dalam markas kartel eagle. Ia di kurung di bawah tanah. Posisi tangannya diikat kuat. Kemarahan Carlos meledak saat Loyisa tidak membuka suara perihal dokumen yang dicarinya selama ini. Carlos geram dan memerintahkan anak buahnya untuk memberi pelajaran kepada Loyisa. Namun Loyisa sendiri tak takut. Ia bahkan siap mati untuk mempertahankan dokumen itu. Loyisa kembali tak sadarkan diri.
SATU JAM SETELAH PINGSAN.
Aaarggghh... Loyisa merasakan pusing yang sangat luar biasa. Pelan-pelan Ia membuka matanya lagi. Seluruh tubuhnya sakit, kakinya terluka. Di sekitar pergelangan tangannya menimbulkan rona merah dan biru. Lukanya perih terasa begitu sakit.
Loyisa mengernyit karena merasakan pergerakannya terbatas. Kakinya terasa berat. Ia berusaha menarik kakinya untuk melepaskan diri. Namun hal itu hanya berakhir sia-sia. Semakin ia berontak, semakin ia tersakiti dan terluka. Loyisa teringat, tadi malam Carlos begitu buas menghabisinya.
"Aaarghhhhh." Saat menarik kakinya. Ia kembali meraung kesakitan. Napasnya memburu, bibirnya gemetar, karena sakit yang luar biasa.
Luka dan bengkak pada kakinya begitu sakit, tepat pada bagian kakinya yang diikat kuat. Ia bangun hingga punggungnya merapat ke dinding untuk bersandar, napasnya terdengar tidak stabil. Rambut Loyisa acak-acakan karena ditarik paksa oleh anak buah Carlos. Bahkan penampilannya begitu berantakan. Ia hanya bisa menarik napasnya dalam-dalam dan terengah. Ditambah suhu udara begitu dingin membuat jari-jari tangan, sampai ke ujung kaki terasa dingin. Rasa dingin itu semakin terasa. Lampu penerang di bawah tanah tidak ada. Dia hanya mendapat cahaya dari luar ruangan saja.
Cuaca di kota New York masih tetap dingin, walaupun musim semi akan berakhir. Angin musim semi menerpa sampai menembus kulit tubuhnya yang tidak beralaskan apa-apa. Apalagi posisinya kaki dan tangannya diikat. Ruang bawah tanah yang pengap dan lembab, membuat Loyisa tak nyaman. Aroma tidak sedap langsung tercium di hidungnya. Bau amis membuatnya mual.
Loyisa mengedarkan pandangannya. Ia pun menarik napas dalam-dalam, menahan dingin yang membuat tubuhnya tak tahan. Tempat ini sama sekali tidak ada penghangat ruangan. Loyisa tersenyum miris, bagaimana ia bisa mengharapkan penghangat sementara ia tahanan Carlos. Mafia kejam yang merenggut nyawa orang tuanya. Ruang bawah tanah ini konon menjadi tempat penyiksaan bagi anak buah kartel eagle yang berkhianat. Sisa darah yang meninggalkan bau amis menusuk ke hidungnya. Loyisa benar-benar tidak bisa keluar dari sini, tidak ada jendela. Hanya ada pintu dan jelas dia tahu pintu itu terkunci.
Loyisa tidak bisa menangis. Ia tidak bisa cengeng menghadapi musuh. Loyisa hanya bisa menarik napasnya sesekali. Menahan dinginnya malam. Ia mengatur napasnya, mengingat perkataan Carlos, hatinya kembali sakit. Bagaimana kakaknya Kendrick di kurung di sini dan mendapatkan penyiksaan. Carlos bahkan mengancam Kendrick untuk membunuh adiknya. Hingga akhirnya, Kendrick menerima tawaran Carlos demi untuk melindunginya. Ia kembali menarik napasnya yang terasa sesak, bagaimana pun ia tidak mau kalah dengan mereka.
Bunyi kunci pintu dibuka. Loyisa tetap waspada, matanya memicing tajam.
BRAKKKK
Pintu tiba tiba terbuka dengan kasar.
Sontak Loyisa mengerjap karena begitu terkejut. Pria bertubuh besar lengkap dengan tato naga di lengannya, menghidupkan saklar lampu. Mata Loyisa memicing dan menyesuaikan cahaya yang tiba-tiba masuk ke dalam ruang bawah tanah itu.
Saat lampu menerangi sekitarnya. Loyisa spontan menjerit histeris, Jantungnya terpukul kencang. Ia menahan napas sesaat. Bau amis yang sejak tadi tercium olehnya ternyata dari mayat ini. Ada lima pria mati mengenaskan di sana dan diletakkan satu ruangan bersamanya.
Benjamin tertawa puas, saat melihat bagaimana ekspresi terkejut dari wanita itu. "Kau tahu itu hasil perbuatan siapa?" Ucap pria itu santai dan tenang.
Loyisa melemparkan tatapan tajamnya. Ia memilih diam dan malas untuk menjawabnya.
__ADS_1
"Tadi malam Kendrick berhasil menghabisi anggota kartel eagle. Hingga bos kami begitu marah dan memerintahkan anak buahnya untuk mencari kendrick dan memberikannya langsung kepada singa setia. Hewan peliharaan yang paling baik soal memangsa. Singa itu berada di markas kartel eagle. Untuk kali ini Kendrick tidak akan diampuni."
Senyum dibibir Loyisa melengkung ke atas. Ia sudah menduga itu, kendrick akan segera menemukannya. Loyisa yakin, Kendrick bisa mengatasi semua ini.
Benjamin kemudian tersenyum sinis, Ia memberikan kode kepada temannya yang membawa satu piring nasi berisi lauk untuk sarapan Loyisa. Meletakkan piring itu di lantai dan ia dengan sengaja menendang pelan piring itu, hingga tergeser sampai ke kaki Loyisa.
"Aku masih berbaik hati memberikanmu makan, besok hari terakhir mu disini. Sebaiknya kita berdamai dan jangan mempersulit keadaan, aku tidak ingin kau memancing amarahku. Mengerti! " kata Benjamin menekan setiap perkataannya.
"Cih...Aku tidak takut mati. Sampai kapanpun kalian tidak akan mendapatkan dokumen itu." Loyisa menatap sinis.
"Aku tidak ingin berdebat denganmu. Kematian hanya ada di tangan bos kami." Ucap Benjamin seraya tertawa. "Jadi sekarang makan ini! " Benjamin kembali menendang piring itu dengan kasar agar mendekat di kaki Loyisa.
"Kartel eagle akan hancur saat Kendrick datang mencariku. Kalian semua akan mati tanpa sisa."
PLAKKK
Dengan kekuatan penuh, Benjamin mengayunkan tangannya, menampar pipi Loyisa dengan begitu keras, suara tamparan tu begitu nyaring sampai membuat mata Loyisa berkunang-kunang.
"Berani kau mengatakan itu. Jika bos kami mendengarnya kau akan mati saat ini juga. Jadi jaga ucapanmu. Kartel eagle tidak pernah hancur, apalagi di tangan anak ingusan sepertimu. Kau mengerti?" Jemari kuat Benjamin mencengkeram baju Loyisa hingga membuat tubuhnya terangkat dan kemudian mendorong tubuh Loyisa sampai mengenai dinding ruang bawah tanah itu.
Loyisa meringis menahan rasa sakit , akibat benturan kepala dan tubuhnya yang kuat mengenai dinding. Tanpa rasa takut, Ia menatap tajam. Loyisa bahkan menantang Benjamin dengan senyum sinisnya.
"Kenapa kau takut, kartel eagle tidak bisa memberimu makan. Nikmati kehancuran kalian. Kalian semua akan mati." Mata Loyisa mendelik menatap ke dua pria itu.
"Dan aku berharap kalian secepatnya di kirim ke api neraka." Loyisa tersenyum menyeringai.
"Jaga mulutmu, sebelum aku merobeknya." Kata Benjamin melepaskan tangannya. Mereka pun lalu meninggalkan ruangan itu. Loyisa meringis kesakitan. Napasnya tersengal karena tak bisa membalas ke dua pria itu.
⭐⭐⭐⭐⭐
Tiga hari telah berlalu, Loyisa semakin disiksa di dalam ruang bawah tanah. Seperti biasa Loyisa masih tetap menutup mulutnya dan tidak ingin mengatakan masalah dokumen itu.
Byuuuuurrrrr
Loyisa di siram dengan air tepat mengenai wajahnya, Ia mengerjap beberapa kali karena terkejut. Tubuhnya sudah basah, Ia berusaha mengatur napasnya. Sekarang posisinya sudah duduk di kursi dan tangannya terikat ke belakang.
"Lepaskan aku! " Teriak Loyisa. Suaranya bahkan menggema di dalam ruangan itu. Penampilan bertambah berantakan sudah, pakaian basah karena disiram air.
"Apa? Lepaskan? HAHAHAHA." Pria itu tertawa.
"Kalian tidak akan bisa mendapatkan apa-apa dariku brengsek."
Mereka tak perduli dengan suara teriakan Loyisa. Mereka hanya fokus pada bentuk dada Loyisa karena bajunya yang basah." Kamu cantik." Ucap lelaki berambut gondrong itu dengan seringai nakal.
Loyisa membuang wajahnya. Namun lelaki gondrong itu tidak perduli, tangannya mengelus pipi Loyisa seperti bermain seluncuran di sana.
__ADS_1
"Aaaahhhhh... Lepaskan tanganmu!" Geram Loyisa merasa jijik, ia tidak bisa berbuat apa-apa, posisi tangannya terikat. Ia hanya memejamkan matanya. Tubuhnya sudah bergetar menahan amarah.
Lelaki bertato itu tersenyum, dia mencium paksa bibirnya, Loyisa berusaha menghindarinya. Tak tahan lagi Loyisa membenturkan kepalanya ke wajah lelaki bertato itu.
"Aaarghhhhh... " Teriak lelaki itu kesakitan.
Lelaki itu marah karena melihat ada darah keluar dari hidungnya. Ia menampar Loyisa lagi, hingga ujung bibirnya sobek dan berdarah.
Napas Loyisa tersengal lagi. "Dasar brengsek! " teriak Loyisa tubuhnya sudah gemetar menahan emosinya sudah membuncah di dada.
"Kau yang brengsek. Dasar sialan!" kata pria itu dengan nada geram dan rahangnya bahkan mengeras, ia meluapkan emosi jiwanya.
Pria itu ingin menyentuh bagian dada Loyisa. Namun dengan cepat Loyisa meludahi wajah lelaki itu. Membuat lelaki bertato itu marah.
"Dasar wanita sialan! Berani beraninya kau." Geram lelaki itu mengusap wajahnya. Ia menarik rambut loyisa ke belakang, hingga loyisa mengeluarkan suara kesakitan.
AAAAARRRRRGGGG
Loyisa bahkan tidak takut. Walau posisi kakinya terikat. Ia kembali menendang kaki pria itu dengan kuat.
BRUKKK!
Loyisa sampai terjatuh bersama kursinya ke belakang. Saat ingin menghajar Loyisa, terdengar suara langkah kaki memasuki ruang bawah tanah itu.
TAP TAP TAP TAP
Kedua lelaki suruhan itu nampak berdiri tegap ketika bos mereka sudah datang.
Suara bunyi sepatu itu menggema di dalam ruangan. Loyisa memicingkan matanya, melihat siapa yang datang. Kedua pria bertato menundukkan kepala tanda memberi hormat kepada bos mereka itu. Wajahnya kembali menyeringai dan puas saat melihat keadaan Loyisa berantakan.
"Selamat datang tuan." Ucap mereka menundukkan kepalanya serentak.
.
.
BERSAMBUNG
❣️Salam sehat dari author cantik untuk my readers yang paling cantik.
❣️Jangan lupa tetap kasih komentar agar aku tahu kehadiran kalian di sini ya 😍😘 🤗
💌BERIKAN LIKE DAN KOMENTARMU💌
💌 BERIKAN VOTEMU 💌
__ADS_1
💌 BERIKAN BINTANGMU💌