Ruby : Behind The Antagonist

Ruby : Behind The Antagonist
Chapter 8. Mimpi


__ADS_3

Senja selalu menyuruhku istirahat


sejenek


namun fajar selalu datang terlalu


cepat.


-Riyu A.M.-


____________________________________________________________________________________________


Sesampainya dikamar Ruby memeriksa tangan kirinya, dan benar ternyata tangan kirinya yang baru saja sembuh sudah memar akibat cengkraman Felix. “Untung ga berdarah.” Ruby menghela nafas tubuhnya sekarang memang terlalu rapuh. Ruby kemudian mengambil salep yang biasa digunaka Ruby.


“Mungkin ini alasan Ruby selalu pake baju panjang, karena kalau dia luka ga akan ada yang bisa melihatnya. Tapi percuma Ruby walau lo pura-pura kuat semua orang udah nganggep lo lemah.”Dia merasa sedikit kasihan kepada Ruby, orang-orang terlanjur berfikir Ruby itu lemah, Ruby itu lebay, kena senggol dikit marah, kegores sedikit panik, takut luka lah takut kegores lah. Tapi mereka ga tahu apa-apa tentang Ruby.


Selesai menerapkan salep, Ruby menyantap makan malam yang disipkan paman Qin di dalam kamar. Tidak sadar dengan dampak apa yang dia timbulkan akibat kedatangannya di pesta penyambutan.


Dirasa masih terlalu awai untuk tidur Ruby memilih membaca salah satu buku kedokteran yang dimiliki Ruby asli. “Dia benar-benar menyukai bidang medis.” Baru beberapa saat Ruby malah tertidur sambil masih memegang buku yang baru dia baca.


Berbagai hal terjadi membuatnya sangat lelah. Dia fikir setelah kematian, dirinya tak perlu lagi berjuang, tak perlu lagi menutupi luka dan pura-pura kuat. Tapi malah berakhir di tubuh yang lebih penuh dengan luka, sekarang dia hanya ingin istirahat.


******


Sebuah keluarga yang terdiri dari enam orang sedang melakukan piknik di bawah naungan pohon ginko. Gadis kecil yang duduk dipangkuan ayahnya sambil menerima suapan dari ibunya terlihat sangat manis dan bahagia. Tidak jauh dari sana anak laki-laki berusia 8 tahun sedang mendorong ayunan yang diduduki adik laki-lakinya, sedangkan di sisi lain pohon ginko anak laki-laki tertua sedang duduk bersandar sambil membaca buka bahasa asing. Suara tawa dan perdebatan kecil sering terdedngar membuat kaluarga itu terlihat sangat harmonis.


“Ayah Ruby pengen ke taman bermain, katanya disana sangat menyenangkan. Boleh ya...Boleh ya..plise ?” Gadis kecil yang sedang duduk di pangkuan ayahnya terlihat sedang memohon sambil mengeluarkan jurus andalan yang membuat siapa saja yang melihatnya tak bisa menolak.


Meski kedua orang tuanya khawatir tapi melihat mata memohon putri kecilnya, mereka benar-benar tidak bisa menolak. “Kenapa Yiyi ingin pergi ke taman hiburan, emang kata siapa disana menyenangkan.” Sang Ayah bertanya dengan penasaran kepaada putrinya.


“Kata ka Felix, katanya disana banyak wahana dan toko maianan, Ruby suka mainan. Nanti kalau Ruby kesana.... Ruby bakal beli banyak mainan..”


“Kalau sayang pengen mainan, Yiyi tinggal bilang ga perlu ke taman bermain.” Wanita dewasa yang masih terlihat 20 tahunan itu merasa sangat khawatir. Dia tahu tubuh putrinya sedikit spesial yang membuat mereka harus menjaganya dengan sangt hati-hati.


“No...No..No...Ruby pengen beliin mainan buat Dedy,Momy, Ka Ethen, Ka Felix, Dan zeno. Bukan buat Ruby apalagi Ka felix sama Zeno suka berebut mainan terus ujung-ujungnya berantem Ruby ga suka, Ruby juga pengen tahu seperti apa taman bermain.”


Mendengar alasan gadis kesayangan mereka. Membuat mereka terharu dan sangat bahagia karena putri mereka sangat perhatian. Tapi mereka tak menduga persetujuannya ini akan menjadi penyesalan terbesar mereka.


“Benarkah kamu harus memberikan mainan paling bagus untuku oke.” Felix yang mendengar pembicaraan mereka langsung mengajukan permintaan kepada diknya.


“Engga boleh, yang paling bagus harus buat Zeno titik. Zeno kan adik satu-satunya Ka Aria.”  Zeno membalas tak mau kalah.


Aria adalah panggilan khusus yang dibuat Zeno untuk Ruby dan orang lain tidak bisa menggunakannya bahkan kedua orang tuanya sendiri. Hal ini juga yang membuat Felix kesal dia tidak memiliki nama panggilan spesial untuk Ruby.


Meras kesal Felix berencana menjahili adiknya, dengan mendorong ayunan itu tinggi-tinggi.“Dasar bocah..”

__ADS_1


Membuat Zeno sangat ketakutan dan hampir menangis membuat Ruby kesalndan berusaha menghentikan kelakuan sang kaka.


“Udah jangan berantem nanti Ruby kasih yang palingg bagus buat Ka Felix sama Zeno.”


Tapi malah dia yang terdorong jatuh. Membuat seluruh keluarga yang ada di sana khawatir termasuk kaka tertua yang dari tadi hanya membaca buku. Dia langsung berlari untuk mengecek keaadaan adiknya.


“Apa ada yang luka? Bagian mna yang sakit?” Si kaka tertua bertanya dedngan cemas dan membantu adiknya untuk berdiri.


Melihat keluarganya khawatir Ruby tersenyum,” Ruby ga papa... ka Ethen ga perlu kahwatir.” Ruby kemudian memutar tubunya di epan sang kaka untuk membuktikan bahwa dia baik-baik aja.


Tapi di balik dres panjang bewarna putih denan bermotif bunga  berhasil menutupi beberapa memar di tangan adan kakinya. Kecuali kedua orang tuanya meski mereka tidak bisa melihat, mereka tahu kalau putrinya terluka putrinya berusaha untuk tidak membuat mereka khawatir.


“Hemm...tapi Ruby marah dengan ka Felix, Ruby tidak akan bicara dengan kaka selama 1 hari”


Mendengar itu membuat sang kaka panik dan mencoba membujuk adik perempuannya. ”yah..jangan..... Jangan marah dong... Maafin ka felix ya....ya...Ruby boleh hukum ka Felix apa aja jangan mendiami kaka. ”


Tapi gadis kecil itu memilih bermain dengan adik laki-laki dan kaka tertuanya, mengabaikan kaka keduanya. Tanpa pikir panjang Felix berlutut dan memegang pergelangan kaki Ruby yang sekarang berada disebelah adik laki-lakinya karena ukuran ayunan yang cukup untuk diduduki dua orang anak dan kaka teruanya yang gantian mendorong ayunan.


“Plis.. maafin kaka ya Ruby Ka Felix salah harusnya Ka Felix ga jail sama Zeno, kalo Ruby mau maafin ka Felix... Nanti ka Felix janji bakal ngabulin apapun permohonan Ruby.”


Mendengar kalimat yang dia tunggu Ruby langsung mengangguk,“Baik tapi kaka harus mengabulkan 5 permohonanku.”


“Kenapa lima biasanya tiga.”Felix senang adiknya tidak lagi marah tapi terkejut dengan jumlah permintaan adiknya.


“Karena Ruby mau, tiga terlalu sedikit. Untuk permohonan pertama Ruby mau


“Oke.” Felix hanya bisa pasrah.


“Suruh siapa membuat adikmu marah? Kamu sendiri yang repotkan sekarang.” Melihat ekspresi anaknya dia tidak bisa menahan untuk berkomentar.


“Diamlah ayah, lebih baik ayah membantuku bagaimana caranya membuat mahkota bunga.”


“Baiklah...baiklah ayah bantu.”


Felix mencoba merangkai mahkota bunga di bantu sang dady meski hasilnya tidak terlalu bagus dia cukup puas asal adik perempuannya tidak marah lagi padanya.


*****


Ruby yang sedang duduk di balkon kamarnya dengan ditutupi selimut, melihat Langit dengan tenang. Langit dengan wara biru dongker yang dihiasi dengan rasi bintang. Membuat siapapun yang melihatnya merasakan kedamaian yang unik ditambah udara yang sejuk membuat orang betah berlama-lama. Termasuk juga yang dilakukan Ruby.


“Langit yang indah, sudah lama aku tidak melihat bintang sebanyak ini.”Ruby melihat langit sambil termenung.


Siapa sangka saat tidur dia malah bermimpi tentang ingatan masa kecil ruby membuatnya terbagun jam dua pagi, ingin melanjutkan tidur tapi dia sudah tidak merasa mengantuk.


“Apa aku kebanyakan tidur ya ... Makannya sekarang aku ga bisa tidur lagi ?”

__ADS_1


“Tapi... Mimpi itu terlalu nyata!.... Bahkan setiap sentuhan dan emosi yang di alami Ruby bisa aku rasakan. Aku bahkan tidak sadar ini adalah mimpi seolah aku dan Ruby adalah satu orang yang sama! Rasanya aku jadi gila..!!!!!!!”


“Ya aku memang sudah memiliki ingatan Ruby asli tapi antara ingatan orang lain dan ingatannya sendiri itu sangat berbeda, aku tidak bisa merasakan apa yang sudah Ruby rasakan hanya bermodalkan ingatan. Tapi lewat mimpi ini seolah dia ingin mewariskan emosi yang dia rasakan.”


“Tapi ga nyangka... waktu kecil Felix ternyata bisa sesayang itu sama Ruby.”


Ruby terus berdiam diri di balkon sampai matahari terbit. Melihat langit yang awalnya gelap telah berubah menjadi sangat terang, Ruby baru meranjak masuk. Setelah membersihkan diri Ruby turun ke bawah untuk sarapan.


Hari ini seharusnnya Ruby mulai sekolah tapi berhubung hari ini dia ada jadwal piket kelas Ruby memilih untuk pergi sekolah besok saja. Hari ini Ruby berenca membeli beberapa kebutuhan untuk sekolah besok. Karena sekarang dia tidak kekurangan uang Ruby berencana mengubah model rambut karena terlalu mencolok dan membuatnya mudah menjadi pusat perhatian


Karena kemarin terlalu banyak hal yang terjadi Ruby belum sepenuhnya melihat rumah seperti apa yang dia tinggali. Semakin dia melihat semakin yakin Pemahamannya tentang orang kaya perlu di kaji ulang.


Saat Ruby melamun memikirkan berapa kekayaan keluarganya, dia malah dikejutkan dengan sapaan paman Qin yang tiba-tiba sudah ada di depannya,”Selamat pagi nona muda.”


“Ah..Oh.. Selamat pagi juga paman Qin.”Ruby menjawab dengan kikuk.


“ ... apa mereka sudah berangkat sekolah?”Ruby lanjut bertanya sambil berjalan menuju ruang makan.


“Tuan muda kedua sudah berangkat pagi-pagi sekali sedangkan teman-temannya tidak menginap malam ini?”


“Mereka tidak menginap? Apa gara-gara kejadian semalam?” Ruby bergumam pelan karena biasanya setiap mengadakan pesta mereka akan menginap mereka bahkan memiliki kamar sendiri disini.


“ Dr.Fedrick selalu mencari nona muda selama seminggu anda menghilang. Apa saya perlu memberi kabar tentang kepulangan nona muda?” Lanjutnya kemudian.


“Beri tahu saja mulai besok Dr.Fedrick bisa datang seperti  biasa.”


“Baik nona, selamat menikmati sarapannya.”


Ruby mengangguk sebagai balasan


Percakapan mereka berakhir saat sampai di depan ruang makan. Melihat Ruby sudah duduk di meja


makan, Para pelayan datang dan meletakan makanan yang telah disiapkan di atas meja satu per satu.


Semangkuk bubur direbus menggunakan beras putih terbaik yang sangat lembut, dihiasai dengan bawang goreng dan seledri hijau, dari pusat dituangkan kecap segar, ada lapisan minyak menggambang dipermukaan, itu terlihat sangat menggugah selera. Ditambah tiga hidangan kecil lainnya yang tidak Ruby tahu, namun terasa sangat cocok dimakan dengan bubur.


”Paman Qin aku akan pergi keluar, mungkin akan sedikit terlamabat jadi aku akan makam  diluar.” Seperti yang dia katakan setelah sarapan dia akan pergi berbelanja dan membeli beberapa buku dan keperluan untuk sekolah besok.


Mulai dari seragam, sepatu dan semua keperluan yang dimiliki Ruby untu sekolah lebih mirip orang yang mau pergi ke club malam. Seragam ketat yang membentuk lekuk tubuh, sepatu hak tinggi dengan warna mencolok dan hiasan meriah tak ada yang normal.


“Baik nona muda, akan saya siapkan mobil.”


“Tunggu... Tolong siapkan mobil yang paling sederhana jangan seperti kemarin... itu terlalu mencolok.”


“Baik nona muda.”Ucapnya sambil menundukan kepala dan berbalik pergi.

__ADS_1


Setelah beberapa menit sebuah mobil hitam dengan penampilan yang sering dia lihat dijalan muncul. Dia cukup puas dengan mobil yang dipilihkan paman Qin. Beruntung ruby tidak mengerti mobil atau dia akan dibuat terkeju jika tahu mobil yang terlihat sederhana ini memiliki harga yang sama dengan mobil ferari. Dengan kaca anti


peluru dan setiap bagian mobil merupakan custem yang berasak dari merek kelas dunia.


__ADS_2