
Elisa yang baru saja merebahkan dirinya di atas kasur, tiba-tiba harus bangkit kembali saat ponselnya berbunyi.
Ia membuka tasnya lalu mengambil ponselnya yang dalam layar itu terdapat nama "Mama"
[Besok ikut mama ke suatu tempat! ]
Tut
Belum sempat Elisa mengeluarkan suaranya, panggilan itu di putus secara sepihak oleh Marisa mamanya.
Elisa menarik nafasnya panjang, mengambil handuk menuju kamar mandi.
Gadis itu sudah terbiasa dengan sikap mamanya itu, jadi Ia tidak merasa heran dengan sikapnya.
Saat Elisa keluar dari kamar setelah selesai dengan kegiatannya, Ia mendapati Revan yang sudah ada di depan televisinya.
"Heh! kalau masuk rumah orang tuh ketuk pintu dulu, bukan main masuk aja. "
Revan sama sekali tidak memperdulikan perkataan gadis itu, Ia berlalu kedapur mengambil mie instan yang sudah di buatnya.
"Nih makan. " ujar Revan sembari menyodorkan mie instan itu.
"Baik banget sih, Revan-Revan ini, " ucap Elisa, menampilkan puppy eyesnya.
Dengan sumringah, Elisa mengambil alih mie itu lalu terlebih dahulu duduk di tempat bekas Revan tadi.
srup
srup
Beberapa menit berikutnya, mie tersebut telah habis di seruput keduanya sampai tak tersisa.
"Ngapain kesini? " tanya Elisa memulai pembicaraan.
Lagi dan lagi, Revan tidak menjawab pertanyaan. Pria itu mengambil bekas mie tadi lalu membawa ke tempat pencuci piring.
"Numpang makan. "
Elisa seketika menganga mendengar perkataan pria itu, yang betul-betul meninggalkan apartemennya setalah selesai dari dapur menyimpan bekas makan keduanya.
"Nggak usah datang lagi, Air panas gue habis! " teriak Elisa melalui jendela yang berhadapan ke arah parkiran, melupakan kekesalannya.
Revan yang mendengar hal itu, mengukir senyuman di bibirnya lalu meninggalkan apartemen Elisa.
"Menggemaskan, " gumamnya sesaat, lalu melajukan mobilnya meninggalkan apartemen Elisa.
Setelah kepergian Revan, Elisa kembali ke kamarnya lalu merebahkan tubuhnya di atas ranjang.
...***...
Di kediaman mewah Khairy, Yuliana yang sudah sejak pukul empat pagi tersadar dari tidurnya semalam berjalan menuju kamar Ezel yang berada di lantai dua.
Tanpa mengetuk pintunya terlebih dahulu, Yuliana langsung menyerobot masuk ke dalam lalu menggoyangkan tubuh Ezel.
"Ada apa mam? " tanya Ezel saat melihat Yuliana sudah berada di hadapannya.
"Bisa nggak kamu, cari tau keberadaan Elisa? '"
Ezel menarik nafasnya panjang lalu kembali menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya.
"Kenapa nggak Aldi saja ma? lagian Aldi juga tau wajahnya kan, aku nggak bisa. "
Yuliana yang kesal dengan penolakan putranya, bangkit dari duduknya lalu membuka seluruh tirai yang berada dalam kamar itu. seketika cahaya mentari bersinar terang, tepat di atas wajah tampan Ezel.
"Kalau kamu nggak mau, biar mama yang pergi. "
"Baiklah aku pergi. "
__ADS_1
Ezel bangkit dari ranjangnya mengambil handuk, berjalan menuju kamar mandi membersihkan tubuhnya.
Yuliana yang melihat hal itu, dengan penuh senyuman yang terpampang pada wajahnya Ia keluar dari kamar putranya yang serba hitam.
Setelah selesai bersiap-siap, Ezel turun kebawah langsung menuju parkiran tanpa sarapan terlebih dahulu.
"Dia kenapa? " tanya Farzan. Farzan adalah anak dari Reno Khairy, yang merupakan sepupu dekat Aldi, dan juga Rezel.
"Bocil tuh nggak perlu tau. "
Farzan yang dengan perkataan Aldi, memanyunkan bibirnya menatap Yuliana.
"Nggak usah ribut, cepat habiskan! " pintah Yuliana.
Farzan mengangguk mengiyakan perkataan Omanya, lalu kembali berkutat dengan piring dan juga sendoknya.
sedangkan Aldi, sudah minggat dari meja makan menuju kamarnya.
Ezel yang kesal sebab tidurnya di ganggu pada hari Minggu, berjalan menuju sebuah mini market setelah memarkirkan mobilnya.
Ia terus melangkahkan kakinya masuk kedalam pusat perbelanjaan itu, hingga akhirnya Ia berhenti tepat di depan rak minuman.
Tangannya yang siap meraih sebotol kopi, seketika terhenti saat minum tersebut terlebih dahulu di ambil oleh seorang gadis.
"Maaf tapi ini milik saya. "
Ezel yang tampak tidak asing dengan sosok di depannya, dengan cepat mencekal lengannya agar tidak menjauh darinya.
"Kamu Elisa? " tanyanya.
"Wooow Elisa kau sangat terkenal, " gumam gadis itu membuang wajahnya dari tatapan Ezel.
"Kenapa? "
Belum sempat menjawab pertanyaan Elisa, Ezel menariknya menjauhi pusat perbelanjaan itu menuju parkiran.
"Elisa! "
Ezel yang hampir mengeluarkan suaranya, terhalang oleh panggilan seorang wanita tua dari seberang jalan.
"Kartu nama, "
Ezel kembali mencekal lengan gadis itu. Elisa sedikit berdecak kesal, lalu mengambil ID card kantornya dan memberikan kepada pria itu.
Setelah Elisa sudah menghilang dari pandangannya, Ezel bergegas masuk kedalam mobilnya lalu melaju dengan kecepatan sedang menuju kediamannya.
"Ada apa Ma? " tanya Elisa menghampiri wanita yang memanggilnya.
Wanita itu adalah Marisa ibu kandungnya. Namun, karena Marisa sudah menikah setelah kepergian ayahnya Ia memutuskan untuk tidak tinggal serumah dengan mamanya.
"Ikut mama ke butik. "
Tanpa berbasa-basi, Marisa menarik tangan Elisa menuju butik yang jaraknya hanya beberapa langkah dari tempat mereka berdiri.
"Bawakan gaun itu, " ucap Marisa pada karyawan dalam butik itu.
Saat itu juga, karyawan tersebut kembali dengan membawa gaun pengantin yang sudah di pesan Marisa.
"Ini untuk apa ma? "
"Besok kau harus menikah dengan anak teman mama, jika kau menolak akan ku sakiti Hairi. "
"Mama kok tega sih, aku nggak mau! "
"Oh begitu rupanya, " ujar Marisa.
wanita paruh baya itu mengeluarkan ponselnya, lalu memutar sebuah video dimana adik satu-satunya tengah di siksa.
__ADS_1
"Mama! apa kami bukan anak-anak mu? "
"Heii kalian ku lahirkan untuk jadi berguna, bukan seperti ayahmu yang tidak berguna bahkan sampai mati. dengar El, jika kamu berani menolak Hairi yang akan ku buat menyusul ayahmu, paham! " ancam Marisa.
Mau tidak mau, Elisa terpaksa harus mematuhi perkataan Mamanya. sebab, jika Ia menolak adiknya yang akan menjadi sasaran empuk kemarahan Marisa.
Dengan penuh kekesalan, Elisa mengambil gaun itu menuju ruang ganti.
"Bagus, bungkus mbak, " ujar Marisa setelah melihat Elisa keluar dari ruang ganti.
Selesai membeli gaun itu, Elisa langsung pergi begitu saja tanpa berbicara sepatah katapun. Marisa yang memang tak perduli, mengambil paper bag berisikan gaun pengantin itu lalu ikut melangkah keluar dari butik.
Yuliana yang sedari tadi menunggu kedatangan putranya, tiba-tiba terkejut saat ponselnya berdering.
Senyuman terukir di bibirnya saat membaca pesan itu.
Saat Ezel sudah memasuki parkiran, Yuliana seketika pingsan.
"Oma! " teriak Farzan yang kebetulan menyaksikan hal itu.
Tanpa menunggu lama, Ezel keluar dari mobilnya berlari ke arah Yuliana yang sudah terkapar.
"Zan, buka pintu mobilnya. "
Farzan mengangguk lalu berlari menuju mobil Ezel. Setelah memasukkan Yuliana, Ezel bersama Farzan membela jalanan kota menuju rumah sakit.
Setibanya di sana, mereka di sambut oleh beberapa perawatan yang sudah menunggu kedatangan mereka. Sebab, sebelum berangkat Farzan sudah terlebih dahulu menghubungi mereka.
"Dok bagaimana keadaan mama? " tanya Ezel begitu khawatir menghampiri dokter Nila.
"Dia hanya lelah saja, kalian bisa menjenguk saya permisi. "
Setelah kepergian Nila, tanpa menunggu sang paman, Farzan menyerobot masuk lalu memeluk erat tubuh Yuliana.
"Mama kenapa sih, kok bisa pingsan? " tanya Ezel yang sudah berada di samping tempat tidur sembari menatap Yuliana.
"Sebelum semuanya terlambat, boleh mama minta sesuatu dari kamu? "
"Katakan ma, El pasti penuhi, " ujar Ezel menatap lekat wajah Yuliana.
"Menikahlah dengan gadis pilihan mama. "
Degh
seolah dunia seketika berhenti berputar, Ezel menggelengkan kepalanya tak setuju.
"Ezel sudah punya Riani ma, "
"Kamu tau nak, mama tidak pernah meminta apapun dari kamu. tolong penuhi permintaan mama kali ini, " mohon Yuliana sembari menggenggam erat tangan putranya.
Tanpa menjawab perkataan Yuliana, Ezel melepaskan genggaman tangan mamanya lalu pergi meninggalkan ruangan itu.
Ia harus bagaimana sekarang, apa yang harus Ia katakan kepada Riani nanti. pikiran itu terus bergelut dalam kepalanya, jika saja Riani mau menerima lamarannya waktu itu pasti semua ini tidak akan terjadi.
Farzan keluar menyusul Rezel di depan, membawa sebotol air memberikan pada pamannya itu.
"Arzan mungkin masih kecil paman, tapi jangan sampai paman menyesal karena tidak mau memenuhi keinginan Oma."
Setelah mengatakan hal bijak itu, Farzan masuk kembali menemui Omanya. sedangkan Rezel, masih meresapi perkataan keponakannya itu.
.
.
.
Haiii makasih ya yang sudah mau mampir, yuk komen biar aku tau kalau ada yang baca makasih 🌹❤️❤️❤️❤️
__ADS_1