
๐ RETALIATION ๐
ย
๐
๐
๐ HAPPY READING ๐
.
.
"Jika kau tidak mau. Aku tinggal memerintahkan anggota kartel eagle untuk membunuh Kendrick. Atau aku bisa tinggal menghubungi daddy dan mengatakan Kendrick adalah seorang pengkhianat. Bagaimana?" Axel tersenyum penuh kemenangan.
"Apa maksudmu? Siapa Kendrick? aku tidak mengenalnya?" Wajah Loyisa mengerut panik. Ia benar-benar tidak bisa menutupi rasa terkejutnya. Dari mana Axel tahu bahwa Kendrick adalah saudaranya. Sebisa mungkin Loyisa bersikap tenang. Ia tidak mau Axel menyadarinya perubahan wajahnya.
Axel semakin mencengkram tangan Loyisa dengan kuat. Ia tersenyum kecut saat Loyisa mengatakan tak mengenal Kendrick. "Kau tidak mengenal Kendrick? Cih...apa aku terlihat bodoh Loyisa?" Axel berdecak sinis.
"Aku tidak tahu siapa yang anda bicarakan, lepaskan tanganku atau badan bapak remuk tanpa sisa. Jangan sampai kesabaranku habis pak direktur." Kata Loyisa tegas.
Axel tertawa saat mendengar itu. "Kau wanita lemah lembut Loyisa, bagaimana bisa kau bisa menghabisiku. Kau benar-benar wanita berani."
"Aku bisa membuktikannya itu?"
"Hahahaha." Axel tersenyum hambar. "Jangan mengalihkan pembicaraanku sayang. Aku lagi tidak ada mood bercanda denganmu." Alis Axel menukik tajam.
"Saya juga tidak lagi bercanda pak, aku benar-benar tidak mengerti apa maksud anda."
Axel berusaha bersabar menghadapi Loyisa. Ia tersenyum kecil sambil menarik napas singkat. "Bukankah Kendrick adalah saudaramu? Kakak yang baru kau temukan setelah sekian lama?"
DEG!
Jantung Loyisa langsung terpukul kencang. "Apa maksudmu, Jangan mengarang cerita pak." Tangan loyisa mengepal kuat. Ia tidak perduli dengan tangannya yang sakit karena di genggam kuat.
Axel tersenyum lagi. Ia menarik Loyisa agar semakin dekat dengannya. "Kau tidak perlu menyangkalnya lagi. Aku tahu Kendrick adalah kakakmu. Bukankah Kendrick yang mengantarmu tadi?"
Loyisa tertawa tapi tidak mengeluarkan suara. Tawanya mengandung sejuta makna. Antara takut dan gelisah. "Sepertinya bapak salah orang. Aku tidak mengenal siapa Kendrick. Jadi lepaskan tanganku!" bentak Loyisa tidak sabaran. Wajahnya sudah nampak merah karena menahan emosi.
Kendrick tersenyum sinis. "Kau keluar dari apartemenmu. Sampai kau kembali, aku sudah mengikutimu Loyisa. Aku mendengar semua pembicaraan kalian di markas kumuh yang jauh dari pemukiman warga itu. Jadi kau tidak perlu menyenta."
DEG
DEG
DEG
Jantung Loyisa terpukul begitu kencang. Wajahnya menegang kaku. Napasnya berembus cepat keluar dari mulutnya. Seakan karbondioksida tertahan dan terbakar oleh keterkejutannya. Untuk menelan salivanya saja ia begitu susah. ia terdiam dan terus menatap Axel. Tangannya ikut gemetar karena begitu terkejut. Axel tersenyum saat melihat tangan Loyisa yang gemetar.
__ADS_1
"Aa-apa maksud anda pak?" ucap Loyisa dengan wajah gugup dan takut.
"Aku sudah tahu semua Loyisa, selagi aku berbaik hati. Kau hanya ikut aku. Tidak lama kok." Bisik Axel tepat di telinga Loyisa.
Loyisa menarik napas sambil memejamkan matanya. Ia tidak menyangka Axel bisa tahu semuanya. Rencana belum dijalankan, tetapi lelaki brengsek ini sudah tahu lebih dulu.
"Bagaimana Loyisa. Kau tidak harus berpikir seribu kali. Kau hanya ikut denganku. Itu saja!"
Dengan tarikan napas panjang, akhirnya Loyisa menjawabnya. "Baiklah, tapi tidak lama pak. Hanya satu jam." ucap Loyisa mengencangkan rahangnya.
Axel tersenyum sambil menganggukkan kepalaku. "Kau tidak perlu takut Loyisa. Aku mencintaimu dan tidak akan pernah menyakiti wanita yang aku cintai." Kata Kendrick tersenyum penuh kemenangan.
Loyisa memutar bola matanya saat mendengar itu. Ia hanya pasrah saat Axel menarik tangannya menuju mobil meninggalkan tempat itu.
"Dia sengaja memarkir mobilnya jauh dari Kendrick menghentikan mobilnya. Dasar lelaki brengsek." umpat Loyisa dalam hati.
Dahi Loyisa mengerut, ia terus melihat tangannya di tarik paksa oleh Axel. Loyisa memejamkan matanya, menggeram tanpa bersuara.
"Bisakah anda pelan-pelan pak? tanganku sakit." Keluh Loyisa saat melihat pergelangan tangannya sudah memerah akibat ulah Axel.
Axel tersenyum miring, ia sama sekali tidak merasa bersalah. Rasa amarahnya lebih besar karena Loyisa telah berani berbohong. Itu yang membuat Axel tidak ingin melepaskan Loyisa begitu saja. Axel akan membuat Loyisa jatuh kepelukannya.
"Masuklah!" ucap Axel datar. Axel membuka pintu mobil agar Loyisa segera masuk.
"Apa harus seperti ini pak? Aku bisa membuka pintu sendiri." protes Loyisa berusaha bersabar menghadapi sikap si hantu Casper ini.
"Kau hanya perlu masuk saja Loyisa. Jangan banyak protes."
Loyisa hanya pasrah, Ia tak bisa berbuat apa-apa. Sekarang Axel tahu bahwa Kendrick adalah kakaknya. "Hanya satu jam, kau harus mengalah Loyisa. Setelah ini urusanmu dengan si hantu Casper selesai." Batin Loyisa menggeram. Ia mencengkram erat tangannya sendiri. Jika Axel berani melakukan sesuatu kepadanya. Loyisa tidak mau diam.
Sepanjang perjalanan mereka hanya diam membisu. Sedikit pun Loyisa tak ingin memandang Axel yang terus membawa mobil. Hatinya gelisah, berharap kakaknya baik-baik saja.
"Kenapa kau berbohong dan mengatakan kau kembali ke desa?"
Loyisa diam tak menjawab, ia hanya melirik sekilas dan kembali memandang jalanan.
"Kau tahu aku begitu mencintaimu. Kenapa kau bisa berbohong Loyisa? Jangan katakan kau sedang mempermainkanku."
Loyisa menarik napas dan menatap sekilas ke arah Axel. "Aku memang tidak pernah mencintaimu. Aku mencintai seseorang. Tapi itu bukan anda pak."
Axel mencengkram setir mobilnya saat kalimat itu meluncur bebas dari mulut Loyisa. "Tapi aku akan membuatmu mencintaiku Loyisa."
"Apa bapak sedang berhalusinasi. Anda tidak bisa memaksakan seseorang mencintaimu pak,"
Axel tersenyum sinis, "Kau tahu siapa aku Loyisa. Apapun aku lakukan agar kau mencintaiku."
Sudut bibirnya Loyisa melengkung ke atas. Ia geram dengan sikap Axel yang semaunya. Loyisa menarik napasnya lewat mulut. Ia tahu kalau Axel sudah benar-benar gila. Diam adalah jalan terbaik untuk saat ini.
Setengah perjalanan, dahi Loyisa mengerut. Ia tahu arah jalan ini semakin jauh dari tengah kota. "Kita mau kemana pak?" Tanya Loyisa memandang Axel. Axel tak menjawab dan memilih fokus pada jalanan.
__ADS_1
Loyisa geram dan berucap dengan lantang. "Berhenti pak atau aku melompat dari sini?"
Axel mengembuskan napas saat mendengar ancaman dari Loyisa. "Jangan mencoba mengancamku Loyisa. Aku tidak akan terkecoh."
Loyisa mencoba membuka pintu dan ingin melompat. Namun Axel mengunci otomatis pintu mobilnya.
"Buka pintunya!" Loyisa mencoba paksa membuka pintu mobil itu.
"Apa yang kau lakukan Loyisa." Bentak Axel.
"Aku ingin bapak menghentikan mobil ini." Teriak Loyisa dengan geram. Loyisa mencoba mengambil alih setir mobil, hingga mobil oleng dan hilang kendali.
Axel panik saat mobilnya hampir tertabrak dengan mobil lain yang berlawanan arah. "Kau gila!" Tengking Axel.
"Aku bilang berhenti pak!" teriak Loyisa. "Jangan sampai aku memecahkan kaca mobil ini." Wajah Loyisa memerah menahan amarah.
"Kita saja belum bicara Loyisa. Kenapa kau ingin turun di tengah jalan seperti ini?"
Mata Loyisa menyalang tajam. "Ditengah kota banyak cafe pak. Tapi bapak ingin membawaku jauh dari tengah kota."
"Jadi kau ingin turun di sini?"
"Ya aku ingin turun di sini. Sekarang turunkan aku!" Bentak Loyisa.
"Baiklah jika itu yang kau mau." Kata Axel memilih mengalah. Ia menghentikan mobilnya tepat di jembatan.
Napas Loyisa tersengal menahan emosi, Matanya memancarkan kebencian. "Aku harap ini pertemuan terakhir kita pak. Jangan pernah datang menemuiku lagi."
Loyisa segera membuka pintu dan ingin keluar dari mobil. Sebelum itu terjadi, Axel dengan cepat mengeluarkan sapu tangan yang sudah ditaruh obat bius. Untuk menghentikan Loyisa agar tidak keluar dari mobilnya. Axel dengan cepat membekap mulut Loyisa.
"Hhhmmpppp.."
Loyisa meronta dan seketika tubuhnya lemas. Ia langsung tidak sadarkan diri. Axel bernapas lega setelah obat bius bereaksi dengan cepat. Ia lalu mengatur posisi kursi agar Loyisa tertidur nyaman.
"Maafkan aku Loyisa. Kau membuatku hilang kesabaran. Jangan meremehkan cintaku. Kau akan tahu bagaimana kegilaanku jika sudah terlanjur mencintai wanita." Ucap Axel menatap lekat kepada Loyisa yang sudah tidak sadar. Ia merapikan rambut Loyisa yang berantakan.
"Tidurlah, aku akan membawamu ke suatu tempat dan tidak ada seorang pun yang menemukan kita." bisiknya lembut sambil mengusap bibir Loyisa. Ia mengecup singkat bibir ranum yang menggoda itu.
Axel kembali duduk bersandar, ekspresi wajahnya berubah dengan senyum bahagia. Getaran itu terus terasa di sekujur tubuhnya. Aliran listrik di dada semakin menyetrum dan menjalar ke seluruh tubuhnya. Benar-benar membuatnya jatuh kepada pesona wanita cantik ini.
Axel lalu memutar kunci mobil untuk menghidupkan mesin mobilnya. Ia menginjak penuh pedal kopling, dan memasukkan persneling. Axel mulai menginjak pedal gas itu secara perlahan dan menjalankan mobilnya meninggalkan jembatan itu.
BERSAMBUNG
โฃ๏ธSalam sehat dari author cantik untuk my readers yang paling cantik.
โฃ๏ธJangan lupa tetap kasih komentar agar aku tahu kehadiran kalian di sini ya ๐๐ ๐ค
๐BERIKAN LIKE DAN KOMENTARMU๐
__ADS_1
๐ BERIKAN VOTEMU ๐
๐ BERIKAN BINTANGMU๐