
Waktu demi waktu telah berlalu. Setelah mendapat kabar, Semesta datang untuk menjenguk keadaan Rendra. Sudah hampir berjam-jam mereka menunggu namun tak ada perubahan dari kondisi Rendra.
“Kamu pacarnya Kala, Nak? Atau Sastra?” Tanya Riska. Pada Semesta.
“Sastra, Bu,” jawabnya.
Riska menghadap ke arah Sastra yang tertidur lelap pada pundak Kala. Wajahnya terlihat pucat dan matanya menjadi sembab. Bertahun-tahun lalu semenjak Rendra mengambil Sastra darinya, yang ia rasakan hanya mengkhawatirkan putrinya.
“Siapa namamu, Nak?”
“Semesta.”
“Semesta? Bagus sekali namanya. Begini Semesta, banyak hal yang sudah Sastra lalui selama ini. Saya sangat tau bahwa hidup di keluarga yang sekarang adalah mimpi buruk untuk Sastra. Lebam yang tampak pada lengannya menyadarkan saya, bahwa saya harus melawan ayahnya Sastra demi membawanya kembali pada saya, ibu kandung Sastra,” jelas Riska membuat Semesta.
“Ma-maksud ibu?”
“Iya, dia anak tirinya Ressa dan anak kandung saya. Saya mengandungnya saat belum mengetahui bahwa Rendra telah berkeluarga. Ini kesalahan saya karena menerima benih Rendra di luar status pernikahan. Tapi, Sastra tak ada sangkut pautnya dengan ini semua. Dia hanya anak polos yang mendapat alur rumit dalam hidupnya,” ujar Riska.
“Semesta, saya mohon agar kamu cintai Sastra sebagaimana ia menerima takdirnya sendiri. Jika setelah mendengar ini, kamu merasa Sastra tak pantas untuk kamu, bilang ke saya dan jangan beritahu Sastra. Itu adalah hal menyakitkan bagi seorang perempuan, Apalagi Sastra tak pernah mendapat kasih sayang dari kedua orang tuanya,” lanjutnya.
“Saya menyayangi Sastra. Saat pertama kali saya tatap mata itu lagi, banyak kata harap di dalamnya. Sastra tidak lemah ataupun rapuh, dia adalah gadis yang hebat karena berhasil menjalani hidup hingga saat ini,” ucap Semesta.
“Dengan keluarga Pak Rendra? Silahkan masuk ke dalam, Pak Rendra telah siuman,” kata dokter.
Ressa dan Riska yang memutuskan untuk masuk ke ruangan, membiarkan anak-anak beristirahat di kursi koridor. Saat itu juga Sastra bangun dari tidurnya dan menghadap samping kiri yang ternyata ada Semesta sedang mengelus lembut rambutnya.
“Udah bangun, anak kecil?”
“Ummm, kamu ngapain di sini?”
“Jengukin calon papa mertua,” tutur Semesta. Sastra membenarkan posisinya menjadi tegak dan kemudian menyender. Ia melihat Kala, ternyata juga tertidur.
“Kamu dapet kabar dar—?”
“Kala.”
“Kalo mau tidur lagi, nyendernya ke sini aja. Kasian Kala pegel, tuh,” kata Semesta menepuk-nepuk pundaknya.
“Ka-kamu, habis ini rencananya gimana, Sas?” Tanya Semesta hati-hati.
“Tumben banget pake ‘kamu’. Rencana apa? Ah, ibu ya. Kamu tadi ketemu dia, Kak?”
“Lo-gue terlalu kasar, anak kecil kayak gini gak pantes dikasarin.”
“Ih, jawab!”
“Haha, iya iya. Ibu kandung kamu bahkan udah ceritain semuanya. Makanya aku nanya, kamu abis ini mau ke mana? Ikut ibu atau tante Ressa?”
“Aku mau ikut ibu. Keputusan ini emang akan mengasingkan hubungan aku dan keluarga mama. Tapi aku gak mau disiksa terus di rumah itu. Toh, aku masih bisa komunikasi sama Kak Kala.”
“Pinter. Akhirnya kamu bisa ngelawan rasa sakit kamu sendiri, Sas. Kenapa gak dari dulu, mungkin kamu takut untuk mengambil keputusan. Tapi pada akhirnya, Tuhan selalu punya solusi.”
__ADS_1
***
“Mas, aku akan bawa Sastra. Maaf kalau kesannya aku sedikit memaksa. Tapi kali ini aku gak mau lepas dia lagi,” pinta Riska.
“Aku mengizinkan. Ris. Aku sadar, dengan aku, Sastra tak mendapat kelayakan hidup secara verbal ataupun non-verbal seperti anak pada umumnya. Bawa dia dan rawat dia. Tapi jangan putuskan komunikasiku dan dia.”
“Bagus, bawa aja anak itu. Gak berguna,” sahut Ressa.
“Sa, kamu inget kecelakaan Kala 9 tahun lalu? Kala sama Sastra pulang dalam keaadan luka. Asal kamu tau, kalau Sastra tidak ada bersama Kala saat itu, Kala tidak akan ada sampai hari ini,” ucap Rendra.
“Saat itu Kala tidak sengaja menjatuhkan kelereng yang ia pegang. Dengan kebetulan, motor lewat saat Kala coba mengambil kelerengnya. Sastra saat itu berusia 6 tahun. Yang dipikirannya hanya ia harus menyelamatkan kakaknya karena ia menyayangi Kala. Dan Kala adalah sahabat satu-satunya untuk Sastra. Kamu tau hebatnya Sastra apa, Sa?” Ressa menggeleng pelan.
“Dia tidak menangis sama sekali padahal tubuhnya lebih sakit daripada Kala,” lanjutnya.
“Kakak, ayo pulang! Udah sore, nanti mama marah,” ucap Sastra kecil.
“Kamu duluan aja. Aku masih nyari kelereng yang ilang.”
Bagaimana bisa Sastra meninggalkan anak sulung kesayangan Ressa. Jika Sastra pulang tak bersama Kala, justru Sastra akan dimarahi habis-habisan.
“Sastra, kelereng aku! Sebentar, aku ambil dulu abis itu kita pulang,” tunjuk Kala ke arah jalanan. Situasi panik untuk Sastra saat ini. Yang ditunjuk kakaknya adalah jalanan. Memang terlihat sepi, tapi kapan tahu kendaraan bisa bebas lewat.
Tiiinnnnn!
“Kakak, awas!”
Ciitttt
“Iya, maaf, Pak,” ucap Sastra.
Saat Sastra menahan rasa sakitnya, Kala justru menangis. Siku tangannya terluka dan robek. Jika dirasakan, luka robek yang Sastra dapat, lebih sakit daripada Kala.
“Kakak, sakit, ya. Ayo kita pulang. Pelan-pelan, ya, pegang tangan Sastra.”
Sekitar 20 menit, mereka sampai di rumah. Suara tangisan Kala mengundang kekhawatiran Ressa.
“Kala! Kamu apakan anak saya?! Jangan dekat-dekat dengan anak saya, anak sialan!”
“Mama, tadi kakak hampir ketabrak,” ucap Sastra.
Emosi kini menyelimuti seluruh raga Ressa. Tak cukup memaki sekali, ia memaki Sastra berkali-kali hingga anak itu reflek menutup telinganya sendiri. Kala ingin sekali berbicara tentang hal sebenarnya, tapi rasa sakit pada tubuhnya semakin terasa.
“Ayo, sayang. Anak mama gak boleh nangis, ya. Kala kan anak kuat, ya, Nak,” ujar Ressa menggendong Kala dan meninggalkan Sastra sendirian di halaman rumah.
“Sastra, ngapain di luar?” sangat kebetulan dengan pulangnya Rendra.
“Papa, kakak tadi hampir ketabrak.”
Dengan tenang, Rendra mencoba mengendalikan emosinya, “Kenapa bisa? Coba cerita.”
Saat itu, kejadian sebenarnya hanya Sastra beritahu pada Rendra.
__ADS_1
Bagai tersambar petir, dentuman hebat meracu pada tubuh Ressa. Ia ingat saat menatap mata Sastra kala itu. Sastra justru tersenyum karena berhasil membawa Kala pulang dalam keadaan selamat.
“Ressa, kamu bahkan tidak tau apa saja kebaikan yang Sastra lalukan untuk Kala.”
“Tolong panggilkan anak-anak ke sini,” pinta Rendra.
Riska pergi memanggil mereka. Rendra cukup terkejut saat melihat Semesta juga ada di sini. Tapi kali ini emosinya kalah dengan rasa bersalah kepada anak bungsunya.
Saat Sastra memasuki ruangan, tanpa aba-aba, Ressa memeluk Sastra dan berkali-kali mengucapkan terima kasih.
“Ma? Ada apa?” Tak dipungkiri bahwa pelukan yang selama ini ingin Sastra rasakan, akhirnya ia dapatkan.
“Terima kasih banyak, Sastra. Terima kasih karena kamu sudah menyelamatkan Kala saat itu. Saya minta maaf….Maafkan mama, Nak. Maa, maaf, maaf”
“Mama ternyata masih inget, ya. Gapapa, Ma. Wajar kok mama emosi waktu itu karena anak mama pulang dalam keadaan luka-luka.”
Tatapan Rendra beralih pada Semesta, “Kamu…”
“Semesta, Om.”
“Pacarnya Sastra?” Tanya Rendra dan mendapati anggukan sebagai jawaban.
“Kamu ke sini sebentar, Semesta. Ada yang ingin saya bicarakan berdua denganmu. Biarkan mereka memperbaiki hubungannya.”
Semesta bergerak mengganti posisi berdiri, ia berpindah tempat beberapa langkah.
“Semesta, Sastra masih kelas 2 SMA. Tolong jaga dia baik-baik, Nak. Jika kamu benar-benar sayang sama Sastra, pinang dia suatu saat nanti ketika kamu siap. Jika rasa sayang kamu pudar, kasih tau saya, jangan Sastra.”
Rendra menatap Sastra di sana. Terlihat cantik tertawa bersama mama, ibu, dan kakaknya. Senyum yang bahkan tak pernah Rendra lihat lagi semenjak 9 tahun lalu.
“Sudah cukup sakit saat dia tidak merasakan kasih sayang dari laki-laki yang menjadi cinta pertamanya. Maka dari itu, saya tidak mau kamu ikutan membuat dia jauh lebih sakit lagi, Semesta. Saya pernah memukul dia karena berkomunikasi dengan kamu lewat voice call. Sastra merintih saat itu. Matanya berair dan menatap saya, seolah meminta untuk berhenti. Dan pada akhirnya, saya berhenti,” lanjutnya.
Semesta sedikit bersalah karena menelfon Sastra saat itu. Kemudian Semesta juga ikut menatap Sastra. Benar, Sastra terlihat sangat cantik walau matanya masih bengkak karena menangis.
“Saya sangat menyayangi Sastra, Om. Dan saya janji, saya janji akan terus ada sama Sastra ditiap keadaannya,” ucap Semesta dan mendapat tepukan pada pundaknya seakan-akan Rendra memberi amanah dan kekuatan untuk dirinya bersama Sastra.
“Riska,” panggil Rendra.
“Ada apa, Mas?”
“Tolong rawat Sastra dengan baik. Dan Sastra, papa minta maaf kepada kamu. Sastra, kesalahan yang mama papa lakukan selama bertahun-tahun mungkin sulit untuk kamu terima. Tapi kami sangat memohon, Nak,” kata Rendra, ia menangis. Ressa juga sama dengan Rendra. Ia mengajak semuanya untuk berpelukan.
“Sa, aku juga minta maaf atas kesalahan besar aku ke kamu. Kamu boleh pukul aku, kamu boleh hukum aku, tapi jangan anakku.”
“Aku sudah memaafkan kamu, Riska. Anak perempuan yang aku kira pembawa sial, justru datang sebagai malaikat dalam hidup Kala.’
“Siapa duluuu? Adik akuuu,” kata Kala mencairkan suasana dan membuat seisi ruangan tertawa.
Semesta kemudian merangkul Sastra, kemudian memeluknya, “Hebat banget anak kecil ini.”
“Apa, sih! Aku bukan anak kecil!”
__ADS_1