
💌 RETALIATION 💌
🍂
🍂
🍀 HAPPY READING 🍀
.
.
Matahari senja hampir tenggelam di balik bayang-bayang pegunungan ketika Loyisa melarikan mobilnya dengan kecepatan penuh. Ia tidak mau menunggu lagi, Ia mengusap bibirnya berulang kali. Perbuatan Axel tak bisa dimaafkan Loyisa begitu saja. Sakit hatinya semakin tak terbendung dan secepatnya ingin membalas semua perbuatan keluarga Davis. Loyisa melakukan panggilan kepada Kendrick, untuk menyimpan dokumen yang di simpan di bawah tempat tidurnya. Saat Ethan dinas keluar kota. Ia membobol lantai untuk menyimpan dokumen penting itu di sana. Kendrick ingin menjemputnya. Namun Loyisa menolak dan membiarkan Kendrick untuk menyerahkan dokumen itu kepada polisi.
Adrenalin yang berhasil menguatkan tekad dan detak jantung Loyisa beberapa jam ini sudah pergi, berganti dengan rasa takut dan lelah yang luar biasa. Loyisa terus melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh, melewati belokan-belokan yang tajam, di antara jurang dan pepohonan pinus.
Loyisa menghapus air matanya dan berkata lirih, "Tunggu saja pembalasanku Carlos, kau akan mendapatkan balasan yang setimpal atas semua kejahatanmu." Loyisa mengeraskan rahangnya. Ia mencengkram setir mobilnya untuk meluapkan emosinya.
Matanya menerawang jauh, menembus awan-awan hitam kelabu di atas sana. Langit sedang mendung selaras dengan pilu hatinya saat ini. Tiba-tiba gerimis mengucur perlahan dan semakin deras seiring senja berganti malam. Di antara rapatnya tirai-tirai hujan, Loyisa menyetir mobil Axel yang berwarna biru laut melewati belokan-belokan yang tajam. Perjalanannya masih panjang. Ia harus bisa mengendalikan setir mobilnya di antara jurang dan pepohonan pinus. Semakin lama mobilnya meluncurkan meninggalkan pegunungan, keadaan semakin gelap dan gerimis yang tak juga mau berhenti. Kini lampu mobilnya menjadi satu-satunya penerangan di malam gelap diantara rintik-rintik hujan. Daerah ini memang sepi. Axel memang sengaja membawanya ke tempat ini.
"Dasar si hantu Casper, kau sama dengan ayahmu yang brengsek itu." Emosi Loyisa tak juga membaik. Ia menarik napas, mengambil oksigen sebanyak-banyaknya untuk memenuhi paru-parunya. Ia ingin tetap fokus membawa mobilnya di kesunyian malam ini. Loyisa memperbesar volume musik dari audio mobilnya. Ia berusaha meredam amarahnya. Ia bernyanyi mengimbangi besarnya suara dari audio mobil.
Namun saat di jalan lurus, mata Loyisa memicing tajam saat melihat silau lampu mobil yang berjejer rapi tidak jauh dari mobilnya. Loyisa menginjak rem, sehingga ban mobilnya berdecit-decit beradu dengan aspal jalanan sebelum terseret ke luar jalan. Sesaat napasnya berhenti, sampai detak jantungnya terdengar lebih jelas. Untunglah Loyisa masih bisa menguasai setir untuk menjaga keseimbangan mobilnya. Setelah mengambil napas kembali beberapa saat kemudian. Beberapa pria berdiri tegap di sana.
Mobil berhenti. Loyisa tak memadamkan lampu mobilnya. Malam semakin gelap pekat. Untunglah derasnya gerimis sudah berlalu, meninggalkan rintik-rintik yang mengucur malu-malu. Loyisa begitu panik, saat lima orang pria mendekat ke mobilnya.
"Keluar!" Seorang pria memberikan gestur menyuruh loyisa keluar dari mobil.
Loyisa mengernyitkan dahinya saat melihat lengan salah satu pria itu bergambar naga. Ia berdecak sinis saat mengetahui fakta Axel menghubungi kartel eagle.
"Waktu yang tepat." Ucap Loyisa dengan mata menyalang tajam. Ia akhirnya memilih keluar dari mobil saat pria itu mengetuk pintu mobilnya berulang kali. Ekspresi mereka kaku seperti mayat hidup.
Loyisa santai melipat tangannya di depan dada. "Kalian menghadang jalanku tuan, aku bisa menghubungi polisi."
"Sebelum kau menghubungi polisi, kau harus berurusan dengan kami dulu."
__ADS_1
"Aku tidak mengenal kalian. Jadi jangan membuang waktuku tuan. Silakan minggir!" ucap Loyisa menatap malas. Loyisa berbalik lagi ingin masuk ke mobilnya.
"Bukankah itu mobil tuan Axel?" ucap pria itu menghentikan tangan Loyisa yang ingin membuka pintu mobil.
Loyisa membalikkan badannya. Wajahnya menujukkan gestur berpikir. "Kau mengenal Axel?" Tanya Loyisa santai.
"Tentu saja, anda telah mengurung tuan Axel di desa xx."
"Hahahaha." Loyisa tertawa dan seketika matanya menatap tajam. "Ya, aku orang yang menghajar Axel. Bos sialan kamu itu."
"Jaga mulutmu nona!" ucap pria bertubuh tegap melangkah maju ingin mencengkram tangan Loyisa. Namun sebelum itu terjadi, dengan cepat Loyisa sudah lebih dulu menyerang hidung dengan telapak tangannya membuat pria itu terhuyung ke belakang.
"Shiiittt!" Umpat lelaki itu saat merasakan hidungnya perih.
Dengan cepat ke empat pria itu, maju ingin menyerang Loyisa. Reflek Loyisa mundur beberapa langkah untuk melindungi diri. ke empat pria itu menyerang Loyisa dengan pukulan-pukulan. Beberapa kali Loyisa terjatuh, ia sampai tersungkur. Ia berusaha bangkit dan mengumpulkan kekuatannya kembali.
"Berhenti atau ku tembak kau!" Salah seorang pria mengacungkan senjata kepada Loyisa.
Loyisa reflek mengangkat tangannya. Ia tetap diam di tempat dan memikirkan apa yang harus ia lakukan. Salah satu lelaki mendekati Loyisa. Meskipun begitu Loyisa tetap waspada untuk menghadapi serangan lawan. Ia memutuskan untuk diam sesaat dan memikirkan apa yang akan dilakukannya untuk bisa selamat dari kelima lelaki itu. Loyisa mengigit bibirnya dengan menaikkan alisnya setengah dan tersenyum sinis.
Loyisa tetap santai, menatap ke arah lima pria itu. Sebelum pria itu menarik pelatuk, dengan cepat Loyisa maju dan ‘jebreeetttt’. Ia melakukan tendangan T nya ke arah dada dan bagian perut. Pria itu tidak menangkisnya dan membuatnya terjatuh begitu saja.
Aaaaahhhh...Loyisa menggunakan lututnya untuk menekan selangkangannya.
Aaahhhh Lelaki itu meringis kesakitan. Loyisa kembali memutar tubuhnya dan menendang pria itu sampai mematahkan tulangnya, pria itu tersungkur hanya mendapat dua kali tendangan dari Loyisa. Ia dengan cepat mengambil pistol yang terlempar tidak jauh darinya. Ke dua pria itu hanya diam membeku saat menyaksikan sendiri bagaimana hebatnya wanita ini melakukan teknik untuk melindungi diri. Mereka memang sengaja melakukannya sesuai perintah bosnya. Jangan menghabisi wanita itu. Tangkap dalam kondisi hidup dan sehat. Jadi mereka hanya membiarkan Loyisa yang bertindak di sini.
"Jangan coba mendekat!" Loyisa mengarahkan pistol kepada kelima pria itu. Kelima pria itu reflek mengangkat tangannya.
"Sekarang minggir aku mau lewat."
"Kau tidak bisa pergi nona, aku hanya ingin membawamu menemui tuan Axel "Ucap pria itu tegas.
DOR! Satu peluru melayang ke kaki pria itu.
"Aaarghhhhh...." terdengar suara pria itu kesakitan.
Tiba-tiba seorang pria keluar dari mobilnya dan bertepuk tangan di sana.
__ADS_1
PROK...PROK....PROK....
“Wah wah… Kau lebih pintar dari perkiraanku nona cantik, padahal aku masih ingin berlama-lama menyaksikan sendiri bagaimana hebatnya kau melawan anak buatku yang tak kalah hebat dari kau." Ucap Carlos tersenyum.
"Kau?" Wajah Loyisa menegang kaku, saat melihat Carlos di depannya. Ia mengepalkan tangannya begitu kuat. Giginya saling bergesekan.
"Kau tahu, kelima anak buahku paling hebat dan bisa diandalkan melawan musuh. Kau luar biasa, bisa melawan mereka." Carlos tepuk tangan lagi.
Loyisa tersenyum sinis. “Selagi kau di sini, aku akan mengantarkanmu kepada kematian, Carlos!” teriak Loyisa menodongkan pistolnya ke arah Carlos.
“Sebelum kau membunuhku. Aku pastikan Kendrick mati lebih dulu. Bagaimana? aku rasa ini baru pertarungan menarik, bukan? Aku tidak menduga kau hidup. Apa kau pikir aku bodoh. Selama ini aku tahu pergerakan Kendrick. Aku hanya menunggu sampai kau keluar dari persembunyianmu. Karena kau yang memegang dokumen itu " kata Carlos tertawa.
“Cih…Kau pikir aku akan percaya itu!!! Silakan saja, aku tidak akan memberikan dokumen itu.” Teriak Loyisa sambil mengubah wajahnya seperti wujud iblis. Napasnya tersengal karena menahan amarah.
Carlos mengangguk melihat anak buahnya memberikan kode. Tiba-tiba muncul lelaki dari belakang. Loyisa saat ini hanya fokus kepada Carlos. Dengan cepat pria itu mengarahkan suntikan ke pinggang Loyisa. Saat itu juga Loyisa sadar dan segera berbalik ke belakang.
"Aahhhhh...." Loyisa seketika lunglai tak berdaya. Pistol yang di tangannya terjatuh dari tangannya. Anak buah Carlos dengan cepat mengambilnya.
Carlos tersenyum dan mendekat ke arah Loyisa. "Jangan takut, itu hanyalah obat bius epidural agar kau tidak bisa lari. Aku rasa itu bagus, dari pada anak buahku kewalahan menghadapimu. Jadi bersyukurlah." kata Carlos tertawa jahat. Mereka masih menunggu reaksi obat bius itu.
Loyisa hanya diam, tubuhnya tergeletak tak berdaya di aspal. Saat ini ia merasa sangat lemas, dan ketika ia mencoba berdiri, Loyisa tidak bisa melakukannya. Ia berusaha menggerakkan ke dua kakinya. Tapi sangat lemah. Loyisa tidak pernah merasa selemah ini.
Jika Loyisa kabur itu hanya berujung sia-sia. Ia hanya bisa pasrah. Kali ini ia lemah dan putus asa. Ia tidak bisa lagi mengandalkan kekuatannya.
"Cobalah berlari, aku akan membiarkanmu lolos hari ini." kata Carlos tertawa mengejek. "Setelah aku mendapatkan dokumen itu, kalian berdua akan menyusul Bernadus. Menikmati keindahan neraka yang mengerikan. Hahahaha." Carlos semakin tertawa saat melihat Loyisa berusaha bangkit dan terjatuh lagi.
Sorot mata Loyisa memancarkan kebencian. Tubuhnya berbaring lemah. Sekarang apa yang sekarang ia lakukan? Loyisa begitu lemas, tubuhnya seperti setengah lumpuh.
BERSAMBUNG
❣️Salam sehat dari author cantik untuk my readers yang paling cantik.
❣️Jangan lupa tetap kasih komentar agar aku tahu kehadiran kalian di sini ya 😍😘 🤗
💌BERIKAN LIKE DAN KOMENTARMU💌
💌 BERIKAN VOTEMU 💌
__ADS_1
💌 BERIKAN BINTANGMU💌