
Jam itu menunjukkan pukul 19.00. Sastra telah selesai mengerjakan semua tugasnya dan membereskan peralatan untuk sekolahnya besok. Banyak waktu untuk bersantai. Sastra mengambil ponselnya dan memasukkan nomor yang Semesta berikan saat di bus. Dengan lihai jarinya mengetikkan 12 angka itu pada hpnya. Ia menamai kontak itu dengan nama “Kak Semesta”. Ia beralih ke ruang chat pribadi dan membuka kontak Semesta.
...Kak Semesta...
...Online...
^^^Halo, Kak Semestaaa!^^^
^^^Halooo^^^
^^^Coba tebak siapa aku?^^^
Wkwkwk, iya halo
Gue tau lo
Halo, Sastra
^^^Kok tau, sih!^^^
Haha, ya tau
Lo gemes soalnya
^^^Apa sih^^^
Loh
__ADS_1
Read
Ponsel milik Sastra tiba-tiba bordering dan menampakkan nomor serta nama kontak Semesta di sana. Dengan tangan gemetar Sastra masih berpikir apakah dia harus menangkatnya atau tidak. Jarinya memilih ikon berwarna hijau. Terdengar suara berat itu di seberang sana memanggil-manggil gadis tersebut.
“Sas? Sastra? Ini bener Sastra, kan?” suara Semesta membuat Sastra justru merasa canggung.
“Ah, i-iya, betul. Dengan siapa dan di mana?”
“Hahahaha, gemes banget,” sudahlah, jika begini, Sastra sepertinya tidak akan sanggup menahan merah pada wajahnya.
“Ih, apa sih?! Ada apa telfon-telfon?”
“Galak banget. Emang tadi siapa yang chat duluan, hayo,” kata Semesta meledek.
“Ya.. ya aku. Ih males ah,”
“Apanya yang lucu?” tanya Sastra.
“Lo beneran ngaca?”
“Iya. Emang kenapa?” Semesta tertawa mendengarnya. Bagaimana bisa gadis itu menurut saja dengan apa yang Semesta suruh. Sangat menggemaskan. Semesta agaknya kesulitan menahan tawanya.
“Nurut banget. Lo gapapa, Sas? Ketikan lo tad-“
“Gak, gak. Aku gapapa, sehat wal’afiat. Sekian. Aku mau mam dulu. See you, Kak Semesta,” ucap Sastra menutup sambungan sambil menahan malu.
...Kak Semesta...
__ADS_1
...Online...
Makan yang banyak
Jangan begadang juga
Anak kecil gak boleh tidur malem-malem
^^^Bawel ih^^^
^^^Read^^^
Setelah meletakkan handphone miliknya, Sastra beralih melihat arah pintu. Terlihat Rendra di sana menatapnya tanpa ekspresi. Sastra tampak ketakutan sekarang. Berdo’a agar semua tetap baik-baik saja.
“Habis bicara sama siapa?” tanya Rendra. Sastra menggeleng dan enggan untuk membuka suara karena keadaannya membuatnya berpikir yang tidak-tidak.
“JAWAB PAPA, SASTRA!” bentakkan itu berhasil membuat Sastra terhentak kecil. Ia menggigit bibir bawahnya hingga merah.
“Temen Sastra, Pah”
“Cowo?” tanya Rendra meyakinkan. Sastra masih membeku dalam posisinya. Tetap diam tak mau mengatakannya. Air matanya kini mulai membasahi pelupuknya perlahan dan bibirnya mulai terluka.
“Sejak kapan papa izinin kamu buat telfonan sama cowo?! Kamu udah mulai berani, Sastra?” Rendra menyeret Sastra dan membawanya keluar kamar. Diambilnya mistar yang diletakkan di atas meja TV. Tangan sebelah kiri tetap menggenggam pergelangan tangan Sastra, sedangkan tangan sebelah kiri sudah siap untuk memukul beberapa bagian tubuh Sastra dengan mistar.
Pukulan itu terjadi hingga berkali-kali menyebabkan beberapa lebam. Kulit putih susu itu terisi dengan luka berwarna biru keunguan. Ia tahu Rendra tak akan berhenti memukul jika berteriak sekalipun. Sastra hanya bisa menundukkan kepalanya dan meringis. Rasa ampun bagai sebuah angina lewat bagi Rendra.
“Maafin Sastra, Pah,” rintih Sastra membuat Rendra menghentikan kegiatannya. Ia melempar mistar itu dan melepas genggaman tangannya pada Sastra. Menjambak rambutnya sendiri saat melihat kondisi Sastra sehabis ia pukuli. Terlihat begitu malang. Rendra pergi meninggalkan Sastra yang masih terduduk lemas di sana. Hatinya begitu labil. Ia merasa bersalah namun dirinya pura-pura tak peduli. Anak gadis itu selalu dipandang sebagai suatu kesalahan besar yang hadir dalam keluarga. Fisiknya terlihat kuat, namun hatinya begitu rapuh.
__ADS_1