Rosaline Dalam Kisahku

Rosaline Dalam Kisahku
Pernikahan


__ADS_3

Pernikahan merupakan hari yang di tunggu-tunggu setiap wanita. Sebab di hari itu, masa lajangnya akan berakhir dan statusnya menjadi istri dari pria yang di cintainya.


Namun, hal itu berbeda dengan Elisa yang sama sekali tidak merasakan kebahagiaan sedikitpun. Di hatinya memang sudah terukir satu nama, tapi untuk mengungkapkan itu Elisa tidak pernah punya keberanian.


Dan sekarang, Ia harus mengubur semuanya dalam -dalam.


Elisa sejak pukul empat pagi, di paksa Marisa ibunya untuk bangun dan bersiap-siap.


Biasanya dalam pernikahan akan ada banyak keluarga yang hadir, dalam pernikahan Elisa hanya Marisa saja yang mendampinginya.


Bahkan Hairi adiknya saja tidak di izinkan untuk bertemu dirinya.


"Sudah siap apa belum? "


Marisa membuka pintu, berjalan mendekati Elisa yang tengah menatap dirinya di cermin.


"Berhentilah menangis, mama sudah membayar mahal-mahal untuk merias wajahmu! " bentak Marisa.


Beberapa MUA yang masih berada di ruangan itu, seketika terkejut berbalik menatap kedua ibu dan anak itu.


"Ayok, pendeta dan yang lainnya sudah menunggu. "


Dengan berlinang air mata, Elisa terpaksa harus bangkit dari duduknya menyeret gaun pengantin menuju aula hotel yang sudah di booking keluarga mempelai pria.


Seluruh undangan yang hadir pun hanya orang-orang terdekat Keluarga Ezel, dan beberapa rekan kerja yang Ezel sajalah yang di undang.


sedangkan dari sisi Elisa, dirinya hanya bersama Marisa seorang.


"Berhentilah menangis, semua mata menatap kita sekarang, " bisik Marisa.


Dengan di dampingi Marisa, Elisa berjalan menuju altar yang di sana sudah ada Ezel yang menantinya.


Yuliana tampak begitu bahagia, di kala melihat Elisa dan Ezel yang akan segera menikah.


Sedangkan Aldi, Farzan, dan Reino putra-putranya menatap tak suka ke arah Elisa.


"Silahkan kedua mempelai mengucapkan janji pernikahan, di mulai dari mempelai pria. "


Ezel berbalik menatap lekat wajah Elisa, lalu menerima mic yang di berikan pendeta.


"Saya Alfharezel Khairy, berjanji akan selalu setia kepada istri saya dalam keadaan suka maupun duka. "


Sekarang giliran Elisa, gadis itu terlihat ragu-ragu untuk mengucapkan janji pernikahan. Hatinya begitu berat bahkan hanya untuk menatap Ezel.


"Saya Rosaline Elisia Khairana, berjanji akan selalu menemani suami saya dalam keadaan suka maupun duka. "


tepukan tangan meriah dari para hadirin, mengakhiri perkataan Elisa.


"Silahkan cium kening istrimu, " ujar pendeta.


Ezel mendekati Elisa, lalu membuka penutup wajah Elisa dan mengecup kening istrinya.


Elisa yang merasakan sentuhan bibir Ezel pada keningnya, entahlah ada perasaan aneh menghampirinya.


Beberapa detik berikutnya, Ezel melepaskan kecupannya.


setelah acara pengucapan janji pernikahan selesai, kini masuk ke acara resepsi.


Acara resepsi ini bisa di bilang sederhana namun begitu sangat elegan.


Elisa dan juga Ezel saat ini di pajang bak manekin pada toko baju, di depan seluruh tamu undangan yang hadir.


"Mama senang akhirnya kamu jadi mantu mama, " ujar Yuliana.


Elisa hanya tersenyum kecut, menanggapi perkataan Yuliana.

__ADS_1


"Kalian duduk saja, mama mau ke sana sebentar. "


setelah kepergian Yuliana, Elisa yang sudah benar-benar lelah meletakkan bo kongnya di sofa khusus pengantin.


Tak lama kemudian, Reino yang merupakan saudara sepupu Rezel menghampiri keduanya.


"Kau mencintainya? " tanya Reino menatap sekilas Elisa.


"Bagaimana dengan Riani Rezel? " tambahnya lagi.


"Aku akan mencari cara untuk menceraikannya. "


Aldi yang baru saja mendekati mereka, menggelengkan kepalanya tak setuju dengan perkataan sang Kaka.


"Kau pikir dia mainan?! " ujar Aldi kesal dengan pemikiran dangkal sang Kaka.


"Dia tidak mencintai gadis itu, lagi pula dia dan Riani masih berhubungan Al, " jelas Reino.


"Aku harap kau segera tinggalkan kekasih mu itu Kak, "


Reino dengan cepat menahan tangan Aldi yang hampir menjauh dari pelaminan.


"Apa kau menyukainya?! "


Mata Reino dan juga Aldi, kini tertuju pada Elisa yang sibuk dengan ponselnya.


Aldi menepis kasar tangan Reino, kembali berlalu menjauhi kedua kakaknya itu.


setelah kepergian Aldi, Ezel sedikit melirik ke arah Elisa yang tengah memukul-mukul kakinya karena kelelahan.


"Pikiran semuanya baik-baik, " ujar Reino, ikut melangkah meninggalkan pelaminan.


Ezel berjalan mendekati Elisa, lalu ikut duduk di samping Istrinya yang baru beberapa menit.


Elisa melepaskan penutup wajahnya, lalu berbalik menatap lekat kedalam wajah Ezel.


"Aku juga tidak tertarik untuk melakukan hal itu, " ketus Elisa.


Ezel menelan salivanya kasar mendengar perkataan Elisa. begitu juga dengan Elisa, hatinya begitu teriris di saat Ezel tak ingin dirinya berharap lebih.


Elisa bangkit dari duduknya, hendak berjalan pergi. Namun, tangannya di cekal Ezel membuatnya berbalik menatap pria yang telah menjadi suaminya itu.


"Mau kemana? "


"Makan! " ketus Elisa.


Elisa berjalan dengan menyeret gaunnya, menuju prasmanan. tanpa di sadarinya, sedari tadi Ezel membuntutinya.


"Aduhh pengantin baru nggak bisa lepas yah, kayak perangko nempel mulu, " goda Yuliana.


Dengan segera, Elisa berbalik dan benar saja Ia mendapati Ezel di belakangnya.


"Saya juga lapar, " ujar Ezel yang seolah tau maksud dari tatapan Elisa.


"Sudah-sudah kalian kembali duduk saja, biar mama yang antarin kalian makan. "


Dengan menggandeng tangan Elisa, keduanya kembali ke pelaminan.


Saat sampai di sofa, Elisa hanya menatap tangan Ezel yang masih menggenggam tangannya.


"Maaf. "


Dengan segera, Ezel melepaskan tautan tangannya. Elisa yang merasa ada yang hilang setelah Rezel melepaskan tangannya, mengusap pelan bekas tangan Rezel di sana.


"Ada apa denganku?" batinnya bertanya-tanya, sembari mencuri pandang pada Rezel.

__ADS_1


Tak menjelang lama, Yuliana menghampiri keduanya dengan membawa sepiring makanan.


"Kok hanya sepiring? " tanya Ezel.


Elisa yang tadinya sedang mengusap layar ponselnya, mengalihkan pandangannya ke piring yang di bawah Yuliana.


"Pamali pengantin baru makannya pisah. "


Yuliana menyelonong pergi begitu saja dengan sedikit tawa, meninggalkan kedua mempelai yang saling berpandangan.


"Kamu saja yang makan. "


Ezel memberikan makanan itu kepada Elisa.


Elisa menatap bingung, lalu menarik tangan Ezel duduk di sofa.


"Apa kau tidak melihat mama mu di sana sedang memantau kita, " ujar Elisa.


Ezel mengangkat kepalanya mengikuti tatapan Elisa. Dan benar saja, saat ini Yuliana bersama Marisa tengah menatap kearah keduanya.


Dengan begitu sangat amat terpaksa, keduanya makan sepiring.


"Eh foto mereka, " pintah Marisa kepada fotografer yang tengah berlalu di hadapannya.


Satu jepretan foto di ambil, saat Ezel tengah mengusap bibir Elisa yang terkena saus.


Mata keduanya bertemu setelah perlakuan Ezel. saat itu juga, jepretan foto kedua di ambil fotografer.


"Mereka sangat serasi jeng, " ujar Yuliana bahagia.


Dari kejauhan, Aldi meneguk minuman dengan tatapan tak luput dari kakaknya dan juga Elisa.


"Aku curiga kau menyukainya, " ujar Reino mendekati adiknya dengan pertanyaan yang sama.


"Itu bukan urusanmu, urus saja istrimu itu. "


Reino berbalik dan mendapati Clarisa istrinya tengah mengunyah.


Reino menarik nafasnya panjang, lalu berjalan menghampiri istrinya.


Sedangkan Aldi masih setia menatap kedua mempelai di atas sana.


"Biar aku yang simpan, " ujar Elisa ingin bangkit berdiri namun, dengan cepat di cekal Ezel.


"Saya saja. "


Tanpa menunggu jawaban dari Elisa, pria itu berjalan menyimpan bekas makan keduanya.


Bukan maksud apa? tapi, melihat kondisi gaun Elisa yang panjang akan sangat sulit bagi gadis itu untuk berjalan.


Jadi terpaksa, Rezel harus mengambil alih semuanya.


Sikap manis yang di tunjukan Ezel, sedikit mengguncang hati Elisa yang tadinya tidak ingin mencoba menaruh hatinya.


"Semoga Tuhan memberkati pernikahan ku, " gumamnya.


.


.


.


Makasih buat yang mau mampir yuk ikutan terus kisah ini, untuk part berikutnya di harapkan sabar yah 🤭


Jangan lupa tinggalkan jejak!!!

__ADS_1


__ADS_2