
Saat ini, Elisa sudah berada dalam kamar milik Ezel. Yah, setelah acara resepsi berakhir Yuliana langsung mengajak Elisa ke rumahnya. Dengan sangat terpaksa Elisa setuju, mau bagaimana pun Ezel sekarang suaminya.
"Susah lagi buka gaun ini, " kesel Elisa terus berusaha menarik resleting gaunnya.
Ezel yang baru saja memasuki kamarnya, menghentikan langkahnya saat melihat Elisa sudah lebih dahulu di sana.
"Argh ayolah. "
Elisa yang kesal sebab gaunnya tak bisa di buka, memilih duduk di atas ranjang dengan cemberut.
Ezel menghampirinya tanpa kata, lalu membuka resleting gaun Elisa. Gadis itu seketika terkejut, lalu berbalik dan mendapati Ezel di belakangnya.
"Mau kamu yang mandi terlebih dahulu, atau saya? "
Mendengar pertanyaan dari Ezel, Elisa bangkit dari duduknya mengambil handuk lalu menyerahkan kepada pria yang sudah menjadi suaminya.
"Kamu saja, " ujarnya.
Tanpa ekspresi di wajahnya, Ezel menerima handuk itu lalu melangkah menuju kamar mandi.
Setelah kepergian Ezel, Elisa menaikkan kakinya di atas ranjang milik Ezel sembari memainkan ponselnya.
Matanya terbelak kaget, saat mendapat banyak pesan dari Revan.
"Astaga maafkan aku Van, akan ku hubungi kau besok. "
Setelah mengirimkan voice note kepada Revan, Elisa lanjut melihat-lihat koleksi fotonya bersama sang adik.
"Di hari bahagiaku, kau bahkan tidak ingin datang, " gumamnya.
clek
Elisa mengangkat kepalanya, melirik sekilas ke arah Ezel yang sudah selesai membersihkan dirinya lalu mengenakan pakaian tidur.
"Sana, mandi dulu!" titah Rezel, menyerahkan handuk pada istrinya yang baru beberapa jam itu.
Elisa mengambil handuk, tanpa sepatah kata pun berjalan masuk kedalam kamar mandi.
"Hari yang melelahkan, " ujarnya sembari mengguyur tubuhnya dengan air hangat.
Ezel yang sudah meletakkan tubuhnya di ranjang, menutup matanya perlahan.
Namun, Ia kembali sadar di saat Elisa keluar dari kamar dengan menggunakan baju tidur yang senada dengan yang di kenakannya.
"Maaf, aku nggak tau kalau bakal sama. "
Tanpa memperdulikan perkataan Elisa, Ezel berjalan keluar menuju balkon sembari membawa ponselnya.
Elisa yang melihat itu, jujur hatinya sedikit sedih. Namun, Ia memilih untuk tak memperdulikan hal itu sebab Ia dan juga Ezel tak saling mencintai.
Gadis itu lalu menuju ke hadapan kaca, mulai menyisir rambutnya. setelah selesai, Elisa melangkah menaiki ranjang, sedikit berbaring memainkan ponselnya.
Ezel yang berada di balkon, masih terus khawatir dengan semuanya ini.
Saat pikirannya tengah melayang, Ia di sadarkan dengan ponselnya yang berdering.
[Rezel, aku mabuk tolong jemput aku. ]
__ADS_1
mendengar suara kekasihnya dari balik telepon, Rezel dengan cepat kembali masuk kedalam kamar.
Ia masuk menuju kamar mandi, mengganti piyamanya dengan jeans dan juga kaos lalu mengenakan jaketnya.
"Mau kemana? " tanya Elisa.
tak menjawab pertanyaan Elisa, Rezel memilih melangkah menuju pintu.
"Mau kemana? ini sudah malam, " ujar Elisa lagi.
Gadis itu menahan tangan suaminya yang hendak membuka pintu.
Rezel menghempaskan kasar tangan Elisa, menatap tajam wanita itu.
"Jangan ikut campur urusan ku, " ujarnya.
"Aku tidak bermaksud ikut campur, tapi ini sudah sangat larut. "
Apa yang di katakan Elisa ada benarnya, apa lagi keduanya baru saja menikah dan ini merupakan malam pertama bagi mereka. tapi, Rezel memilih pergi.
"Nanti kalau mama tanya aku harus menjawab apa? "
Pria itu tampak berpikir sebentar, dengan mata yang masih tertuju pada wajah manis Elisa. Dan pada akhirnya, Rezel memilih melangkah pergi begitu saja, meninggalkan Elisa yang sedari tadi berusaha keras menahan tangisnya.
"Bahkan di malam pertama ku saja, aku masih meneteskan air mataku, " ujarnya menyeka bulir bening yang sudah membasahi pipinya.
Rezel yang sudah sampai mobilnya, melajukan benda itu menuju sebuah bar yang berada di dalam kota itu.
Setibanya di sana, Ia langsung berlari menuju meja Riani kekasihnya.
"Rezel, dia mabuk banget. "
"Bantu saya bawa dia ke mobil, " ucap Rezel.
Maudy mengangguk, membantu Rezel memungut barang-barang Riani lalu mengikuti Rezel yang sudah menggendong tubuh kekasihnya menuju parkiran.
"Maaf Zel, aku nggak bisa bantu kamu antar Riani balik. "
mendengar penuturan gadis dihadapannya itu, Rezel mengangguk lalu melajukan mobilnya meninggalkan tempat itu.
Dalam perjalanan, hatinya begitu kacau antara harus kembali setelah mengantarkan Riani atau menginap menemani kekasihnya hingga pagi tiba.
"Sial! " umpat Rezel memukul stri mobilnya.
Mobilnya yang dikendarai Rezel, tiba pada di apartemen Riani. Dengan segera, Rezel menggendong tubuh gadis itu menuju sebuah unit yang letaknya berada di lantai dua belas.
Dengan perlahan, Rezel membaringkan tubuh Kekasihnya ke atas Ranjang. Ketika Ia hendak melangkah pergi, Rezel terpaksa harus mengurungkan niatnya ketika tangannya di genggaman wanita itu.
"Rezel, aku mencintaimu. "
Rezel semakin yakin untuk tak kembali, ketika Riani meloloskan kata-kata itu.
Rezel sedikit menarik senyumannya, mengecup singkat kening Riani lalu membaringkan tubuhnya di samping gadis itu.
...***...
Elisa yang belum juga menutup matanya, melangkah mendekati balkon memastikan apakah Rezel sudah kembali atau belum.
__ADS_1
"Tinggi sekali ya Tuhan, " titahnya.
Matanya kunang-kunang, ketika melihat ke arah parkiran yang jaraknya jauh di bawah sana.
Saat memastikan Rezel belum kembali, Elisa melangkah mendekati bibir ranjang.
Dirinya begitu gelisah, bukan karena mengkhawatirkan Rezel. Ia justru takut, ketika Yuliana dengan tiba-tiba membuka pintu.
"Elisa, kalian sudah tidur! "
Benar saja, Elisa baru memikirkannya suara Yuliana terdengar menggema di balik pintu.
Elisa menutup mulutnya menggunakan kedua tangannya. Hal ini Ia lakukan agar Yuliana tak curiga dan berpikir bahwa mereka benar-benar sudah tidur.
"Ayolah ma, Kak Rezel sama istrinya pasti sudah tidur. "
Aldi menghampiri Yuliana, membawa Mamanya meninggalkan kamar Rezel.
"Hmm, baiklah. "
Dengan sangat terpaksa, Yuliana mengikuti perkataan putranya.
"Bang sat Lo kak. " batin Aldi.
Aldi yang memang tadi tidak sengaja melihat kakaknya pergi, membuntuti Rezel sampai ke parkiran bar. Matanya memanas, ketika Rezel keluar bar dengan menggendong tubuh Riani.
"Huh untung saja, " lega Elisa saat sudah tidak mendengar suara Yuliana di balik pintu.
Wanita itu kembali menaiki ranjangnya, lalu dengan perlahan menutup matanya.
lagi lagi, Ia membuka matanya saat mendengar suara mobil memasuki halaman rumah. saat Elisa memeriksa, yang Ia temukan Reino bersama istrinya bukan Rezel.
"Ayolah Elisa, tidur. Dia tidak akan kembali, " gumam Elisa kesal kepada dirinya yang seolah-olah mengharapkan Rezel pulang.
Elisa meriah ponselnya yang berada di atas nakas, menarik senyumannya saat mendapat pesan dari Revan begitu banyak.
"Dasar menyebalkan, aku lagi malam pertama tau, " ujar Elisa menatap ponselnya.
Seketika tawanya menggema, saat menyadari malam pertama yang begitu konyol.
"Malam pertama apa ini? suamiku pergi meninggalkan aku hahaha. "
Elisa membaringkan tubuhnya perlahan dan tanpa di sadarinya, bulir-bulir bening lolos begitu saja dari matanya tanpa menunggu persetujuan.
"Bang sat banget hidupku ya Tuhan, kapan semuanya akan berakhir? "
Elisa menyeka air matanya, menatap langit-langit kamar Rezel.
"Apapun yang akan terjadi di depan sana, aku mohon ya Tuhan kuatkan aku. Selama ini aku tidak pernah sedikitpun peduli akan hidupku, tapi hari ini aku menangisi pria yang pergi meninggalkan ku di malam pertama kami, " ujar Elisa meluapkan emosinya pada dinding kamar Rezel.
Tak menjelang lama, matanya mulai berat. Elisa menutup matanya lalu terlelap dalam alam bawah sadarnya.
.
.
.
__ADS_1
Hoho, Rezel kamu sangat argh 🤣
Semoga suka ya guys 🌹