
Sastra menginjakkan kakinya tepat di depan gerbang sekolah. Dengan memakai seragam lengan panjang, Sastra terus menarik-narik bagian lengan. Wajahnya masih bisa menunjukkan bahwa ia terlihat baik-baik saja. Tetap berjalan dengan kepala menunduk, tak sadar dirinya menabrak seseorang.
“Kalo jalan liat-liat, Mba,” ucap seseorang itu hendak pergi. Satra mengangkat kepalanya dan menarik seragam orang yang ia tabrak.
“Kak Semesta,” ucap Sastra. Semesta kembali mengarahkan pandangannya pada gadis itu.
“Sastra?” Tanya Semesta. Sastra tersenyum dan melambai kecil seraya mengucapkan sapaan kepada Semesta.
“Haha, iya. Pagi, Sastra. Tumben pake seragam lengan panjang. Lo demam?” Tanya Semesta sambil menaruh tempurung tangan kanannya di kening Sastra. Tindakan kecil tersebut mampu membuat Sastra membulatkan matanya dan meneguk air liurnya secara kasar.
“Ha? Ya? Ah, engga engga. Gapapa. Engga panas kok, engga ni hehe,” elak Sastra.
“Yaudah deh, mau gue anterin ke kelas?” Tawar Semesta.
“Heem, boleh deh,” ucap Sastra. Semesta menarik tangan kanan Sastra, membuat empunya meringis kesakitan.
“Arghh…”
“Kenapa?! Ada yang sakit?” Semesta melepaskan genggamannya dan melihat Sastra terus menggeleng yang artinya perkiraan Semesta adalah salah. Terpaksa, Semesta menggulung seragam Sastra. Alangkah terkejutnya, Semesta mengelus perlahan. Terlihat banyak luka lebam di sana. Lukanya terlihat masih basah dan tak coba diperban oleh Sastra.
“Astaga, Sastra! Ayo ke UKS. Ini masih basah banget,”
“Gak us— “
Semesta tetap merangkulnya ke UKS. Sampai ditujuan, Semesta membuka semua lemari obat untuk mencari kotak P3K.
__ADS_1
“Ketemu!” Ia menghampiri Sastra yang tengah duduk di atas nakas sambil memegang tangan yang tadi sempat digenggam Semesta. Sangat perih.
“Coba sini. Kenapa tangan lo bisa gini, Sas? Lo kebentur atau gimana? Tapi luka sebanyak ini gak mungkin kena benturan, kan,” tanya Semesta.
“Lo… dipukulin?” Tanya Semesta lagi. Sastra hanya menunduk. Dirinya enggan untuk menjawab. Ia ingin bilang “Ya” tapi hatinya melarang.
“Tatap gue, Sastra. Gue gak suka lagi ngomong dicuekin,” Sastra menoleh menatap Semesta. Matanya terlihat lelah untuk semua ini. Bibir itu mulai memucat.
“Mau cerita? Gue bersedia dengerin,” ucap Semesta. Sastra berkutat dengan pikirannya sendiri. Tawaran Semesta membuat dirinya ingin menangis. Bagaimana orang yang baru ia kenal kemarin, bersikap peduli sampai segininya?
Tidak jauh beda dengan pikiran Sastra, Semesta juga tak menyangka ia akan menawarkan diri sebagai tempat cerita untuk gadis yang baru ia kenal. Bagai tak bisa mengontrol diri, Semesta merasa bahwa ia harus melindungi Sastra. Gadis itu mampu membuat Semesta menyerahkan dirinya.
“Halo, Sastra?”
“Iya apa? Mau cerita?”
Baru saja ingin menjawab, pintu UKS bergeser. Tampak Pak Yuda di sana dengan peci miringnya dan kumis tebalnya. Beliau adalah guru Bahasa Indonesia di kelasnya Semesta.
“Wei! Kalian ini bukannya masuk, malah berduaan. Berduaan doang jadian kaga. Gimana, sih” kata Pak Yuda dengan logat khas Betawinya. Sastra dan Semesta tertohok saat mendengar kalimat Pak Yuda. Mereka malah mengalihkan pandangan masing-masing.
“Yeuh, malah salting. Udah ayo masuk ke kelas masing-masing. Semesta, balik ke kelas kamu. Dan kamu…”
“Sastra, Pak. XI IPA 1,” kata Sastra.
“Ya, itu. Ayo ayo. Saya naik duluan. Semestra, awas kalo kamu telat. Saya beliin nasgor Bu Inah nanti.”
__ADS_1
“Enak dong, Pak.”
“Lah kok saya. Udah lah. Saya duluan,” Pak Yuda pergi meninggalkan Sastra dan Semesta yang masih enggan untuk membuka suara. Keduanya terdiam sekarang.
“Ayo, Kak. Nanti telat,” kata Sastra. Semesta hanya mengangguk kemudian berdiri dan mengulurkan tangan kanannya untuk Sastra.
“Bareng gue. Obatinnya nanti aja lanjut pas istirahat,” Semesta berhasil menggenggam tangan mungil itu dengan lembut. Menariknya pelan dan menggandengnya.
“Kalo ada apa-apa, lo boleh cerita ke gue. Gue ada buat lo. Walaupun kita baru kenal kemarin, gue ngerasa harus jagain lo dari hal-hal yang bikin lo sakit. Gue di sini, Sas. Sama lo. Jangan enggan buat dateng ke gue,” ucap Semesta membuat Sastra tersipu malu, hanya sedikit.
“SASTRA!” Sastra dan Semesta menghentikan langkahnya. Ada Arumi di sana. Tangannya melambai-lambai.
“Arumi!” balas Sastra.
“Siapa, Sas?” tanya Semesta.
“My friend, Kak.”
“Sok Inggris banget lo,” kata Arumi yang sudah ada di samping Sastra. Ia menatap intens Semesta dari atas ke bawah dengan raut curiga.
“Dapet darimana orang utan modelan gini, Sas?” tanya Arumi.
“Dia kakak kelas kita, tau! Kamu gak sopan banget. Ayo minta maaf.”
Arumi menggaruk lehernya yang tak gatal sambil memperlihatkan giginya. Ia mengulurkan tangan untuk Semesta.
__ADS_1