
Sastra telah pulang ke rumahnya dengan menaikki bus bersama Semesta tadi. Jujur saja, hari ini adalah hari yang sangat melelahkan untuk Sastra. Mulai dari dihukum oleh Pak Cecep—guru BK karena Arumi mengajak Sastra pergi ke kantin saat pelajaran Bahasa Inggris. Sastra merutuki dirinya sendiri karena mau-mau saja dihasut oleh Arumi.
“Cape banget,” kata Sastra mulai memasuki area rumah.
Ia kira akan pulang dengan keadaan sunyi seperti biasanya. Kini tidak. Ada suara ribut dari dalam. Tak hanya suara ribut, ada juga suara tangisan.
Sastra membulatkan matanya. Banyak barang-barang pecah yang berserakan dan sedikit bercak darah. Semakin ia memasuki rumah, semakin kencang pula suara tangisan itu.
“Berapa banyak perempuan yang sudah kamu khianati, Dra?!”
“Aku gak peduli! Tuduhan kamu itu jelas-jelas salah!”
“Aku gak mau bareng kamu lagi, kurang ajar!”
“Terserah.”
Sastra duduk terjongkok dengan menutup telinganya. Ia masih mencoba memahami apa yang telah terjadi. Apa maksud dari perkataan orang tuanya barusan? Seseorang menepuk pundak Sastra dari belakang. Kala mencoba memeluk adiknya dan membawa Sastra ke kamarnya.
“Kamu jangan takut, ya? Kakak ada sama kamu,” ucap Kala. Saat ingin keluar meninggalkan Sastra, Sastra justru menahan tangan Kala. Raut wajahnya tampak ketakutan sekaligus menandakan suatu pertanyaan.
“Mama sama papa kenapa, Kak? Tadi mama bilang gak mau bareng sama papa lagi. Kenapa, Kak? Jawab aku dulu sebelum kakak keluar, aku mohon,” pinta Sastra.
Berat untuk mengungkapkannya bagi Kala. Entah apa yang mereka bertiga sembunyikan selama ini. Sastra merasa tak berguna sekarang. Ia hidup selama 16 tahun lebih, tapi sama sekali tak mengenali bagaimana keluarganya.
__ADS_1
“Tapi kamu janji, setelah ini, kamu harus baik-baik aja. Kamu janji sama kakak, Sastra?” Kata Kala.
Kala mengambil posisi nyaman yang berarti dirinya siap untuk membuka semuanya. Matanya dengan serius menatap Sastra. Tangannya beralih memegang pundak adiknya tersebut.
“Mama!”
“Iya, Sayang. Kenapa?”
“Mah, di luar ada cewe seumuran mama lagi ngobrol sama papa. Tante itu namanya siapa, Ma?”
Ressa mengerutkan dahinya hingga alisnya hampir menyatu. Nampak berfikir namun dirinya harus tetap terkontrol. Ia mengajak Kala untuk ikut bersamanya. Tak berselang lama, mereka sampai di tempat yang Kala tunjukkan tadi. Ada Rendra dan wanita sedang berbincang-bincang. Ressa tahu siapa wanita itu. Ia adalah sekretaris di kantor Rendra, namanya adalah Riska. Tanpa sepengetahuan keduanya, Ressa dan Kala melihat di balik saka. Rendra dan Riska saling berpelukan setelah dikira percakapan mereka selesai.
“Mah….”
“Ayo, Kak.”
“Gila kalian, ya!”
“Kamu kenapa sih, Sa?!”
“Kamu masih bisa-bisanya nanya gitu, Dra? Kamu pikir aku gak punya otak, hah! Kalian yang lebih gak punya otak, tau gak. Dan kamu. Terlebih kamu adalah sesama seorang perempuan. Kamu punya hati, gak?! Haha, otak aja gak punya, ya, apalagi hati. Brengsek kalian!” Ressa mengeluarkan semua amarahnya. Matanya panas dan dan tak tahan untuk menangis.
*Rendra menengok ke arah Riska yang juga sedang menangis. Pasalnya, Riska tak tahu bahwa Rendra memiliki istri. Perkara hal ini disebabkan oleh kesibukkan Ressa yang jarang berkunjung ke kantor Rendra dan Rendra yang tak pernah memberitahu bahwa ia telah berkeluarga. Riska bahkan tak menyangka bahwa ia akan menjadi perempuan yang merebut suami orang lain.
__ADS_1
Jika disadarkan lagi, setiap berkunjung ke rumah Rendra, Riska tak pernah diizinkan masuk ke dalam. Emosi kecewa dirinya juga tak karuan. Rendra dengan perlahan menyuruh Riska untuk pergi.
Kemudian Rendra beralih ke Ressa dan Kala yang mencoba untuk menenangkan. Rendra memeluk Ressa. Ressa memberontak dan berusaha melepaskan walau ia tahu bahwa dirinya sedang lemah*.
“Maaf, aku minta maaf,” ucap Rendra.
“Pah.”
“Kala, kamu ke dalem dulu ya. Mama aman sama papa.”
Sastra memegang dadanya yang terlihat sesak. Sastra sadar papa dan mamanya memang tak terlihat dekat. Namun, Sastra selalu mengurungkan niatnya untuk bertanya apa alasan dibalik sikap mereka.
“Dan….” Ucapan Kala terpotong saat ringtone ponsel Sastra berbunyi. Terpapar nama kontak Semesta di sana.
“Maaf, Kak. Sebentar.”
“Siapa emangnya, Sas?”
“Anu,” Sastra menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
“Kayaknya cowo, tuh. Kamu udah punya pacar, ya? Kok gak pernah cerita?”
“Ih, bukan pacar aku, Kak. Dia cuma temen aku. Namanya Semesta.”
__ADS_1
“Temen apa temen,” ledek Kala.
“Kakak, mah,” suasana yang tadinya tegang, kini kamar itu dipenuhi oleh suara tawa ceria dari dua gadis kakak-beradik. Sastra menceritakan semuanya tentang Semesta. Tak hanya itu, ia juga menceritakan hal-hal random yang bahkan hanya ada dalam imajinasinya sendiri.