
Ada seorang anak bernama Lisa. Dulu saat ia Sekolah Dasar ia punya sahabat yang selalu ada bersamanya. Namun saat memasuki SMP mereka terpisah tak pernah bertemu, saat SMP Lisa punya seorang sahabat yang sangat ia sayangi melebihi sahabat lamanya namun saat kelas 8 sahabat tersebut meninggalkan Lisa seolah-olah tak pernah dekat dengan Lisa. Saat SMA Lisa menjadi orang yang sangat pendiam, cuek dengan segalanya, bersikap dingin pada siapapun bahkan teman sebangkunya sendiri tak pernah ia ajak bicara. Lisa tak pernah punya teman atau apapun karna Lisa selalu dingin ia selalu di kucilkan oleh teman-teman sekelasnya.
Sebulan setelah Lisa masuk SMA Lisa dipanggil ke ruang kepala sekolah disana kepala sekolah berkata pada Lisa,
"Lisa kau itu anak yang pandai cobalah agar kau bergaul dengan teman-temanmu, jika kau tidak mau bergaul kau tidak akan punya teman sampai lulus."
"Untuk apa punya teman saat nantinya teman itu akan meninggalkanmu, dan untuk apa berteman jika teman itu hanya berpura-pura baik padamu? Untuk apa?" Kata Lisa pada kepala sekolah.
"Kau berteman agar kau tidak kesepian, jika kau terus seperti ini kau akan terus kesepian," kata kepala sekolah menyakinkan Lisa.
"Berteman hanya untuk menghilangkan rasa kesepian, tapi jika teman itu berteman denganmu secara tidak tulus nantinya kau juga yang akan tersakiti, mungkin temanmu juga seperti itu," jawab Lisa sambil pergi meninggalkan ruang kepala sekolah.
Saat akan meninggalkan ruang kepala sekolah didepan pintu Lisa bertemu seorang laki-laki dan hampir menabraknya. Laki-laki itu bernama Anzi, Anzi adalah ketua OSIS di SMA Lisa. Anzi sedang mengurus data anak yang harus pergi untuk pertukaran pelajar. Karena itu Anzi bertemu kepala sekolah.
"Pak siapa siswi tadi?" Tanya Anzi pada kepala sekolah.
"Oh dia, dia itu Lisa anak dari kelas XA yang sangat pintar, tapi tidak punya teman itu," jawab kepala sekolah.
"Memangnya kenapa Lisa tak punya teman?" Tanya Anzi pada kepala sekolah.
"Entahlah, kurasa dari jawabannya tadi Lisa trauma karna temannya tidak ada yang pernah tulus berteman dengannya, bagaimana jika kau mencoba berteman dengannya, mungkin jika kau mencoba berteman dengannya dia tidak akan sendiri lagi!" Kata kepala sekolah panjang lebar.
"Baik pak! Mungkin saya menyukainya," kata Anzi lirih.
"Apa yang kau katakan?" Tanya kepala sekolah.
"Bukan apa-apa," jawab Anzi sambil tersenyum.
Setelah selesai mengurus urusan pertukaran pelajar Anzi pergi ke kelas dan menyuruh anak yang duduk sebangku (Zahzha) dengan Lisa untuk segera pindah.
"Zahzha bisakah kau pindah dan cari tempat duduk yang lain? Aku ingin duduk disini," kata Anzi pada Zahzha teman sebangku Lisa.
__ADS_1
"Kau yakin ingin duduk dengannya? Dia sendiri tidak pernah berbicara denganku apalagi denganmu," kata Zahzha teman sebangku Lisa.
"Ya aku ingin duduk sebangku dengannya, jadi apa kau mau pindah?" Kata Anzi ramah.
"Ya baiklah aku akan pindah," kata Zahzha senang.
"Hai kita bertemu lagi!" Kata Anzi membuka pembicaraan.
"Kau, kenapa kau ingin duduk denganku?" Tanya Lisa pada Anzi.
"Hei ayolah jangan seperti itu, maukah kau berteman denganku?" Tanya Anzi sambil mengulurkan tangannya.
"Maaf, aku tidak ingin berteman denganmu!" Jawab Lisa.
"Kalau begitu jadi pacarku saja!" Kata Anzi sambil tersenyum.
"Kau bercanda ya, aku tidak mau punya pacar seperti dirimu itu," jawab Lisa.
"Baiklah aku akan jadi temanmu," jawab Lisa.
Keesokan harinya.
"Lisa! Apa kau mau jadi pengurus OSIS? Pendaftaran untuk menjadi pengurus OSIS masih dibuka, jadi apa kau mau?" Tanya Anzi pada Lisa.
"Aku mau asalkan aku menjabat jadi sekertarisnya," kata Lisa dingin.
"Baik kau tenang saja, tapi kau akan tanggung jawab kan?" Kata Anzi.
"Apa kau meragukanku? Jika kau meragukanku untuk apa kau menanyakan hal ini?" Kata Lisa kesal.
"Aku tidak meragukanmu hanya saja aku tidak pernah melihatmu bersama orang selain aku hehehe," kata Anzi menyakinkan.
__ADS_1
"Aku memang tidak pernah berbicara dengan orang lain selain dirimu tapi jangan pikir aku bukanlah orang yang bertanggung jawab! Kau mengerti sekarang?" Kata Lisa menjelaskan.
Lisa kembali dipanggil keruang kepala sekolah tapi untuk alasan yang berbeda.
"Kau ada disini juga ternyata?" Tanya Lisa pada Anzi.
"Kalian sudah berteman?" Tanya kepala sekolah pada Lisa dan Anzi.
"Iya, tapi tidak terlalu dekat," kata Anzi menjelaskan.
"Kalian berdua saya panggil karena kita harus mengurus suatu hal," kata kepala sekolah pada Lisa dan Anzi.
"Mengurus hal? Hal apa?" Tanya Anzi pada kepala sekolah.
"Kau tau jadwal pengiriman murid untuk mewakili pertukaran pelajar? Jadwal yang harusnya 1 bulan lagi dimajukan menjadi minggu depan! Kita harus mengirim perwakilan dari sekolah kita untuk minggu depan. Dan kami para guru sudah memutuskan bahwa kalian yang akan mengikuti pertukaran tersebut!" Kata kepala sekolah menjelaskan.
"Kita? Tapi kenapa kami bukankah ada anak lain kenapa harus kami?" Kata Lisa tidak setuju.
"Tapi kita tidak punya banyak waktu lagi kalian akan berangkat ke Jakarta sehari lagi jadi bersiap-siap untuk berangkat," kata kepala sekolah menyakinkan.
"Tapi minggu depan saya harus pergi ke Cina mengurus sesuatu bersama ayahku," kata Anzi pada kepala sekolah.
"Kau akan pergi ke Cina dulu setelah itu kau akan berangkat ke mana kau ditukar pelajar, kau mengerti?" Kata kepala sekolah menyelesaikan.
"Baiklah, aku mengerti!" Jawab Anzi senang.
"Jadi, semua beres. Kalian akan pulang swkarang dan besok kalian tidak perlu berangkat sekolah, gunakan waktu kalian untuk mempersiapkan semuanya, Oke?" Perintah kepala sekolah.
"Ya kami mengerti," jawab Anzi.
Setelah itu Anzi dan Lisa menuju kelas dan pulang lebih awal.
__ADS_1