RUMAH UNTUK SASTRA

RUMAH UNTUK SASTRA
1O


__ADS_3

Sabtu pagi ini memancarkan hawa yang cukup bagus. Sesuai janji Semesta saat itu, ia akan membawa Sastra bertemu dengan bundanya. Akhir-akhir ini Semesta memang sering menceritakan sosok Sastra pada sang bunda.


Namun, tak mengurangi kepercayaan yang Sastra berikan, Semesta tidak menceritakan masalah rumah Sastra pada bundanya tanpa seizin Satra.


Semesta mengendarai sepedanya ke Taman Senja. Ia memang menyuruh Sastra menunggu di sana. Selain bisa melihat danau di taman, cara ini juga bertujuan untuk mencari aman dari orang tua Sastra.


“Sastra!” Panggil Semesta.


“Kak Semesta!” Balasnya melambai.


“Ayo naik. Bunda nungguin lo banget di rumah, dia masak banyak juga.”


“Wah, beneran?” Tanya Sastra. Semesta terkekeh lalu menganggukan kepalanya.


Mereka berangkat menuju rumah Semesta berboncengan menggunakan sepeda. Kadang Sastra tak mengerti, sebenarnya hubungan mereka ini apa dan bagaimana. Sastra tak akan mengklaim dirinya sebagai kekasih Semesta karena Semesta sendiri tak pernah menanyakan perasannya. Jika orang lain melihat mereka dalam keadaan seperti ini, mungkin orang-orang itu akan berfikir ‘Pasangan yang sangat sederhana tapi romantis sekali’.


Tak berselang lama, mereka telah sampai di tujuan. Sastra menuruni sepeda dan menunggu Semesta memarkirkan sepedanya. Sastra tak bisa menahan rasa gugupnya. Walaupun ia yang ingin bertemu, tapi tetap saja ‘bunda’ adalah orang asing baginya.


“Ayo. Jangan gugup, bunda gak gigit kok,” ledek Semesta.


“Ih jangan gitu!.”


“Bunda,” panggil Semesta. “Ata bawa calon mantunya bunda,” lanjutnya.


Sastra tak bisa menahan dirinya kali ini. Tangannya bergemetar dan pipinya memerah.


“Anak bunda! Wah, bawa Sastra, ya? Cantiknya.”


“Hehe, makasih, Bunda. Bunda juga cantik banget,” tidak dapat dipungkiri visual dari bunda sungguh membuat Sastra terdiam sejenak.


“Ayo, Nak. Masuk dulu,” ajak bunda. “Bunda masak banyak, loh, buat kamu. Seneng banget pas tau kamu mau ketemu bunda.”


Nyawa Sastra sepertinya akan lenyap saat ini juga. “Kamu berapa lama pacaran sama Semesta, Nak?”


Deg! Sastra mengalihkan tatapan sinis pada Semesta seakan meminta jawaban. Sedangkan Semesta, ia tersenyum sambil menaggaruk lehernya padahal tak gatal.


“Anu, Bun…”


“Baru-baru ini, Bun. Aku nembak dia di taman, waktu itu. Wong dia juga meluk-meluk aku,” ucap Semesta.


“Apa deh, engga ya. Kamu ngarang.”


“Gemes banget ya kalian. Kamu tau, Sastra? Semesta banyak cerita soal kamu. Dia selalu bilang ‘Cewe aku cantik banget, Bun. Sastra tuh lucu banget, aku sayang dia.’ Dia bahkan nunjukkin foto paparazzi kamu yang dia ambil diem-diem. Walaupun blur, tapi terlihat jelas wajah cantik kamu, Nak.”


Kedua pemuda-pemudi itu sama-sama terlihat salting. Sastra juga tak akan menyangka bahwa Semesta akan sejauh ini menyukainya.

__ADS_1


“Bunda mah buka kartu!”


“Loh, kenapa? Jadi orang kok saltingan,” sindir bunda.


“Ayo dimakan, Sastra. Ajakin makan cewenya dong, Ta. Kamu gak peka banget jadi cowo. Bunda ke dalem dulu, ya. Kalo makanannya kurang, just call me, okay kids.”


“Iya iya. Makan, Sas. Bunda emang gitu, biarin aja.”


“Kamu sayang aku, Kak? Sebagai apa?”


“Kamu. Gue suka lo karena itu lo, Sastra Jayashri.”


***


“Kak, Papa udah 2 hari keluar kota, dia kasih kabar, gak?” Tanya Sastra.


“Enggak. Iya juga, ya. Apa papa sesibuk itu sampe gak sempet pegang hp?” Ucap Kala.


Terdiam sejenak, Kala memiliki ide untuk bertanya pada Ressa. Setidaknya, Rendra pasti memberitahukan kegiatannya lewat Ressa.


“Mah, papa gimana?”


“Dia katanya balik hari ini, Kak. Emang kamu atau adik kamu itu gak dapet kabar?”


“Anak mama juga itu. Engga ada kabar sama sekali dari papa,” ucap Kala, kemudian kembali lagi ke kamar Sastra meninggalkan Ressa yang asyik menonton televisi.


Sudah berjam-jam mereka menunggu. Tak hanya Kala dan Sastra, Ressa juga sedang resah menunggu suaminya pulang. Sudah hampir menjelang maghrib, tapi tak ada kabar lanjutan dari Rendra.


“Berita Terkini : Pesawat Garuda Indonesia yang ditumpangi lebih dari 70 penumpang dikabarkan jatuh dari ketinggian 3.450 kaki. Cuaca berawan ekstream dan sambaran kilat dahsyat menjadi penyebab pesawat ini lepas ****** dan kendali. Infonya, pesawat ini akan mendarat dari Sumatera Utara ke Jakarta malam hari ini. 50 orang dikabarkan tewas dan sisanya mengalami luka berat. Untuk setiap korban, pihak keluarga akan dihubungi pihak berwajib pada malam ini juga.”


Ketiga perempuan di rumah itu nampak tak percaya dengan hal yang diberitakan. Rendra ada dalam pesawat itu. Perjalanan pulangnya terlambat karena hal ini. Mereka menangis memegangi dadanya masing-masing menahan rasa sesak.


“Gak mungkin, Rendra pasti masih hidup,” keluh Ressa.


“Mama….”


Tringggg


Dering telepon rumah itu berbunyi berkali-kali. Ragu dari mereka untuk menjawab panggilannya.


“Halo, selamat malam, dengan siapa?” Tanya Kala mengusap air matanya.


“Benar dengan keluarga dari Rendra Aksara?”


“Iya, Pak! Bagaimana keadaan papa saya? Dia baik-baik aja kan, Pak? Saya mau bicara sama papa saya!” Jawab Kala gegabah.

__ADS_1


“Mba, harap tenang dan tabah. Tuan Rendra mengalami luka berat dan tidak sadarkan diri. Untuk saat ini, pihak berwajib sedang memindahkan para korban ke Rumah Sakit Lentera Bunda. Kami mohon untuk kehadiran keluarga.”


“Baik, Pak,” Kala memutuskan sambungannya, lalu memanggil Sastra dan Ressa untuk bersiap.


Tak berselang lama, mereka sampai di rumah sakit. Sangat ramai keadaannya membuat mereka susah mengantri mencari nama pasien dalam daftar.


“Rendra Aksara. Kami pihak keluarganya.”


“Baik, tunggu sebentar. Pak Rendra ada di ruang nomor 215.”


“Terima kasih.”


Sastra hanya terdiam menggandeng tangan Ressa. Walau Sastra merasa takut, setidaknya ini bisa menenangkan Ressa. Mereka berlari kecil melawati tiap kamar di koridor, menaikki lift dan berlari kecil lagi hingga sampai di kamar 215. Terlihat Rendra terbaring lemas di sana dengan beberapa jumlah infusan menutupi bagian tubuhnya. Detak jantungnya nampak normal, tapi ia belum mampu menyadarkan diri.


“Papa! Pa, bangun!” Teriak Kala. Ressa menutup mulut dan menangis sejadi-jadinya. Mereka tak akan menyangka bahwa musibah semacam ini akan menimpa Rendra.


“Mas Rendra!” Ucap wanita yang tiba-tiba masuk. Kedatangannya membuat Ressa geram, kemudian mendorongnya. Ressa dan Kala tahu siapa dia, kecuali Sastra. Ia masih terpaku kebingungan dengan kedatangan wanita tak dikenalnya itu.


“Ini semua gara-gara kamu dan anak sialan kamu itu, Riska! Wanita ******!”


“Jaga omongan kamu, Ressa. Kamu boleh menyalahkan aku, tapi jangan bawa-bawa Sastra!” Sastra semakin bingung dengan keadaan ini, termasuk Kala.


“Kenapa memangnya? Dia memang anak haram pembawa sial yang lahir dari rahim wanita pelacur seperti kamu!”


Plak!


“Mama!”


“Demi Tuhan, Ressa. Aku hamil ketika aku belum mengetahui bahwa Rendra telah memiliki keluarga. Hamil di luar status pernikahan memang kesalahanku, tapi bukan berarti Sastra adalah pembawa sial. Sastra seharusnya tinggal sama aku, tapi Rendra merebutnya dan dia bilang mau menjamin biaya hidupnya,” jelas Riska membuat mereka terdiam sejenak untuk memahami.


“Pada saat setelah 3 bulan kelahiran Sastra, kami menikah secara siri,” lanjutnya. Ressa lagi-lagi diselimuti emosi, kemudian terpaksa meredamnya dalam-dalam.


“Apa maksudnya? Aku-a-aku, gak, ini pasti boong. Mah, aku anak kandung mama, kan? “ Sentak Sastra.


“Saya bahkan tidak pernah mengakui bahwa kamu adalah putri saya, Sastra Jayashri. Kamu tau kenapa saya sangat benci denganmu? Karena setiap kali saya melihat mata itu, saya teringat mata wanita ini! Saya benci kalian berdua. Saya hanya memiliki satu anak dalam hidup saya.”


Sungguh, alur hidup ini sangat aneh dan penuh kejutan. Tak hanya bagi Sastra, tapi juga bagi Kala.


“Ja-jadi, Sastra anak kandung dari tante Riska?” Tanya Kala dan diangguki oleh Riska.


“Sastra, kamu boleh benci ibu, kamu boleh marah sama ibu karena ini semua memang kesalahan ibu. Tapi ingat satu hal, Nak. Kamu bukan bagian dari kesalahan itu,” ucap Riska mengusap air mata Sastra.


Bukannya marah, Sastra justru memeluk Riska dengan erat. Ia menangis. ‘Tuhan. Sastra harap selapas ini, Sastra bisa merasakan kasih sayang seorang ibu dari ibu kandung Sastra sendiri.’


“Sekarang kamu juga udah tau alasannya, kan, Kala? Alasan perlakuan mama ke kamu dan Sastra berbeda.”

__ADS_1


Kala ingin marah, rasa kesal muncul pada hatinya. Namun, memorinya kembali pada masa-masa iya melihat dan menolong Sastra saat diperlakukan kasar oleh orang tuanya sendiri.


“Aku tau. Tapi aku gak akan benci Sastra, Ma. Terlepas dari kasus perselingkuhan yang dilakukan papa, Sastra tetep adik aku. Dia dan aku lahir dengan hubungan darah yang sama dari papa,” pernyataan Kala membuat Ressa memutar bolanya malas dan bergegas mengecek kembali keadaan Rendra.


__ADS_2