
Gadis dengan rambut pendek itu tersenyum dengan wajah pucatnya. Aura manis dalam dirinya tak pudar walau sekujur tubuhnya merasa sakit. Cantik. Senja dan gadis itu sama-sama terlihat indah.
Matanya sudah tak sanggup lagi untuk menangis. Kebahagiaan masa kecil yang pernah direbut, berhasil ia dapatkan kembali saat itu. ‘Tuhan sangat adil,’ batinnya.
“Sastra, makan dulu, Nak,” panggil Riska.
“Sebentar, Bu. Sebentar lagi,” jawabnya.
12 menit sudah terhitung, Sastra tidak memenuhi panggilan sang ibu. Khawatir akan hal tersebut, Riska berjalan ke luar untuk memeriksan Sastra.
“Sayang,” panggilnya lagi dan tak ada sahutan dari Sastra. Riska menepuk pundak Sastra yang terduduk di kursi roda. Ketiga kalinya tak ada respon gadis itu. Sastra menutup matanya sembari tersenyum.
“Sastra, bangun, Nak,” ajak Riska. Perlahan Sastra membuka matanya, tersenyum dan menatap dalam mata ibunya.
“Selamat sore, Tante, Sastra,” sapa Semesta.
“Kak Semesta,” sapanya balik.
“Iya. Kamu udah enakan?”
“Tante tinggal dulu deh. Oh iya, Semesta. Sastra belum makan, Nak,” kata Riska.
Semesta mengangguk, kemudian berjongkok di depan Sastra. Menatap matanya begitu intens. Sastra terlihat cantik dengan senyumnya. Senyum yang paling Semesta suka. Jika hidup begitu menyakitkan, kenapa Sastra masih bisa bertahan dengan senyumnya? Mungkin itulah yang Semesta pikirkan saat ini.
“Cantiknya aku. Merasa baikkan?” Tanya Semesta.
“Aku merasa baik. Tapi, rasa sakitnya terus-terusan menjulur, Kak,” jawab Sastra, “Tubuh aku udah gak kuat, Kak,” lanjutnya. Tak sadar, Hidungnya perlahan mengeluarkan darah.
“Darah! Sastra!” Teriak Semesta.
__ADS_1
“Aku gak apa-apa,” ucap Sastra dengan lemas.
“Tante! Sastra, Tan.”
“Aku ngantuk, Kak. Mau tidur sebentar.”
***
Infusan-infusan rumah sakit memenuhi tubuh Sastra. Gadis itu sedang berjuang antara hidup dan matinya. Seluruh keluarga juga berdo’a di luar ruangan menunggu kabar tentang Sastra. Semuanya menangis.
‘Aku mohon, Sastra’
Berjam-jam telah berlalu. Dokter akhirnya keluar membawa catatan riwayat Sastra. Dengan hembusan nafas begitu berat ia memberitahukan, “Begini, saya rasa, Sastra tidak pernah mau melawan kanker ini. Sejak 2 tahun lalu, dia bilang akan membaik saat kembali lagi ke sini. Tapi, kanker ini justru semakin ganas menjalar ke tubuhnya.”
Tangisan mereka semakin menjadi-jadi, terutama Riska. Riska rasanya tak kuat untuk berdiri lagi. Anak tunggalnya kini berada di ambang kematian. Riska tak sanggup jika ia kehilangan Sastra sekarang.
“Saya mau liat anak saya,” pinta Rendra. Bersyukur, semua anggota keluarga termasuk Semesta, dibolehkan masuk menjenguk Sastra.Sastra terbaring lemah di sana. Bibirnya tetap tersenyum tipis.
“Anak mama juga. Sastra gak mau bangun, Sayang?” Lanjut Ressa.
“Mama, aku gak kuat,” tangis Kala sambil memeluk Ressa.
“Sastra, cantiknya aku. Cape ya, Sayangku?” Tanya Semesta.
“Sastra, aku harap kamu denger ini. Sayangnya Semesta, cantiknya Semesta, Sastra Jayashri. Sastra, ada banyak hal yang mau diomongin keluarga kamu di sini. Aku mohon, kamu bangun dulu ya, Sayang. Setelahnya, entah kamu mau ngeluh cape terus tidur lagi, silahkan. Aku mohon, Sastra,” lanjut Semesta.
Sebuah keajaiban, jari-jari gadis itu bergerak pelan-pelan. Rendra menekan bel darurat yang ada pada ruangan untuk memanggil dokter.
“Sastra sudah sadar, tapi keadaan jantungnya belum stabil. Jadi, tolong jangan membuat dia merasa kaget atau hal semacamnya.”
__ADS_1
“Baik, Dok. Terima kasih banyak.”
“Kalian kenapa nangis? Aku gak apa-apa.”
“Kamu masih kuat buat ngelawan sakit kamu?” Tanya Ressa.
Sastra tersenyum hingga matanya menyipit, ia tidak menjawab. Dirinya sudah tidak sanggup bahkan untuk menggerakan kakinya sendiri. Darah pada hidungnya tidak berhenti sedari tadi. Banyak lembaran tisu yang berserakan di meja.
“Aku sayang ibu, sayang mama, sayang papa, sayang kakak, Kak Semesta juga. Aku sayang semua. Sastra minta maaf karena harus hidup tanpa kasih kalian apa-apa. Maaf kalau Sastra hidup hanya sebagai penumpang. Banyak kata terima kasih yang gak bisa aku ucapin buat kalian. Terutama Kak Semesta. Semesta Arjuna, makasih banyak mau terima aku, mau jadi temen cerita, dan rumah buat aku, buat seorang Sastra Jayashri,” ucap Sastra.
“Sastra…”
“Papa, mama, ibu, Kak Kala, Kak Semesta. Jiwa dan raga yang aku singgahi saat ini harus tetep pulang ke rumah aslinya. Kalian gak boleh nangis, ya. Sastra Cuma tutup mata sebentar. Mau peluk?” Semuanya merapat untuk memeluk Sastra.
“Kak Semesta, jangan takut untuk cari orang baru. Bagaimanapun juga, kakak harus melanjutkan hidup sama pendamping kakak. Aku gak akan selamanya ada buat kakak.”
“Aku maunya kamu, Sastra. Gimana kalau cinta aku hancur karena aku kehilangan cinta pertama aku?”
“Engga, Kak. Percaya sama aku, ya? Karena pada akhirnya, takdir yang Tuhan kasih selalu punya ending yang gak kita ketahui. Tolong, untuk kalian semua, janji untuk tetep bahagia. Sastra sayang sama kalian. Ibu, Sastra berhasil terima takdir Sastra. Jadi, Sastra harap, kalian juga bisa terima takdir hari ini,” ucap Sastra.
“Sastra mau istirahat, izinin Sastra tidur,” lanjutnya.
Elektrokardiogram berbunyi nyaring dengan tampilan garis lurus sebagai tanda bahwa tidak ada lagi detak jantung di sana. Tangisan mereka semakin menjadi-jadi. Nyatanya, kebahagiaan yang akhirnya Sastra dapatkan hanya bersifat sementara. Semesta menahan suara tangisnya di samping Sastra. Sesak, dadanya begitu sakit.
“Kenapa masih senyum, Sas? Kamu begitu tenang, ya. Ngeliat kamu senyum dalam keadaan begini, ngebuat aku sakit. Ayo genggam tangan aku lagi, kita ke Taman Senja tiap sore sambil cerita,” kata Semesta.
“Cerita kamu berhenti sampai di sini. Aku juga berterima kasih ke kamu karena mau bagi suka-duka kamu ke aku dengan rasa percaya. Terima kasih udah mau berjuang sampai sejauh ini,” ujarnya lagi.
“Selamat tidur, cantiknya Semesta. Kita bertemu lagi di kehidupan selanjutnya, ya, semoga.”
__ADS_1
— Semesta Arjuna
SELESAI.