
Alarm itu berbunyi tepat pukul 06.00 pagi. Membangunkan gadis cantik yang perlahan-lahan membuka matanya. Tangannya bergerak mematikan alarm tepat di samping tempat tidurnya. Dengan setengah kesadaran, ia merapikan tempat tidur, lalu melangkah ke kamar mandi. Tak perlu waktu lama, Sastra sudah menyiapkan semuanya sedari malam. Ia mengenakan baju putih-abu dan berdiri menghadap cermin. Setelah selesai, Sastra turun ke bawah sambil membawa tas.
“Pagi, Adek.” Ucap Kala-kakak Sastra yang mendekat membuat Sastra menoleh.
“Pagi juga. Kakak, hari ini dianter Papa?” tanya Sastra.
“Yap, mau ikut?” Sastra menggeleng dan tersenyum. “Engga, Kak.”
Hening, hingga akhirnya terdengar sapaan Ressa---Mama mereka. Wanita itu menyapa anak sulungnya.
“Pagi, Kala,” Kala tersenyum dan membalas sapaan Ressa. “Pagi, Ma.”
Sastra hanya tersenyum sendu, ia menyapa hangat Ressa. “Selamat pagi,
Mama,” Ressa menoleh ke sumber suara. Ia hanya berdehem untuk membalas sapaan Sastra. Seperti inilah kenyataannya, Sastra selalu merasa sendiri dan kesepian tanpa hangatnya sapaan sang Mama.
“Pagi, semuanya. Kakak sama Adek udah siap?” Berbeda dengan Ressa. Meskipun wajahnya terlihat cuek, Rendra---Papa mereka justru tidak lupa menyapa Sastra setiap pagi.
Pagi ini sama seperti pagi-pagi sebelumnya. Hanya ada percakapan hangat oleh Ressa, Rendra, dan Kala. Tak lupa dengan Ressa yang rutin menanyakan kegiatan anak sulungnya membiarkan Sastra yang hanya makan dalam diam. “Papa siapin mobil dulu, ya,” ucap Rendra setelah menghabiskan sarapannya.
Saat mulai berjalan ke arah gerbang, Sastra tak sengaja bertatapan dengan Rendra, kemudian mengalihkan lagi pandangannya. Sama hal nya dengan Rendra. Ia berpura-pura mengecek dokumen dalam tasnya.
“Gak bareng aja, Sas?” ajak Rendra yang membuat Sastra terkejut. Sastra membulatkan matanya dan melompat kecil di tempat ia berdiri.
“SERIUS,PAH?” tanya Sastra yang hanya mendapat anggukan dari Rendra.
Setelah semuanya siap, Rendra menyalakan mesin mobilnya dan mulai mengendarai.
***
Sampai di sekolah, Sastra masih memasang wajah bahagianya karena berangkat bersama sang Papa. Hari ini mungkin takkan terulang lagi dalam hidupnya. Kemudian Sastra menyapa tiap guru yang ia temui dan langsung menuju ke kelasnya, kelas XI IPA 1.
“Lo kenapa, Sas? Sehat?” tanya Arumi---teman dekat Sastra.
“Arum! Kamu tau gak sih? Hari ini aku berangkat bareng Papa. Seneng banget, Rum!” jawab Sastra sambil melompat-lompat kecil.
Arumi ikutan tersenyum melihat Sastra merasa senang seperti itu. “Saking sibuknya orang tua lo, sekalinya dianter, lo girang begini.”
Walaupun dekat dengan Sastra, Sastra tak pernah mau menceritakan masalah di rumahnya kepada Arumi. Sastra berpikir bahwa itu akan menjadi tambahan beban untuk Arumi. Keduanya lanjut asyik mengobrol tentang hal-hal random. Entah itu tentang K-Pop, guru-guru, mata pelajaran, dan sebagainya.
“Akh, sakit!” rintih Sastra saat rambutnya ditarik ke belakang oleh seseorang.
__ADS_1
“Apaan sih?! Lepasin Sastra, gak” kata Arumi yang tak dihiraukan oleh perempuan itu.
Perempuan itu melepaskan jambakan rambutnya dan sedikit mendorong Sastra. Dia adalah Yara dan Sandra. Sastra memang sering dibully oleh Yara dan Sandra, terutama Yara. Alasan mereka cukup klasik untuk membully Sastra, yaitu karena Sastra jauh lebih pintar dibandingkan mereka.
“Berani banget lo nempatin peringkat 1 di kelas. Lo ini siapa? Sadar diri dong.
Orang bodoh kayak lo seharusnya gak ada di peringkat 1!” ujar Yara.
“Harusnya lo yang sadar diri! Lo itu cuma bisa main-main doang, males belajar dan bisanya cuma ngebully orang lain yang kepintarannya di atas Lo!” bela Arumi.
Sastra sedari tadi hanya mendengarkan ocehan mereka sambil memegang kepalanya yang sakit karena jambakan Sandra, “Udah, Rum. Biarin aja.”
Arumi membantu Sastra mengusap pelan kepalanya dan mendiami kedua pembully itu. Merasa tidak direspon lagi, Yara dan Sandra berdecak sebal dan meninggalkan tempat duduk Sastra.
“Sas, sesekali ngelawan dong. Jangan pasrah terus. Emangnya lo mau mati di tangan mereka? Engga, kan?” gemas Arumi.
“Aku bisa apa, Rum? Orang tua Yara bahkan salah satu donator di sekolah ini.
Kalo aku ngelawan, bisa-bisa mama sama papa yang kena imbasnya. Aku gak mau,” ucap Sastra. Keras kepala. Itulah yang menggambarkan Sastra. Arumi berpikir, justru Sastra akan tetap sakit jika ia tidak berani melawan dan percaya pada dirinya sendiri.
***
“Permisi, Aku mau duduk di sebelah kamu, boleh?” lelaki itu hanya berdehem dan bergeser sedikit agar Sastra mendapat ruang untuk duduk. Hening, tak ada percakapan diantara mereka, Hingga Sastra membuka suara.
“Kamu sekolah di SMA Garuda juga?” tanya Sastra. Lelaki itu tersenyum dan menoleh ke arah Sastra. Menggemaskan. Mungkin itulah yang ada dipikiran lelaki itu saat melihat wajah kebingungan milik Sastrsa.
“Iya. Gue kelas 12. Dan lo, dari muka lo, pasti lo kelas 10,” tuturan itu membuat raut wajah Sastra berubah, yang tadinya menggemaskan, kini menjadi kesal.
“Kok kelas 10, sih. Aku kelas 11, tau!” Sastra bersedekap dada dan mengalihkan pandangannya ke sisi lain. Apakah ia tahu bahwa lelaki yang membuatnya kesal ini justru malah menahan rasa gemasnya.
Lelaki itu lagi-lagi berdehem kecil, “Nama gue, Semesta. Semesta Arjuna. Dan gue kelas XII IPS 2,” Sastra menoleh dengan raut wajah yang berbeda lagi. Kini ia tersenyum kepada Semesta dan mengulurkan tangan kanannya. Tanpa basa-basi,
Semesta membalas uluran itu, “Halo, Kak Semesta. Aku Sastra. Sastra Jayashri, kelas
XI IPA 1.”
Obrolan mereka terus berlanjut. Sastra yang terus menceritakan bagaimana harinya di Sekolah dan Semesta yang sigap menanggapi cerita random dari gadis menggemaskan itu. Tapi dari alur cerita yang Sastra sebutkan, ia tak memberitahu perihal pembullyan yang terjadi padanya. Toh, Sastra juga baru mengenal Semesta, kan.
Tidak terpantau berapa lama mereka mengobrol sampai akhirnya Sastra sampai di halte bus tujuannya di seberang rumahnya, “Aku duluan ya, Kak,” Sastra berdiri dari tempat duduknya. Baru 1 langkah, Semesta menarik tangan Sastra,
“Ini nomor gue. Hubungin gue kalo butuh temen ngobrol. Seneng kenalan sama lo, Sastra.”
__ADS_1
Semesta memberikan kertas berisikan 12 angka itu. Kebetulan kertas nomor itu masih ia simpan di sakunya setelah tak jadi ia beri ke tukang pulsa.
“Hehe, terima kasih, Kak Semesta. Aku duluan ya, Kak. Semoga selamat sampai tujuan. Dadah!” ucap Sastra melambaikan tangannya dan menuruni bus.
Dengan lihai mata Sastra menengok ke kanan dan ke kiri. Kakinya mulai melangkah ke arah sebrang jalan. Ia membuka pintu dan mendapati mamanya di sofa.
Ressa berdiri dan menghampiri Sastra sambil membawa mistar di tangan kanannya.
“Puas kamu bikin saya malu?” sungguh, kali ini Sastra tidak tahu apa kesalahan yang ia lakukan.
“Sakit, Mama!” teriak Sastra saat mistar itu menghampiri betisnya.
“Sekolah manggil saya untuk mengurus perilaku gak beradab kamu itu! Kamu tukang bully, Sastra!” Ressa melemparkan kertas panggilan itu ke wajah Sastra yang masih menangis karena kesakitan.
Sastra membaca kertas tersebut dan memperkeras tangisannya “Aku bukan pembully,” ia tak menyangka bahwa Yara dan Sandra akan memutar balikkan fakta tentang kasus mereka.
“Saya gak pernah punya anak seorang pembully,” ucap Ressa lalu meninggalkan Sastra dan bertepatan dengan kepulangan Kala.
“Adek!” teriak Kala di depan pintu saat melihat Sastra terduduk dalam keadaan menangis dan memar di bagian betisnya.
“Kamu harusnya mencontoh sikap baik kakakmu!,” ucap Ressa dari kejauhan yang masih bisa terdengar.
Kala mencoba merangkul Sastra untuk bangun, lalu mendudukannya di sofa.
Tak jauh dari ruang tamu, Kala berlari kecil untuk ke kamarnya dan mengambil kotak P3K. Dengan telaten tangannya mengobati Sastra. Sastra hanya menangis dan tak mengatakan apapun. Setelah selesai, Kala mengelus lembut rambut adiknya.
“Kamu diapain lagi sama mama?” tanya Kala.
“Kak, gimana rasanya disayang terus-terusan sama mama? Rasanya gak pernah dimarahin kayak gini kalo kakak bikin masalah, rasanya terus-terusan bisa dipeluk sama mama, kalo aku minta sesuatu ke Tuhan, aku mau kayak kakak. Disayang terus sama mama. Enak ya, Kak” ujar Sastra mengalihkan pertanyaan kakaknya.
Kala mengambil kertas yang Sastra genggam sedari tadi. Ia membacanya pelanpelan, lalu merobek kertas itu. Ia menghembuskan napas kasar dan beralih memeluk Sastra.
“Maaf” hanya satu kata yang mampu Kala ucapkan di hadapan adiknya. Kala sebenarnya tahu apa yang membuat mamanya bersikap seperti ini kepada Sastra.
Namun, hatinya berat untuk menceritakan kembali kepada Sastra.
“Aku bukan pembully, Kak,” kata Sastra dengan suara gemetar mampu membuat Kala ikut merasakan sesak di dadanya. Ia memeluk Sastra untuk menenangkannya, justru malah membuat Sastra tambah menangis.
“Kakak percaya sama kamu. Kamu anak dan adik yang baik. Maaf kalo kakak engga ngebantuin kamu. Maaf, maafin kakak, Sastra.” Ucap Kala.
Benar kata Arumi. Yang Sastra miliki hanyalah dirinya sendiri. Tapi apa daya yang ia punya? Demi martabat orang tuanya, ia tak mungkin membalas Yara dan Sandra begitu saja. Namun, Sastra juga mengerti, mengapa kakaknya tak bisa terus membantu dirinya. Ya, bisa jadi itu adalah tekanan dari sang Mama yang lebih tidak mau Kala tersangkut masalah yang Sastra miliki.
__ADS_1