
Hari sudah semakin sore, Elisa yang baru saja keluar dari toilet bergegas menuju mejanya.
Ia segera mengambil tasnya, lalu menuju tempat absen mengisi absen pulang.
"Sama siapa Neng? " tanya Pak Romi yang kebetulan juga mau pulang.
"Sendiri seperti biasa, Elisa duluan yah Pak. "
Tanpa menunggu jawaban dari Romi, Elisa menyelonong pergi.
...***...
Di sebuah cafe yang cukup terkenal, terlihat seorang pria yang tak lain adalah Rezel bersama seorang wanita tertawa begitu hangatnya.
"Katakan sayang, ada apa? " ujar wanita itu.
"Riani, aku mencintaimu. "
Wanita bernama Riani Vader, tersenyum di barengi sedikit tawa mendengar pengakuan kekasihnya itu.
"Rezel sayang, aku tau itu. "
Rezel mengembangkan senyuman palsunya, menggenggam erat tangan Riani.
"Menikahlah denganku, "
perkataan Ezel membuat Riani seketika melepaskan tautan tangan keduanya.
"Honey please, kau tau kan aku tidak bisa untuk sekarang. "
"Baiklah aku harus pergi, Klienku sudah menelpon, " ujar Riani sembari mengecup singkat pipi Ezel, sebelum benar benar meninggalkan tempat itu.
Setelah kepergian Riani, Ezel tersenyum kecut. Dirinya berada pada posisi yang sulit, di satu sisi Yuliana akan menikahkannya, di sini lain Riani selalu menolak untuk dinikahi.
"Bram, temui aku di tempat biasa dalam lima menit. "
Selepas mengirimkan pesan kepada Sekretarisnya, Ezel ikut meninggalkan cafe tersebut.
Elisa yang baru saja memarkirkan motornya, di kejutkan dengan kehadiran Marisa yang entah dari mana datangnya, memegang pundaknya.
"Kenapa ma? "
"Saya hanya memastikan bahwa kau, pulang tepat waktu. "
Marisa menyelonong pergi, mendahului Elisa menuju apartemen putrinya itu.
"Memangnya aku mau kemana lagi, jika tidak pulang?"
Elisa hanya bisa menggelengkan kepalanya, lalu ikut masuk kedalam apartemennya.
"Ini maksudnya apa ma? "
Bingung dengan apa yang dilihatnya, Elisa menghampiri Marisa. Di atas ranjangnya, sudah terdapat berbagai macam pakaiannya yang sudah berserahkan di sana.
"Cepat siap-siap, kita akan bertemu keluarga mempelai pria. "
Dengan sangat terpaksa, Elisa mengambil baju-baju yang di pilih Marisa menuju kamarnya.
Selesai bersiap-siap, Elisa bersama ibunya menuju cafe yang sudah di tentukan oleh keluarga mempelai pria.
Marisa berjalan terlebih dahulu memasuki cafe tersebut, Ia langsung di sambut cipika-cipiki dari orang tua pria.
Elisa yang ragu untuk masuk, seketika langsung berlari ke arah Marisa saat wanita paruh baya itu melorotkan matanya.
"Maaf telat El-
Belum sempat Elisa menyelesaikan perkataannya, matanya membulat melihat siapa yang berada di hadapannya.
Yah Yuliana bersama Ezel. Dada Elisa seketika menjadi sesak, saat Yuliana tersenyum ke arahnya.
__ADS_1
"Elisa, ayok duduk. "
Tanpa sepatah kata pun, gadis manis itu hanya menurut pasrah.
"Mam, aku mau bicara dengannya, " ujar Ezel menatap Elisa.
"Silahkan sayang, biar kalian tambah dekat. "
Ezel yang mendapat persetujuan dari Marisa, menghampiri Elisa lalu menariknya keluar cafe menuju taman. Lagi dan lagi, Elisa hanya pasrah kemana Rezel membawanya pergi.
"Aku mohon batalkan pernikahan ini, " ujar Elisa setelah berhasil menghempaskan tangan Ezel.
"Maaf saya tidak bisa, " jawab Ezel.
"Jika kau tidak mau, biar saya saja yang mengatakan kepada mereka. "
Elisa yang sudah hendak pergi, tangannya di tahan Ezel.
"Tolong terima saja pernikahan ini, " ujar Ezel.
Elisa terlihat memikirkan sesuatu namun, kembali sirna saat menatap wajah Ezel.
"Tenang saja setelah menikah saya tidak akan menyentuhmu. "
Mendengar penuturan pria itu, Elisa sedikit menatap ke arahnya.
"Oke, Jangan pernah melarang saya bekerja. "
"Terserah kau saja, asal dirimu tidak mencampuri urusanku. "
"Hidupmu tidak terlalu seru untuk ku campuri, jadi tenang saja, " ucap Elisa.
Rezel mengangkat tangannya, mengisyaratkan kepada seseorang untuk mendekat. Mata Elisa juga ikut mengarah, mengikuti tangan Rezel.
Tak menjelang lama, muncul seorang pria yang tak lain adalah Bram Sekretarisnya.
"Tanda tangan disini! "
Elisa membaca sedikit isi kertas itu, yang Dimana tertulis perjanjian yang di ucapkan keduanya tadi.
Tanpa berpikir kedepannya akan seperti apa, Elisa langsung membubuhkan tanda tangannya ke atas kertas itu.
"Jika sudah selesai, saya harus kembali, " ujar Elisa.
Tak menunggu jawaban dari Ezel, Elisa pergi begitu saja meninggalkan pria itu, kembali ke kafe tadi.
"Apa anda yakin Tuan?" tanya Bram memastikan.
"Semua ini demi kesehatan mama, aku akan menikahi gadis itu. "
"Bukan itu maksud saya tuan, tapi ini. "
REzel terpaku melihat surat perjanjian yang di sodorkan Bram, kehadapanya.
Jujur dirinya sama sekali tidak ingin membuat perjanjian itu namun, keadaan memaksanya untuk melakukannya.
Sebab, saat ini Ia tidak tau harus menaruh hatinya kepada siapa. Di sisi lain, ada Riani kekasihnya di satu sisi, ada Elisa calon istri pilihan mamanya.
"Jika di masa depan aku mempunyai anak bersamanya, tolong bakar kertas ini tanpa sepengetahuan ku. "
Bram sedikit ragu untuk mengangguk mengiyakan perkataan Ezel. Namun, Ia yakin hari itu akan tiba.
Elisa yang kembali tanpa Ezel, saat itu menerima tatapan tak menyenangkan dari Marisa.
"Dia sedang di toilet, " ujarnya berbohong.
Mau bagaimana lagi?! jika Ia tidak sedikit berbohong, Marisa bisa memakannya saat itu juga.
"Ya sudah kita tunggu saja disini. "
__ADS_1
Elisa hanya mengangguk kecil mendengar perkataan Yuliana. Saat itu juga, Ezel kembali menghampiri mereka.
"Karena Ezel sudah datang, kita tentukan saja tanggal pernikahannya. Bagaimana? "
"Kalau saya sih terserah jeng Yuli saja, " ujar Marisa.
"Lusa Bagaimana? "
Elisa yang tengah menyeruput minuman, tersedak saat mendengar pembahasaan tak berguna menurutnya.
"Hati-hati dong kalau minum, " ujar Marisa penuh kelembutan.
Elisa yang merasakan kepalsuan itu, hanya menampilkan wajah datarnya tanpa ekspresi.
"Apa itu tidak terlalu cepat ma? " ujar Ezel.
"Tentu saja tidak nak Ezel, lebih cepat lebih baik. "
Elisa yang mendengar perkataan Mamanya, hanya bisa menunduk tanpa sepatah kata pun. Seketika air matanya terjatuh begitu saja, hidupnya hancur sekarang.
Ada banyak hal yang ingin dikejarnya saat ini, tapi Marisa dengan egoisnya menikahkan dirinya dengan pria yang sama sekali tidak di kenalnya.
"Elisa sayang, kamu baik-baik saja? " ujar Yuliana yang tak sengaja melihat ke arah Elisa.
"Baik kok Tante, hanya kelilipan, " bohongnya.
Jika saja ayahnya masih ada, mungkin saat ini Ia tidak harus dalam situasi seperti ini.
"Loh kok panggil Tante,mama dong. "
Elisa yang semakin tidak tahan dengan situasi itu, menyeruput kasar minumannya.
Hatinya terus berteriak agar Ia pergi dari sana namun, raganya tetap tidak ingin bergerak.
Ezel yang mengerti akan kegelisahan Elisa, memegang tangan Yuliana dan berseru,
"Ma, apa kita bisa pulang sekarang? "ujarnya.
"Kenapa? apa kau tidak ingin berlama-lama bersama Elisa? "
"Ah iya benar apa yang dikatakan calon mantu , jeng saya harus permisi ada beberapa hal yang harus di urus. "
mendengar penuturan Marisa, Yuliana akhirnya mengalah.
"Baiklah kalian hati-hati yah, " ujarnya.
Seolah mendapat Nafas lega, Elisa dengan secepat kilat berlari menuju motornya.
Gadis itu tak langsung jalan, Ia masih menunggu mamanya, barulah Ia melajukan motornya.
Marisa yang sudah berada di atas motor Elisa, menepuk pundak putrinya. Elisa melajukan motornya meninggal tempat itu.
Yuliana tersenyum puas, melihat kepergian Elisa dan juga Marisa. Keinginannya menikahkan Rezel dan juga Elisa, akhirnya terwujud juga.
"Ayok ma, Bram sudah tiba. "
Dengan menggandeng tangan putranya, Yulian melangkah menuju mobil Ezel yang tidak jauh dari sana.
"Makasih sayang, sudah mau menuruti keinginan mama. "
Ezel hanya mengangguk tanpa ekspresi menanggapi perkataan Yuliana.
"Riani, maafkan aku sayang, " gumamnya, lalu ikut masuk kedalam mobil mengikuti jejak Yuliana.
.
.
.
__ADS_1
Yuk komen dan like jangan jadi pembaca gelap, dosa tau 🤣
oke love you sekebon 🌹🌹🌹