Ruby : Behind The Antagonist

Ruby : Behind The Antagonist
Chapter 2. Novel Aneh (Bagian 2)


__ADS_3

Kembali ke saat ini.


Amelia yang masih menunggu angkutan umum tanpa sengaja melihat sebuah buku tergeletak di pinggir jalan. Karena rasa penasaran Amelia mengambil buku tersebut yang ternyata sebuah novel berjudul 'pangeran patung es dan gadis miskin'. Kalau di lihat sekilas novelnya masih baru.


“Em... Novel..!? siapa yang ngejatohin novel disini..? Aneh banget sih? Ga ada nama penulis, keterangan penerbit, sama tanggal cetak juga ga ada. Isinya cuma ada daftar isi, isi cerita, sama... lembar kosong?. Buat apa coba, ni tuh novel hasil bajakan kali ya? Ga niat banget yang bikin bajakannya.”


Amelia hanya mengangkat bahu acuh, dan memasukan novel itu dalam tasnya. Dia tak ambil pusing mengenai semua keanehan novel itu. Lumayan, lagian harga sebuah novel termasuk barang mahal untuk dirinya.


Tapi nanti, Amelia pasti akan sangat menyesal dan berharap bisa kembali ke hari ini untuk membuang jauh-jauh novel itu.


Setelah Amelia masuk ke angkutan umum, tak ada yang menyadari sosok berjubah hitam yang tiba-tiba berdiri di tempat amelia menemukan novel dan menghilang dalam sekejap mata menyisakan angin yang menerbangkan daun-daun kering disekitarnya.


1 Minggu setelah Amelia menemukan novel, dia sudah selesai membaca seluruh isi buku. Amelia benar-banar di buat jengkel dengan isi novel nya apalagi sama tokoh antagonisnya.


“Definisi bodoh ga ketolong ini nih, udah tahu sudara-saudara lo benci banget sama lo masih aja caper, itu juga kaka pertamanya katanya sayang tpi ga bisa percaya sama adik sendiri, itu jga ortu satu kalo ga bisa ngurus anak jangan bikin anak !!!”


“pas pertama kali baca gue emang respek banget sama tokoh utamanya..... tapi gue gak nyangka ternyata ada bagian sudut pandang antagonis. Kisahnya si Ruby tragis banget... sumpah bikin nyesek... punya dendam apa si penulisnya sama tokoh Ruby. Kalo tahu penulisnya udah ku santet itu. Tapi sayang beribu sayang ni novel ga ada nama penulisnya takut kena santet kali ya ?? Bisa jadi..”

__ADS_1


Berbagai komentar dia layangkan, dirinya tak habis pikir dengan karakter para tokoh yang ada dalam novel. “Jika tak bisa membahagiakan setidaknya jangan menyakiti, jika memang benci katakan dan tinggalkan jangan kau siksa dia dengan dalih ‘demi kebaikanmu sendiri’ padahal tak mngerti apa-apa”, pikir Amelia kesal.


Meski sudah beberapa hari dia menyelesaikan novel, akhir tragis dari tokoh Antagonis Ruby selalu terngiang-ngiang di kepalanya bahkan saat dirinya sedang bekerja. “Hemm..Huhh....,” sudah berkali-kali dirinya menghela nafas, tangannya masih tetap sibuk merajut helai demi helai rambut untuk di jadikan rambut palsu walau pikirannya sudah kemana-mana memikirkan isi novel. Gerakannya tetap terlihat cepat dan lihai 1 helai...2 helai... tak terasa satu bagian sudah terlihat penuh dengan rambut, menyisakan sebagian kecil bagian yang terlihat masih botak.


Dirasa sudah hampir selesai, Amelia memilih untuk beristirahat sebentar mengistirahatkan matanya yang lelah dan mendongkak ke atas melihat langit-langit ruangan dengan pencahayaan minim. Melepas kacamata mines dengan bingkai bewarna merah keunguan pemberian tantenya, memijat pelipisnya pelan. Akhir-akhir ini dirinya selalu merasa sakit kepala mungkin karena beberapa malam terakhir dirinya begadang menyelesaikan target kerja dan membaca novel sampai jam 2 pagi.


“Hem..pulang kerja nanti makan mi instan goreng rasa pedas korea sama teh gula batu enak


kali ya... udah kenyang tinggal bocan deh...!!”


Cuma gara-gara di jadikan anak sulung, dia harus menjadi tulang punggung keluarga padahal perempuan hakikatnya adalah tulung rusuk. Tapi di zaman seperti ini tidak kerja sama dengan tidak punya apa-apa.


Apalagi Amelia masih memiliki seorang adik laki-laki yang mau masuk SMK yang membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Berbeda denga dirinya yang masuk SMK gratis tinggal bayar seragam dan keperluan kelulusan kelas 3 itu pun hanya mengahbiskan uang di bawah 2 juta.


Tapi bagaimanapun dirinya merasa sangat bersyukur kalau bukan gara-gara di gratiskan, dia tak yakin masih bisa melanjutkan sekolah. Mamahnya bahkan memintanya kursus menjahit saja daripada melanjutkan sekolah.


Sudahlah berhenti membahas masa lalu, kembali ke saat ini mendengar ajakan Ita, Amelia merasa tergiur. Tapi tubuhnya... dirinya tak yakin, apalagi mengingat mi goreng pedas dan es teh nya bagaimana nasibnya ???.

__ADS_1


Melihatnya ragu-ragu Ita langsung membisikan sesutu, “jangan ragu mel, denger-denger bayaran lembur kali ini bakal tiga kali lipat. Emang si agak lama dari jam lembur biasa, katanya ngejar target ada yang mesen rambut palsu dengan jumlah lumayan banyak. Gimana..?? hemm..hem... lumayan kan ?!”


Mendengar bayaran tiga kali lipat mata Amelia langsung berbinar dan berubah menjadi hijau tanpa pikir panjang dirnya mengangguk setuju. “Persetan sakit kepala..! kalo ada duit pasti langsung sembuh kapan lagi lembur bisa di bayar tiga kali lipat, cash lagi.”


Akhirnya dirinya bisa pulang, memang benar kata Ita lembur kali ini emang agak lama, lembur biasa jam enam juga udah bisa pulang. Tapi kali ini Amelia baru pulang kerja sekitar setengah delapan malam gila si. Tubuhnya terasa kaku dan pegal-pegal mungkin karena berada diposisi duduk selama berjam-jam. Sambil berjalan ke pinggir jalan Amelia mencoba sedikit meregangkan tubuhnya mungkin ga akan terlalu sakit.


“Pulang naik apa ya si putih make mogok lagi ah...”, Si putih adalah motor metik kesayangannya, mogok gara-gara dia pake nerjang banjir sekitar 2 minggu lalu mau di bawa ke bengkel takut mahal. Maka, Amelia memutuskan menjadikan si putih sebagai anak terlantai di depan kossan.


“Sabar ya putih besok bakal aku bawa ke bengkel udah dapet buat biaya berobatnya ini, sekarang pulang naek ojek kali ya...? Tapi bayar ojek kan mahal...Huhh.. ga papa lah kali-kali !” Gumamnya pelan. Tapi dia mungkin lupa jam segini ga mungkin ada angkot nyari ojek kalaupun ada pasti susah.


Sambil menunggu ojek dateng Amelia memilih membaca novel yang seminggu lalu dia temukan, Perasaannya tiba-tiba aja ga enak. Tapi Amelia memilih untuk abai, “Cuma perasaannya kali”. Apalagi sekarang udah malem emang dirinya aja yang terlalu sensitif malam ini.



Hwaiting atau fighting juga suka digunakan sebagai ucapan semangat dalam bahasa Korea oleh masyarakat sana. Meskipun dalam tulisan dan pengucapannya berbeda, tetapi keduanya tetap memiliki arti yang sama, yaitu untuk memberi semangat.


__ADS_1


__ADS_2