Rosaline Dalam Kisahku

Rosaline Dalam Kisahku
Kemana Saja Kau?!


__ADS_3

Seperti hari-hari sebelumnya, Elisa yang baru saja keluar dari kamar mandi langsung menuju meja rias memasukan beberapa alat make-up kedalam tasnya.


Ia sedikit melirik Rezel yang masih terlelap di sana, tangannya ingin membangunkan suaminya namun, ketika mengingat Rezel akan marah Elisa mengurungkan niatnya.


Dengan sedikit terburu-buru, tak lupa menyiapkan beberapa pakian Rezel terlebih dahulu barulah dirinya turun ke bawah.


"Elisa sayang, ayok sarapan!" ujar Yuliana, ketika melihat Elisa baru saja menuruni anak tangga.


Tanpa ada sedikit suara dari gadis itu, Elisa yang dengan senyuman terukir pada bibirnya mendekati meja makan. Di sana, bukan hanya Yuliana saja. Ada juga Aldi, dan Farzan yang sudah sibuk dengan piring mereka masing-masing.


"Mama dan Aldi, kapan pulangnya?" basa basi Elisa.


Yuliana tersenyum, lalu mengambil beberapa makanan kesal piring Elisa.


"Tadi malam, mama mau bangunin kalian tapi Aldi melarang, " ujarnya.


"Loh Kenapa?"


"Kalian sudah tidur, takut mengganggu pengantin baru, " timpal Aldi, menambhakan.


Mendengar perkataan Aldi, Elisa hanya bisa tersenyum masam. Yah, pengantin baru yang hanyalah sebuah status.


"Mau kemana Kak?" ujar Aldi bertanya, di sela-sela sarapan mereka.


"Kerja!"


Jawaban enteng dari Elisa, membuat mertua dan juga Iparnya saling bertatapan.


"Apa Rezel,


Belum sempat Yuliana menyelesaikan perkataannya, putra sulungnya sudah menghampiri meja makan dengan berpakaian rapih.


Elisa meliriknya, dari dandanan Rezel pakaian yang Ia kenakan bukanlah pakaian yang di siapkan Elisa tadi.


"Hahahaha sudahlah El, tidak usah banyak berharap." Batinnya.


Elisa menarik nafasnya panjang, hingga semua orang yang berada di meja makan mendengar seruan nafasnya.


"Ma, Elisa pamit dulu yah, ini sudah telat."


Elisa bangkit dari duduknya, berjalan keluar dari ruangan itu menuju parkiran. Yuliana menatap tajam wajah Rezel, Ia tau ada yang tidak beres antara putranya dan juga menantunya.


"Apa yang terjadi Rezel?!" ujarnya bertanya.


Sama sekali tidak memperdulikan perkataan Ibundanya, pria itu justru sibuk memasukkan makanan kedalam mulutnya.


"Rezel, mama sedang bertanya, " kesal Yuliana, saat putra sulungnya mengabaikan dirinya.


Kesal dengan perkataan Yuliana, Rezel meletakkan sendok dan garpu secara bersamaan yang mengakibatkan bunyi yang begitu nyaring.


"Rezel!" bentak Yuliana.


"Ayolah ma, aku hanya ingin sarapan dengan tenang, tolong jangan lontarkan pertanyaan yang tidak berguna, " ujar Rezel.


Yuliana yang ingin menjawab setiap kata yang dilontarkan Rezel padanya, langsung terhenti saat Aldi sudah lebih dahulu memegang tangannya.

__ADS_1


Kegiatan sarapan pagi mereka dilanjutkan, meskipun tidak ada lagi suara yang keluar dari setiap insan di sana.


Kembali ke Elisa,


Gadis itu dengan mengendarai motornya, melaju membelah jalanan kota menuju kantor. Ia memarkirkan kuda besinya di halaman kantor, lalu bergegas menuju mesin absen dan mulai meletakkan jarinya disana.


"Syukurlah masih lima menit lagi, " ujarnya sembari menarik nafas lega.


Saat itu juga, sebuah jari mengarah kearah mesin absen melewatinya. Elisa dengan cepat berbalik, mendapati Revan yang tengah menatapnya tanpa ekspresi.


"Hehehe, hai Van, " basa-basi yang tak berguna.


Lihatlah Elisa, pria itu sudah menyelonong pergi tanpa membalas perkataanmu. Melihat hal itu, Elisa dengan cepat menyusul langkah Revan yang sudah hampir menjauh.


"Ih Revan, tunggu dong!" kesal Elisa, ketika dirinya tak bisa menyamai langkah kaki Revan.


Revan terus melangkah tanpa memperdulikan teriakan Elisa, hingga akhirnya Ia tiba di ruangannya.


"Dasar menyebalkan, " umpat Elisa, ketika dirinya mendapati pria tersebut sudah asik berkutat dengan laptopnya.


Tak mau membuang waktunya lagi, Elisa langsung mendekati mejanya dan mulai menghidupkan komputernya.


Ada begitu banyak pekerjaan yang harus Ia selesaikan hari ini, Wah gadis itu begitu sangat sibuk.


Hingga saat jam makan siang, Ia sama sekali tidak memperdulikannya. Elisa malah sibuk dengan pekerjaannya saja, gadis yang patut di beri penghargaan.


"Kerja boleh saja, tapi jangan lupa makan. Nanti aku yang repot!" oceh Revan, setelah meletakkan beberapa makanan keatas meja Elisa.


"Hehehe, masih banyak lagi nih, " ujar Elisa.


Masih dengan mata yang tertuju pada layar monitor, tangan Elisa meraih makanan yang di letakkan Revan di sana, lalu mulai menghabiskan dalam sekejap mata.


...***...


Sore hari,


Revan mendekati meja Elisa, dengan membawa beberapa barang pada tangannya.


"Ayok pulang!" ajak Revan.


Elisa mengangguk mengiyakan perkataan Revan, bersamaan dengan keluarnya Citra dari ruang kerjanya, ketiganya melangkah menuju parkiran.


"Sama siapa Cit?" tanya Elisa.


Citra melirik ponselnya, lalu tersenyum mendekati kedua Insan di hadapannya itu.


"Boleh nggak, aku nebeng sama salah satu dari kalian?!" ujarnya dengan malu-malu.


Elisa tersenyum kecil, lalu menatap Revan. Revan yang tau maksud dari senyuman itu, memutar bola matanya malas.


"Ya sudah, ayok!" kesalnya.


Tawa Elisa pecah, ketika melihat ekspresi kesal pada Revan di saat Citra dengan lancangnya memeluk pinggang pria itu.


"Kalian duluan saja!" teriak Elisa, menaiki motornya.

__ADS_1


Setelah kepergian Revan bersama Citra, Elisa menyusul keduanya dengan kecepatan sedang. Perjalanan ketiganya terhenti, saat mencapai lampu merah.


Mata Elisa yang tidak bisa diam ketika berada di lampu merah, tak sengaja mendapati Rezel dan juga seorang gadis tengah asik bercanda ria di sebuah kafe yang jaraknya tak jauh dari sana.


"Biarkan saja El, setahun lagi kalian pasti akan berpisah, " gumamnya pelan.


Namun, Revan yang benar-benar berada di sampingnya, masih bisa mendengar perkataannya.


"Siapa yang berpisah, " ujar Revan.


Elisa yang sepertinya sudah tuli, sama sekali tidak mendengarkan perkataan Rezel lalu melaju ketika lampu yang tadinya merah, berubah menjadi kuning.


Ketika ketiganya sampai di perempatan, Revan dan juga Citra mengambil arah utara, sedangkan Elisa harus kearah barat menuju rumah Rezel.


Revan dan juga Citra sama sekali tidak merasa curiga padanya, sebab arah rumah Rezel searah dengan apartemennya.


tit..


Setibanya di sana, Elisa dengan segera langsung masuk kedalam rumah. Matanya menyapu isi rumah itu, sama sekali tidak ada yang berpenghuni di sana. Tak mau ambil pusing, gadis itu langsung menuju kamar Rezel untuk membersihkan dirinya.


Cukup lama beranda di dalam kamar mandi, ketika Elisa keluar Ia sudah mendapati Rezel, suaminya tengah duduk di sofa sembari memainkan ponselnya.


"Dingin banget, " gumam Elisa.


kring kring..


Ponselnya yang berbunyi, tak hanya membuatnya terkejut suaminya pun begitu. Dengan cepat, Elisa mengambil benda itu lalu meletakkan di telinganya.


"Kemana saja kau?!"


Mendengar suara Revan yang menggema di telinganya, Elisa sedikit melirik Rezel. Namun, pria itu sama sekali tidak memperdulikannya.


"Memangnya dimana dirimu?" bukannya menjawab pertanyaan Revan, gadis itu malah melontarkan pertanyaan.


"Apartemenmu, Kemana kau?!"


"Aku tadi di jemput mama, aku menginap di rumahnya, " bohong Elisa.


Setelah mengatakan itu, Revan mematikan panggilannya secara sepihak.


Elisa meletakkan ponselnya di atas nakas, lalu mengeringkan rambutnya.


"Aku tidak suka, jika ada suara pria lain dalam kamarku."


Elisa dengan cepat berbalik, Ia sudah tidak mendapati Rezel lagi di dalam sana. Ketika dirinya melirik kearah kamar mandi, pintu kamar mandi baru saja tertutup.


"Apa maksudnya? Revan hanya temanku, " gumam Elisa, kembali mengeringkan rambutnya.


.


.


.


Haii...

__ADS_1


makasih buat yang sudah mampir, yuk tinggalin jejak biar aku tau ada yang baca gitu. Jangan jadi pembaca gelap, ntar hidupnya gelap terus loh.


oke makasih ya, buat yang sudah mampir ke cerita aku 🌹🌹


__ADS_2