
Manusia hanya bisa membuat rencana
Dan hanyatuhan yang tahu apa esok aku masih
Menapak tanah.
-Riyu A.M-
____________________________________________________________________________________________
Saat Amelia sedang asik membaca terdengar keributan dari sisi kiri jalan. Di arah jam sembilan sebuah mobil melaju secara ugal-ugalan dilihat mobil tersebut sudah menabrak beberapa mobil dan motor, bahkan orang-orang yang berada di pinggir jalan ikut menjadi korban. Beberapa kendaraan yang berusaha menghindar malah terjatuh atau menabrak trotoar jalan.
Amelia yang melihat mobil tersebut menuju ke arahnya bersiap untuk lari dan menjauh dari pusat kecelakaan tapi tanpa sengaja dia melihat seorang gadis kecil yang sedang menangis. Dapat dilihat salah satu truk yang mencoba menghindari mobil malah berjalan ke arah gadis itu.
“Sial.....anak siapa nyasar disini..? orang tua nya mana lagi...? kalo udah ga butuh buat sini aja biar diadopsi sialan..!” Rutuk Amelia dengan nada tinggi. Raut wajahnya antara kesal dan cemas. “Tolong ga ya..? hisss...,” Tapi tubuh bergerak lebih cepat dari pada pikiran.
Tidak tahu dapat keberanian dari mana Amelia malah berlari ke arah gadis itu dan mencoba menyelamatkannya saat orang-orang dewasa di sekitarnya terlihat sangat panik dan tidak memperhatikan keberadaan gadis kecil tersebut.
Amelia mencoba menggendongnya dan membawanya lari sejauh mungkin, tak mungkin anak tersebut diajak komunikakasi. Entah karena takut atau cemas dia berlari dengan sedikit gemetar. Tiba-tiba dari arah belakang Amelia terkena sorotan lampu dari mobil truk yag berusaha dia hindari. Saat menengok ke belakang dia terkejut melihat posisi truk berjarak sekitar 1 meter dari dirinya. Amelia menelan ludah dengan gugup, Dia melihat sekitar dan pandangannya tertuju pada seorang bapak-bapak yang sedang menengok ke kanan kekiri seperti sedang mencari sesuatu.
“Pak tangkap...!!” Mengumpulkan seluruh tenaganya Amelia berterik sekeras-kerasnya mencoba menarik pehatiap bapak tersbut dan yup.., itu berhasil. Tanpa pikir panjang dirinya melempar gadis kecil tersebut, dia tak yakin apa dirinya bisa melempar anak tersebut untuk sampai ke si bapak.
Dan keajaibanpun terjadi, tepat setelah bapak itu berhasil menangkapnya, dia terlempar beberapa meter jauhnya setelah terkena tabrakan truk. Bapak itu kemudian berlari ke arahnya sambil mengendong gadis kecil tadi. Bapak itu seperti ingin menyampaikan sesuatu kepadanya. Tapi dia benar-benar tidak bisa mendengar apapun lagi selain suara napasnya yang memberat.
Amelia mencoba membaca gerak bibirnya meski sedikit kabur karena darah yang menetes dari pelipisnya, dia bisa mengerti bahwa Bapak itu mencoba untuk mengucapkan terima kasih karena telah menyelamatkan putrinya, “Oh ternyata itu bapaknya....syukur deh...” Amelia hanya tersenyum untuk menanggapi.
Walau dia bisa mengulang waktu, Amelia pasti akan melakukan hal yang sama. Ini adalah keputusan yang paling benar yang pernh dia buat, “Walaupun harus mati hari ini aku takan menyesal.... daripada lari, itu mungkin akan menjadi penyesalan terbesarku. Hidupku ada gunanya juga ya.... Ga ada ruginya juga ternyata.” Amelia tersenyum kecil, sepanjang hidupnya dia selalu merasa seperti beban dan tidak berguana. Tapi ini pertama kalinya Amelia merasa menjadi manusia berguna walau harus di bayar dengan nyawa.
Sebelum dia kehilangan kesadaran sepenuhnya Amelia melihat novel yang tergeletak tidak jauh darinya telah terciprat dengan darah. Novel dengan judul 'pangeran patung es & gadis miskin' mengeluarkan cahaya layaknya kunang-kunang dan menghilang sangat cepat layaknya ilusi.
*****
Amelia kemudian terbangun di tempat asing bukan rumah sakit ataupun akhirat tapi di sebuah kamar mewah bergaya eropa minimalis. Sebelum dirinya dapat mencerna keanehan di sekitarnya, Kepalanyan mulai terasa sangat sakit, berbagai memori asing menyusup keotaknya layaknya kilasan film yang tidak lengkap. Disusul dengan sakit di seluruh tubuhnya mirip saat dirinya kecelakaan terutama tangan kirinya.
Dari ingatan yang samar-samar dirinya tahu sedang berada di sebuah hotel karena pemilik asli tubuh ini berniat bunuh diri. Dengan sekuat tenaga Amelia mencoba mencari telfon untuk memanggil layanan hotel. Dengan setiap langkahnya terasa sangat sakit seperti di cabik-cabik.
Setelah berhasil tersambung tanpa menunggu pihak lain merespon dia langsung berkata, “panggil ambulance dan kirim seseorang ke kamar presidential Suite No.215 secepatnya. “ Selesai mengatakan semua itu Amelia langsung jatuh terkapar di lantai. Sambl menunggu bantuan Amelia berusaha menghentikan pendaharaan di lengan kirinya.
__ADS_1
“Semoga saja cepat datang aku tak mau mati untuk kedua kalinya.” Ketika Amelia menunggu pertolongan datang. Waktu terasa berlalu sangat lambat seperti bertahun tahun tapi juga terasa seperti sekejap mata.
Mendengar pintu didobrak Amelia berusaha memberi tanda tentang posisinya yang kini terhalang oleh sofa Dari suara langkah kaki yang terdengar mereka malah berjalan berlawanan dari tempatnya berada.
“Disini...cepat...!!”
Dilihat ada beberap orang datang ke arahnya dipimpin oleh seorang pria paruh baya berpakaian layaknya seorang manager, dikuti oleh dua staf laki-laki dan seorang staf perempuan.
Amelia berusaha memberikan intruksi meski setiap kalimatnya terasa sangat kelu, “Segera bawa saya ke rumah sakit... jangan coba-coba menghubungi keluarga saya... untuk administrasi anda bisa membayarnya menggunakan ATM yang saya simpan di laci samping tempat tidur... sandinya 1509xxxx” Dari suaranya yang semakin pelan dan pandangan yang mulai gelap dirinya berharap mereka melakukan apa yang dia katakan sebelum dirinya jatuh pingsan.
Melihat tamu didepnnya jatuh pingsan membuat orang-orang disekitarnya panik. Tapi mengingat apa yang di katakan gadis itu sebelumnya, sang manager memerintahkan staf perempuan untuk mencari kartu dan sisanya membantu membawa gadis itu ke rumah sakit. Dirinya juga di beri kabar bahwa gadis tersebut sempat menelepon layanan hotel untuk memnaggil ambulance. Mungkin Ambulance itu sudah ada di bawah, itu aka sangat memudahkan pekerjaannya.
*****
Gelap...dingin...sangat suram.
Kesan pertamanya ketika masuk ke tempat ini.
Dia terus berjalan, berjalan, berjalan hingga lupa konsep waktu.
bahkan mungkin beberapa dekade.
Dia tak merasa lelah, tapi entah kenapa dia merasa hampa, sedih, marah, kecewa, sesak. Entahlah dia tak yakin apa benar semua emosi itu milliknya.
Dia bahkan tidak tahu berjalan kemana, yang dia liahat hanya kegelapan. Dia hanya ingin cepat sampai, tapi dimana tujuan akhirnya..... tak ada konsep arah disini. Dia hanya merasa harus terus berjalan kedepan.
Saat dia mulai merasa putus asa muncul titik terang di kejauhan. Seperti bintang kejora terasa sangat dekat, saat dia mencoba berjalan ke sana, dia sadar titik itu berada sangat jauh untuk dicapai. Dia hanya ingin menyerah saja dan tetap tinggal di tempat ini. Tapi seperti ada suara di hatinya yang menyurunya terus berjalan.
Sedikit lagi... sedikit lagi sampai... akhirnya.... sampai....
Dia sekarang tahu titik terang itu adalah lampion yang mengeluarkan cahaya merah menyala. Semakin dekat dia semakin banyak lampion yang dia lihat sampai dirinya bermandikan cahaya merah, hangat terasa dalam pelukan. Samar-samar dirinya mendengar suara bisikan, “Istirahat sebentar, kamu sudah berjuang.”
Saat dia ingin mencari sumber suara, dia tiba-tiba merasa sangat mengantuk seperti tidak tidur berhari-hari. Tanpa sadar dia tertidur lelap.
****
Keterangan: Mulai dari sini Amelia udah diganti jadi Ruby.
__ADS_1
Di rumah sakit swasta.
Ruby membuka matanya, dia berkedip beberapa kali untuk beradaptasi dengan cahaya disekitarnya setelah lama berada di tempat gelap.
Selama dia koma memory Ruby asli terintegrasi sempurna di otaknya. Amelia atau sekarang menjadi Ruby, mengerti bahwa dirinya sudah berpindah ke dunia Novel, 'Pangeran patung es & Gadis miskin' setelah di tabrak truk. Menjadi tokoh antagonis Ruby Ariana Volker.
“kalau tahu jadi gini udah ku buang jauh-jauh tu novel sekalian aja ku bakar biar mampus...!!”
Pikir Ruby menyesal, dari tampilan novelnya sudah mencurigakan tapi tetep dia ambil. Penyesalan memang selau datang di akhir.
Ruby pun menelisik ruangan tempat dia tinggal sekarang, dia akhirmya mengerti arti dari kalimat, 'Kemiskinan membatasi imajinasi'. Ruangan yang di dominasi warna putih dan crem lebih mitip kamar hotel daripada Kamar rumah sakit.
Tak ada orang lain disini. Mewah tapi sepi selain suara bip pelan dan konstan dari mesin disampinnya.
“kurasa ini yang dibilang mesin EKG...” Ruby terus bermomolog dalam hati.
Ruby yang sedang fokus melihat mesin EKG (Elektrokardiogram) posisinya yang kini duduk disamping ranjang dengan kaki menjuntai, sedangkan separuh badannya lagi dia sandarkan di tempat tidur. Posisi tempat tidurnya juga sudah dia sesuaikan agar nyaman bersandar.
Setelah beberapa saat, pintu terbuka dan seorang perawat masuk dikuti oleh seorang dokter setengah baya yang mengenakan jas leb putih. Saat ruby bertukar pandang dengan orang-orang yang baru masuk. Ruby melihat keterkejutan di mata mereka.
Ruby menyeritkan dahinya sambil memiringkan kepalanya sedikit dengan mata yang kebingungan Ruby ingin bertanya.
“Ha...halo...” Hanya bisikan kering yang terdengar. Ruby baru sadar suaranya sangat serak seperti orang yang sudah tidak minum beberapa hari. Membuat matanya yang bulat semakin membulat.
Melihat tingkah Pasien didepannya Dokter dan perawa hanya tersenyum kecil. Menurut mereka tingkah Ruby sangat menggemaskan kecuali bibirnya yang pucat dan pecah-pecah gadis ini tidak terlihat seperti orang yang baru bangun dari koma.
“Suster biarkan dia minum melalui sedotan.”
“Halo nona. Perkenalkan nama saya Dr.Riyan. Bagaimana perasaan nona? Apakah tangan kiri anda masih terasa sakit...”
“Emmm... sedikit pusing..lemas dan lapar... sudah berapa lama aku pingsan,” Ruby sedikit menganguk dan mengatakan apa yang dia rasakan.
Mendengar kalimat terakhir Ruby membuat dokter dan perawat tertawa kecil.
Melihat mereka tertawa Ruby merasa sangat malu. “Apa aku mengatakan sesutu yang
salah...,” Wajahnya yang pucat sedikit memerah.
__ADS_1