
Pagi ini, Sastra cukup kesiangan untuk pergi ke sekolah. Sial, dia lupa menyalakan full volume ponselnya. Alarm yang ia pasang untuk pukul 05.30 tidak berdering sama sekali. Untung ada Kala. Ia sadar adiknya belum terlihat di ruang makan. Jika Kala lihat-lihat lagi, Sastra adalah orang paling awal yang bangun setiap harinya.
“Pagi, Rum,” sapa Sastra.
“Telat? Gue kira lo gak masuk atau izin gitu hari ini. Mata lo juga rada bengep, Sas. Lo nangisin apa?” Sastra terlihat gugup untuk menjawabnya. Ia mencoba mengucek-ngucek matanya.
“Aku gak nangis.”
“Boong banget. Lo gak mau cerita apa-apa ke gue, kenapa, sih? Gue bukan temen lo?”
“Gak gitu, Rum. Aku, aku cuma gak mau kamu dengerin hal-hal gak penting dari aku. Lagipula yang terjadi sama aku juga gak seberat itu,” kata Sastra.
“Kalo gitu, gue pengen lo cerita sekarang.”
“Tapi, Rum— “ Arumi yang tak tahan dan agak memaksa kemudian memukul pelan pundak Sastra, membuat Sastra meringis.
“Kenapa?” Tanya Arumi penasaran. Ia meyakinkan dengan mencoba memegang pundak Sastra sekali lagi.
“Ih, Arumi! Jangan pegang-pegang.” Arumi tak menghiraukan. Ia menggulung seragam Sastra di bagian lengan, lalu menutup mulut tak percaya. Sastra langsung menutupnya kembali. Beralih menatap Arumi yang matanya mulai berkaca-kaca.
“Rum, kamu nangis?”
“Ke-kenapa…. Sejak kapan?”
“Arumi.”
“Sastra… kenapa?”
“Mama sama papa sering pukulin aku pake mistar. Ya… mungkin mereka punya alesan ngelakuinnya. Tapi aku gak tau kenapa perlakuan ke aku dan ke kakak jauh beda. Rum, aku udah ngalamin ini dari kecil. Tapi entah kenapa aku selalu takut dan terus nangis. Bukannya aku udah terbiasa, ya?” Arumi memeluk Sastra tanpa memperdulikan bahwa Sastra juga kesakitan karena ia peluk.
“Lo udah terbiasa, Sas. Tapi jiwa lo yang masih gak menerima itu semua. Mungkin hati lo selalu bilang ‘gapapa, terusin aja’, tapi engga sama jiwa lo. Dia selalu nolak dan dorong lo buat ngelawan sakitnya. Makanya kenapa lo selalu aja nangis padahal lo udah terbiasa, karena jiwa dan perasaan lo gak selemah itu buat menerima perlakuan mereka,” saut Semesta dari belakang Sastra membuat Arumi melepaskan tautan peluk mereka.
“Ngapain pelukan gitu? Kayak lesbi aja lo, segala nangis lagi,” sindirnya untuk Arumi.
“Apaan, sih, orang,” balas Arumi.
“Emang.”
“Hahaha, udah-udah. Sebentar lagi bel jam pertama bunyi, tuh. Kak Semesta ada apa ke sini?” tanya Sastra.
“Ini. Ada titipan dari bunda.”
“Wah! Pasti enak ya masakan bunda. Kapan-kapan aku mau ketemu bunda, boleh gak, Kak?”
“Boleh.”
“Janji?” tanya Sastra dan dibalas anggukan.
“Ekhem,” tegur Arumi. Keduanya lalu menatap Arumi secara bersamaan. Arumi yang tadinya ingin mengganggu, justru ia yang dibuat salting dengan cara ditatap begini. “Ih, apaan, sih liat-liat gitu? Tuh, udah mau masuk. Sana, Kak. Kita beda kelas. Lo kan orang tua.”
“Lesbi.”
“APA LO BILANG, HAH?!”
“Hei, udah. Kak, balik ke kelas, ya. Oh ya, makasi titipannya. Ayo, Rum.”
***
__ADS_1
Bel istirahat telah berdering. Kumpulan siswa-siswi itu bersegera meninggalkan kelas dan menuju ke kantin.
“Ke bawah?”
“Engga, deh, Rum. Aku makan titipan bunda aja. Kamu mau gak?”
“Engga juga deh. Lo abisin aja. Makan deh yang banyak. Gue tinggal ke bawah, ya,” ucap Arumi lalu pergi keluar kelas meninggalkan Sastra sendiri. Tidak. Ada Yara juga, tapi kali ini ia tak bersama Sandra.
“Bocah sok pinter!”
Yara berdiri dari duduknya dan menghampiri Sastra yang baru saja membuka makanannya. Yara kemudian membanting bekal itu ke sembarang arah dan memukul Sastra. Ia menjambak dan menarik seragamnya.
“Lo jadi cewe kecentilan banget, sih. Deketin kakak kelas yang gue suka. Semesta itu calon pacar gue, asal lo tau! Gue mau, mulai sekarang jangan coba-coba berinteraksi sama Semesta. Atau orang tua lo, gue libatin dalam hal ini,” ancam Yara.
Sastra tak bisa berbuat apa-apa jika Yara berani melibatkan orang tuanya. Status mereka terbilang jauh. Kedua orang tua Sastra hanya sebagai pegawai perusahaan, sedangkan orang tua Yara adalah pemilik perusahaan dan merupakan donator sekolah mereka.
“Sas, lo—? ASTAGA! LO APAIN SASTRA, YARA?!” Yara reflek melepas tarikkan bajunya pada Sastra. Ia tergagap-gagap menatap Semesta maupun Sastra.
“Eng…engga! Aku gak apa-apain dia, Ta!” Semesta berlari menghampiri Sastra yang terlihat sesak. Ia memegangi dadanya berkali-kali sembari menepuknya pelan-pelan.
“Dasar orang jahat. Ayo, Sas!”
“Semesta, tunggu! Argh. Sialan lo, Sastra!”
Semesta terus menggandeng tangan Sastra hingga sampai di kantin dan menghampiri meja Arumi.
“Lo ninggalin Sastra di kelas sendirian, Rum?” tanya Semesta.
Arumi yang masih mengunyah makanan pun terhohok mendengar tuduhan itu, “Hah? Kenapa?”
“KENAPA? SASTRA DIAPAIN LAGI, HAH?! KAN GUE UDAH NGAJAK LO YA ANJIR. AKH, NGAPA GAK IKUT AJA KE KANTIN, SI PAOK!” Kesal Arumi membuat Sastra dan Semesta sedikit terkekeh.
“Malah haha hehe haha hehe. Terus gimana tuh nenek rombeng? Jujurly aja ni ya, gue rasanya pengen ngelaporin dia ke BK. Tapi, Ta. Ni cewe kesayangan lo ini selalu bilang, ‘Jangan, Rum. Gak usah.’ Nah, mending lo bujuk dah tuh”
Benar. Sastra terlalu takut untuk melawan. Semesta terdiam sejenak dan tiba-tiba ide muncul dalam pikirannya.
“Gue ada cara. Sekarang lo berdua tunggu di depan ruang BK. Gue mau ke ruang TU, nanti gue nyusul. Arumi, gue titip Sastra. Kalo bisa, tolong beliin roti dulu, gue tau dia belom makan. Nanti duit lo, gue ganti.”
***
Semesta meminta izin kepada petugas TU untuk mengecek CCTV di kelasnya Sastra. Dengan susah payah ia membujuk petugas hingga akhirnya diizinkan.
Semesta meminta video Yara dan Sastra tadi dikirim lewat e-mail milik Semesta untuk dijadikan barang bukti. Setelah selesai, Semesta berlari ke arah ruang BK. Sungguh sangat amat kebetulan, ia bertemu lagi dengan Yara dengan wajah tak tahu berdosanya.
“Ikut gue,” Yara yang tak mengetahui apa-apa hanya mengikuti. Di depan ruang BK terlihat Arumi dan Sastra yang masih memegang rotinya.
“Ayo masuk,” ajak Semesta. Mereka menuruti ajakan Semesta, tak terkecuali Yara. Entah apa yang ia pikirkan hingga belum sadar bahwa ia dibawa masuk ke ruang BK.
“Assalamualaikum, permisi.”
“Semesta. Ada apa. Nak?”
“Kasus pembullyan yang dilakukan oleh Yara terhadap Sastra, Bu.”
Yara langsung tersadar dan mengerutkan dahinya, wajahnya tampak kesal. Dan ia mengelak, “Apaan, sih. Aku gak pernah bully Sastra, ya. Tanya aja Sastra.”
Atensi beralih ke Sastra seraya meminta jawaban. Namun, Sastra hanya menunduk, tak mengeluarkan satu dua patah kata.
__ADS_1
“Kalo Sastra gak mau jawab, gue udah simpen bukti. Silahkan diliat, Bu,” ucap Semesta menyerahkan ponselnya.
Yara tampak tegang dan mengeluarkan keringat dingin, tubuhnya gemetar, “Yara, ibu akan menghubungi orang tua kamu,” wajah Yara menjadi pucat, ia meremas roknya sendiri hingga kusut sebagian.
Tak berselang lama, ibunda dari Yara datang menghadap ke ruang BK. Dengan pemanpilan ala-ala kantoran membuat siapa saja yang meilhatnya ingin memujinya. Ia berpenampilan dengan elegan. Namun, tampilan formal seperti itu tak melunturkan senyum pada wajahnya. Wajah ibunda Yara memang sedikit bertolak belakang. Yara memang cantik, tapi wajahnya terlihat kurang ramah.
“Selamat pagi, Bu.”
“Iya, selamat pagi juga, Bu Yessa.”
“Ada apa memanggil saya ke sini? Ini juga kok anak-anak pada di sini, gak belajar?” tanya Yessa—ibunda Yara.
Bu Sarah selaku guru BK memberi kesempatan Semesta untuk menjelaskan apa yang terjadi, “Maaf sebelumnya, Bu Yessa. Tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada Ibu Yessa, saya ingin mengadukan kasus pembullyan yang dilakukan terhadap Sastra,” jelas Semesta.
Ketiga gadis itu terdiam di tempat masing-masing. Namun, berbeda dengan Sastra dan Arumi, Yara jsutru terlihat semakin panik. Apalagi Semesta mulai memberikan bukti video yang ia dapat dari rekaman CCTV.
“Yara. Benar, Nak?” tanya Yessa.
“Aku punya alasan ngelakuin itu, Ma!”
“Sastra salah apa memangnya sama kamu?”
“Dia… Argh! Dari kelas 10 dan semester 1, kenapa dia terus yang ada di peringkat pertama, Mah. Yara cuma bertahan di peringkat 2. Kenapa, Ma?! Dia juga deketin Semesta, cowo yang Yara suka. Yara gak mau, Ma!"
Sastra masih menunduk dan sesekali menghela nafas. Ia bahkan tak memiliki dendam pada Yara atas apa yang Yara lakukan padanya selama ini. Dan soal Semesta, Sastra juga tak mengetahu perihal perasaan Yara. Sastra juga tak pernah berniat mendekati Semesta.
“Nak, Sastra anak yang baik. Mama juga gak pernah ngajarin kamu untuk merundung anak lain. Yara, yang harus kamu lakukan adalah melihat diri kamu dan meningkatkan potensi diri kamu. Jika kamu merasa iri sama Sastra, artinya kamu tidak menerima diri kamu sendiri, Nak. Mama minta maaf. Karena kesibukkan mama atau papa membuat kamu menjadi seperti ini,” ucap Yessa.
“Maaf,” kata Yara. Semuanya menatap ia sekarang.
“Sastra, gue minta maaf. Kalo boleh sombong, gue juga lebih baik dari lo, kan?” Sambungnya menggunakan gelagat bercanda untuk mencairkan suasana, mereka terkekeh mendengarnya.
“Lo mah pea, Yar,” ujar Arumi.
“Arum!”
“Haha, iya maaf maaf. Terus abis ini gimana, nih?”
“Bu Yessa, kami mohon tindak lanjutannya supa— “
“Aku mau pindah sekolah aja, Ma. Ya, itung-itung sebagai permintaan maaf dan mencegah rasa traumanya Sastra,” bagai sulap, omongan Yara barusan mampu membuat mereka terkesima.
“Tapi, Yar, orang tua kamu, kan…”
“Salah satu pendonatur. Gue tau, tapi kan gak bikin gue menetap di satu sekolah yang pendonaturnya orang tua gue. Tenang, Sas. Kalo kangen, just call me. Haha. Ni nomor gue. Sekali lagi gue minta maaf banget, ya.”
***
Hari demi hari Sastra jalani sepenuhnya. Soal perpindahan Yara, dia benar-benar pindah ke sekolah lain. Sebelum Yara, Sandra bahkan lebih dulu mengurus perpindahan sejak 3 bulan lalu. Kehidupan Sastra di sekolah menjadi lebih baik saat ini. Setidaknya, ia berhasil melawan satu penderitaan dengan bantuan Semesta dan Arumi.
“Sastra,” panggil Arumi. Sastra menengok dan tersenyum. Ya… Entah mengapa, Arumi dan Semesta merasa bahwa Sastra telah merasakan kebebasan walau hanya 50% saja.
“Halo, Arum,” balasnya.
“Enak deh liat lo senyum begini. Adem gitu.”
“Syukur deh, Rum. Ini kan juga berkat kamu sama Kak Semesta.”
__ADS_1