
Akan kuperlihatkan sudut pandangku pada dunia
Dan akan kubawakan dunia kecilku bagi
Merekayang takut mengenal dunia
-Riyu A.M-
____________________________________________________________________________________________
Musim panas di awal bulan agustus.
Di bawah pohon willow dibalik dedaunannya yang menjuntai seorang wanita dewasa terlihat samar-samar sedang mengawasi anak-anaknya yang asik mengobrol di dekat sekelomok bunga gaillardia. Di dekatnya ada satu set teko teh dan makanan ringan, sesekali membaca buku bersampul merah yang ada di pangkuannya.
Dikejauhan sepasang kaka beradik terlihat sedang mengobrolkan sesuatau yang serius. Meskipun si wanita tidak bisa mendengar pembicaran mereka, melihat perubahan ekspresi yang mereka buat, wanita itu merasa sangat terhibur dan tertawa kecil.
“Apa ya... yang sedang mereka bicarakan? Sebuah momen langka melihat wajah tanpa ekspresi anak itu menjadi sangat kaya.... mungkin bukan hal yang buruk memiliki anak perempuan yang bisa membuatnya kerepotan.”
Jika si sulung tahu apa yang dipikirkan ibu mereka, dia pasti akan merasa sangat dirugikan dan akan bertanya-tanya. ”Apa aku benar anak kandungmu, bukan anak yang ibu pungut di pinggir jalan?”
Sebaliknya jika wanita berstatus ibu kedua anak itu tahu apa yang sedang mereka bicarakan, dia pasti akan meragukan dari mana mereka memelajari hal-hal aneh tersebut.
Beginilah percakapan yang dilakukan kedua anak di bawah umur ini.
“Ka....” Tak mendapat respon, gadis kecil itu berusaha memanggil nya berulanag kali,”Ka.. kaka.. ka Celo.....!!”
Tak lupa tangannya yang sedang merangkai mahkota dari bunga gaillardia di dekatnya.
“Hem.”
Terasa sudah direspon gadis itu melanjutkan ucapannya, “Ka, Vio pengen cepat besar dan menikah dengan pangeran tanpan.”
Anak laki-laki yang mendengar perkataan adiknya langsung saja menutup buku yang dia baca dan menatap adiknya dengan jengah. Ini bukan kali pertama dia mendengar adiknya bilang ingin menikah.
“Kau pikir menjaadi orang dewasa dan menikah itu mudah?”
“Bukan... ? buktinya hubungan ayah dan ibu terlihat sangat bahagia, paman tampan dan bibi cantik juga bukannya sama.”
“Dasar bodoh.” Kata anak laki-laki itu dengan suara pelan walau masih terdengar karena posisi mereka yang duduk bersebelahan.
“Apa kaka mengejekku bodoh? kaka yang bodoh... kalo vio udah besar vio bisa menjadi apa saja. Seperti ibu, dia terlihat sangat keren ketika bekerja dengan jas putih. Juga, kalo vio menikah akan ada seseorang yang memanjakan Vio seperti papah dengan momy.”
“Dengar adikku yang bodoh.... Menjadi dewasa itu tidak segampang yang dilihat, lagipula umur tidak menjadi patokan kedewasaan seseorang. Apalagi menikah itu jauh lebih sulit. Ayah dan ibu terlihat sangat
bahagia karena mereka saling mencintai. Memang kau punya pasangan yang mau menikah denganmu?”
Dia tahu adiknya tidak mengerti sepatah katapun yang dia katakan. “Aku seperti berbicara dengan
anak tk.” Pikirnya dalam hati.
Vio merasa ada yang tidak beres dengan pertanyaan terakhir kakanya, tapi dia tak ambil pusing dan dengan jujur menjawab ,“Tidak, tapi vio tetep ingin segera besar dan menikah, vio tinggal mencari pasangan yang mencintai vio seperti ayah.”
“Apa kau mendengar penjelasan ku, kau ini.... mencari seseorang seperti ayah itu sangat sulit apalagi menjadi pasangan yang saling mencintai seperti ayah dan ibu. Kadang bukan hanya cinta yang melandasi pernikahan.” Celo mencoba memberi pengertian kepada adiknya untuk yang sekian kali.
“Kata kaka pernikahan yang bahagia harus saling mencintai, tapi kaka juga bilang banyak orang menikah bukan karena cinta. Apa mereka akan bahagia ka?”
“Entahlah.. bagaimana kalau kau mencobanya.”
__ADS_1
“Ihhh...Ka Celo vio itu masih kecil belum cukup umur buat nikah.”
Meski sang kaka tidak mengatakan apa-apa tatapannya seolah berkata “Kau tahu itu”.
“Kan vio bilang kalau udah besar, jadi kenapa mereka harus menikah kalau tidak saling suka?” Vio
bertanya untuk sekian kalinya. Celo hanya mengangkat bahu acuh mendengar balasan adiknya.
“Dunia orang dewasa lebih rumit dari yang kau pikirkan. Contoh halnya pernikahan, seseorang bisa menikah bukan hanya karena cinta tapi didasarkan pada harta, status dan kepentingan.”
Vio hanya melihat kaka nya dengan tatapan yang semakin bingung.
“Ah... sudahlah kamu terlalu kecil untuk mengerti, intinya yang harus kamu fikirkan sekarang hanya bermain dan belajar sisanya tunggu kamu cukup umur!!!” Dia berkata dengan tegas tapi dengan kelembutan yang tiadak dia sadari.
“Intinya kenapa hubungan ayah dan ibu terlihat sangat bahagia karena mereka menikah berdasarkan cinta dan saling mencintai. Emmm... bagaimana ayah dan ibu bertemu ya, sampai memutuskan menikah...? apa aku bertanya saja pada ibu bagaimana bisa menemukan pasangan seperti ayah.” Vio berguman dengan suara kecil meneghiraukan perkataansang kaka sebelumnya.
Tapi sekali lagi karena posisi mereka yang duduk bersebelahan, kaka nya masih mendengar perkataan adiknya dengan jelas.
“Terserah... sebahagia kamu aja vio.... aku cape.” Dia sudah menyerah menghadapi adiknya yang keras kepala tidak tahu mengikuti gen siapa, karena dia rasa kedua orang tuanya tidak ada yang keras kepala.
Menghafal kamus bahasa jerman terasa lebih mudah dari pada berbicara dengan anak umur tujuh tahun.
“Ayo ka... kita harus segera pergi menemui ibu dan ayah, tapi apa ayah sudah kembali? Itu... Kebetulan ayah sudah datang,” Vio melihat ayahnya yang sedang berduaan dengan ibunya.
Tanpa bertanya vio dengan semangat menarik tangan sang kaka untuk menemui kedua orang tuanya yang terlihat sedang bermesraan. Tak lupa membawa mahkota bunga hasil rangkaiannya untuk diberikan kepada sang ibunda.
Dengan terpaksa sang empu yang tangannya ditarik terlihat pasrah, walau waktu membacanya harus terpotong dengan kelakuan adik semata wayangnya dan tak bisa melawan.
***
“Apa yang sedang kau pikirkan hingga tidak sadar aku datang,” Suarnya sangat lembut dan memanjakan membuat hati perempuan manapun meleleh.
“Duduklah yang benar, anak-anak sedang menuju kesini.”
Tapi lelaki dewasa itu tak menghiraukan nya sama sekali setelah meletakan paperbag berisi makanan di samping teko teh, tangannya tak tinggal diam dan memeluk istrinya dengan erat dan hati-hati seperti memegang harta berharga yang rapuh.
“Ayah... ibu... ada sesuatu yang ingin vio tanyakan ?” Melihat kemesraan kedua orang tuanya dia sudah lama kebal, walau jarak antara dia dan orang tuanya tidak jauh Vio memilih berteriak untuk mendapatkan atensi dari kedua orang tuanya.
Mendengar langkah kaki yang disusul teriakan putri bungsunya barulah dia berhenti menciumi istrinya tapi tidak melepas pelukannya. Dia bahkan sedikit cemburu karena anak-anaknya bisa menghabiskan lebih banyak waktu bersama istrinya.
“Bagaimana pertemuan kalian...? Bagaimana ibu bisa menemukan seseorang seperti ayah...? Tidak-tidak ayah yang bagaimana bisa mendapatkan ibu..? Ah sudahlah bagaimana kalian saling jatuh cinta...? bagaimana rasanya jadi orang dewasa..?”
Menghaapi serangkaian pertanyaan yang dilontarkan anak bungsunya pasangan itu tertegun sejenak, berbeda dengan anak pertamanya hanya melihat dari samping dengan tenang seolah sedang menonton pertunjukan.
“kalian gantian menghadapainya sendiri, aku sudah menghadapinya tadi.”
Membaca gerak bibir anaknya membuat bibir lelaki dewasa itu sedikit berkedut dari mana dia mewarisi sikap buruknya ini.
“Ah..aku rasa ini diwariskan olehnya. Tapi sifat absrud putrinya diwariskan oleh siapa?” Pikirnya dalam hati tak berani berkata terus terang di depan istrinya.
Anda cukup sadar diri ya.
“Bisakah kau bertanya satu-satu Vio, ayah bingung harus jawab yang mana dulu.”
“Ah..okey, bagaimana pertemuan pertama kalian?”
“Di rumah sakit.” Jawabnya dengan cuek.
__ADS_1
Mendengar jawaban sang ayah vio cukup terkejut pikirnya kedua orang tuanya bertemu di pesta, taman, taman bermain atau lestoran apapun tempat romantis yang dapat dia pikirkan. Tidak dengan celo dia pikir itu cukup normal lagi pula bagaimana orang tuanya bisa bertemu ditempat yang normal.
“hah... oke.. oke pertanyaan kedua bagaimana kalian saling jatuh cinta.”
“Kecelakaan.” Singkat dan tidak bisa lebih singkat lagi.
Kali ini tak hanya vio yang terkejut Cello juga tak kalah terkejut. Bagaimana bisa orang jatuh cinta karena kecelakaan.
“Kedua keluarga memiliki hubungan kerja sama pada awalnya, jadi wajar jika kedua keluarga saling membantu ketika terjadi kecelakaan.” Lanjutnya melihat tatapan tak percaya kedua anaknya.
“Bagaimana ayah mendapatkan ibu? Perempuan sebaik ibu pasti banyak yang suka, jadi bagaimana ayah mendapatkan ibu?”Vio bertanya seserius mungkin melupakan niat awalnya untuk bertanya bagaimana mencari pasangan seperti ayahnya.
“Kau benar Vio, banyak orang yang menyukai ibumu, tapi tetap mereka tak sehebat ayahmu.” Dia cukup setuju dengan perkataan putrinya.
Sambil memegang dagunya dengan tangan kanan dan berpura-purasedang berfikir serius, membuat putrinya juga bersiap mendengarkan dengan serius. Melihat kelakuan putrinya dia berusaha menahan tawa. “Caranya ya itu, RA..HA..SIA.” Dengan tawa lepas yang tak bisa dia tahan lagi.
Sadar telah dibodohi Vio tanpa sadar memeras mahkota bunga yang dari tadi ia pegang dan lupa untuk diberikan.
“Upss....Vio hampir lupa, ibu Vio buatkan mahkota bunga bagus tidak ?” Lanjutnya ketika Vio sadar sambil meletakan mahkota bunga di atas kepala ibunya.
“Bagus sekali Vio, ibu terlihat semakin cantik dengan mahkota bunga buatan vio.”
Vio yang dipuji merasa sangat senang hingga lupa pertanyaan terakhirnya belum terjawab.
“Tidak, Istriku selalu cantik apalagi tampa bus..” Tahu apa yang akan dikatakan suaminya Perempuan dewasa itu mencubit lengan suaminya yang sedari tadi melingkar dipinggangnya.
Vio menghiraukan perkataan ayahnya dan membalas, “Tapi dengan mahkota bunga buatan Vio ibu terlihat semakin cantik seperti peri.” Lelaki dewasa itu hanya mengangguk acuh setelah melihat tatapan maut dari istrinya.
perempuan dewasa yang masih dipeluk dengan sebelah tangan ini, hanya bisa menggelengkan kepala pelan tak habis fikir dengan kelakuan ayah dan anak ini.
“Ayah.. jawab dong supaya nanti vio tahu kalo ada pangeran tampan yang mengejar vio, siapa tahu kan ada laki-laki sebaik ayah yang sedang jatuh cinta dengan vio tapi vionya ga tahu.?” Lanjutnya ketia vio sadar pertanyaan nya masih belum terjawab.
“Apa benar ini putriku.”
“Ngidam apa aku dulu, sampai melahirkan anak seperti ini.”
“Bukan adikku.”
Suara hati mereka yang tak terduga satu frekuensi.
Kalau bukan wajahnya yang mirip dengan istri/ ibu nya mereka ragu bahwa putri/adiknya sudah tertukar di rumah sakit. Percakapan mereka terus berlanjut ditambah si sulung yang ikut penasaran dengan kisah masa lalu kedua orang tuanya.
***
Danau yang tenang memantulkan cahaya matahari, padang rumput sejauh mata memandang, pohon wilow hijau zambrut, harum bunga gaillardia dan kelopaknya yang tertiup angin, ditambah sebuah keluarga harmonis dengan penampilan diatas rata-rata. Namun sayang tak ada seorangpun yang bisa menghargai pemandangan indah ini.
Perempuan dewasa itu tiba-tiba terdiam memikirkan cerita masa lalu dan tiba-tiba teringat seseorang yang membuat hidupnya berubah 180 derajat, sampai kehidupan bahagianya kini yang tak pernah berani dia
pikirkan bahkan di mimpi terliarnya.
“Ruby aku berhsil mewujudkan impian terakhirmu, apa kau bisa tenang sekarang.”
Ucapnya dalam hati sambil memandang langit biru yang terlihat sangat cerah tanpa awan. Tidak jauh buku bersampul merah yang sempat dia baca terbuka dengan kepakan beberapa sayap kupu-kupu dan kupu-kupu itu mendarat dia atas halaman buku yang sudah terbuka.
Untuk pemberitahuan mulai dari chapter ini tulisannya mungin tidak akan terlihat rapih karena tidak saya edit di hp langsung dikirim lewat laptop. Kenapa ga di edit dulu ? Alhamdulillah hp ku di gondol maling gara-gara authornya keasikan main air (renang) jadi mohon di maklum kalo tulisanku ga rapi.
Kalo dari laptop udah coba serapih mungkin. Doakan segera digantikan dengan yang lebih baik. Siapa tahu hilang yang seken dapat yang ori.
__ADS_1