
Elisa yang sudah tersadar, merenggangkan otot-ototnya. Ia sedikit melirik ke arah ranjang Rezel, sama sekali tidak menemukan keberadaan suaminya lagi.
Elisa melangkah menuju dapur, mendekati seorang pelayan yang di duga namanya adalah Santi.
"Butuh sesuatu Nona? "
Elisa menggelengkan kepalanya, mendekati galon air. Ia mengambil segelas air, meneguk habis.
"Eh Elisa, sudah bangun."
Elisa sontak berbalik, dan mendapati Yuliana sudah berada di belakangnya. Hanya senyuman yang di berikan gadis itu kepada mertuanya sebagai jawaban.
"Hari ini, mama sama Aldi mau pergi kamu dan Rezel di rumah aja yah, kalian kan nggak kerja. "
Lagi lagi, Elisa tidak menjawab perkataan Yuliana. Gadis cantik itu memilih mengangguk mengiyakan apa yang di ucapkan ibu mertuanya itu.
"Ayok ma, kita sudah telat!"
Aldi melangkah mendahului Yuliana, keduanya meninggalkan rumah itu menuju tempat yang di tuju keduanya.
Setelah kepergian mertua dan juga iparnya, Elisa yang masih mematung di depan pintu masuk, di kejutkan oleh Farzan yang memegang pundaknya.
"Bibi, Farzan lapar."
Elisa hanya menampilkan senyumannya, berjalan kembali menuju dapur lalu menyiapkan sarapan bagi keponakan suaminya itu.
"Kamu sudah kelas berapa?" tanya Elisa, memulai pembicaraan.
Seorang pelayan dalam rumah itu, menatap sinis pada Elisa yang mencoba akrab dengan Farzan.
"Arzan kelas satu SMA."
Elisa hanya mengangguk menanggapi perkataan Farzan, lalu kembali fokus pada kegiatan memasak nasi goreng.
Setelah selesai memasak, Elisa langsung menyajikan keatas meja makan. Dengan lahapnya, Farzan menghabiskan makanan dalam piringnya.
Elisa yang hanya memperhatikan tidak ikut makan, matanya melirik pada seorang pelayan yang bernama Nita menaiki anak tangga menuju kamar Rezel.
"Mbak, biar saya saja."
Elisa menghampiri Nita, menghalangi jalan wanita itu. Nita tersenyum sinis kepadanya, lalu menyerahkan sapu dan juga pel kepada Elisa.
"Terserah kau saja!" judesnya lalu kembali ke dapur.
Elisa hanya bisa menggelengkan kepalanya, lalu menaiki anak tangga menuju kamar Rezel. ketika Ia membuka pintu kamar tersebut, masih dengan jelas terpampang Rezel yang masih hanyut dalam balutan selimut.
Tak mau membangunkan suaminya, Elisa memilih merapikan tempatnya tidur semalam lalu mulai membersihkan seluruh kamar itu. Di mulai dari menyapu, lalu lantai kamarnya di pel.
Setelah selesai, gadis itu mendekati sofa meletakkan bokongnya di sana sembari menghirup banyak udara, mengembalikan tenaganya yang hilang tadi.
dring dring...
Di saat Elisa tengah asik beristirahat, ponselnya berbunyi dengan menampilkan sebuah nama di sana. Elisa yang awalnya malas menjawab panggilan itu, ketika melihat nama Revan yang tertera di sana, Ia dengan cepat menggeser tombol hijau.
"Ada apa Van? aku capek habis beres-beres, " ujar Elisa pada ponselnya.
__ADS_1
"Aku hanya mau mengabarkan, kalau hari ini aku tidak bisa berkunjung."
Elisa menekan tombol merah, memutuskan panggilannya secara sepihak lalu kembali menyandarkan tubuhnya pada sofa.
"Kan bisa ngechat saja, kenapa harus pake telepon segala?!" ocehnya tak karuan.
Tak menjelang lama, Elisa akhirnya terlelap dalam alam bawah sadarnya saat merasakan empuknya sofa tersebut.
Rezel yang sudah terpapar sinar mentari pagi, menggeliat di bawah selimutnya dan beberapa detik kemudian, Ia bangkit dari sana. Kakinya melangkah kedalam kamar mandi, lalu Ia keluar lagi setelah selesai dengan urusannya di dalam sana.
Rezel berjalan mendekati jendela kamarnya, melewati Elisa begitu saja tanpa memperdulikan istrinya.
Cukup lama terlelap dalam tidurnya, Elisa terbangun dan kembali menentang alat perangnya tadi kembali ke bawah.
"Bisa-bisanya aku tertidur, " gumamnya dengan kaki yang terus melangkah hingga mencapai dapur.
kruk kruk~~~
"Sabar cing, aku akan memberi kalian makan."
Elisa mencuci tangannya, mendekati meja makan lalu mulia mengambil beberapa makanan di sana tanpa menunggu Rezel lagi.
Jika Ia harus menunggu Rezel, mungkin tidak lama lagi dirinya akan mati kelaparan saat itu juga.
"Hmm, enaknya, " gumam Elisa, dengan makanan yang masih memenuhi mulutnya.
Dari arah dapur, beberapa orang pelayan yang melihatnya merasa geli akan tingkah Elisa.
"Kayak nggak pernah makan aja deh, " cibir salah seorang pelayan.
Hal itu tak menjelang lama, sebab dengan cepat Elisa menyeka air matanya saat sosok Rezel sudah mendekat kearah meja makan.
"Nita, tolong buatkan aku teh!" teriak Rezel.
"Biar aku saja, " tawar Elisa.
Elisa yang sudah hendak ke dapur, harus kembali duduk saat telinganya mendengar dengan jelas penolakan Rezel.
"Tidak usah, aku tidak terbiasa minum teh buatan orang lain, " katanya.
Dengan senyuman pahit, gadis itu kembali memasukkan makanan kedalam mulutnya. Meskipun susah menelan makanan dalam mulutnya, Elisa tetap berusaha agar tidak terlihat lemah di hadapan Rezel.
"Ini tuan, " ujar Nita, setelah meletakkan segelas teh kehadapan Rezel.
"Ka-Kau mau makan?" tanya Elisa dengan hati-hati, berserta suara bergetar layaknya orang gugup.
Tak mendapat respon dari suaminya, Elisa berpikir bahwa Rezel memang ingin makan. Gadis itu dengan penuh semangat, mengambil piring Rezel hendak mengambilkan untuk suaminya.
"Aku tidak ingin makan, apa lagi itu dari tanganmu!" ujar Rezel sedikit berteriak.
Seluruh pelayan yang berada di dapur, pandangan mereka langsung tertuju pada meja makan.
Elisa kembali meletakkan piring keatas meja, lalu kembali memperbaiki posisi duduknya. Rezel menarik nafasnya panjang, mengambil gelas berisi teh tersebut lalu berjalan kearah kolam.
Mau sekuat apapun Ia menahan tangisnya, ketika melihat suaminya sama sekali tidak memperdulikannya, Elisa tetap tidak bisa lagi menahan tangisnya.
__ADS_1
"Apa aku benar-benar, istrinya?"
Pertanyaan itu muncul begitu saja dalam benaknya, Ia sadar bahwa pernikahan ini hanyalah sebuah perjanjian belaka.
Tapi, apakah dirinya pantas di perlakukan seperti itu? bahkan seorang pelayan, bisa dengan seenaknya membicarakan dirinya.
"Revan, maafkan aku, hiks hiks." tangisnya.
Dalam setiap tangisannya, memorinya selalu berputar pada perkataan Revan yang sama sekali tidak mengijinkan dirinya untuk meneteskan air matanya.
"Jika kau menangis lagi, akan ku pastikan bonusmu bulan ini tidak akan cair!"
Elisa kembali memasukkan makanan kedalam mulutnya, dengan penuh air mata Ia perlahan mengunyah makanan itu.
"Aku capek! hiks hiks" ujarnya.
Setelah menyelesaikan sarapannya, Elisa dengan membawa bekas makannya menuju dapur. Ketika dirinya meletakkan piring kotor pada tempat pencucian piring, seluruh mata pelayan menatapnya penuh intimidasi.
"Apa kau pikir piring itu akan bersih dengan sendirinya?!" judes salah seorang pelayan.
Elisa yang sudah hampir mendekati ambang pintu, terpaksa harus berbalik lagi untuk mencuci bekas makannya.
Dari balik dapur, Farzan yang melihat hal itu dengan penuh amarah mendekati Elisa membuat seluruh pelayan menundukkan kepalanya.
"Apa kalian di gaji untuk meembuly memantu rumah ini?!" bentaknya.
Elisa yang terkejut dengan suara Farzan, berbalik mendekati pria kecil itu.
"Maaf Tuan muda, " ujar para pelayan.
"Maaf? Cepat bersihkan seluruh gudang!"
"Tidak Arzan, itu semua keinginan aku sendiri, " ujar Elisa.
Farzan sama sekali tidak memperdulikan perkataan Elisa, Ia menarik tangan Elisa membawanya menuju sofa.
Rezel yang sedari memperhatikan semuanya, berlalu begitu saja tanpa memperdulikan Elisa menuju kamarnya.
"Dengar Bibi, kau tidak boleh kedalam dapur lagi! Jika Oma melihatnya, aku akan di bunuh."
Elisa tak memperhatikan perkataan Farzan, matanya tertuju pada Rezel yang sama sekali tidak memperdulikannya.
"Sebegitu tidak pentingnya aku, dalam hidupmu?!" batinnya.
Farzan mengikuti arah tatapan Elisa, lalu memutar bola matanya malas melihat kelakuan pamannya itu.
"Dasar breng sek!" umpatnya kesal.
.
.
.
Aaa makasih buat yang sudah mampir iloveyou ♥️
__ADS_1