RUMAH UNTUK SASTRA

RUMAH UNTUK SASTRA
O6


__ADS_3

Semesta membonceng Sastra menggunakan sepeda miliknya. Mereka membicarakan hal-hal santai dan bersenda gurau. Udaranya terbilang sejuk pada sore ini. Tak lupa sang angin seakan menjalankan tugasnya untuk mengelus lembut kulit dua insan itu.


Tak terkecuali rambut Sastra. Terlihat cantik kibasan rambutnya dengan wajah cantik natural milik Sastra. Pupil mata coklat bulat sempurna, bibir merah muda tipis, pipi merona, bulu mata melentik, dan alis tebal membuat senja pun meredup memandanginya di atas sana.


“Sampe sini aja, Kak.”


“Ini rumah lo? Gede banget, Sas.”


“Haha, iya. Tapi sepi, buat aku.”


Sastra menurunkan kaki kirinya kemudia kaki kanannya. Ia berhati-hati sambil memegang pundak Semesta.


“Pelan-pelan,” kata Semesta.


“Hati-hati, Sas. Kalo ada apa-apa, lo boleh chat atau telfon gue langsung. Jangan pendem apa-apa. Kasih tau gue,” lanjutnya.


“Tenang, Kak, gapapa. Kakak pulangnya hati-hati. Aku titip salam buat orang rumah, ya,” ucap Sastra.


“Iya. Lo juga langsung istirahat.”


Semesta kembali mengayuh sepedanya. Meninggalkan Sastra sendirian sedang merasa gugup dan takut untuk memasuki rumah.


“Tolong aku, Tuhan,” ucap Sastra.

__ADS_1


Dengan langkah perlahan ia memasuki rumahnya. Degup jantungnya semakin kencang saat tangannya telah memegang knop pintu. Hatinya tak karuan. Ini memang salahnya karena pergi tanpa izin ke sang mama. Melainkan meminta izin ke Kala yang bahkan belum pulang dari kerja kelompoknya.


Setelah berhasil memberanikan diri membuka pintu, Sastra memasuki ruang tamu. Terlihat sepi. Ia menghela nafas lega. Untuk kali ini sepertinya ia aman.


“Darimana kamu?” jantung Sastra kembali berdegup cepat saat mendengar suara itu. Suara Ressa. Seperti biasa, tangannya memegang mistar keramat itu lagi.


“A-aku, taman. Ya, ya aku tadi ke taman,” gugup Sastra.


“Saya memangnya sudah mengizinkan kamu bergaul dengan laki-laki, Sastra?”


Sastra menggeleng cepat. Tangannya masing-masing mengepal disamping tubuhnya. Ia menunduk ketakutan. Ia tak takut terhadap mistar itu. Yang ia takuti adalah raut wajah Ressa saat sedang menghukumnya. Seakan tak ada ampunan untuk Sastra. Ressa akan terus memukul Sastra hingga ia puas menghukum anak bungsunya itu.


“Kamu memang tidak bisa mematuhi aturan yang saya dan papamu buat, ya? Kami harus gimana lagi agar kamu paham?” tanya Ressa sambil mengangkat mistar di tangan kanannya itu. Dengan Sastra yang coba untuk menepis, justru pukulan itu semakin diperkencang Ressa.


“Sakit, Mah,” rintih Sastra.


Hukuman itu masih terus berlanjut. Melemahkan Sastra dengan banjirnya air mata. Ia terus memeluk kakinya sambil menangis kesakitan. Tubuhnya sudah sangat lemas. Memar biru-keunguan itu memenuhi kulit putih milik Sastra. Luka yang masih basah, kini ditimpa lagi dengan luka baru.


***


“Sas, kakak boleh masuk?” tanya Kala di luar kamar. Sastra buru-buru menutupi lengan dan bagian tubuhnya yang memperlihatkan lebam.


“Masuk aja, Kak.”

__ADS_1


“Kakak beliin kamu donat vanilla. Kamu mau—“ Kala menghentikan omongannya saat melihat Sastra tersenyum dengan bibir pucat dan memeluk kakinya di atas kasur. Ia menghampiri adiknya dan mengecek suhu kening Sastra.


“Kamu sakit, Sas? Kamu udah makan? Minum obat?” tanya Kala tak sengaja menggeggam lengan atas Sastra.


“Argh, kakak. Sakitttt” rintihnya. Kala menggulung baju Sastra dan menutup mulutnya tak percaya. Kesekian kalinya Sastra seperti ini, pikir Kala. Tapi inilah yang paling parah. Darah, nanah, dan lukanya belum kering.


“Mamah?”


“Iya.”


“Obatin dulu, ya. Abis itu donatnya dimakan. Kamu belum makan, kan?” Seperti biasa, Kala mengambil kotak P3K dan mengeluarkan semua yang ada di dalamnya.


“Kenapa gini lagi? Ke taman?”


“Iya.”


“Loh, kok bisa sampe gini? Biasanya juga kan mama iya iya aja kalo kamu ke taman.”


“Aku pulangnya dianter Kak Semesta, hehehehehehe.”


“Astaga. Cuma nganterin kamu pulang sampe diginiin sama mama. Kakak juga gak habis pikir sama mama atau papa sekaligus. Aku udah sering tanya kenapa kita diperlakukan beda. Tapi mereka selalu bilang ‘Kamu gak akan paham, Kala’.”


Sastra menunduk dan berfikir. Mungkin ada alasan dan rahasia besar mengapa orang tuanya membedakan cara berperilaku antara Kala dan Sastra. Tapi kenapa? Sastra juga anak pada umumnya, Yang hanya ingin orang tuanya ada bersamanya. Bukan hanya raga, tapi juga jiwa.

__ADS_1


“Selesai! Nah, sekarang kamu mam donatnya. Kakak mau rapihin ini terus ganti baju. Jangan lupa sikat gigi sama cuci muka sebelum tidur nanti,” ucap Kala dan mendapat anggukan dari Sastra.


Terkadang Sastra merasa memiliki rumah dalam diri kakaknya. Tapi juga terkadang, ia merasa benci ketika melihat bedanya perlakuan Ressa kepada Kala. Sastra menganggap Kala sebagai rumah, tapi rumah yang jangka waktu mengusir penghuninya sendiri.


__ADS_2