
Orang orang sudah berkumpul di meja makan, sambil melirik ke arah jarum jam yang kini telah menampakan waktu pukul 10 pagi. Mereka tetap sabar menunggu si pengantin baru yang belum juga menunjukan batang hidungnya.
"Mi, sampai kapan kita mesti nungguin si abang sama kakak ipar sih?" Bruno sudah tidak sabar ingin menyantap sarapan pagi yang telah lewat dari biasanya. Apalagi semalam dia bergadang dan sampai pagi ini dia belum tidur, ngantuk itu sudah pasti dia rasakan. Niatnya setelah sarapan mau tidur kembali tapi karena abangnya dia jadi menunda keinginannya tersebut terlebih dahulu.
"Iya kak, aku wes laper saiki loh! Aku mesti buru buru ke bandara, pesawat kita take off jam 1 siang ini kak!" Adik dari papinya Yazhil yang bernama Laras juga mengajukan protes atas keterlambatan sarapan mereka pagi ini.
"Sabar napa sih, bentar lagi pasti dateng kayak ga tahu aja suasana pengantin baru," mami Yazhil berusaha mengulur ulur waktu karena sepasang pengantin belum juga menampakan batang hidungnya padahal dia sendiri sudah lapar.
Setelah beberapa waktu akhirnya yang di tunggu tunggu muncul juga. Yang satu menampakan senyum secerah matahari sedangkan yang satunya menampilkan muka mendung semendung awan kalbu.
Setelah drama pagi hari di dalam kamarnya akhirnya Yazhil mau bangun dan menuju ruang makan bersama sama. Aries yang baru pertama kali sarapan di tempat lain sedikit merasa kikuk, apalagi ia dan Yazhil bangunnya kesiangan.
"Nah ini dia pengantin barunya!" Bruno berbinar melihat dua sejoli itu datang karena sudah pasti sarapan akan segera di mulai.
"Maaf semuanya udah bikin nunggu, mas Yazhil susah banget disuruh bangun." Aries merasa tak enak pandangan semua orang kini tertuju pada mereka.
Papi Yazhil dengan cepat membuka suara agar semuanya tenang dan segera memulai sarapan pagi yang sedikit terlambat ini.
Setelah membaca doa, mereka semua makan dengan tenang. Aturan di rumah Yazhil kalau sedang makan di larang untuk berbicara.
Beberapa menit telah berlalu, semua telah menyelesaikan sarapan mereka. Paman dan bibinya Yazhil juga sudah berpamitan untuk segera ke bandara supaya tak ketinggalan penerbangan.
__ADS_1
Kini tinggal Yazhil, Aries, Bruno dan kedua orang tua Yazhil.
"Heemm, Yazh gimana semalem? Joss gak jamunya papi?" Papi Yazhil membuka obrolan.
"Hah? Jamu apa pi? Yazh gak minum jamu perasaan." Keheranan melanda Yazhil atas pertanyaan papinya.
"Lah bukannya semalem elu udah minum? Buktinya gelas di atas meja yang ada di samping kamar lu udah tandas tak bersisa?!"
"Lah sumpah pi Yazh kaga ada minum jamu, orang semalem si Aries molor dengan tenangnya!" Yazhil mencebik kesal tatkala mengingat dirinya yang tersiksa semalaman dan berakhir bersolo karir di kamar mandi.
"Loh kalau bukan lu terus siapa yang minum?" Kini mami Yazhil yang buka suara.
Semua saling pandang, saat kebingungan menghampiri pikiran mereka tiba tiba Bruno datang.
"Aneh tahu gak No, semalem papi ada naruh jamu di samping kamarnya abang tapi kata abang dia kaga minum tu jamu. Nah kalau bukan dia yang minum siapa dong yang minum?!" Lagi pikiran papi Yazhil melanglang buana.
"Lah pi, jadi minuman yang ada di deket kamar abang tu jamu? Jamu apaan tu pi?" Bruno kelihatan panik.
"Jamu kuat No, kenape emangnya?!"
"Kok kamu tahu No kalau papi naruh minuman disana?" Aries bertanya heran.
__ADS_1
"Astaga papi, itu Uno kaga sengaja minumnya huaa pantes Uno berasa gerah semaleman kaga tahu kenapa."
Semua orang menepuk jidat mereka dan sesaat kemudian tawa renyah mengisi ruang makan tersebut.
"Dasaarr bocah lu, emang lu kaga bisa baca apa papi ada nulis sesuatu di samping gelas itu!" Papi Yazhil tertawa terbahak mengingat kelakuan anak keduanya itu.
"Emang papi nulis apa?" Yazhil, Aries, mami dan Bruno bertanya berbarengan.
"Hahahahha papi cuma nulis sedikit kok!"
"Jamu kuat sekuat beban hidupmu, jangan kasi kendor hajar terus, gitu hahahhaha!"
Bruno merutuki dirinya yang gak membaca tulisan di samping gelas itu, semalam karena haus dia berniat ke dapur mengambil air minum. Saat melintas di depan kamar abangnya dia melihat gelas yang berisi cairan yang kelihatan seperti susu coklat, langsung saja dia meminumnya tanpa mengecek terlebih dahulu karena hausnya sudah tak tertolong lagi. Setelah tandas dia sejenak berfikir, kok rasa susunya sedikit pahit!
Alhasil jamunya jadi salah alamat kan! Semalaman dia gelisah, pisang ambonnya terus tegak lurus tanpa berliku. Dalam 18 tahun hidupnya, semalam dia baru tahu apa itu yang namanya Co*li ha ha ha ha...
.
.
.
__ADS_1
Selamat buat Bruno yang sudah beranjak dewasa 😆😆😆😆
Gasskan like, komen, anu pokoknya 😳😳