Ruby : Behind The Antagonist

Ruby : Behind The Antagonist
Chapter 5. Pulang ke rumah


__ADS_3

Rumah ya...


Tempat yang harusnya menjadi tempat ku


bersandar dan istirahat, malah menjadi tempat


yang hanya membuat luka dan lelah.


-Riyu A.M-


____________________________________________________________________________________________


Hari ini adalah pengecekan terakhirnya sebelum pulang. Ruby juga dengan berat hati harus disuntik dengan octocog alfa tiap 48 jam sekali belun lagi dengan efek samping yang harus dia tanggung. Jadi bagaimana Ruby asli menjalani hidupnya selama ini yang dimata orang kaya ga ada beban hidup, dia aja yang baru beberapa hari hidup sebagai Ruby, dia benar-benar merasakan arti dari 'mati sulit hidup sulit'.


"Aku benar-benar kagum dengan bagaimana Ruby bisa menyembunyikan hal sebesar ini dengaan sangat sempurna? Dia berhasil membuat orang lain terkecoh!!"


“Pantes tangannya udah kaya saringan, hobinya di suntik sana-sini. Rahasia apa lagi yang coba kau sembunyikan Ruby?”Ini adalah pikiran pertama ketika melihat keadaan tangannya. Karena bahkan di buku penyakit Ruby baru dijelaskan saat mendekati akhir cerita.


“Selamat atas kepulangannya, jangan sampai terluka lagi...!” Dr.Riyan berkata dengan serius.


“Baik akan saya usahakan, dan terima kasih atas perawatannya selama seminggu ini Dr.Riyan.” Mendengar perkataan Ruby, Dr.Riyan hanya tersenyun dan mengangguk.


Melihat sosok Ruby menghilang dibalik pintu Dr.Riyan hanya berharap masalah apapun yang sedang dia hadapi sekarang segera mendapat jalan keluar.


Setelah melakukan prosedur pelepasan Ruby pulang menggunakan taksi online. Di lorong rumah sakit  Ruby menjadi pusat perhatian karena penampilannya yang imut. Sebelum pulang dia memang meminta salah seorang perawat untuk membelikannya satu set pakaian.


Tapi dia tidak tahu akan di dandani seperti ini. Menggunakan hody oversize putih dengan telinga kelinci dibagian tudung serta rok pendek kotak-kotak bewarna merah dan sepatu boots hitam dengan kaos kaki selutut dengan warna putih. Ditambah kulit putih pucat, wajah seperti peri, mata merah, dan rambut keemasan yang dikepang dua.


Orang-orang akan memandangnya dua kali, bertanya-tanya apa ada seseorang yang bisa secantik dan seimut ini. Seperti karakter manga yang keluar dari komik sangat cantik hingga terasa tidak nyata. Sadar menjadi pusat perhatian Ruby merasa sedikit risih dan memilih mempercepat langkahnya. Kebetulan taxi yang dia pesan sudah menunggu diluar.


“Nona ruby..?” pengemudi taxi online menurunkan jendela untuk memastikan.


“ya..Tolong pergi ke Imperial palace house.” Ruby memberikan alamat rumah sesuai yang ada dalam ingatan tidak menyadari keterkejuatan orang-orang yang menguping pembicaraan mereka.


Mendengar alamat yang diberikan, membuat supir itu terkejut karena disana adalah kawasan elit tempat kalangan atas, miliader, hingga para pejabat tinggi tinggal. Dengan harga selangit untuk setiap manor berukuran lebih dari 5.000 kaki dan keamanannya bahkan setingkat dengan kediaman pemimpin negara. Setiap penjaga keamannya merupakan pensiunan tentara dan ada juga tentara elit yang memang dikirim untuk menjaga orang-orang penting yang tinggal disini. Definisi sempurna 'ada harga ada barang'.


Pertama kali sang supir memiliki pelanggan seorang nona bangsawan, membuatnya sedikit gugup. Apalagi yang secantik dan seimut ini. Ini juga kali pertama Ruby naik taksi yang biasanya cuma naik angkot.


Saat menunggu lampu merah ruby memilih membuka jendela dan berhadapan langsung dengan mobil hitam. Didalam mobil Ruby dengan santai melihat pemandangan diluar dia tidak tahu bahwa saat dia melihat pemandangan, pada saat yang sama Ruby menjadi pandangan orang lain.


Ruby melihat pemandangan diluar dengan terkagum-kagum, bahkan dia mencoba mencubit pipinya untuk memastikan bahwa semua ini bukanlah mimpi. “Sakit berarti bukan mimpi... Sekarang aku yakin telah masuk ke dunia novel, meski memiliki bahasa yang sama tapi dari segi sejarah, teknologi, politik, budaya dan bahkan ekonomi sangat jauh berbeda dengan tempat dia tinggal dulu.... Membuatku sedikit merindunkan rumah.” Dia hanya bisa tertawa kecil mengingat beberapa kenangan lucu di dunianya dulu.


Fu Zixin yang datang ke Indonesia untuk membahas kerja sama bisnis, tanpa sengaja bertemu dengan saudara perempuan teman dekatnya dan ini adalah kali ke dua dia melihatnya.


“Hem...gadis kecil..? Sudah sembuh rupanya.” Fu Zixin tanpa sadar tersenyum melihat tingkah Ruby, apalagi berbagai raut wajah yang dia buat. Dari kagum, bingung, sedih, dan tertawa “Apa yang sedang dia pikirkan...gadis aneh,” Apalagi tingkah Ruby yang mencubit wajahnya secara pelan-pelan, Membuat Fu Zixin tertawa kecil. Membuat asisten didepannya ketakutan. Sosok yang dikenal dingin dan tanpa ekspresi kini sedang tersenyum dan tertawa Apa matahari terbit dari barat.

__ADS_1


Benar, mobil yang bersebelahan dengan taxi Ruby adalah milik Fu Zixin. Ketika kendaraan mulai berjalan ruby memilih menutup jendela dan mengistirahatkan tubunya. Fu Zixin juga mengambil kembali sikap tenangnya.


Ruby menghabiskan waktu sekitar satu jam perjalanan dari rumah sakit. Tepat ketika sang supir tiba di


depan pintu masuk, mobilnya dicegat oleh penjaga keamanan. Melihat ini sang supir hanya bisa berhenti dan membangunkan penumpang dibelakannya.


“Nona saya hanya bisa mengantarkan sampai disini.” Ruby sebenarnya sudah bangun saat mobil berhenti. Terdapat dua penjaga keamanan bertubuh kekar yang mencegat taxi nya masuk. Ruby mengangguk dan memberikan semua uang cash yang dia temukan di dalam dompet. Dia tidak terlalu mengerti mata uang di sini, “semoga cukup...”


Melihat lima lembar uang bewarna merah disodorkan didepannya si supir hanya bisa berkata, “Ini terlalu banyak nona !”


“Eh...Benarkah..?! Kalau begitu ambil saja kembaliannya.” Karena tidak bisa masuk Ruby memilih menghampiri penjaga keaman untuk bisa membiarkannya masuk.


“Permisi, bisa ijinkan saya masuk. Saya adalah putri keluarga Volker, Ruby Ariana Volker. Selama seminggu ini kebetulan saya tinggal diluar dan baru kembali.”


“Maaf tanpa kartu akses anda tidak di ijinkan masuk.”


“Kartu akses saya hilang seminggu yang lalu, saya benar-benar penghuni disini dan bukan orang asing.”


“Maaf tetap tidak bisa.”


Ruby pun menyerah menjelaskan dan memilih mengirim pesan ke pengurus rumah tangga dan menunggu seseorang menjemputnya.


“Paman aku ingin ikut berteduh di pos apa boleh ? Sebentarlagi ada yang akan menjemputku.”


“Baik jika begitu silahkan tunggu saja didalam.” Meraasa sedikit tidak tega melihat penampilan gadis imut didepannya penjagapun setuju dengan permintaannya.


“Terima kasih paman penjaga.” Sekitar sepulum menit sebuah mobil limosin datang. Tak hanya penjaga


yang terkejut Ruby juga terkejut karena dia baru melihat ada mobil sepanjang ini secara nyata.


Para penjaga yang awalnya tidak percaya harus percaya, apa yang dikatakan gadis kecil tadi itu benar, 'Melihat adalah percaya' Gosip yang mereka dengar memang tidak bisa dipercaya.


Kepala pelayan yang ada dalam ingatannya turun dususul oleh pengemudi dan dua orang pembatu perempuan. “Nona Ruby...” Kepala pelayan memanggil sedikit ragu. Dirinya tidak tahu nona mudanya bisa seimut ini.


“Em... ini aku paman Qin. “ Ucap ruby sambil menganggukan kepalanya cepat seperti ayam mematuk nasi membuat telinga kelinci di tudung hodinya bergerak naik turun mengikuti gerakannya dan menambah keimutan ruby.


seperti kelinci putih kecil yang bisa ditipu menggunakan sebuah wortel. Menerima serangan kelucuan ganda membuat wajah orang-orang disana memerah menahan gemas apalagi saat dirinya memiringkan kepalannya dengan mata binggung berair. Orang-orang yang ada di sana entah kenapa merasa sedikit bersalah seperti orang dewasa yang sedang menipu anak di bawah umur.


“Uhhhh.... kenapa sangat lucu...?”


“Imutnya...!!!”


“Kawai.....”


“Karung mana karung.....?!”

__ADS_1


“Mau karung warna apa dek nanti kaka siapin...?”


“Awww.... gemesnya...”


“apa benar ini nona mudanya ?”


Berikut adalah pikiran batin orang-orang yang ada disana.


Pertama kali dirinya naik mobil mewah, Ruby berusaha tenang agar mereka tidak curiga. Membuat Ruby duduk seperti anak sekolah dasar yang patuh dengan punggung tegak, kaki  rapat dan kedua tangan disimpan dilutut.


Melihat penampilan nona muda yang menggemaskan membuat kepala pelayan gatal untuk mengambil gambar. Dia bingung dengan perubahan drastis nona mudanya.


Pengurus rumah tangga berfikir, " Sebenarnya.... Apa saja yang terjadi dengan nona Ruby selama seminggu menghilang?"


Tidak bisa lagi menahannya kepala pelayan angkat bicara. “Nona Ruby bisakah saya mengambil gambar anda ?” Ruby mengangguk, hanya sebuah foto. Lagipula dirumah sakit dirinya sudah sering di pinta foto.


Dia sangat jarang mengambil foto baik di kehidupan pertamanya ataupun dari ingatan Ruby asli, membuatnya bingung harus berpose seperti apa. Ruby hanya bisa berpose dengan gaya dua jari dan memegang kedua telinga kelinci di kepalanya.


Saat Ruby sampai di 'rumah' dia benar-benar berdecak kagum bahkan jarak antara pintu masuk sampai di depan rumah perlu memakan waktu beberapa menit dengan melewati taman bunga seluas lapangan sepak bola. Ini mungkin devinisi kaya di level lain. Bahakan rumahya terlihat seperi castel.


Ketika Ruby turun dari mobil dia dia ingin segera pergi ke kamar. Tapi sebelum itu ruby meminta pengurus rumah tagga untuk membeli beberapa set pkaian, dari ingatan yang dia dapat Ruby tidak punya pakaian yang bisa membuat dirinya nyaman. Meski pakaian Ruby banyak yang tertutup semuanya sangat ketat.


“Paman Qin bisa belikan beberapa set pakaian? Secepatnya kalo bisa... Tak perlu yang terlalu mewah yang penting nyaman dipakai dan satu lagi tak perlu bangunkan aku untuk makan siang.”


“Baik nona, untuk pakaian akan saya kirimkan segera.”


Mendengar jawaban yang dia harapkan Ruby memilih segera beristirahat dikamarnya. "Seperti yang ku duga kebanyakan novel itu hoax!! Katanya setiap yang transmigrasi ke karakter perempuan kamarnya pasti merah muda, lah ini ga ada unyu-unyu nya sama sekali!!!"


Dia sedikt bersyukur melihat kamar barunya, kamar dengan nuansa putih terlihat sangat elegant dan minimalis sangat berbeda dengan karakter antagonis yang dikenal banyak orang.


Ruby merasa tubuhnya sangat lengket dan memiloh untuk mandi. Setelah selesai Ruby berhasil menemukan satu set pakaian yang terlihat normal setelah mengobrak-abrik satu ruangan. Sebuah kaos oversize warna lilac dan celana trending wana navy.


Merebahkan tubuhnya di ranjang oversize dia terkejut dengan tekstur lembut yang dia rasakan seperti sedang tidur di atas awan. Tak berselang lama Ruby tertidur dengan sangat nyenyak.


Ruby baru terbangun saat langit berubah gelap.


Seperti yang dikatakan kepala pelayan  pakaian yang dia inginkan sudah tertata rapi walk in closet. "ini mah bukan beberapa kalo belinya satu lemari!! Devinisi 'beberapa' buat orang kaya emang beda."


Ruby memilih mandi untuk kedua kalinya. dia ingin mencoba mandi dengan air panas ala orang kaya. Setelah selesai mandi Ruby memilih satu set piyama biru langit dan jaket oversize putih.


Merasa lapar Ruby pergi ke lantai bawah untuk makan malam. Sejak keluar dari kamar ruby sudah mendengar bahwa kaka keduanya mengajak teman-temannya untuk membuat pesta perayaan dirumah. “pantas, sangat berisik dibawah. Aku tetap turun atau menunggu mereka pulang..? Turun sajalah siapa tahu kapan mereka akan pulang.” Ruby bergumam dengan suara pelan.


Kalimat yang mau dihapus tapi sayang.


Suntikan octocog alfa diberikan tiap 48 jam pada pasien hemofilia A untuk mengontrol jumlah faktor pembekuan Vll. Apalagi pemberian obat suntik ini harus dilakukan seumur hidup. Pasien juga perlu kontrol rutin ke dokter sesuai jadwal yang ditentukan. Pasien yang mendapat suntikan tersebut harus melaukan pemeriksaan kadar inhibitor secara teratur, karena obat faktor pembekuan darah terkadang dapat memicu pembentukan antibodi. Akibatnya, obat menjadi kurang efektif setelah beberapa waktu.

__ADS_1


__ADS_2