
Mentari pagi bersinar memasuki kamar Rezel, Elisa menggeliat dan berusaha bangkit. Namun, Ia merasakan ada sesuatu yang melilit pada pinggangnya.
Elisa dengan perlahan melihat ke bawah, mendapati Rezel tengah memeluk dirinya.
Awalnya senyuman mengambang di sudut bibirnya, tapi setelah beberapa menit Ia menepis senyuman itu lalu melepaskan tangan Rezel kasar dari pinggangnya.
"Hei bangun, " ujarnya menepuk lengan Rezel.
Bukannya bangun, Rezel malah semakin mengeratkan pelukannya membuat Elisa pasrah.
"Ini masih sangat pagi, kenapa bangun sekarang? " titah Rezel dengan mata yang masih tertutup.
"Iya, tapi aku harus bekerja. sudah tiga hari aku tidak masuk nanti gaji ku di potong, " jelas Elisa.
Rezel melepaskan pelukannya, membiarkan Elisa pergi. Elisa menuruni ranjang, berjalan menuju kamar mandi membersihkan tubuhnya.
"Sejak kapan dia pulang? " gumamnya bertanya-tanya kapan Rezel kembali.
"Bodoh ah, aku harus cepat. hari ini nggak boleh telat, " tekat Elisa melangkah keluar kamar mandi.
Elisa menghentikan langkahnya di ambang pintu, saat melihat Rezel yang tengah duduk di bibir ranjang menatapnya.
Dengan ragu, Elisa melangkah menuju meja rias. Seolah tidak memperdulikan kehadiran Elisa, Rezel mengambil handuk bekas Elisa masuk kedalam kamar mandi.
"Eh handuk it- ah sudahlah. "
Elisa yang hendak mencegah Rezel mengenakan handuk yang sama dengannya, kala cepat dengan suaminya yang sudah masuk kedalam kamar mandi.
Tanpa menunggu Rezel keluar dari kamar mandi, Elisa yang sudah menyiapkan keperluan Rezel melangkah keluar kamar.
Saat menuruni anak tangga, Ia disambut senyuman manis dari Yuliana dan juga Aldi.
"Sayang, sarapan dulu, " tawar Yuliana.
Elisa menggelengkan kepalanya, berjalan mengisi botolnya dengan air hangat.
"Nggak ma, Elisa sudah telat. "
Yuliana dan Aldi saling memandang, lalu kembali menatap Elisa dengan penuh tanda tanya.
"Mau kemana? " tanya Aldi.
"Kerja, " jawab Elisa.
Yuliana yang terkejut akan hal itu, melangkah mendekati Elisa lalu menggenggam erat tangan menantunya.
"Sayang, kau sudah menikah dengan putraku. Tidak seharusnya kau bekerja, " ujarnya.
Elisa terkekeh kecil menanggapi perkataan Yuliana, melangkah pergi tanpa menunggu jawaban dari Yuliana.
Rezel yang sudah menyelesaikan mandinya, melangkah keluar kamar dan mendapati beberapa pakaian yang sudah di siapkan Elisa.
Rasa bersalah semalam dalam dirinya terus menghantuinya.
Dengan tergesa-gesa, Rezel mengenakan pakaiannya dan berlari menuruni anak tangga.
"Ezel, makan dulu sayang, " ujar Yuliana saat melihat putranya berjalan turun.
Tak memperdulikan perkataan Yuliana, Rezel berlari menuju parkiran. Namun sayangnya, Elisa sudah tidak ada lagi di sana.
"Sialnya! " umpatnya.
Rezel kembali ke meja makan, menghampiri Yuliana dan juga Aldi.
Aldi yang melihat kehadiran kakanya, menatapnya dengan tatapan yang hanya dirinya yang tau.
"Dari mana semalam? "
__ADS_1
Pertanyaan Aldi seketika mengalihkan pandangan semuanya kepada Rezel.
"Bukan urusanmu! " ujar Rezel.
Aldi mengangkat ponselnya, berlalu pergi dari sana.
"Anak-anak ini kenapa? " gumam Yuliana bingung dengan suasana pagi ini.
Sedangkan Rezel, tak memperdulikan hal itu Ia terus memasukkan makanan kedalam mulutnya.
...***...
Elisa yang sudah tiba di kantor, berlari cepat menuju mesin absen.
"Yes nggak telat, " ujarnya senang.
"Kemana saja kamu tiga hari ini? "
Gadis itu berbalik dan mendapati Revan sahabatnya, tengah menatap dirinya dengan tatapan tajam.
"Hehehe kepo banget jadi orang, " ujar Elisa.
Gadis itu hendak berjalan meninggalkan Revan namun, dengan cepat di tahan oleh pria itu.
"Mau, bonus mu bulan ini di potong?! "
Elisa menggelengkan kepalanya, lalu melepaskan tangan Revan.
"Mana ada yang mau bonusnya di potong, udah ah aku mau kerja. "
Revan dengan sangat terpaksa membiarkan Elisa pergi.
Tiba di mejanya, Elisa mulai berkutat dengan komputernya.
"Hai El, kemana saja kau?" ujar Citra, salah seorang temannya yang lain.
Hingga Tak terasa, waktu sudah menunjukkan pukul empat sore. Gadis itu membereskan semua barang-barangnya, lalu berjalan menuju parkiran.
"Ayok aku antar, " tawar Revan.
Elisa tampak berpikir sebentar namun, akhirnya Ia memilih ikut bersama Revan.
"Baiklah, ayok!"
Setibanya mereka di apartemen Elisa, Keduanya beriringan masuk kedalam.
Akan seperti biasanya, Elisa membuatkan keduanya mie selesai makan barulah Revan kembali.
"Capek banget hari ini. "
Tak menjawab keluhan Elisa, Revan membawa bekas makan keduanya menuju tempat pencucian piring.
Elisa tak menahannya, karena hal itu akan sangat percuma.
"Aku pulang, jaga dirimu baik-baik. Kalau tidur, pintunya di kunci. "
"Iya bawel. "
Revan tersenyum kecil, mengelus puncak kepala Elisa lalu meninggalkan tempat itu.
Setelah kepergian Revan, Elisa mengintipnya dari balkon memastikan pria itu benar-benar sudah tidak di sana.
"Aku harus segera pulang, takutnya mama Yuli nyariin aku. "
Elisa mengunci apartemennya, melangkah mengambil motornya melaju menuju kediaman Rezel suaminya.
Setibanya di sana, Ia sama sekali tidak menemukan keberadaan siapapun. Elisa melangkah menuju kamar Rezel, mendapati suaminya yang tengah berkutat dengan laptopnya.
__ADS_1
Elisa menampilkan senyuman khasnya, saat matanya dan juga Rezel bertemu.
Karena tidak dipedulikan, Elisa melangkah menuju kamar mandi membersihkan dirinya.
"Capek banget hari ini, " gumamnya sambil menguyur tubuhnya dengan air hangat.
Selesai membersihkan dirinya, Elisa keluar kamar sudah tidak mendapati Rezel di sana.
"Kemana dia? " gumam Elisa bertanya-tanya.
Elisa melangkah mendekati ranjang, matanya seketika tertuju pada ponsel Rezel yang berdering.
Karena terus berdering, Elisa memutuskan menjawab panggilan itu.
"Ha
[Sayang, hari ini jangan temui aku yah. Aku sedang ada pemotretan di luar kota by i love you. ]
Sudut matanya memanas, jantungnya ikut berdegup kencang.
Elisa menjauhkan ponsel itu dari telinganya, melihat nama pada kontak itu.
Air matanya menetes begitu saja saat melihat nomor itu yang di simpan dengan nama "My girl ❤️ "
Elisa terbelak kaget, saat dengan tiba-tiba Rezel merebut paksa ponsel itu.
"Sedang apa kau?! " tanya Rezel dengan nada tinggi.
"Dia siapa? "
Bukannya menjawab, Elisa mala balik bertanya.
"Kenapa memangnya? kita sudah sepakat waktu itu, jadi jangan pakai perasaan mu disini. "
"Apa kau pikir aku mainan, Rezel?! "
Air mata yang sedari tadi di kuasai oleh rasa percaya diri, kali ini lolos begitu saja membanjiri pipinya.
Tak menjawab perkataan Elisa, Rezel mengambil bantal dan selimut tipis membuangnya di lantai.
"Kau tidur di situ! "
Elisa di buat kaget dengan sikap suaminya itu.
"Apa maksudmu? " tanya Elisa.
"Aku tidak bisa seranjang, dengan wanita yang tidak ku cintai. "
Seolah di sambar petir, Elisa yang hanya bisa pasrah memungut bantal dan juga selimut lalu menyusun di bawa lantai.
"Aku peringatkan sekali lagi padamu, jangan pernah menyentuh barang ku! " tegas Rezel.
"Kenapa? apa kau takut aku mengetahui isi ponselmu?! "
Rezel langsung terdiam seribu bahasa mendengar perkataan Istrinya.
"Aku tidak peduli, mau kau tau atau tidak itu bukan masalah bagiku, " ujarnya.
Elisa yang sudah tidak mengerti ingin berkata apa, memilih menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.
"Maafkan aku Elisa, aku tidak bisa memilih antara istriku atau kekasihku. " batin Rezel.
.
.
.
__ADS_1
Makasih buat yang sudah mampir 🌹