
"su.. suara apa itu dik" tanya Haris
"Ayo kak coba kita lihat" Anjar bergegas menuju ruang ayahnya, karena suara itu berasal dari sana dan haris mengikutinya dari belakang
.
"Ayahhhhhh..." Teriak Anjar tatkala melihat ayahnya tengkurap di bawah meja dekat tempat tidurnya lalu menghampirinya
"Ayah bangun ayah, bangun...." Anjar membalikan tubuh ayahnya
"Sebaiknya kita antar ke rumah sakit dik, kamu bawa ayah kedepan, aku mau sewa mobil di depan mudah2an ada yg mau meminjami kita" kata Haris lalu bergegas keluar rumah
Anjar memapah ayahnya keluar rumah lalu berpapasan dengan Haris yg sudah membawa mobil, mereka menuju rumah sakit terdekat
.
"Tolong sebaiknya anda menunggu di luar, biarkan kami memeriksanya dulu" kata suster di rumah sakit X
Haris memegang tangan Anjar lalu menariknya ke kursi
"Sebaiknya tenangkan dulu hati dan pikiran kamu, fokuslah dulu pada ayahmu" memegang bahu Anjar
"Terima kasih, hanya kamu kak yg bisa mengerti aku sekarang!!" Menatap Haris dengan tersenyum
.
Tak lama dokter pun keluar dari ruangan UGD dan menghampiri Anjar dan haris
"Bagaimana keadaan ayah saya dokter?" Anjar langsung berdiri ketika melihat sang dokter menghampirinya dari ruang UGD
"Sebaiknya ayah anda di rawat di sini beberapa hari tuan, apa saya bisa berbicara dengan anaknya 4 mata?" Tanya dokter dengan serius
"Saya anak kandungnya dokter" memajukan tubuhnya
"Baiklah silahkan anda ikut saya ke ruangan saya, ada yg harus saya bicarakan tentang kondisi ayah anda"
Lalu dokter berjalan ke arah ruangannya dan Anjar mengikutinya.
Dan tak lama para suster memindahkan ayah Anjar ke ruang rawat inap dan ditemani oleh Haris.
.
Sementara itu di rumah Hasna sedang senang sekali karena setelah di telvon oleh Afif karena mereka resmi pacaran.
"Aaaaaa.. aku senang sekali, akhirnya sekian lama aku menunggu kamu, yeahahahhhh" melompat lompat di atas kasur sambil menari dengan gembiranya hingga tak sadar jika sang ibu melihatnya jadi geleng geleng kepala
Hasna terus saja menari hingga tak sengaja ia menghadap ke pintu dan melihat ibunya sedang melihatnya, tanpa sadar ia pun terjatuh.
"Gubrakk" "awwwww" jerit hasna, kakinya kepleset kain yg ada di bawahnya lalu sang ibu menghampirinya.
__ADS_1
"Ada yg lagi bahagia nih, kalau boleh cerita dong sama ibu" senyum ibu mengara kepada hasna
"A a a ibu," Hasna cemberut
"Yasudah kalau kamu tidak cerita GPP, ibu mau mandi dulu gerah belum mandi. Pulang tadi ibu ingin melihat kamu dulu eh gtwnya anak ibu sedang kasmaran hahaha" ibu Hasna tertawa
"A ibuuuuu" teriak Hasna saat melihat ibunya berjalan keluar kamarnya
.
"Dasar anak jaman sekarang kalau pacaran suka gitu ya tingkahnya, semoga kamu bahagia Hasna, ibu mendoakanmu yg terbaik dengan nak Anjar" berjalan menuju kamarnya lalu mandi dan menyiapkan makan malam untuk mereka berdua
.
"Tumben sih Anjar Ndak masuk sekolah, aku aja mau cerita banyak ke dia, dasar ga kasih kabar ke aku pula, aku kan jadi sendirian.." gumam Hasna ketika pelajaran dimulai dan tak melihat anjar sekalipun padahal suasana hatinya sedang baik hari ini, bahkan ia janji ndk bakal ngomelin Anjar lagi.
.
Dikantin sekolah
"Ga ada tu anak sepi juga ni kelas, Hem padahal rencananya pulang sekolah mau ajak dia makan di warteg ngerayain hubunganku sama Afif" menundukkan wajahnya dengan tumpuan satu tangan dan tangan yg lain mengaduk2 es teh di depannya
.
"3 hari berlalu dan Anjar belum juga sekolah alasannya keperluan keluarga lagi, tuh anak kemana sih.. bikin bete aja nih" huh menghela nafas panjang
Lalu Haris ada di bengkel Anjar dan bekerja sendirian tanpa Anjar dilanjut dengan jadi guru silat, dia berjanji akan membantu membayar biaya rumah sakit ayahnya anjar
"3 hari ini rame banget.. huft" Haris menghela nafas panjang sambil menghitung uang yg ia kumpulkan di sela waktu istirahatnya
"Lumayan hasilnya banyak, ini memang rejeki ayahmu anjar, aku akan berusaha lebih promosikan bengkel kamu terus lewat temen2 panti.q"
.
1 Minggu terlewati
Tiap hari Haris mondar mandir dari rumah sakit dan rumahnya. Setiap hari pula dia membawakan makanan dan baju buat Anjar. Begitupula Anjar yg terus di liputi kecemasan karena ayahnya semakin kritis tiap harinya..
"Bagaimana kabar ayah dik?" Tanya Haris kepada Anjar lalu duduk dikursi dibelakang Anjar
"Semakin buruk kak, tiap hari ayah makan cuma dikit aja kak, di paksa juga gamau Kadang tiba2 demam tinggi" Kata Anjar dengan lemas
Selama 1 Minggu di rumah sakit Anjar juga jarang tidur karena tiap malam kadang2 ayahnya demam tinggi.
"Kamu yg sabar ya, pasti ayah sembuh!" Kata Haris dengan optimisnya
"Iya kak" menyembunyikan wajahnya di tangan ayahnya
Tiba2 jari ayahnya lemas dan jatuh kebawa. Anjar yg menyadarinya pun langsung memanggil dokter
__ADS_1
"Dokter dokter.." teriak Anjar lalu berjalan kelaur ruangan ayahnya menyusuri koridor rumah sakit sambil memanggil dokter
.
"Maaf pasien sudah meninggal, kami mohon maaf yg sebesar besarnya" kata dokter itu setelah memeriksa ayah Anjar
Anjar terduduk dengan lemas sambil menundukkan kepalanya seakan tak percaya bahwa ayahnya telah pergi meninggalkannya sendirian. Lalu dia teringat kata kata ayahnya waktu di rumah _anak laki laki itu tidak boleh menangis meskipun ada di situasi sesulit apapun, hadapilah masalah itu lalu berjuanglah untuk mendapatkan kebahagian mu sayang_
"Jadi itu adalah panggilan sayang terakhir darimu ayah, kenapa kamu memendam penyakitmu sendiri selama ini, kenapa kamu menutupi semua dariku seolah olah semua terlihat baik baik saja, kenapa kamu meninggalkan aku secepat ini, bukankah kamu pernah berjanji untuk mewujudkan impian kita untuk sukses ayah" meneteskan air mata
Sementara dokter dan suster diruangan itu menutupi ayah Anjar dengan selimut lalu keluar dari rumah sakit
Sesaat dokter sebelum keluar rumah sakit, lalu dokter berkata
"Maaf untuk keluarga pasien, sebelumnya pasien telah membayar administrasi dirumah sakit ini, dan beliau menitipkan surat dan kotak ini ke saya untuk disampaikan kepada anaknya disaat ia meninggal, dan hari ini saya akan memberikannya kepada anda selalu anak dari pasien kami" dokter merogoh saku di jas putihnya dan memberikan selembar surat dan sebuah kotak kecil kepada Anjar yg terduduk di bawah tempat tidur
"Aku juga pernah kehilangan seorang yg aku cintai nak, jadi iringi kepergian ayahmu dengan kebesaran hatimu tidak menangis, aku tau ini tidak mudah, cobalah menguatkan hatimu sendiri, baiklah saya permisi sebentar lagi pihak rumah sakit akan memandikan jenazah ayahmu dan tolong segera diurus pemakaman.nya" menepukkan tangan di bahu Anjar lalu berjalan keluar ruang ayah Anjar
Sementara Haris yg ada dibelakang Anjar dari tadi hanya diam saja menyaksikan lalu menuntun Anjar untuk membawa ke depan ruangan ayahnya dan mendudukkan Anjar di kursi tunggu
"Aku tau ini berat adikku, tenangkan lah pikiranmu dulu, aku akan memberi tau warga sekitar tentang kematian ayahmu agar mereka segera mengurus pemakaman ayahmu" lalu Haris menelfon pak RT dan pamong di sekitar rumah Anjar untuk mempersiapkan makam
.
"Ayo pulang dik, sebentar lagi gelap" ajak Haris ditempat pemakaman ayah anjar sambil melihat satu satu orang yg pergi dari makam ayahnya anjar termasuk pak ustad dan pak RT setempat
"Kami mohon pamit mas, ikhlaskan kepergiannya, supaya beliau di sana tidak kesusahan saat menuju dunia lainnya" kata pak ustad dan warga lainnya yg ikut berbela sungkawa Kepada mereka berdua
"Terima kasih pak, kami mohon maaf bila beliau di masa hidupnya sering menyusahkan kalian semua" kata Haris kepada para warga
.
.
.
mohon maaf para pembaca sekalian
tulisannya berantakan dan ada typo
bab ini masi saya revisi mohon kemaklumannya karena saya ngetiknya di hp ya bukan di laptop jadi setelah nulis baca lagi atasnya terus seperti itu
dan mohon maaf bila ada kalimat yg tidak dimengerti. sebenarnya saya orang Jawa tidak fasih berbahasa Indonesia jadi kalau menautkan kalimat agak ke Jawa Jawa gitu kalimatnya.. hehe..
seperti harapan para pembaca saya akan selalu belajar dari kesalahan2 saya.
jadi jika ada yg memberi kritik/saran bisa di kolom komentar
apapun kritik kalian pasti akan membangun novel saya, sekali lagi terima kasih 🙏🙏
__ADS_1