
Setibanya di rumah sakit, Rezel langsung membawa Elisa menuju UGD. Di sana, sudah ada seorang dokter yang menunggu kedatangan. sebab, sebelum mereka tiba di rumah sakit itu Rezel sudah terlebih dahulu mengabarkan kedatangannya.
"Maaf tuan muda, anda harus tetap di luar!" titah Boy, dokter yang akan menangani Elisa.
Rezel yang hanya bisa pasrah mengikuti perkataan Boy, duduk di bangku yang berada di sana.
Tak menjelang beberapa lama saat tengah menunggu istrinya, ponsel Rezel berbunyi. Ketika melihat nama yang tertera pada layar ponselnya, Rezel dengan cepat memeriksa isi pesan tersebut.
......Gadisku♥️......
Sayang, dimana kau? aku sedang berada di kafe dekat rumah sakit xxx, ayok kesini sebentar.
Mendapat pesan seperti itu dari Riani, Rezel yang tanpa memperdulikan Elisa lagi, dengan segera berjalan kearah kafe yang di maksud Riani.
Dokter Boy yang baru saja selesai memeriksa keadaan Elisa, saat dirinya membuka pintu UGD dirinya sudah tidak lagi menemukan keberadaan Rezel di sana.
"Kemana dia?" gumamnya, sambil matanya menyapu seluruh tempat itu.
Namun, tetapp saja Ia tidak menemukan keberadaan Rezel di rumah sakit tersebut.
Dengan sangat terpaksa, Boy kembali kedalam ruangan. Ketika kakinya baru menginjak ambang pintu, matanya sudah menangkap sosok Elisa yang sudah sadar dan duduk di bibir ranjang.
"Dok, aku mau pulang, " ujar Elisa.
Boy yang bingung haru apa, mendekati Elisa lalu memeriksa lagi keadaannya.
"Kondisi mu sangat parah Elisa, apa kau yakin mau pulang?"
Elisa mengangguk tanpa beban, lalu melepaskan selang infus pada tangannya.
Bukan kali ini saja Elisa menjadi pasiennya, Boy sudah beberapa kali dalam sebulan memeriksa kondisi Elisa. Tentu saja, dengan kondisi yang sama seperti sebelumnya.
"Tidak Elisa, kali ini aku tidak akan membiarkan dirimu pergi, " ujar Boy, mencegah agar gadis itu tidak pergi.
"Aku mau pulang Boy, tolonglah."
Akan seperti biasanya, mendengar suara Elisa yang begitu lemah, Boy pasti akan luluh dan langsung mengiyakan perkataan gadis itu.
"Kondisi sangat parah Elisa, kali ini biarkan aku merawat mu untuk beberapa hari saja, " ujar Boy, masih berusaha mencegah kepergian gadis itu.
Elisa yang tadinya berusaha keras menahan tangisnya, kini dirinya harus mengalah membiarkan bulir-bulir bening itu mengalir begitu saja dari kelopak matanya.
"Tenangkan dirimu, aku akan kembali bersama beberapa obat. Setelah itu, akan ku pindahkan dirimu di ruang rawat."
Setelah mengatakan hal itu, Boy benar-benar berlalu dari hadapan gadis itu.
Tangisan Elisa pecah begitu saja, dirinya tidak menyangka suaminya meninggalkan begitu saja di rumah sakit.
"Ayah, Elisa kangen, " gumamnya di sela-sela tangisannya.
...***...
Di sebuah cafe mewah yang jaraknya tak jauh dari rumah sakit, Rezel melangkah masuk mendekati seorang wanita yang melambaikan tangan padanya.
__ADS_1
"Sayang, apa kau sudah lama disini?" ujarnya bertanya, setelah mengecup singkat kening gadis yang di duga adalah kekasihnya Riani.
"Nggak kok, aku juga baru saja tiba. Mau pesan apa?"
"Samakan saja dengan punyamu."
"Baiklah, pelayan!"
Riana mengangkat tangannya, memanggil pelayan mendekati meja mereka. Tak menjelang beberapa menit, seorang writers menghampiri keduanya.
"Mau pesan apa Kak?" tanya sang writers.
"Sama seperti punya saya, " ujar Riani.
"Baik kak, mohon di tunggu sebentar yah,"
Riani hanya tersenyum menanggapi perkataan writers tersebut, lalu kembali fokus menatap kekasihnya.
"Sedang apa di sekitar sini? kok kayak cepat banget, " ujar Riani membuka obrolan diantara keduanya.
Rezel yang sama sekali belum menyiapkan jawaban atas pertanyaan Riani, sedikit gugup lalu meletakkan ponselnya.
"Ada urusan di rumah sakit, " ujarnya.
"Kau sakit?"
"Tidak sayang, aku hanya mampir melihat data-data di sana saja, " bohongnya.
Dirinya harus bagaimana lagi? jika tidak berbohong, Rezel pasti tidak akan mungkin memberitahu kepada Riani bahwa dirinya, mengantar Elisa.
Sudah hampir tiga puluh menit Ia berada dalam cafe tersebut, Rezel baru tersadar akan istrinya yang tengah sakit.
"Maafkan aku Ri, aku harus pergi."
Melihat tingkah kekasihnya itu, Riani memicingkan matanya merasa curiga.
"Mau kemana? makanannya sebentar lagi datang, " serkah Riani, menahan tangan Rezel.
Rezel melepaskan paksa tangan Riani, lalu bangkit dari duduknya.
"Kau saja yang habiskan, biar aku yang bayar bilnya."
Dengan begitu terburu-buru, Rezel meletakkan beberapa lembar uang kehadapan Riani kemudian Ia dengan sedikit berlari, kembali menuju rumah sakit.
"Ada apa dengannya? ah sudahlah, yang penting uangku hari ini tidak keluar, " gumam Riani, mengangkat lembaran uang yang tadi di tinggalkan Rezel.
Sedikit tergesa-gesa, Rezel memasuki rumah sakit dan langsung menuju UGD.
Di sana memang ada beberapa dokter dan juga perawat. Namun, untuk pasiennya sudah bukan Elisa lagi.
"Permisi, kemana istriku?!" tanya Rezel dengan nada yang sangat tidak enak di dengar.
Dokter dan juga perawat saling bertatapan sekilas, lalu mereka kembali melakukan pekerjaannya tanpa menjawab pertanyaan dari Rezel.
__ADS_1
"Kalian bosan kerja?! Jawab!" bentak Rezel bernada tinggi.
Salah seorang dokter melepaskan maskernya, menarik tangan Rezel keluar dari dalam ruangan itu.
"Maaf tuan muda, hari ini ada begitu banyak pasien. Kami sama sekali tidak tau, kemana istri anda, " jelas sang dokter.
Rezel meremas kepalanya kasar, berjalan menjauhi ruangan itu menuju resepsionis. Setelah kepergian Rezel, sang dokter sembari menggelengkan kepalanya, kembali masuk kedalam ruang UGD.
Ketika Rezel tengah sibuk mencarinya di bawah, Elisa justru sedang di beri obat oleh Boy.
"Sekarang istirahatlah, " titah Boy hendak melangkah pergi.
Dengan cepat, Elisa memegang tangannya menghentikan langkah kakinya. Boy berbalik lagi, menatap gadis dihadapannya itu.
"Ada apa?" ujar Boy bertanya.
"Tolong, jangan memberitahukan soal penyakit ini pada siapapun, " mohon Elisa.
Boy tampak berpikir barulah Ia mengangguk, mengiyakan permintaan Elisa.
Setelah mendapat persetujuan dari Boy, Elisa melepaskan tangannya lalu mulai menutup matanya.
Boy sedikit tersenyum kecil, melangkah keluar dari ruangan itu. Ketika Ia baru saja keluar dari pintu, sosok Rezel sudah mendekat kearahnya.
"Kenapa tidak menunggu aku?!" marah Rezel meluapkan kekesalannya.
"Ma-
Belum sempat Boy menyelesaikan perkataannya, Rezel sudah lebih dahulu memasuki ruang rawat Elisa. Di dalam sana tak hanya ada Elisa seorang, ada juga beberapa pasien yang dirawat sekamar dengannya.
"Kenapa di sini?" pertanyaan bodoh itu di lontarkan Rezel.
Elisa hanya menatapnya sekilas, lalu kembali menutup matanya tak memperdulikan pertanyaan Rezel.
"Elisa, aku bertanya padamu!" kesal Rezel.
Sama sekali tidak ada jawaban dari istrinya, beberapa orang pasien yang melihat kegilaan Rezel, hanya bisa menggelengkan kepalanya.
"Jangan di ganggu pak, dia baru saja minum obat, " ujar salah seorang pasien.
Mendengar hal itu, Rezel akhirnya menyerah. Ia memilih duduk di kursi yang berada dekat Elisa, lalu memainkan ponselnya.
Elisa yang sudah merasa tenang tak ada pengganggu lagi, kali ini Ia benar-benar menutup matanya.
"Kenapa dia mau di rawat dalam ruangan ini?" batin Rezel sedikit melirik Elisa.
.
.
.
Hai,
__ADS_1
makasih yah guys, udah mau mampir ke cerita gaje ini 🤭
jangan lupa tinggalin jejak biar aku semangat tulisannya makasih ♥️🌷