
POV Anjar
Hari ini akan diadakan rapat di bar, aku tau itu meskipun aku dapat peringatan dari kak Haris aku tak mengindahkannya. Aku hanya ingin suasana baru, saat aku berjalan ke ruang rapat ku, aku melihat sosok yg aku rindukan selama ini. Ya dia adalah Hasna sahabatku, aku melihat dia datang dan menghampiri meja yg terdapat 2 lelaki tua. Aku mencoba melupakannya mungkin saja itu adalah khayalanku karena aku terlalu merindukannya jadi aku terus melangkah ke ruang rapat ku
Saat rapat aku kurang fokus, untung saja kak Haris bisa membantuku dalam rapat ini, hingga selesai akhirnya akupun menandatangani kontrak kerja dan klienku pun pulang, aku menyuruh kak Haris pulang duluan karena aku ingin memastikan apa benar yg aku lihat tadi adalah Hasna atau khayalanku saja
Saat kak Haris pulang aku keluar ruang rapat dan menduduki salah satu meja yg berada garis lurus dengan meja sosok Hasna itu, dan benar saja aku tidak sedang berkhayal, dia adalah Hasna
Sejujurnya aku kaget mengapa dia ada disini, seharusnya dia ada di Cianjur bersama suami dan anaknya. Lalu aku didatangi pelayan bar dan aku pun menanyakan nya, betapa terkejutnya aku ketika tau bahwa Hasna bekerja disini
Hatiku pun merasakan sakit yg luar biasa, lalu aku menyuruh pelayan bar untuk mempersiapkan Hasna agar mau menemaniku semalam denganku di ruangan privat room tentu yg kedap suara, sempat terjadi perselisihan karena malam ini Hasna akan menemani orang lain tapi aku bilang pada pelayan itu aku akan membayar 3x lipat dan akhirnya pelayan itu setuju
Aku pun langsung masuk kamar tersebut dan menduduki kursi yg membelakangi pintu, tak begitu lama terdengar suara pintu yg dibuka disusul suara heels dan menutup kembali pintu dan menguncinya
Tidak tau mengapa hatiku sakit seperti ini, apa pekerjaannya setiap hari seperti ini. Aku akan menahan nya dulu dan nanti menanyakannya sebenarnya apa yg terjadi padanya setelah lulus sekolah
"Minumlah tuan, ini adalah anggur terbaik di bar kami, tuan pasti akan senang dengan pelayanan kami"
Aku tersentak saat Hasna menyodorkan segelas anggur kepadaku lalu aku mengambilnya
"Bagaimana kabarmu na?"
Hening
"Kenapa kamu diam na" lalu aku menoleh kepadanya dan terlihat dia sangat kaget saat melihatku
"A a a an n n ja a a r" dia berkata terbata bata setelah melihatku, aku tidak tau kenapa dia terlihat syok melihatku
POV author
Hasna berjalan mundur dan mendudukkan di lantai, kakinya menopang dagunya dan matanya berkaca kaca,
Anjar mendekatinya lalu jongkok dihadapan Hasna,
"Aku tidak bisa" jawab Hasna melihat anjar sambil menangis
". . . ." Anjar diam saja memerhatikan Hasna
"Aku tidak bisa melayani sahabatku sendiri Anjar, maaf" menundukkan kepalanya dan menangis
Tangan Anjar menyentuh dagu Hasna dan mendongakkan kepalanya
"Aku menyuruhmu kesini bukan untuk itu Hasna, aku hanya ingin tau kenapa kau ada disini, apa suamimu tidak tau kalau kau bekerja disini?" Tanya Anjar dengan lembut
Terlihat Hasna makin menangis pilu, anjar pun tak sanggup melihatnya lalu mendekap Hasna kepelukannya, Hasna menangis sejadi jadinya
"Aku tidak tau apa yg terjadi setelah kita berpisah, jika beban hidupmu terlalu berat, menangislah, aku siap menjadi pundakmu kapanpun itu" Anjar makin mempererat pelukannya kepada hasna
Selain dia rindu, Anjar juga merasa ibah kepada sahabat serta pujaan hatinya, dia merasa gagal telah melindungi Hasna
Hasna menangis cukup lama dipelukan Anjar sampai ia merasa baikan
Anjar melepas pelukannya dan menyentuh wajah Hasna
"Jika kamu ada masalah, coba ceritakan lah kepadaku, aku siap membantumu na"
__ADS_1
Kata Anjar sambil menghapus air mata Hasna dipipinya
"An, aku kira dengan aku menyerahkan semua kepadanya akan mendapatkan cinta yg lebih kepadaku, aku sangat mencintainya, aku menuruti semua perkataannya, tapi apa yg aku dapat, aku berakhir di tempat ini" Hasna meneteskan air mata lagi
"Kamu tau an, setelah aku tau bahwa aku hamil, aku kerumahnya bersama ibu. Dan ternyata saat sampai kesana aku melihatnya menikahi perempuan lain, betapa sakitnya hatiku an" Hasna melepaskan tangan Anjar lalu berdiri dan menuju ke balkon privat room itu
Anjar mengikuti Hasna dibelakangnya
"Dengan keadaan hati dan fikiran kacau aku pun mendatangi rumah Afif tempat resepsi itu, ibu menguatkan aku. Saat aku di depan meja resepsi semua orang menatapku, lalu Afif menghampiriku, dia bertanya mengapa aku datang ke rumahnya, aku pun menjelaskannya dan kamu tau an apa yg dia lakukan setelah dia tau aku hamil??" Hasna menghadap Anjar mengguncangkan badan anjar sambil menangis sesenggukan
"Dia menyuruhku pergi an, dia tidak peduli kepadaku bahkan dia bilang berpura2 mencintaiku agar mendapatkan kesucianku lalu pergi. Hatiku sakit an, lebih sakit dibanding kehilangan nyawa. Setelah mendengar semuanya lalu ibu memelukku dan mengajak aku pergi dari sana dan menyewa kos an Disana untuk sementara waktu, aku tau ibu kecewa terhadapku tapi apa dayaku an, aku terlalu mencintainya"
Lalu Anjar mendekap tubuh Hasna dan memeluk cukup lama
"Sudah jangan diteruskan lagi bila cerita itu membuatmu sakit, lebih baik tenangkanlah dirimu saat ini."
Hasna menganguk dan membalas pelukan Anjar, bagi Hasna sangat nyaman berada di pelukan Anjar
Cukup lama berpelukan Anjar melepaskan nya dan menyentuh pipi Hasna
"Ikutlah denganku Hasna, hidupmu akan lebih baik saat bersamaku, aku akan memberikan pekerjaan kesukaanmu"
Hasna memandang mata Anjar yg penuh dengan keseriusan itu
"Maaf, tapi aku tidak bisa keluar dari sini an"
"Kenapa, kamu tidak menganggap ku sahabat lagi?"
"Bukan begitu, aku disini terlalu populer, eh maksudku kamu tau kan?"
"Maksudku untuk aku keluar dari sini membutuhkan banyak uang an, aku telah menandatangani kontrak dengan mereka" Hasna menjawab gugup
Anjar memegang tangan Hasna
"Katakan berapa yg harus ku bayar untuk bisa membawamu bersamaku?"
Hasna kaget dengan pernyataan Anjar lalu dia menghadap Anjar
"Kamu serius an ingin mengajakku bersamamu, kamu tau kan kondisiku saat ini. Aku adalah perempuan yg sangat kotor, mana mungkin aku diterima kerja di manapun?"
"Aku bisa mempekerjakanmu na," tegas Anjar menatap mata Hasna
Hening
Segera Hasna mengakhiri tatapan itu dan menatap luar balkon, tidak tau kenapa jantungnya berdegup kencang saat dipandang Anjar dengan begitu tegas
Sama halnya dengan Anjar yg berdegup kencang,
"Mungkin nanti aku harus selalu menemui dokter jantung" gumam Anjar
"Apaaa" Hasna menoleh ke Anjar
"Em tidak na, lebih baik sekarang ayo kita temui manager kamu"
Tanpa banyak bicara Hasna mendahului Anjar berjalan membuka pintu, Anjar mengikutinya menuju ruang managernya
__ADS_1
.
"Ini an ruangan menager aku" tunjuk Hasna di depan pintu klasik itu
"Baiklah kamu temani aku kedalam"
Hasna menganguk lalu mengetok pintu
"Tok tok tok"
"Siapa?" Terdengar suara dibalik pintu
"Em saya pak Hasna"
"Masuk" lalu Hasna membuka pintu diikuti Anjar yg langsung duduk didepan manager
"Tuan Anjar yg terhormat, kenapa anda repot datang kemari, jika anda membutuhkan sesuatu saya siap pergi ke kamar tuan"
Kata manager itu saat melihat anjar dibelakang Hasna
"Maaf mengganggu pekerjaanmu pak, sebelumnya bapak pasti tau kan siapa saya?" Tanya Anjar dengan tegas
"Tentu saja saya sangat tau tuan" manager itu tersenyum
"Saya kemari ingin membawa Hasna pergi dari sini, jadi saya mohon kerjasamanya"
"Hehe, tentu saja silahkan tuan. Tuan bisa membawa Hasna pergi selama seminggu, setelah itu dia akan kembali kesini" sambil melihat Hasna yg menunduk
"Tapi saya ingin membawa Hasna selamanya dari sini"
"Apa maksud tuan, Hasna sangat primadona disini tuanku. Jika anda mau bisa membawanya selama seminggu saja" kata manager itu dengan lembut
"Katakan seja berapa harga yg kubayar untuk membawanya keluar dari sini, anda tau kan saya bisa menutup bar ini dalam semalam?" Menatap manager itu dengan tatapan tajam
"Maaf tuanku, Hasna sudah terikat kontrak dia tidak akan bisa keluar dari sini kalau bukan tuan Afif yg mengeluarkannya dari sini" jawab manager tersebut dengan takut
Anjar mengangkat bibirnya ke atas, tanpa banyak bicara Anjar mengeluarkan cek dari saku kemeja dalam jasnya dan pulpen lalu menuliskan sejumlah angka lalu memberikannya kepada manager
"Apa segitu cukup untuk tutup mulut pak manager terhormat?" Memberikan cek yg ia tulis kepada manager
Manager tersebut bengong lalu tersenyum simpul
"Baiklah tuan, saya akan terima"
Lalu berjabat tangan dengan Anjar
"Deal" ucap manager bersamaan dengan Anjar
.
.
.
segitu dulu ya pertemuan nya
__ADS_1
lusa dilanjut lagi