Ruby : Behind The Antagonist

Ruby : Behind The Antagonist
Chapter 1. Novel Aneh


__ADS_3

Bukannya malas, aku hanya lelah


Lelah terus bersikap baik-baik saja.


Tak bisakah aku istirahat sejenak ?


-Amelia-


____________________________________________________________________________________________


04.00 WIB


Kringg....Kringg.....kringgg


Jam alarm terdengar nyaring di dalam kamar berusaha membangunkan gadis yang masih bergelut di alam bawah sadar. Sebuah tangan terulur mencoba mematikan bunyi yang menggangu waktu tidurnya dan terus melanjutkan tidur.


30 menit kemudian alarm kembali berbunyi dengan suara yang lebih nyaring membuat sang empu kesal dan melihat jam pada ponselnya menunjukan jam 4.45.


“Hem... jam lima kurang, waktunya kerja ya...”


Hal yang paling dia benci, bangun pagi. Entah kenapa selama apapun dia tidur dia selalu merasa lelah dan kurang tidur seperti orang yang begadang semalam suntuk. Mau tak mau si gadis berusaha melawan kantuk dan lesu, dengan setengah sadar gadis itu memilih mandi dengan air dingin untuk membuatnya lebih terjaga.


Setelah suara gemericik air berhenti gadis itu keluar dengan wajah yang fress dan pakaian yang sudah rapih dia mengambil kembali ponselnya dan memutar lagu jepang faforitnya dari kokoronashi, orion, amanojaku, lemon, orange dan banyak lagi teregantung suasana hati.


Diiringi musik membuat kosan terlihat lebih semarak tapi perasaan sepi yang aneh terasa semakin kentara. Meski sebentar sebelum suara sibuk datang dari tetangga satu-persatu, membuat suasana terasa lebih hidup.

__ADS_1


Dengan diiringi musik si gadis mulai sibuk didapur memanaskan makanan bekas kemarin malan untuk dijadikan sarapan. Sekali-kali dia ikut bernyanyi dengan suara fales nya. Mau bagaimana lagi, gadis berumur 23 tahun yang jomblo sejak lahir ini memang tidak punya bakat menyanyi.


Setelah sarapan dan memeriksa lagi tas yang akan dia bawa kerja takut melupakan sesutu. Dirasa sudah beres, melihat jam menunjukan 5.36 gadis itu sudah siap untuk berangkat kerja.


Menyusuri jalan dan gang yang sempit,  belum banyak orang yang dia lihat. Memang sangat jarang melihat orang berangkat kerja diwaktu sepagi ini. Tapi gadis ini cukup menikmatinya suasana pagi yang sejuk, udara segar yang dia hirup dan menikmati perubahan warna langit dicakrawala.


“Hari baru dimulai...! Masalah baru, kenangan baru, dan mungkin kesenangan baru. Fighting (Hwating) Amel.” Ini adalah kata yang selalu dia ucapkan setiap pagi untuk dirinya sendiri.


Amelia Putri Purnama seorang pekerja pabrik berusia 23 tahun yang merantau ke kota orang. Sambil menunggu angkutan umum dipinggir jalan dia memikirkan kembali percakapan terakhirnya dengan ibunya semalam.


*******


Setelah makan malam Amelia berniat melanjutkan pekerjaan yang belum selesai. Tapi tiba-tiba saja ada panggilan masuk. Kata ‘Mamah’ tertera di panggilan layar, melihat siapa yang memanggil dia terpaksa menginterupsi rencananya.


“Halo mah.”


“Kaya biasa lancar-lancar aja kenapa.”


“Gini mel, adikmu katanya pingin masuk SMK XX dia pengen ngambil jurusan multimedia. Kamu tahu kan adikmu sekalinya ada maunya susuah dibujuk, kalau ga di turuti pasti ngambek kalo ga uring-uringan.”


Amel hanya diam mendengar perkataan dari sisi lain ponsel tanpa niat menyela sedikitpun.


“Mah. Mamahh kan tahu sendiri sekolah itu mahal banget biayanya, kenapa ga masuk sekolah aku yang dulu di sanakan geratis paling cuma beli seragam.”


“Ga bisa mel mamah sama bapak kamu udah coba bujuk adikkmu tapi dia tetep kekeh kalo ga dia ga mau lanjut sekolah, lagian di sekolah mu dulu ga ada jurusan multimedia.”

__ADS_1


“Mamah denger gaji UMR disana lumayan gede.” Lanjutnya setelah mendapat keheningan dari sisi lain ponsel.


“Dari mana mamah tahu?” Amelia berfikir tak pernah memberi tahu masalah UMR ataupun gajinya ke keluarganya.


“Tetangga mamah kan anaknya kerja di kota yang sama kaya kamu, bahkan sampe bisa beliin motor, ngelunasin cicilan rumah, sampe bantu cicilan bank.”


Tapi mereka tidak tahu bukannya Amelia tidak mau melakukan apa yang dilakukan anak tetangganya, dia sudah berusa melakukan yang terbaik. Tapi gajinya selama ini bukan hanya untuk biaya hidup, dan kiriman orang tua, dia juga berusaha mengumpulkan uang untuk melanjutkan kuliah.


Dia tak sengaja melihat program beasiswa ke Jepang. Asalkan bisa bahasa inggris dan jepang selama 2 tahun pertama biaya kuliahnya akan di gratiskan dan jika dia cukup berprestasi dia mungkin bisa mendapat beasiswa penuh.


Jika berhasil dia tidak hanya bisa melanjutkan kuliah, dia juga bisa mencari pekerjaan disana dan mengirimkan uang yang jauh lebih besar kepada keluarganya. Dia tak pernah bilang karena orang tuanya selalu berfikir kuliah adalah sesuatu yang tidak bisa di capai keluarga menengah kebawah seperti mereka. Berkali-kali dia putus semangat untuk mengejar mimpi bukan hanya kendala biaya tapi kurangnya suport dari keluaarga yang membuatnya putus asa.


Tapi dia tak bisa mengutarakan apa yang dia pikirkan sekarang karena menurutnya semuanya adalah tindakan yang sia-sia. Dia sudah pernah mencobanya tapi selalu berakhir dengan kecewa.


“Apa aku harus mengundur lagi waktunya...!? Tak apalah, mau sekarang atau nanti hasilnya


juga akan tetap sama, kenapa engga memenuhi yang paling mendesak untuk sekarang.” Pikirnya dalam hati.


“Iya mah, nanti amel usahain. Nanti Amel kirim uangnya mungkin paling lambat akhir bulan depan.” Amelia berusaha menjawab setenang mungkin seolah dia sedang baik-baik saja dan semua pikiran kacaunya tadi bukan miliknya.


“Ya udah kalo gitu nanti mamah telphone lagi. Jangan lupa makan sama istirahat.”


“Iya mah, udah dulu ya nelphone nya amel masih ada kerjaan.”


Sebenarnya setelah ponsel ditutup dia tidak lagi berniat untuk melanjutkan pekerjaannya. Amel lebih memilih membaca novel online untuk memperbaiki suasana hatinya yang kacau sekarang.

__ADS_1


*******


__ADS_2