RUMAH UNTUK SASTRA

RUMAH UNTUK SASTRA
O5


__ADS_3

Langit jingga di atas sana membuat pengagumnya ingin terus menggapai senja tersebut, tak terkecuali Sastra. Di sinilah taman yang ia singgahi sekarang. Angin sejuk terus-terusan menerpa rambutnya, tak lupa menyentuh lembut kulit Sastra. Taman yang menjadi tempat Sastra membuang emosinya. Tempat yang menjadi saksi kerasnya hdiup yang Sastra jalani.


Dirinya menangis sejadi-jadinya. Tak menghiraukan pandangan orang-orang terhadapnya. Matanya panas dan memerah perlahan. Hatinya teriris sampai dirinya tak sanggup untuk mengeluarkan suara. Sesak. Untuk bernafas pun rasanya tak tenang.


“Keluarin semuanya,” ucap seseorang di sampingnya. Tangan kekar itu terangkat untuk mengusap air mata Sastra kemudian memeluk Sastra. Menguatkan bahu Sastra untuk lebih tabah lagi.


“Udahan, hm?” Sastra mengangguk lemas. Matanya beralih menatap mata lelaki itu. Mata yang selama ini tak segan untuk menatapnya.


“Kak Semesta? Kakak di sini juga?”


“Haha, iya. Gue suka ke sini, kok. Cantik,” satu kata di akhir kalimat, Semesta ucapkan dengan arah mata menatap gadis itu. Seakan tak tahan dengan apa yang Semesta rasakan, ia ingin sekali berteriak bahwa gadis di hadapannya berhasil membuka gembok hati miliknya.


“Betul. Senjanya cantik.”


“Lo lebih cantik daripada Senja,” kata Semesta.


Keduanya terdiam sekarang. Semesta merutuki dirinya sendiri akibat hal yang ia ucapkan barusan dan Sastra yang membuang muka menahan peran warna merah muda itu untuk menjalar di pipinya.


“Gak, maksud gue— “


“Makasih, Kak. Dari sekian banyak orang yang aku kenal, cuma ada 3 orang yang muji aku cantik. Kak Semesta adalah orang ketiga itu,” ucap Sastra.


“Yang pertama sama kedua pasti papa sama mama lo, kan?”


“Haha, bukan. Yang pertama itu Kak Kala, kakak aku. Yang keduanya, Arumi.”

__ADS_1


“Orang tua lo?”


“Engga.”


Semesta mengerutkan dahinya. Rasa penasaran menjalari dirinya. Kemudian mengenggam lagi tangan Sastra. Genggaman kali ini cukup kuat untuk sekedar menggenggam. Semesta seakan menyalurkan semua kekuatan yang ia miliki untuk Sastra.


“Gue mohon, Sas. Tolong jangan sungkan ceritain semuanya ke gue. Atau lo mau ceritain beberapa aja boleh, kok. Gue cuma gak mau lo ngerasa sendiri terus-terusan,” ujar Semesta.


“Emang nyatanya aku selalu sendiri, Kak. Bahkan Arumi yang paling deket sama aku aja gak aku ceritain masalah keluarga aku. Dan aku gak tau bisa terbuka atau engga sama kakak,” kata Sastra.


“Gue udah pernah bilang, gue ada terus sama lo. Lo pasti bisa buat terbuka sama gue atau Arumi. Lo hanya perlu belajar percaya ke orang terdekat lo. Semakin lo pendem masalah lo, semakin sakit buat dikeluarin,” kata Semesta.


Benar yang Semesta bilang. Sastra hanya kesepian dan butuh teman untuk bercerita. Ia ingin beban dalam dirinya terlepas dengan membagi cerita kepada orang lain. Ralat, orang yang ia percaya. Ia membalas genggaman Semesta dan menyenderkan kepalanya di dada Semesta.


“Mau cerita ke gue?” Tanya Semesta meyakinkan dan dibalas anggukan oleh Sastra.


Entah bagaimana Semesta menggambarkan perasaannya kali ini. Ia berhasil membujuk gadis mungil itu dan bersedia menjadi tempat pulang ketika Sastra merasa lelah dengan hari-harinya.


Ya, Semesta menyayangi Sastra. Bukan sebagai adik kelas, tapi sebagai seorang gadis. Perempuan kedua yang mampu menghangatkan hatinya setelah bundanya.


Ia akan menyatakan perasaannya lain kali, mungkin. Kini yang harus ia lakukan adalah membantu Sastra perlahan membuang rasa lelahnya.


“Sekarang masih mau di sini atau pulang? Kebetulan udah terlalu sore juga,” ajak Semesta.


“Aku gak mau pulang,” ucap Sastra.

__ADS_1


“Hm? Kenapa? Tapi ini udah sore juga, kenapa gak mau pulang?” tanya Semesta.


Sastra menggeleng, “Aku takut. Nanti mama pukul aku lagi. Gak mau.”


“Dipukul?” Semesta menggulung lengan baju Sastra. Ia baru ingat waktu di UKS, ia tak jadi mengobati Sastra. Raut wajahnya terlihat kaget dan tak menyangka. Tangan putih itu dipenuhi bercak biru keunguan dan ada di sekujur lengannya.


“Sas?”


“Iya. Dipukul mama sama papa.”


“Lo diem aja, Sas? Kenapa gak ngelawan?” Tanya Semesta khawatir.


“Aku terlalu lemah, Kak. Udah sering aku coba ngelawan. Dan ya, semakin aku ngelawan, semakin sakit pukulannya.”


“Sakit banget, ya, Sas? Sejak kapan lo…. Begini?”


“Dari kecil,” jawab Sastra sambil terkekeh kecil.


“Harusnya aku udah terbiasa. Tapi semakin ke sini, justru aku semakin sakit. Aku semakin cengeng. Lemah. Makin gede, malah makin lemah,” kata Sastra.


“Udah, hei… Sas. Kalo lo lemah, lo gak mungkin masih ada sampe di titik ini. Artinya, hati lo masih pengen lo kuat hadapin ini. Tuhan tau lo bisa, Sastra. Kalo lo gak bisa, Tuhan gak mungkin ngebiarin lo hidup sampe sekarang,” ucap Semesta.


“Sekarang lo boleh nangis, lo boleh marah, lo boleh teriak sekenceng-kencengnya. Selama lo sama gue, lo boleh keluarin emosi lo. Lo gak sendiri, Sas. Gue ada sama lo,” lanjutnya.


“Sini peluk.”

__ADS_1


__ADS_2