
Pagi ini tidak seperti biasanya, Elisa terlihat pucat dari kemarin.
Aldi yang sudah bersiap ingin ke kampus, ketika melewati ruang tamu mendapati Elisa tengah duduk dengan mata tertutup di sana.
"Elisa, are you okey?" ujarnya bertanya.
Mendengar suara Aldi, Elisa perlahan membuka matanya dan mendapati Aldi sudah berada di hadapannya.
"Yah, aku baik-baik saja. Kau mau ke kampus?"
Aldi tak menjawab pertanyaan Elisa, tangannya terulur memegang kening istri kakanya itu.
"Kau demam, kau harus istirahat! mari, aku antar ke kamar."
Aldi sudah bangkit dari duduknya hendak meraih tangan Elisa namun, gadis dihadapannya itu menggelengkan kepalanya.
"Aku harus ke kantor, " ujarnya.
hembusan nafas kasar keluar dari mulut Aldi, bagaimana bisa gadis berpikir Ia akan kekantor dengan kondisi seperti itu?!
"Tidak, kau harus istirahat! kemana Rezel?"
"Dia sudah pergi, kau juga harus ke kampus, " ujar Elisa, bangkit dari duduknya hendak berjalan membawa tasnya kearah pintu.
"Jika kau pergi, akan ku adukan ke mama!"
Mendengar ancaman dari Aldi, Elisa menghentikan langkahnya berbalik dan tersenyum kecut.
"Istirahatlah di kamar, " pintah Aldi lagi.
Elisa tak langsung mematuhi perkataan Aldi, Ia masih berpikir sebentar lalu mengangguk mengiyakan perkataan saudara suaminya itu.
"Good girl, jangan coba-coba kabur!" ancam Aldi lagi.
Elisa hanya mengangguk, lalu melangkah kembali kedalam kamar Rezel dengan tangan yang terus mengotak-atik ponselnya, mengirimkan pesan pada Revan.
...^^^Revan^^^...
^^^Van, aku nggak masuk hari ini, ada urusan mendadak โโ^^^
Hmm
Setelah mendapat jawaban begitu singkat dari Revan, Elisa memasuki kamar Rezel lalu mengunci pintunya dari dalam.
Seperti biasanya, gadis itu menggelar tikar di lantai kemudian mengambil beberapa selimut dan juga bantal, lalu mulai berbaring di sana.
...***...
Di saat Elisa tidak kekantor, Rezel justru sudah tiba di kantornya sejak beberapa menit yang lalu.
"Permisi pak, Ini kopinya."
Seorang wanita cantik dengan berpakaian begitu minimnya, memasuki ruang kerja Rezel dengan membawa segelas kopi di tangannya.
"Letakan di situ, " ujar Rezel, tanpa menatapnya.
Kesal tidak di perdulikan, wanita yang di kenal dengan nama Tia itu melangkah keluar dari sana sembari menghentakkan kakinya.
"Ah Tia, "
Tia menghentikan langkahnya, ketika namanya dengan lantang di sebut Rezel. Sembari tersenyum, Tia berbalik lagi mendekati Rezel.
"Iya pak, ada lagi?"
"Tolong tanyakan pada Bimo, apa brand ambassadornya sudah ada?"
Tia mengangguk patuh, lalu berbalik meninggalkan ruangan Rezel.
__ADS_1
Rezel kembali fokus pada pekerjaannya, hingga akhirnya Ia harus mengalihkan pandangannya saat pintunya di buka secara paksa oleh seseorang.
"Sayang, "
Dengan manjanya, seorang gadis cantik mendekati mejanya lalu duduk di pangkuannya.
"Riani, sejak kapan disini? Kenapa kesini tidak mengabari ku terlebih dahulu? hmm" ujar Rezel, mengusap-usap surai hitam kekasihnya itu.
"Aku ingin membuat kejutan untukmu, " ujar Riani, mengecup singkat bibir Rezel.
Tak mau kehilangan kesempatan emas itu, Rezel dengan cepat menahan tengkuk Riani, memperdalam ciumannya.
"Permisi pak, kata pak Bimo,
ucapan Tia menggantung, ketika matanya menangkap adegan di hadapannya. Dengan cepat, gadis itu berlari keluar dari ruangan Rezel.
Meskipun pakaiannya begitu minim, Tia merasa geli jika harus menyaksikan adegan di hadapannya.
"Dasar gila, bisa-bisanya dia berciuman dengan kekasihnya. Apa Nyonya Yuli tidak mengetahui hal ini?" gumam Tia, melangkah menuju ruangannya.
Riani yang sudah kehabisan pasokan udara, sedikit mendorong tubuh Rezel menyudahi tautan Keduanya.
"Aku bisa mati, sayang, " ujarnya manja.
Rezel tersenyum kecil, mengusap bibir Riani lalu membenamkan wajahnya pada leher jenjang gadisnya itu.
"Sudahlah El, Aku harus pergi, " Riani mendorong kepala Rezel pelan, menyudahi kegiatan pria itu pada lehernya.
"Mau kemana?" tanya Rezel.
"Aku ada pemotretan di sekitar sini, " jelasnya.
Riani bangkit dari pangkuan Rezel, sedikit memperbaiki pakaiannya lalu melangkah pergi meninggalkan kekasihnya itu.
"Sampai jumpa sayang, " ujarnya, tak lupa Ia juga sedikit mengecup pipi Rezel, sebelum akhirnya dirinya benar-benar meninggalkan ruangan itu.
"Permisi pak, kata Bimo brand ambassadornya belum dapat, " jelas Tia, sembari meletakkan sebuah map di hadapan Rezel.
"Bagaimana kerja kalian? hal sekecil ini saja tidak bisa di heandle, panggil Bimo!" oceh Rezel.
Tia dengan gerakan cepat, berlari meninggalkan ruangan Rezel, kembali menuju ruangan Bimo.
"Bim, di panggil bos tuh, " ujarnya dengan nafas memburu.
"Habis lari maraton yah, " ledek Bimo.
Tia yang sudah ingin menjawab perkataan Bimo, tidak sempat karena pria itu sudah menghilang dari pandangannya.
"Dasar sialan, " umpatnya, kembali ke ruangannya.
Bimo dengan penuh semangat, mengetuk pintu ruang kerja Rezel.
"Masuk!"
Setelah mendapat persetujuan dari dalam, Bimo dengan cepat memasuki ruangan itu.
"Kenapa brand ambassador belum juga di temukan? "
"Maaf Bos, kemarin sudah ada, tapi orangnya menolak karena Ia harus ke US dalam waktu dekat, " jelas Bimo.
"Lalu, "
"Kami berencana akan menggunakan Riani, artis muda yang sedang naik daun itu, " ujar Bimo.
Mendengar nama kekasihnya di sebutkan oleh Bimo, Rezel yang tadinya fokus pada laptopnya kini berbalik menatap Bimo.
"Apa sudah di konfirmasi ke pihak manajemennya?"
__ADS_1
"Belum Bos, kemarin kami meminta waktu untuk bertemu dengannya, tapi tidak ada waktu luang untuknya."
Rezel tampak berpikir sebentar, tampaknya Ia harus turun tangan untuk menghandle Riani sebagai brand ambassador dari produk barunya. Toh, Riani juga kekasihnya tidak mungkin gadis itu menolak dirinya.
"Kalian persiapkan yang lainnya saja, biar saya sendiri yang bicara padanya."
"Baik bos, " Bimo melangkah pergi dari ruangan Rezel.
Setelah kepergian Bimo, Rezel yang ingin kembali fokus pada pekerjaannya, harus terganggu ketika ponselnya berdering.
Saat dirinya melihat siapa yang menelpon, dengan segera Rezel menggeser tombol hijau pada ponselnya.
"Hallo ma, ad-
"Cepat pulang, Elisa demam!"
Belum sempat dirinya bertanya, Yuliana sudah lebih dahulu mengoceh lalu mematikan panggilan secara sepihak.
"Gadis itu, kenapa dia begitu merepotkan?!" Kesal Rezel.
Rezel mengambil ponsel dan juga kunci mobilnya, berjalan keluar ruangan menuju parkiran.
Sedangkan di kediamannya,
Elisa yang sudah pindah ke atas ranjang sebelum Yuliana masuk kedalam kamar, tubuhnya begitu bergetar hebat.
"Kenapa tikarnya di gelar?" ujar Yuliana bertanya-tanya.
Ia mendekati Elisa, dengan membawa sebuah wadah berisi air hangat dan juga handuk kecil, Yuliana mulia mengompres dahi Elisa.
"Astaga, tubuhnya sangat panas, " gumam Yuliana.
Elisa sama sekali tidak membuka matanya namun, tubuhnya begitu panas dan bergetar hebatnya.
"Rezel juga, istrinya sedang sakit Ia mala sibuk dengan pekerjaannya, Nita!" teriak Yuliana.
"I-iya Nyonya, "
"Coba cek kedepan, apa Rezel sudah datang apa belum?"
Tanpa menunggu lagi, Nita hendak berbalik menuju parkiran. Namun, langkahnya harus terhenti saat sosok Rezel sudah memasuki dalam kamar.
"Ada apa ma?"
"Gendong dia, kita ke rumah sakit."
Rezel berdengus kesal, dengan sangat terpaksa dirinya menggendong tubuh Elisa menuju mobil.
"Tubuhnya sangat panas, " gumamnya.
Dengan di bantu mamanya, Rezel berhasil memasukkan Elisa kedalam mobil. Saat Yuliana ingin ikut, dengan cepat Rezel menahan dirinya.
"Biar aku saja, " ujarnya.
Pria itu masuk kedalam mobilnya, melaju meninggalkan kediamannya menuju rumah sakit.
"Tuhan, sembuhkan menantuku, " ujar Yuliana, menatap kepergian Rezel.
.
.
.
Hai guys,
makasih ya buat yang sudah mampir, yuk jangan jadi pembaca gelap ayok tinggalkan jejak ๐นโฅ๏ธ
__ADS_1