SALAH PAHAM MENUJU PERNIKAHAN

SALAH PAHAM MENUJU PERNIKAHAN
Eps.10 (Masa Lalu)


__ADS_3

Happy reading😊😊


Hari Minggu berikutnya setelah kepulangan Nanda, Nanda belum kembali bekerja karena diminta bekerja ketempat barunya bulan depan. Sebenarnya badannya sudah lumayan kuat untuk bekerja namun jika kelelahan masih terasa nyeri.


"Assalamu'alaikum". Ucap seseorang dari depan rumah Nanda


"Waalaikumsalam warahmatullah" Jawab Nanda sedikit berteriak karena ia sedang berada didalam kamar.


"Waalaikumsalam, mari pak silahkan masuk mbak Nanda nya masih dikamar, silahkan duduk dulu saya panggilkan mbak Nanda". Ucap Anindita yaitu saudara Nanda Anak dari tantenya yang sekarang diminta Nanda untuk menemani keseharian Nanda saat itu segera membuka pintu dan segera menuju ke kamar Nanda.


"Siapa Nin?." Tanya Nanda yang sedang memakai jilbabnya.


"Itu pak Tentara yang beberapa waktu lalu kesini mbak tapi tidak dengan seragam dinasnya" Ucap Anindita pelan.


"Tolong bantu mbak segera buatkan minuman buat pak Anza ya Nin" Pinta Nanda seraya keluar dari kamarnya.


"Iya mbak rebes alias beress, sana mbak temuin dulu pak tara nya". Jawab Anindita sedikit senyum-senyum pada Nanda


"Maaf pak menunggu lama" Seraya duduk berseberangan dengan Anza


"Saya sedang tidak dinas dik, panggil saja seperti waktu kita baru ketemu". Ucap Anza dengan tegas namun lembut.


"Ohh iya kak maaf nanti malah kelepasan takutnya kebiasaan manggil kak dimana-mana manggilnya kak, heheh." Ucap Nanda cengingisan.


"Ini pak teh asli perkebunan kami di puncak sana pak silahkan dinikmati". Ucap Anin membawa 2 cangkir teh yang disuguhkan kepada tamunya.


"Iya dik terimakasih" Jawab Anza


"Itu adik bungsumu dik?"Tanya Anza pada Nanda


"ohh itu Anindita Kak, adik keponakan saya anak tante saya kak". Jelas Nanda.


"ohh kirain adik kamu dan adik Ryan juga" Selidik Anza.


"Saya hanya dua bersaudara kak" celoteh Nanda


"Dik, gimana dengan lukamu? sudah sembuh bukan?". Pertanyaan Anza dengan sedikit khawatir.


"Alhamdulillah kak sudah mulai normal kembali" Sahut Nanda.


"Dik maaf kalau saya lancang, apakah kamu sedang punya kekasih saat ini?". Tanya Anza memberanikan diri untuk menanyakan hal itu karena Anza sudah menyimpan rasa kepada wanita itu sejak pertama kali melihatnya.


"dik, kok melamun ? kenapa? maaf kalau pertanyaan saya menyinggung perasaan adik". Tanya Anza membuyarkan lamunan Nanda.


"oh tidak kok kak, tidak apa-apa". Tiba-tiba Nanda teringat akan kekasih tak sampainya itu, ya siapa lagi kalau bukan dokter Hanif.


"Kalau tidak ada apa-apa saya akan segera melamar mu dik" Ucap Anza tanpa ragu sedikitpun.


"A..apa? melamar? secepat itu kah?" Ucap Nanda gugup

__ADS_1


"Iya saya sudah lama memendam rasa ini padamu dik sejak pertemuan itu." Jelas Anza.


"Ta..tapi..". Sebelum melanjutkan bicara Nanda sudah dipotong oleh Anza.


"Tapi kenapa dik". Tanya Anza


"Maaf kak saya belum bisa melupakan masa lalu saya, sepertinya saya butuh waktu". Ucap Nanda.


'' Saya akan menunggumu dek". Sahut Anza.


"Assalamu'alaikum". Ucap dua orang yang dikenal Nanda sudah berada di ambang pintu.


"Waalaikumsalam" Jawab Nanda dan Anza


"Mas Bayu, Dokter Hanif" Sambut Nanda dengan mata berkaca-kaca ia tidak sanggup melihat pria kekasih tak sampainya itu yang sekarang sudah sah menjadi suami orang.


"Apa kabar Na? eh ada pak tara, halo pak". Ucap Bayu seraya berjabat tangan kepada Anza.


"Na maaf ya baru bisa jenguk sekarang itupun nebeng Bayu" Ucap dokter Hanif


"iya dok gapapa kok". jawab Nanda singkat


"Na liat pengantin baru bawaannya pengen ikutan nyusul ya" Ucap Bayu


"Anin buatkan minum lagi dek" Teriak Nanda kepada Anin yang ada di dalam kamar.


"Yah dikacangin akuh" Ucap Bayu alay.


"Yeee si bapak ini nggak tau kalo Nanda itu ratunya ngelawak". Sahut Bayu "Cuman gara-gara peluru nyasar itu tuh perasaan kuh ratu ngelawak sekarang hilang gitu aja padahal udah sembuh juga,haha" Candaan Bayu terus berlanjut dengan ocehan mereka bertiga yaitu Hanif, Anza dan Bayu.


Asal kalian tau selera humor ku hilang seketika setelah aku dengar kabar pernikahan salah paham itu. Coba kalian di posisiku setelah diterbangkan ke awan biru dengan rasa yang sama, rasa kami yang ternyata saling mencintai yang selama ini kami pendam tiba-tiba dijatuhkan begitu saja ke lembah yang penuh lumpur dan membuatku susah bangun dari lumpur itu. Aku tau Jodoh adalah hak Sang Khalik dan aku hanya bisa bersabar dan aku tidak akan mencarinya kecuali Allah telah mendatangkan. Batin Nanda.


"eh iya kami balik dulu ya Na mau ada acara biasalah pejantan". Pamit Bayu


"Kok cepet-cepet sih mas" kata Nanda


"Kenapa? masih kangen ya sama pujaan hati, inget Na milik orang" Bisik Bayu


"ihh apa sih mas Bayu itu sukanya ngawur" Gumam Nanda


"Na mungkin ini terakhir kita ketemu, saya mau pamit melanjutkan studi S2 saya ke Amerika". Ucap dokter Hanif


"oh iya dok hati-hati dijalan" Ucap Nanda


"Yaudah kami permisi Na, assalamu'alaikum" Ucap Bayu.


"Wa'alaikumsalam" jawab Nanda dan Anza


*Di rumah Hanif

__ADS_1


"Sayang kamu mau kemana? kok bawa koper" tanya Sasya.


"Maaf aku dapat panggilan untuk meneruskan pendidikan ku." Ucap Hanif.


"Tapi aku kamu ajak kan sayang?" Rengek Sasya manja.


"Maaf untuk kali ini aku tidak bisa, karena disana aku dibiayai negara dan hanya untuk 1 orang saja dan kalaupun kamu ikut kamu tidak akan bisa tinggal di Mes bersamaku" Ucap Nanda.


"Tapi kan kita bisa sewa rumah untuk kita sayang" Rengek Sasya


"Maaf keputusanku sudah bulat, kalau kamu mau ikut silahkan tapi kamu bersedia tinggal sendiri tanpa aku, kalau kamu tidak ikut mari kuantarkan kamu pulang kerumah orang tuamu". Ucap Hanif


"Oke besok sebelum kamu berangkat antar kan aku pulang". Ucap Sasya seraya beranjak pergi ke balkon dengan menghentakkan kakinya dengan kesal.


Ihhh kenapa rencana ku semua gagal total, sudah hampir sebulan pernikahan tapi aku belum berhasil memilikinya seutuhnya dan sekarang malah mau ditinggal begitu saja, wanita mana yang tahan seperti ini. Sabar Sasya ini demi semua cita-cita kamu. Ucap Sasya dalam hatinya yang geram.


"Nak apa kamu yakin dengan keputusanmu ini?" Ucap Bu Darmawan ibunya Hanif


"Yakin bu, Ayah juga sudah tau semuanya dan ayah menyerahkan semua ke Hanif bu" Ucap Hanif


"Yasudah jaga dirimu baik-baik ya nak, Ibu merestui mu tapi jika ibu boleh berpesan pernikahan itu bukanlah hal yang main-main Nak, pikirkan lagi disana. Semoga setelah kamu pulang nanti kamu bisa menerima istrimu". Ucap Bu Darmawan.


"Ibu, apa yang ibu katakan?" Ucap Hanif kaget karena sejak dulu ibunya tidak suka dengan menantunya itu.


"Ibu rasa dia sudah banyak berubah nak dan ibu yakin dia pasti bisa menjadi menantu yang baik dan istri yang baik untukmu. Nak ingat, Tuhan saja memaafkan sebesar apapun kesalahan manusia yang mau bertaubat dan meminta maaf masa kita tidak bisa memaafkan Sasya yang sudah banyak berubah nak" Penjelasan ibunya malah tambah membuat Hanif semakin bingung.


"Iya bu nanti Hanif pikirkan lagi" Ucap Hanif bimbang.


Apa iya Sasya sudah berubah? tapi sepertinya di depanku dia masih sama saja, apa jangan-jangan ini caranya dia untuk melakukan rencananya. Ah sudahlah lambat laun pasti semua akan terbongkar dan Papa Mama mertuaku sebenarnya juga tidak suka dengan yang sebenarnya terjadi dan dia akan merubah sikap anaknya itu. Batin Hanif dengan rasa penuh curiga.


Hari ini adalah keberangkatan Hanif, semua melepaskannya dengan senang hati namun tidak dengan Sasya.


"Sya, suami mu itu pergi untuk masa depanmu jadi biarkan dia pergi paling kan hanya 2 tahun dan kalau rindu kamu susul aja kesana untuk bertemu" Ucap Pak Herman yang tidak lain adalah papinya Sasya.


"Pa bukan itu yang membuat Sasya sedih" Sasya sembari mendengus kesal.


"Sudahlah Pa Sasya mau ke mall jalan-jalan sama Shinta". Sasya beranjak pergi begitu saja.


"Apa seperti ini kelakuan Sasya selama dirumah suaminya, Aku telah gagal mendidik anakku sendiri dengan tata krama" Gumam Pak Herman yang tidak sengaja didengar Istrinya.


"Pasti tidak lah Pa, kalau Sasya begitu apa keluarga Darmawan diam saja pasti kan mereka cerita ke kita Pa". Ucap Bu Herman


"Mungkin karna kita telah mengancam keluarganya Ma". Ucap Herman khawatir.


"Iya ya pa, Dulu kan kejadian itu disaksikan oleh rekan kerja papa makanya papa bicara seperti itu kepada keluarga Darmawan seandainya papa nggak bicara seperti itupun keluarga Darmawan kan juga sudah mau melamar anak kita Pa tapi karna keadaan itu semua jadi begini pa, kasian Hanif dan Sasya juga pa". Ucap Bu Herman.


"Sebenarnya papa juga tidak ada niat menghancurkan reputasi Ayahnya Hanif bu, entah kenapa ucapan itu spontan begitu saja, Semoga saja mereka saling mencintai ya Ma". Ucap Pak Herman


Ya memang pernikahan itu pernikahan salah paham dan sampai saat ini Hanif belum bisa menerima semuanya dia bingung dengan perasaan bersalahnya pada Nanda dan perasaan bersalahnya sebagai Suami. Cinta pertamanya hancur hanya karna kesalahpahaman. Demi reputasi Ayahnya Hanif terpaksa melakukan pernikahan itu.

__ADS_1


*Bersambung...


Terimakasih sudah mau mampir ke cerita aku, maaf ya jika ada salah kata😊, Mari kita saling dukung jangan lupa like, komen, vote dan rate yaa🌺🌺🌺🌺


__ADS_2