
"Hai aku Rosaline Elisia Khairana, Aku mempunyai sebuah kisah perjalan hidup yang dimana aku terjebak antara kisah cinta suamiku dan juga kekasihnya. Apa kalian pernah mendengar kisah Rosaline dalam drama legenda Romeo dan Juliet? yah Rosaline yang merupakan cinta pertama Romeo di saat Ia berpikir dirinya lah pemeran utama dalam kisahnya, semesta seketika mengubah itu menjadi terbalik hingga akhirnya Ia di kenal dengan hanya sebagai figuran dalam cerita cinta yang melegenda itu. Begitu juga aku yang terjebak di antara kisah cinta suamiku dan juga kekasihnya namun, hadirku sebagai Juliet tapi Kisahku seperti Rosaline.
...***...
Dengan begitu tergesa-gesa, seorang wanita cantik bertubuh kecil dengan tinggi yang tidak terlalu berlari menuju parkiran apartemen menggambil Motornya.
"Duh telat lagi deh, Revan pasti banyak oceh nih. " keluhnya sembari mengendarai motornya meninggalkan parkiran.
Jalanan kota sepagi ini sudah sangat ramai dengan banyaknya pengandara namun, dengan gesitnya Ia berhasil menghindari macet.
Saat hendak melewati sebuah gang yang hampir mendekati kantornya tiba-tiba saja,
Bruk
Seorang wanita paruh baya di serempet sebuah mobil putih, yang sudah melarikan diri.
karena merasa Iba, dengan cepat gadis tersebut turun dari motornya lalu membantu wanita tua itu.
"Anda baik-baik saja? " tanyanya, sembari menggotong tubuh wanita itu menuju bangku yang tak jauh dari sana.
"Kakimu berdarah, "
Sembari mengeluarkan obat merah dari tasnya, gadis tersebut menjongkok di hadapan wanita tua itu lalu mengobati lukanya.
"Namamu siapa nak? " tanya wanita tua.
"Aku Rosaline Elisia Khairana, kau bisa memanggilku Elisa. "
"Elisa nama yang indah sekali, "
Elisa mengukir senyuman manis dari bibirnya sembari terus membalut luka wanita itu.
"Aku Yuliana, "
lagi-lagi Elisa hanya mengangguk lalu sedikit tersenyum simpul.
"Dimana rumah anda? biar saya antar, "
"Tidak perlu, tapi biasakah kau meminjamkan ponselmu? aku ingin menghubungi putraku, "
Tanpa ragu, Elisa mengeluarkan ponselnya lalu menyodorkan kehadapan Yuliana.
Yuliana dengan antusias menyambut ponsel Elisa, lalu mengusap layar itu dan menekan beberapa nomor.
"Mama kecelakaan, tolong jemput mama di perempatan dekat terminal. "
Setelah menutup panggilan secara sepihak, Yuliana menyodorkan kembali ponsel itu kepada pemiliknya.
"Apa anda bisa sendiri? saya harus segera pergi. "
Yuliana mengangguk mengiyakan perkataan Elisa, lalu melambaikan tangannya kepada gadis itu.
"Berhati-hatilah! " teriak Elisa saat sudah menjauh dari hadapan Yuliana.
setibanya di kantor, Elisa di sambut oleh kepala devisi marketing yaitu Revan Adijaya dengan tatapan yang yah, sudah bisa Elisa tebak.
"Kau tau Va, tadi ada yang kecelakaan di perempatan dekat terminal jadi aku tidak tega deh, " ujar Elisa menceritakan semuanya.
Namun, pria itu hanya menatapnya dingin tanpa bersuara sedikit pun.
"Jika kau terus telat dalam seminggu ini, maka akan ku pastikan kepala dan tubuh ini terpisah. Paham! " ucap Revan yang sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi.
Bagaimana tidak, sudah hampir seminggu wanita itu terus saja terlambat. Hal itu membuatnya selalu di omeli manager.
"Iya bawel, "
Revan hanya menggeleng kepalanya melihat tingkah laku rekan kerja sekaligus sahabatnya itu.
__ADS_1
Kembali ke Yuliana
Yuliana yang sedang menunggu kedatangan putranya, seketika bibirnya membentuk sebuah senyuman di kala sebuah mobil terparkir di hadapannya.
"Mama nggak apa kan, " ujar pria yang menghampirinya.
"Luka dikit, "
Yuliana menunjukkan kaki lukanya yang tertutup perban kepada putra nomor tiganya itu.
"Sini Aldi bantu masuk mobil, "
Dengan di gotong Aldi, Yuliana memasuki mobil putranya itu walaupun dengan meringis kesakitan.
"Kamu sudah selesai kuliah? "
"Sudah mah, "
Yah, Yuliana memiliki dua orang putra yaitu Alfharezel Khairy, dan juga Aldio Khairy.
Keduanya putranya itu, masih bujang. hal itu selalu membuat dirinya mendapat banyak pesan masuk dalam akun media sosialnya, untuk menjadikan para pengirim pesan tersebut menjadi menantunya.
"Mama, kok lukanya sudah di perban? "
Sedari tadi, Aldi terus memperhatikan kaki wanita yang telah membesarkannya itu. Hingga akhirnya Ia mengutarakan rasa penasarannya.
"Dia gadis manis yang membantu mama tadi, " jelas Yuliana.
Mobil yang di kendarai Aldi bukannya melaju menuju kediamannya, Ia malah membawa Mamanya menuju rumah sakit Citra prima.
"Al, "
"Mama harus di periksa lebih intensif, siapa tau infeksi nanti Al bakal sedih. "
Yuliana hanya bisa pasrah dengan apa yang di katakan putranya itu.
Yuliana membuntuti dokter dari belakang memasuki ruang pemeriksaan. Sedangkan Aldi dengan cepat mengirimkan pesan kepada kakaknya, yang bisa dipastikan sangat gila kerja.
...***...
Elisa yang baru saja keluar dari ruang meeting, berjalan sempoyongan menuju meja kerjanya.
"El, kamu bisa ke rumah sakit? " ujar Revan menghampirinya.
Elisa mengangkat kepalanya sekilas, lalu kembali meletakkan kepalanya di atas meja.
"Mau ngapain? " tanya Elisa.
"Bawa bunga ini dan hantarkan pada Pak Hartono, Istrinya baru saja melahirkan. "
Elisa mendengus sebal namun, matanya seketika berbinar di saat Revan meletakkan beberapa lembar uang di hadapannya.
"Aku suka gayamu, " Elisa menepuk pundak Revan.
Tanpa banyak oceh, Elisa meraih bunga tersebut lalu berlari menuju motornya.
Dengan kecepatan sedang, Elisa membelah Jalanan kota menuju rumah sakit citra prima.
setibanya di lobby, Elisa bergegas mengeluarkan kertas yang berisikan nama istri pak Hartono.
"Maaf mbak, ruangan nyonya Lidya Hartono di sebelah mana yah? "
"Mbak mama saya dimana? "
Belum sempat perawat tersebut menjawab pertanyaan Elisa, seorang pria sudah terlebih dahulu bersuara.
"Maaf mas antri dulu, " ujar sang perawat.
__ADS_1
"Tinggal di jawab saja kenapa sih, " kesal pria itu.
"Nggak apa mbak, dia duluan saja, "
Elisa sedikit tersenyum, lalu memberikan tempatnya kepada pria itu.
Setelah mendapat informasi yang di perlukan, Pria tersebut berlalu begitu saja tanpa sepatah kata pun.
Elisa menggelengkan kepalanya singkat lalu kembali berhadapan dengan perawat.
"Kamar melati nomor 7. bersebelahan dengan UGD. "
Elisa sedikit mengangguk lalu ikut berlalu mencari kamar itu.
Yuliana yang baru selesai di ronsen dan hendak kembali ke kursi, seketika di buat terkejut dengan kehadiran putra sulungnya.
"Ezel, "
"Mama nggak apa-apa kan, " tanyanya khawatir sembari memeriksa setiap inci tubuh Yuliana.
Yuliana dan juga dokter Nila, terkekeh melihat kekhawatiran dalam diri pria tampan itu.
"Mama kamu baik-baik saja kok, tidak ada patah tulang atau semacamnya. Hanya luka itu namun, sudah di beri penanganan pasti akan cepat sembuh, " jelas dokter Nila panjang lebar.
"Lain kali kalau mama mau pergi, hubungi aku atau Aldi. "
Yuliana yang mendengar itu, hanya bisa mengangguk pasrah dengan kerisauan putra-putranya itu. Ini mungkin di rumah sakit, jika sudah tiba di rumah Ia pasti akan tuli mendengar ocehan putra-putranya ini.
Dengan di gotong Ezel dan di buntuti Aldi, Yuliana keluar dari ruangan itu. Tanpa sengaja, dirinya berpapasan dengan Elisa.
"Tante, " sapa gadis itu.
"Kamu ngapain disini? "
"Itu Aku lagi menjenguk istri klien yang tengah melahirkan. Tante sendiri, gimana kakinya sudah sembuh? "
"Sudah mendingan berkat kamu. ohiya Ezel, Aldi, ini Elisa dia yang menolong mama tadi. "
Elisa hanya tersenyum menanggapi perkataan Yuliana, lalu kembali melirik ke jalan. Sedangkan kedua pria itu hanya menatapnya dengan datar.
"Thanks, udah mau nolongin mama. "
Hanya Aldi yang bersuara sedangkan Ezel bungkam seribu bahasa.
"Tante, Elisa pamit duluan masih ada urusan." Elisa tak memperdulikan perkataan Aldi, Ia malah berpamitan pada Yuliana.
setelah berpamitan kepada Yuliana, Elisa yang hendak melangkah pergi tangannya di cekal Yuliana.
"Aku berharap kamu menjadi bagian dari keluarga ku, " ujar Yuliana sembari menatap putranya Ezel.
Elisa yang sama sekali tidak mengerti akan arah pembicaraan Yuliana, hanya bisa tersenyum bingung dan berlalu pergi.
Sedangkan Ezel yang memang paham kemana arah pembicaraan Yuliana, hanya bisa menarik nafasnya panjang.
"Aku punya pacar ma. " ujar Ezel sembari menuntut Yuliana menuju parkiran.
"Aldi, apa mama terlihat peduli?! "
Ezel menghembuskan nafas berat melihat tingkah mamanya itu.
Setelah kepergian Ayahnya, Ezel memperhatikan perubahan sikap wanita yang telah membesarkannya itu. Dimana Yuliana sering bertingkah kekanak-kanakan.
.
.
.
__ADS_1
Agak kripi yah ceritanya? maaf maklum baru pemula. mohon saran dan kritik yang membangun yah ❤️😚