
Setelah kejadian didepan pasien dan keluarga pasien yang melibatkan dokter Hanif dan Nanda. Nanda sangat malu kala itu dan memutuskan untuk tidak memikirkan sesuatu atau menyimpan sesuatu karena Nanda tidak mau ada salah paham diantara mereka.
"Ya kalau dokter Hanif juga merasakan seperti yang aku rasakan tapi mana mungkin dokter Hanif memiliki perasaan itu, ahhhh bodohnya akuu, Nanda Nanda" Gumam Nanda dalam hatinya ketika sedang berjalan menuju parkiran karena setelah operan jaga Nanda buru-buru pulang dengan suasana hatinya yang tak menentu.
-------
Setelah sampai dirumah Nanda tidur sejenak untuk menyaur hutang karna saat dinas malam Nanda tidak bisa boleh tidur semalaman karena malam minggunya dihabiskan untuk pasien.
"mbak bangun, sudah jam 12.00 kita harus siap-siap mbak sholat dulu ibu sudah masukkan baju-baju yang udah mbak siapin setelah mbak siap ayo kita berangkat nanti keburu telat" kata bu Aminah membangunkan putrinya seraya memasukkan beberapa helai baju Nanda yang sudah disiapkannya sendiri ke dalam tas.
"iya bu maafin Nanda ya nanda lupa waktu". Seraya mengambil handuk dan beberapa helai pakaian dan bergegas ke kamar mandi.
Waktu menunjukkan pukul 12.30, Nanda dan kedua orangtuanya pergi ke stasiun terdekat dengan naik taksi online dengan jarak tempuh sekitar 25 menit. Mereka sampai di Stasiun sekitar pukul 13.00. Setelah menunggu sekitar 25 menit kereta Kencana tujuan kota Mawar- melati- Anggrek sudah tiba dan mereka masuk ke dalam kereta tersebut dan diperkirakan mereka akan sampai kota Anggrek sekitar jam 22.00. Mereka sengaja memesan hotel dekat dengan dimana akan dilaksanakan upacara pelantikan adiknya.
"Pak, Bu Kita udah sampai, Nanda reservasi hotel ini dua malam bu, biar bapak sama ibu ngga kecapean, Nanda udah ambil cuti bu buat hari Selasa besok". Seraya membawakan tas ibunya dan menuju ke resepsionis.
"Selamat malam, ada yang bisa kami bantu?" ucap salah satu resepsionis.
"ini mbak reservasi atas nama Eylisa D. Firnanda". seraya menunjukkan handphonenya kepada resepsionis itu.
"oh iya atas nama Nn. Eylisa D. Firnanda ya, kamar 206 ya ini id card nya, nanti dari sini naik lift langsung ke lantai 2, kamar tepat berada disebelah kiri lift, selamat beristirahat bapak, Ibu. Terimakasih". Ucap salah satu resepsionis dan memberikan id card untuk scanner lock room dan berterimakasih dengan merapatkan kedua telapak tangannya.
"terimakasih mbak". Nanda menerima card itu seraya berterimakasih kepada resepsionis.
-------
Di suasana lapangan pelantikan yang panas itu Nanda merasa sangat haus dan dia izin kepada orangtuanya untuk membeli minuman keluar sebentar. Ketika balik Nanda terburu-buru karena tidak sabar untuk mencari adiknya karena didengarnya upacara akan segera selesai. Banyak orang tua dan kerabat terdekat berlari-larian mendekati sosok gagah-gagah yang berbaris rapi itu.
Brukkkkkk. Nanda hendak tersungkur dan tanpa sadar tangannya sudah memegangi dan dipegangi sosok orang yang menabraknya dari belakang.
"Eh, mohon maaf pak saya tidak sengaja memegang bapak. Maaf sekali pak saya spontan". Nanda memohon maaf kepada sosok pria berbaju Tentara yang dikiranya pasti atasan adiknya itu dan menatapnya lekat-lekat agar pria itu menerima maafnya.
"adik nggak salah kok, Saya yang minta maaf saya buru-buru ingin segera melihat adik saya ditengah-tengah sana". Ucap pria tampan itu seraya tersenyum ramah kepada Nanda. "kamu tidak apa-apa kan? mari kita pergi kesana, upacara segera diakhiri". Lanjut pria tampan itu.
"Nama saya Anza, saya asli kota Batik tapi saya bekerja di kota Anggrek ini, oh iya jangan panggil saya pak sepertinya kita masih seumuran atau panggil kak atau apa yang penting jangan bapak ya saya belum punya anak, istri juga belum punya". Sambil berjalan mereka saling berkenalan
__ADS_1
"Nama Saya Nanda pak eh kak". Nanda menjawab dengan tersenyum malu karena dia memang sosok yang fair dengan siapapun termasuk orang baru tidak salah jika Nanda memiliki banyak sahabat dan banyak teman. "oh iya kak itu orangtua saya, saya hendak menemui adik saya, saya tinggal dulu ya kak Anza". Lanjut Nanda pamit untuk mendekati orangtuanya
"Ryannnnnnnn". Teriak ibu dari jauh yang telah berhasil menemukan wajah anak laki-lakinya itu dipeluknya erat-erat dan bergantian dengan sang ayah. Nanda hanya mengabadikan moment itu lewat vidio dan foto melalui ponselnya.
"Bapak, Ibu terimakasih udah mau datang. Ryan ngga bisa bayangin kalau Bapak Ibu gak datang" tangis deru Ryan kala itu di lutut Bapak Ibunya dan tidak lupa Ryan memeluk sang kakak yang sedari tadi menitikkan air mata sambil memegang ponselnya.
"mbak liat aku, kita dulu punya cita-cita untuk Ibu Bapak dan sekarang aku udah tunjukin aku berhasil mbak walaupun tanpa uang aku bisa sampai sini mbak ini berkat do'a orangtua kita mbak". Ryan menangis sangat bahagia di pelukan kakak dan kedua orangtuanya padahal Ryan bukan orang yang cengeng apalagi sampai mengeluarkan air mata, entah kenapa saat itu Ryan bisa menumpahkan air matanya.
"Ryan broo tolongin fotoin aku sama keluargaku dong bro, biar lengkap, nanti gantian deh". Teriak Wahyu salah satu teman yang sedari tadi ada di samping keluarga mereka.
"Heiii Wahyu kau menganggu tangis bombayku saja, mana aku fotoin". Menerima ponsel kakak Wahyu dan "Ijin Senior saya hendak memotret anda beserta keluarga atas perintah Wahyu". Teriak Ryan dengan lantang dan memberikan hormat selayaknya junior, setelah hormatnya dibalas kakak Wahyu mengiyakan dan memotretnya beberapa kali.
Mendengar suara adiknya mengucapkan hal yang jarang didengarnya itu, Nanda menengok kebelakang,
"loh itu kan kak Anza". gumam Nanda
"Nanda, hai ternyata dia adikmu". Belum selesai dipotret Anza spontan memanggil Nanda.
"Izin senior, maaf hasil foto senior tidak baik dipandang eh maksud saya blur senior". Ucap Ryan dengan lantang dan tidak lupa meminta izin ketika hendak berbicara.
"mana bro saya fotokan kamu dengan keluargamu". Ucap Wahyu karena tadi sudah janji akan bergantian memotret keluarga Ryan. Mereka berempat dipotret beberapa kali oleh Wahyu dan setelah selesai dua keluarga itu mencari tempat untuk berteduh karena lapangan semakin panas.
"Ih ini kenapa sepatuku". Hak Sepatu Nanda tertancap kedalam tanah lapangan yang lembab itu. Nanda memang suka memakai sepatu-sepatu hak tinggi ketika diluar jam dinasnya.
"Kamu kenapa?" Anza mendatangi Wanita yang baru dikenalnya itu walaupun tadi sudah beberapa langkah didepannya mengikuti kedua keluarga itu namun disempatkannya balik karena Nanda tidak segera menyusul.
"ini kak, hehe" Nanda meringis dan melepas sepatunya dan mencabut hak sepatunya dengan tangan agar lebih mudah
"oh ini. Nih pakai lagi nanti kaki kamu kotor". Anza mengambil satu lagi sepatu Nanda dan diletakkan didepannya.
"te..terimakasih kak". jawab Nanda dengan gugup
"mari kita susul mereka". Seraya menunjuk dua keluarga yang sudah berteduh dibawah pohon dipinggir jalan lapangan itu yang tidak sengaja juga memandanginya sejak tadi.
"kalian sudah saling kenal". Tanya bu Sumarsih yang tak lain adalah ibu Anza dan Wahyu.
__ADS_1
"Iya ma tadi pagi kita ketemu di pintu masuk sana". Ucap Anza dengan santainya
"Mereka juga berasal dari kota Batik lhoo sama seperti kita, tapi beda kecamatan kita di kecamatan Parang mereka di kecamatan Sidomukti". Kata Ayah Anza
"oh iya benar kah dik?" Tanya Anza kepada Nanda.
"iya kak saya dan keluarga dari kecamatan Sidomukti". Jawab Nanda.
Kedua keluarga itu berbincang-bincang dan menikmati bekal yang tadi dibelinya diluar karena ini adalah hari dimana mereka bisa berkumpul bersama keluarganya karena besok anak-anak mereka sudah kembali menjalani pendidikan kejurusan prajurit selama lebih kurang 3 bulan.
"Dik kamu kerja atau masih kuliah sepertinya kamu lebih muda dibawah saya". Tanya Anza kepada Nanda
"Saya sudah bekerja kak". Jawab Nanda singkat
"oh iya kalau aku cuti boleh aku kerumah mu". Tanya Anza dengan memperhatikan wanita itu lekat- lekat.
"silahkan kak, tapi rumah saya di pelosok dan disana susah sinyal. nanti takutnya kakak nyasar dan nggak tau jalannya". Ucap Nanda asal karena baru mengenal sehari lelaki itu dan perasaan was-was ada di pikiran Nanda
"kamu tenang aja nanti kalau aku cuti adik aku cuti aku baru kerumahmu". ucap Anza dengan penuh senyum pikatnya.
"Nanda, Nanda stoppp kamu nggak boleh salah paham mungkin ini hanya formalitas aja kan baru ketemu mana mungkin mau dateng kerumah, paling kalaupun dateng yang dicari Ryan bukan aku" Gumam Nanda dalam hati karena sudah dag dig dug nggak karuan dari diajak Anza ngobrol.
"dik, kenapa kamu melamun? apa kamu sedang banyak pikiran?maaf ya kalau saya menganggu mu". Permintaan maaf Anza kepada Nanda ketika mengetahui Nanda sedang melamun
"eh tidak kak aku baru mengingat-ingat tentang pekerjaanku". Alasan Nanda padahal sedang tidak ada sangkut pautnya dengan pekerjaan. Memang begitu Nanda sangat tremor ketika berdekatan dengan pria tampan seperti Anza dan dokter Hanif.
*ANZA*
Anza Delio Raharsya adalah Kakak dari Wahyu Adji Raharsya teman pendidikan Ryan. Anza dibesarkan oleh keluarga kaya raya namun orangtuanya tidak menyombongkan kekayaannya, Anza adalah seorang Tentara Berpangkat Sersan karena dulu tidak lolos seleksi untuk Akmil jadi Anza mencoba yang kedua yaitu Seba. Walaupun pangkatnya tidak terlalu tinggi tapi kedua orangtuanya bangga karena anak-anaknya berusaha mandiri tanpa melibatkan orangtuanya. Ibunya bernama Sumarsih dan Bapaknya bernama Edi Raharsya. Orangtua Anza memang memiliki suatu bisnis wirausaha terkenal di salah satu kota.
***Bersambung....
Bagaimana kelanjutannya? apa mereka bisa bertemu lagi ? atau Anza hanya bercanda mencari bahan obrolan?๐
Simak kelanjutannya yaa. maafkan author jika masih banyak kesalahan penulisan, kata, dan alur cerita๐บ๐บ
__ADS_1
Terimakasih udah meluangkan waktu untuk membaca karya pertama saya jangan lupa like, vote , rate dan komen apa masukan kalian kepada author yaa๐๐บ๐บ**